Ivan hanyalah seorang remaja dari desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk stadion besar dan sorotan kamera. Namun, impiannya menjulang tinggi—ia ingin bermain di Eropa dan dikenal sebagai legenda sepak bola dunia.
Sayangnya, jalan itu tidak mulus. Ibunya, satu-satunya keluarga yang ia miliki, menentang keras keinginannya. Bagi sang ibu, sepak bola hanyalah mimpi kosong yang tak bisa menjamin masa depan.
Namun Ivan tak menyerah.
Diam-diam ia berlatih siang dan malam, di lapangan berdebu, di bawah hujan deras, bahkan saat dunia terlelap. Hanya rumput, bola, dan keyakinan yang menemaninya.
Sampai akhirnya, takdir mulai berpihak. Sebuah klub kecil datang menawarkan kesempatan, dan ibunya pun perlahan luluh melihat kegigihan sang anak. Dari sinilah, langkah pertama Ivan menuju mimpi besarnya dimulai...
Namun, bisakah Ivan bertahan di dunia sepak bola yang kejam, penuh tekanan dan kompetisi? Akankah mimpinya tetap menyala ketika badai cobaan datang silih berganti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Hari Hujan
Mentari belum masuk ke kamar Ivan, tapi Ivan sudah terbangun untuk siap-siap berangkat sekolah.
Mukaku masih pucat, kakiku agak sakit karena terus menendang bola, tapi aku sudah bangun untuk sekolah "Huah," aku menguap.
Aku bangun, lalu merapikan tempat tidurku sebelum makan "Hari selasa," gumamku.
"Ivan... Bangun!!" teriak ibu dari dapur.
"Iya," sahutku.
Aku berjalan menuju dapur. Sesampainya di dapur, aku lalu duduk dan mulai makan.
Ibu duduk di depanku, ibu lalu menanyakan sesuatu kepadaku sambil sesekali mengunyah makanan "Ivan, kemarin kamu kemana?!" tanya ibu sambil mengunyah.
Aku tersedak karena pertanyaan ibu tadi "Uhuk," aku tersedak.
"Minum dulu, kalau makan pelan-pelan," nasihat ibu.
Aku lalu minum, setelah lega aku menjawab pertanyaan ibu sambil agak gugup "Aku kemarin main ke rumah Azzam," ujarku.
"Yaudah," sahut ibu.
Aku terus berpikir sambil makan "Apa ibu tahu kalau aku kemarin latihan bola?!" batinku sambil makan.
"Setelah makan cepat mandi, habis itu kamu berangkat sekolah ya!!" ujar ibu.
"Iya," jawabku pelan sambil mengunyah.
Waktu terus berlalu saat aku makan. Setelah selesai makan, aku lalu bergegas menuju kamar mandi untuk mandi "Saatnya mandi," batinku sambil berjalan.
Aku mandi sambil terus berpikir hal yang sama "Apa ibu tahu jika aku kemarin latihan bola?!" batinku.
Setelah mandi, aku lalu berangkat sekolah "Ibu, aku berangkat!!" ujarku.
"Iya," sahut Ibu.
Aku berjalan ke depan pintu untuk memakai sepatu. Setelah sepatuku terpasang aku lalu berangkat sekolah.
Angin dingin masih berhembus, matahari tertutupi awan hitam. Aku terus berjalan ke sekolah, di tengah jalan aku berpapasan dengan Azzam "Zam," sapaku.
Azzam berhenti berjalan lalu menoleh ke arahku "Van," sapa Azzam.
"Kita berangkat bareng yuk," usul Azzam.
"Boleh," jawabku singkat.
Aku lalu berjalan ke sekolah bersama Azzam. Langit semakin gelap, sepertinya akan hujan lebat beberapa saat lagi "Zam, kita jalannya agak cepetan. Kayaknya bakal hujan!!" ujarku ke Azzam.
"Iya," jawab Azzam.
Kami berjalan dengan lebih cepat. Setibanya di pintu gerbang sekolah, benar saja gerimis datang.
"Hujan!!" ujarku.
"Kita ke kelas masing-masing," usulku ke Azzam, sebelum berlari ke kelasku.
Aku berlari ke kelasku di bawah gerimis, dingin, basah, tapi tidak dengan semangatku untuk bersekolah.
"Tik... Tik... Tik...." suara gerimis mengiringi setiap langkahku ke kelas.
Setibanya di kelas, aku langsung duduk di kursiku dan mencoba merapikan rambutku yang basah karena gerimis "Dingin," gumamku.
"Dingin ya?!" tanya Nadia di sampingku.
"Seperti biasa, Nadia. Dengan wajah imut, polos, dan penuh rasa ingin tahu!!" batinku.
"Iya, sedikit!!" jawabku ke Nadia.
"Kasihan deh, kalau kamu mau kamu boleh kok pinjam jaket aku?!" ujar Nadia.
Aku hanya memandangi Nadia dengan ekspresi yang agak bingung "Jaket mu?!" tanyaku pelan.
Nadia membuka tasnya dan mengeluarkan jaket merah muda miliknya "Iya, kamu mau pinjam?!" tanya Nadia.
Aku melihat jaket merah muda milik Nadia, dan menjawab pertanyaannya "Nggak usah," jawabku.
"Ciee.... Ada yang PDKTnih," Celetuk Andika di belakang.
Aku refleks melihat ke Andika "Aduh, Dik. Nggak, kami nggak lagi PDKT!!" jawabku malu-malu.
Tiba-tiba guru datang saat kami sedang mengobrol santai dan saling mengejek.
"Ada Pak Ega!!" teriak Sari, ketua kelasku.
Semua langsung diam, aku juga ikut diam.
"Anak-anak, hari ini sekolah dipulangkan lebih awal. Kalian bisa pulang, tapi hati-hati soalnya masih hujan!!" kabar gembira dari Pak Ega.
Kelas yang semula diam, tiba-tiba langsung berisik karena berita gembira dari Pak Ega.
"Yeayy!!!"
"Asik!!!"
"Pulang cepat, atau libur?!" celetuk Andika.
"Akhirnya bisa ke rental cepet!!" celetuk Raka.
"Sama," celetuk Rio.
Aku senang karena sekolah dipulangkan lebih awal, tapi yang tidak kusukai adalah hari ini hari hujan "Kalau aku pulang sekarang, otomatis baju sama tasku basah karena hujan?!" gumamku.
Nadia yang mendengar itu langsung berkomentar "Aku bawa payung kecil, kita bisa pakai sama-sama," usul Nadia.
Wajahku memerah bukan karena dingin maupun panas, tapi karena tawaran dari Nadia "Emm... Nggak usah," jawabku yang malu.
"Nggak usah? Kenapa?!" tanya Nadia dengan ekspresi yang kecewa.
"Karena... Aku pulang bareng Azzam sama Andika!!" jawabku agak gugup.
"Yaudah," jawab Nadia.
Aku lalu pulang berjalan kaki sendiri, walaupun harus berjalan di bawah gerimis "Dingin," batinku.
"Tap... Tap... Tap..." langkah kakiku.
Aku terus berjalan, sampai dari belakang ada suara yang memanggilku.
"Ivan!!" panggil Pak Slamet.
Aku seketika berhenti berjalan, dan langsung menoleh ke arah suara "Ada apa, Pak?!" tanyaku sambil berteriak.
"Ke sini!!" perintah Pak Slamet.
Aku dengan cepat berlari ke Pak Slamet, sebenarnya aku masih di depan gerbang. Tapi karena Pak Slamet memanggilku, aku langsung berbalik arah.
Setibanya di Pak Slamet, aku tetap berdiri dan melihat Pak Slamet memakai baju olahraga.
"Hujan... Karena sekolah pulang cepat, kita akan latihan sekarang. Walaupun hujan!!" seru Pak Slamet.
Aku kaget, dan memandangi Pak Slamet "Sekarang? Yang lainnya ikut kan, Pak?!" tanyaku.
"Tentu!!" jawab singkat Pak Slamet.
"Kamu taruh tas kamu disini, kalau bajunya kamu bisa pinjam di ruang olahraga. Setelah ganti baju kamu nyusul yang lain di lapangan!!" perintah Pak Slamet.
Aku meletakkan tasku, dan langsung ke ruang olahraga untuk mengganti baju "Latihan kedua, semoga ibu nggak tahu!!" batinku agak cemas.
Setelah selesai mengganti baju "Hmm... Dingin!!" batinku.
Aku langsung menuju ke lapangan, walaupun hujan tapi aku baik-baik saja.
"Ivan!! Ke sini!!" teriak Pak Slamet.
Aku berjalan sambil melihat teman-temanku yang sedang berlatih di bawah guyuran hujan "Iya!!" sahutku.
"Van!!" sapa Azzam yang sedang berlatih.
"Wah... Wah... Wah... Striker andalan sudah datang nih!!" celetuk Egy.
Aku hanya berjalan ke Pak Slamet tanpa menghiraukan celetukan Egy.
"Baik, Van. Kamu akan latihan berlari, dan mencari ruang. Kamu akan berlatih bersama Egy, dan Teo, karena Egy adalah winger kanan dan Teo adalah winger kiri di formasiku. Paham!!" ujar Pak Slamet.
"Siap, Pak!!" jawabku.
"Apa? Tapi Pak..." ujar Egy.
"Tidak ada tapi-tapi!!" potong Pak Slamet.
Aku berlatih bersama kakak kelas, aku berlatih berlari dan mencari ruang kosong. Sementara kak Egy, dan Teo mereka akan berlatih berlari, dan mengumpan ke arahku.
Hujan masih terus mengguyur saat aku dan teman-temanku latihan, langkah demi langkah di lapangan selalu di sertai suara air yang menggenang. Aku berlari menggiring, merebut, dan mencari ruang.
"Van!! Nih bolanya!!" teriak kak Teo sebelum mengumpan.
Aku tetap berlari ke arah gawang sembari menunggu bola yang diumpankan kak Teo. Bola berhasil menyentuh kakiku, satu tarikan napas, satu ayunan, dan satu gol indah lalu tercipta di bawah air hujan.
Aku hanya bisa memandangi bola yang melesat cepat ke arah gawang, bola itu bagaikan burung yang melesat cepat di bawah guyuran hujan "Yes, gol!!" batinku.
Aku berlatih dari pagi, menjelang siang. Akhrinya hujan berhenti turun, tapi tubuhku dan teman-teman sudah basah kuyup karena air hujan.
"Prit!!" suara peluit milik Pak Slamet.
"Semuanya kumpul!!" teriak Pak Slamet dari pinggir lapangan.
Aku dan teman-temanku lalu mendekat ke Pak Slamet, menunggu arahan, aba-aba, dan perintah selanjutnya.
"Hujan sudah reda, hari juga sudah mulai siang. Mungkin sekarang saatnya kalian pulang untuk beristirahat," seru Pak Slamet.
"Baik, Pak!!" jawab kami semua.
Aku kembali ke ruang olahraga untuk mengganti baju, dan mengambil tas. Setelah selesai, aku lalu berjalan pulang.
Tubuhku masih terasa dingin, wajahku terlihat agak lelah, dan tubuhku juga agak sakit karena latihan di bawah guyuran hujan "Aduh... Pegel," batinku sambil terus berjalan.
Sepatuku kotor karena latihan tadi, dan juga aku berjalan di jalan tanah yang becek.
Sesampainya di rumah.
Ibu keluar dengan wajah cemas saat melihat tubuhku basah "Ivan, kamu nggak papa?!" tanya ibu.
"Nggak papa, bu. Cuma dingin doang," ujarku pelan sambil melepas sepatu.
"Kalau nggak papa, kamu habis ini langsung mandi ya!!" ujar ibu yang cemas.
"Iya," sahutku.
Aku masuk ke rumah dengan keadaan tubuh yang basah, tapi beruntung tidak ada air yang menetes ke lantai kayu rumahku.
Sesampainya di kamar mandi, aku langsung mandi.
"Ivan, setelah mandi kamu langsung tidur aja. Kelihatannya badan kamu kecapekan ditambah pasti kamu kedinginan," ujar ibu dari dapur.
"Iya," sahutku.
Setelah selesai mandi aku langsung ke kamar untuk tidur. Aku memandangi langit-langit kamarku sambil berbaring, dan terus berpikir "Apa aku bisa menjadi pemain sepak bola profesional?!" batinku. Pertanyaan itu selalu menggema di pikiranku sebelum tidur.
Aku berhasil tertidur pulas.
Ivan sudah tertidur pulas. Tapi bagaimana dengan mimpinya, apa mimpi Ivan juga akan ikut tertidur?
Bersambung...