NovelToon NovelToon
Tak Lagi Mencintaimu

Tak Lagi Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Pelakor jahat
Popularitas:15.6k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

‎Badai datang pelan namun mematikan, menggoyahkan komitmen lima tahun yang Risa yakini abadi. Di bawah langit malam yang sunyi, dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri suaminya, Raga, sedang bermesraan dengan wanita lain di dalam mobil mereka.

‎Setelah bertahun-tahun membangun rumah tangga dengan penuh pengorbanan, meninggalkan karir impian untuk mendukung karir suaminya, Risa harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cinta yang dia anggap tulus telah dipermainkan.

‎Pengkhianatan itu menjadi pukulan terberat bagi hatinya.

‎"Selama ini aku menutupi kekuranganmu demi menjaga harga dirimu, tapi balasanmu adalah pengkhianatan. Mulai hari ini, aku tidak mau lagi menjadi orang yang selalu mengalah." ~ Risa Anindita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11

Jari-jari Risa menggenggam ponselnya erat-erat, sampai buku-buku jarinya memutih. Di dalam dadanya, badai emosi bergemuruh - rasa sakit, kecewa, dan marah yang selama ini ia tahan akhirnya meledak perlahan. Namun anehnya, tidak ada air mata yang mengalir. Sebaliknya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis, dingin, dan penuh kepastian.

‎‎Senyum itu bukan senyum bahagia, melainkan senyum kelegaan yang pahit.

‎‎"Entah siapa yang dengan sengaja mengirimkan video ini padaku," gumamnya pelan, suaranya datar tanpa getaran. "Tapi bagus. Video ini bisa jadi bukti nyata yang tidak bisa disangkal,"

‎‎Ia segera menutup video itu. Ditambah dengan bukti-bukti lain yang sudah ia kumpulkan, ini akan menjadi senjata utama saat ia mengajukan gugatan cerai, memastikan ia mendapatkan haknya sepenuhnya dan membebaskan dirinya dari belenggu pernikahan yang sudah mati ini.

-

-

-

‎Matahari bersinar terik menyinari kawasan industri tempat Raga baru saja selesai meninjau proyek cabang perusahaan. Setelah berjabat tangan dengan manajer setempat dan mengakhiri rapat singkat, Raga masuk ke dalam mobil, mengemudikannya kembali menuju pusat perbelanjaan di kota itu.

‎‎Pikiran Raga melayang-layang. Awalnya ia merasa kesal karena Risa benar-benar tidak bisa dihubungi, namun lama-kelamaan perasaan itu berubah menjadi kegelisahan yang terus mengganjal. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa istrinya mungkin hanya sibuk atau masih merasa kesal, namun rasa tidak nyaman itu tidak pernah benar-benar hilang.

‎‎Saat ini, Amelia masih menunggu di kamar hotel, sibuk dengan urusannya sendiri. Raga merasa ini adalah kesempatan yang tepat. Tanpa wanita itu di sampingnya, hatinya tergerak untuk melakukan sesuatu yang sekilas terasa seperti cara untuk menenangkan hati nuraninya yang sedikit bersalah.

‎‎"Sudah lama aku tidak membelikan sesuatu untuknya," batinnya. "Mungkin dengan membelikan oleh-oleh, dia akan lebih ramah saat aku pulang nanti. Siapa tahu dia hanya sedang sibuk atau marah karena aku pergi terlalu lama."

‎‎Ia memarkirkan mobilnya dengan rapi, lalu turun dan berjalan masuk ke dalam mall yang ramai. ‎‎Ia berhenti di depan sebuah toko pakaian, lalu masuk dan melihat-lihat koleksi gaun. Setelah memilih sebuah gaun yang bagus dengan warna yang disukai Risa, ia juga mampir ke toko perhiasan, melihat sebuah kalung sederhana namun elegan, lalu membelikannya sebagai tanda perhatian.

‎‎"Ini akan membuatnya senang," pikirnya. "Semoga saja dia tidak lagi dingin dan mau bicara baik-baik saat aku pulang nanti."

‎‎Setelah semua barang dibeli dan dimasukkan ke dalam kantong belanjaan, Raga kembali ke mobil dan melajukannya menuju hotel untuk menjemput Amelia, untuk mengajaknya makan malam romantis diluar.

-

-

-

‎‎Langit mulai gelap dan lampu-lampu jalan mulai menyala satu persatu. Risa mengemudikan mobilnya dengan tenang, namun hatinya sudah teguh. Ia melaju menuju rumah orang tuanya, rumah yang dulu selalu menjadi tempat pelarian dan kenyamanannya.

‎‎Sesampainya di depan rumah orang tuanya, Risa tidak langsung masuk. Ia duduk diam di dalam mobil sejenak, memandang amplop cokelat tebal yang tergeletak di sampingnya, napasnya berat. Ia tahu, apa yang akan ia lakukan dan katakan nanti, pasti akan menimbulkan badai besar, tapi ia sudah tidak punya pilihan lain. Semua rasa sakit, semua penghinaan, semua kebohongan yang ia alami, sudah cukup menjadi alasan baginya untuk mengambil keputusan terberat dalam hidupnya.

‎‎Setelah beberapa saat, Risa turun dari mobil, membawa amplop itu erat di tangannya, lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Papa Harun dan Mama Hana sedang duduk di ruang tengah, sedang menonton televisi, mereka segera menoleh saat melihat putrinya datang.

‎‎"Kamu pulang, Sayang? Kenapa wajahmu pucat sekali? Ada apa?" tanya Mama Hana seraya berdiri menyambut.

‎‎Risa tidak langsung menjawab, ia melangkah mendekat.

‎‎"Pa, Ma… aku punya sesuatu untuk kalian lihat, dan sesuatu yang harus aku katakan," ucap Risa dengan suara tenang namun tegas.

‎‎Ia membuka amplop itu, lalu menyebarkan semua foto di atas meja. Pandangan Harun dan Hana seketika tertuju pada foto-foto itu, dan seketika wajah mereka berubah pucat pasi.

‎‎Mata Harun membelalak lebar saat melihat foto Raga yang sedang memeluk, mencium, dan berjalan berpegangan tangan dengan wanita yang bukan putrinya. Tangannya gemetar hebat saat mengambil satu persatu foto itu, dadanya naik turun karena kaget dan marah.

‎‎"Ini… ini apa, Risa?!" seru Harun dengan suara parau, matanya menatap tajam ke arah anaknya. "Dari mana kamu dapat semua ini?!"

‎‎"Ini bukti nyata, Pa," jawab Risa, tidak menghindari tatapan mata ayahnya. "Ini bukti bahwa Mas Raga berselingkuh, sudah lama menjalin hubungan terlarang dengan wanita lain. Dia mengkhianatiku."

‎‎Risa menarik napas panjang, lalu mengucapkan keputusan yang sudah ia tetapkan di dalam hatinya.

‎‎"Dan karena itu, Pa, Ma… aku memutuskan untuk mengajukan gugatan cerai. Aku tidak mau lagi hidup dengan pria pembohong dan pengkhianat seperti itu. Aku sudah cukup menderita lima tahun lamanya, dan aku tidak mau lagi menyia-nyiakan sisa hidupku untuk orang yang tidak pernah menghargaiku sedikitpun."

‎‎"BERCERAI?!! APA KAMU GILA, RISA?!!" teriak Harun dengan suara keras menggema di seluruh ruangan. "Kamu mau bercerai dari Raga? Kamu tahu apa yang kamu katakan itu?! Kamu pikir pernikahan itu cuma main-main, bisa diakhiri sesuka hatimu?!"

‎‎"Pa, dia sudah mengkhianatiku! Dia sudah menyakiti hatiku. Lalu apalagi yang harus dipertahankan dari hubungan kami?!" bantah Risa dengan suara tegas, matanya tidak berkedip menghadapi kemarahan ayahnya.

‎‎"TERSERAH APA YANG DIA LAKUKAN! TAPI KAMU TIDAK BOLEH BERCERAI!" bentak Papa Harun semakin keras, matanya melotot penuh kemarahan. "Kamu lupa siapa dirimu, Risa? Kamu itu mandul! Kamu tidak bisa punya anak! Kamu pikir siapa lagi laki-laki yang mau menerima wanita yang tidak sempurna seperti kamu selain Raga? Tidak akan ada pria lain yang mau menikah denganmu dan mau menanggung aibmu, mau menjagamu seperti dia!"

‎‎Kata-kata itu menusuk tepat ke dada Risa, persis seperti kata-kata Mama Rima tadi siang.

‎‎"Jadi bagi Papa, kekurangan fisikku lebih penting daripada rasa sakit hatiku?" tanya Risa dengan suara gemetar, matanya mulai berkaca-kaca namun tidak ada air mata yang jatuh. "Apa aku hanya barang yang harus dipertahankan meskipun disakiti, hanya karena tidak ada orang lain yang mau menerimaku?!"

‎‎"ITULAH KENYATAANNYA, RISA! Itulah fakta pahit yang harus kamu terima!" jawab Harun tanpa rasa bersalah sedikitpun, nada suaranya kasar dan tajam. "Raga itu sudah sangat baik mau menerima kamu apa adanya. Dia sudah sabar, sudah mau hidup dengan kamu meskipun kamu tidak bisa memberinya keturunan. Dan kamu malah mau meninggalkan dia hanya karena hal sepele seperti ini? Kamu itu tidak tahu diri, tidak punya rasa terimakasih sedikitpun!"

‎"Itu bukan hal sepele, Pa! Itu pengkhianatan! Dan yang paling tidak tahu diri itu bukan aku, tapi dia!" Risa meninggikan suaranya, untuk pertama kalinya berani melawan kemarahan ayahnya. "Aku tidak peduli, seburuk apapun keadaanku, aku tidak mau lagi hidup dalam kebohongan dan penghinaan. Aku akan tetap bercerai, Pa. Keputusanku sudah bulat, tidak ada yang bisa mengubahnya."

‎‎Mendengar jawaban tegas itu, kemarahan Harun mencapai puncaknya. Ia menatap anak perempuannya itu dengan pandangan penuh kebencian, seolah Risa bukan lagi darah dagingnya sendiri.

‎‎"Baiklah! Kalau kamu sangat keras kepala dan sudah tidak mau mendengar kata orang tuamu, silakan saja!" seru Harun dengan suara dingin dan penuh ancaman. "Tapi ingat baik-baik, Risa! Kalau kamu berani mengajukan cerai dari Raga, maka kamu tidak perlu lagi menginjakkan kaki di rumah ini selamanya! Mulai saat itu juga, hubungan kita sebagai ayah dan anak putus! Kamu bukan lagi anakku! Kamu bebas melakukan apa saja, tapi jangan pernah harap kamu bisa kembali kesini dan jangan pernah harap kami mau mengakui kamu lagi!"

‎‎Mama Hana langsung menangis tersedu-sedu, segera memegang lengan suaminya sambil memohon.

‎‎"Pa! Jangan bicara begitu! Risa itu anak kita!"

‎‎Tapi Harun menepis tangan istrinya dengan kasar, matanya tetap menatap tajam ke arah Risa.

‎‎"Biarkan saja! Dia yang memilih jalannya sendiri! Kalau dia lebih memilih keegoisannya daripada keluarga dan masa depannya, biarkan dia menanggung akibatnya sendiri!"

‎‎Risa berdiri diam di tempatnya, hatinya terasa hancur berkeping-keping mendengar ancaman itu.

‎‎"Baiklah, Pa… Kalau itu keputusan Papa, aku terima," ucap Risa dengan suara pelan namun jelas, tanpa ada rasa takut. "Mulai hari ini, aku akan hidup untuk diriku sendiri. Aku akan berjuang untuk kebahagiaanku sendiri, meskipun aku harus berjalan sendirian tanpa dukungan siapapun."

‎‎Dia menundukkan badan sedikit, memberi hormat terakhir kepada kedua orang tuanya.

‎‎"Terimakasih sudah membesarkan dan merawatku selama ini, Pa, Ma. Maafkan aku kalau aku tidak bisa menjadi anak yang seperti kalian inginkan. Permisi, aku pamit."

‎‎Tanpa menunggu jawaban, Risa membalikkan badan, melangkah keluar dari rumah itu dengan punggung tegak, meskipun di dalam hatinya, ia merasa seolah seluruh dunianya runtuh seketika.

-

-

-

Bersambung...

1
〈⎳ FT. Zira
plong ya ris, akhrnya bsa lepas
〈⎳ FT. Zira
desak teruss ....ntar pas mau nikah, kabur ya mel🤣
〈⎳ FT. Zira
perhatiannya berlapis🤭
vj'z tri
tunggu nanti w ketawa ngakak disaat/Smug//Smug//Smug//Smug/ ada kata menyesal dari mulut mu
°RhaiKen™
ehh.. jangan dulu pak dokter 🤣🤣 biar sidang nya selesai dulu resmi bercerai nah baru deh kasih kesaksian 🤣🤣🤣✌️
🔥Violetta🔥: Mulut pak dokter sudah gatel pengen ngomong 😂😂😂
total 1 replies
Rizky Manik
lanjut thor🤗
🔥Violetta🔥: Asiap 🙏😁
total 1 replies
nayla tsaqif
Klo amelia tau raga mandul sblm mrk nikah,, amelia pasti kabur thor,, berubah haluan ngejar regan,,, 😌
🔥Violetta🔥: Depak aja dia kalau berani deketin pak Bos, kak 😂😂😂
total 1 replies
partini
mantap , menunggu berapa bab lagi sidang nya Thor
🔥Violetta🔥: Betul Kakak.. biar cepat cerai 😁
total 1 replies
vj'z tri
ahayyyy jreng jreng jreng
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ icik bos dah salting berat ini
🔥Violetta🔥: Udah cenat-cenut dia 😂😂😂
total 1 replies
W I 2 K
kamu nanya.. kamu bertanya-tanya....,

secara g langsung km udah siap ni ditinggalin raga.. km kan nyuruh cek, terus tau kenyataan pahit asam manisnya kyk apa.... ya jelas nanti raga bakalan ngejar balik lg risa.. ya nerima apa adanya kan cm dia.... siap² deh mimpi terindah menikah dengan raga hanya tinggal khayalan belaka... 🤣🤣🤭
〈⎳ FT. Zira
coba cekk. di lihat..diraba.. di...🤭🤭
〈⎳ FT. Zira
kesempatan noh Re .. ambilll🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
jodoh ka Re🤭
〈⎳ FT. Zira
kamulah orangnya🤭
〈⎳ FT. Zira
cieeee cieee🤭🤭🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
deg deg ser gak ris🤭
〈⎳ FT. Zira
jodoh emag gak kemana yaa🤭
Rizky Manik
lanjut thor🤗
Rizky Manik
ayo periksa lagi kalo berani🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!