NovelToon NovelToon
Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi 2

Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Fantasi / Bertani / Slice of Life
Popularitas:37.3k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan sepak terjang sang Petani Sultan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gubuk di Dalam Kendi

Meskipun relief lukisan di permukaan Kendi Penyuling Jiwa ukurannya tak lebih besar dari prangko biasa, detailnya sangat luar biasa rumit. Tak hanya menampilkan padang rumput, barisan pegunungan, hutan lebat, danau, serta lautan, kini... tepat di bagian tengah lukisan mikroskopis itu, muncul siluet sebuah gubuk sederhana!

Ini adalah pertama kalinya sebuah objek buatan muncul di dalam dimensi kendi. Penemuan ini benar-benar di luar nalar Banyu dan membuatnya terkejut setengah mati. Saking penasarannya, Banyu langsung memejamkan mata dan masuk ke dalam ruang dimensi kendi.

Benar saja, tepat di samping mata air abadi, berdiri kokoh sebuah gubuk. Bangunan itu konstruksinya seratus persen dari material alam; dindingnya dari kayu gelondongan asli, kerangka jendelanya terbuat dari bilah bambu yang masih hijau segar, sementara atapnya dianyam dari jerami kering. Dua daun pintu kayunya tampak sedikit terbuka, menyisakan celah yang tak bisa memperlihatkan apakah ada seseorang di dalamnya atau tidak.

Berdiri mematung di depan gubuk itu, jantung Banyu berdebar tak karuan. Selama ini, topografi di dalam kendi selalu transparan dan mudah dipetakan, tanpa ada secuil pun tanda-tanda eksistensi manusia lain. Oleh karena itu, Banyu selalu merasa sangat rileks dan menganggap tempat ini sebagai safe house pribadinya.

Namun, situasi kali ini sungguh berbeda. Gubuk di depannya ini jelas-jelas hasil karya campur tangan manusia. Jika ada rumah, lalu di mana pembuatnya? Jangan-jangan dia sedang sembunyi di dalam? Kalau memang ada orang di dalam sana, apakah dia punya niat jahat? Bagaimana kalau orang itu menyerang dan mengancam nyawanya?

Rangkaian skenario terburuk itu berkelebatan bagai kilat di otak Banyu, membuat detak jantungnya memburu. Karena tak berani asal nyelonong masuk, Banyu buru-buru memungut sekop yang biasa ia pakai untuk menanam pohon di dekat mata air. Ia memegang sekop itu erat-erat dengan posisi siaga layaknya tombak, lalu melangkah mengendap-endap mendekati gubuk tersebut.

Anehnya, semakin dekat jaraknya dengan gubuk itu, Banyu semakin bisa merasakan aura kuno yang damai dan menenangkan. Ia samar-samar menangkap gelombang energi yang tenteram dan harmonis berembus dari dalam gubuk, yang secara ajaib melunturkan seluruh ketegangan di urat sarafnya. Belakangan ini, Banyu cukup percaya diri dengan kepekaan spiritualnya. Karena gubuk ini memancarkan aura yang begitu positif, ia menyimpulkan bahwa tempat ini minim ancaman fatal.

Meski begitu, ia pantang menurunkan kewaspadaan. Ia menggunakan ujung sekopnya untuk mendorong pintu kayu yang sedikit terbuka itu. Krieet... Perlahan, isi gubuk itu mulai menampakkan wujudnya.

Gubuk itu terbagi menjadi tiga bilik: bilik kiri, tengah, dan kanan. Ketiga bilik itu saling terhubung oleh pintu di bagian dalam. Karena Banyu berdiri tepat di pintu masuk utama, ia hanya bisa melihat isi bilik tengah. Interiornya sangat minimalis; hanya ada sebuah meja kayu pendek, dua buah bantal duduk bundar dari anyaman rotan, dan sebuah lukisan kuno yang tergantung di dinding tepat berhadapan dengan pintu masuk. Ruangan ini sepertinya difungsikan sebagai ruang tamu utama.

"Permisi... ada orang di dalam?" Banyu berseru pelan dari ambang pintu. Karena tak ada jawaban, ia mengeraskan suaranya. "Aku masuk, ya! Jangan serang aku, aku datang dengan damai!"

Setelah mengikrarkan niat baiknya, Banyu melangkah masuk perlahan. Tetap hening. Tak ada pergerakan apa pun. Dari posisinya sekarang, ia bisa mengintip isi bilik kiri dan kanan. Setelah memastikan setiap sudutnya bersih, Banyu akhirnya yakin bahwa gubuk ini benar-benar kosong melompong. Tak ada siapa-siapa di sini selain dirinya.

Penemuan ini membuat Banyu mengembuskan napas lega yang luar biasa panjang. Gubuk kosong adalah skenario terbaik baginya. Ini artinya, ruang dimensi kendi masih menjadi wilayah kedaulatan mutlak miliknya seorang. Ia masih bebas berbuat sesuka hati tanpa perlu paranoid memikirkan ancaman dari pihak tak diundang. Merasa aman, Banyu menyandarkan sekopnya ke dinding dan mulai menginspeksi "bonus properti" barunya ini dengan rasa penasaran yang membuncah.

Bilik sebelah kanan jelas didesain sebagai kamar tidur. Di dalamnya terdapat sebuah ranjang bambu yang warnanya masih sangat hijau dan segar, serta dua buah peti penyimpanan yang dianyam dari bambu. Banyu buru-buru membuka kedua peti itu, namun ekspresi wajahnya langsung berubah kecewa; keduanya kosong melompong. Padahal otaknya sudah berfantasi akan menemukan pusaka sakti, harta karun, atau minimal pil dewa di dalamnya.

Karena tidak ada pemilik yang sah, Banyu otomatis menobatkan dirinya sebagai tuan rumah. Ia langsung merebahkan diri di atas ranjang bambu dan melompat-lompat kecil untuk mengetes kekuatannya. Ranjang itu ternyata sangat kokoh; dibanting sekuat apa pun, rangkanya tidak berdecit sedikit pun. Keajaiban lainnya, meski hanya berupa anyaman bambu polos tanpa alas apa pun, saat diduduki rasanya sangat pas tidak terlalu keras maupun terlalu empuk persis seperti berbaring di atas kasur premium bertaraf bintang lima.

"Wah, gila, nyaman banget," gumam Banyu sambil menepuk-nepuk ranjang bambu itu. "Besok-besok bawa selimut sama guling ke sini ah, lumayan buat tempat tidur siang!"

Sayangnya, jadwal Banyu terlalu padat. Setiap kali ia masuk ke dalam kendi, pasti selalu ada pekerjaan yang harus diurus, jadi ia jarang sekali punya waktu untuk sekadar tidur. Oleh karena itu, minatnya pada kamar tidur ini cepat memudar. Ia pun beranjak menuju bilik sebelah kiri.

Dari ketiga ruangan, bilik kiri ini memiliki perabotan yang paling elegan. Di depan jendela, terdapat sebuah meja tulis antik dengan kedua ujung yang melengkung ke atas. Di depannya berdiri sebuah kursi bersandar tinggi yang usianya terlihat sudah sangat tua. Di sisi dinding yang lain, bertengger sebuah rak buku kayu. Beberapa buah buku dengan sampul metode jilid benang tradisional tersusun rapi di atasnya. Kertas-kertasnya terlihat sudah menguning dimakan usia. Jelas sekali ini adalah ruang baca atau ruang kerja.

"Eh, ada perpustakaannya juga rupanya!" Mata Banyu langsung berbinar kegirangan. Menemukan literatur tertulis di dalam dimensi tak berpenghuni ini adalah penemuan super masif! Siapa tahu buku-buku ini memuat sejarah asal-usul Kendi Penyuling Jiwa atau petunjuk rahasia penggunaannya.

Di rak itu hanya terdapat lima buku. Anehnya, hanya ada satu buku yang memiliki judul di sampulnya: "Teknik Pemeliharaan Jiwa", sementara empat buku sisanya sama sekali tak bernama. Karena sudah sangat gatal penasaran, Banyu langsung menyambar buku yang memiliki judul dan membuka halamannya dengan penuh antusiasme.

Namun, ekspektasinya hancur lebur berkeping-keping saat ia membalik halamannya. Kertas-kertas tua yang menguning itu... kosong melompong! Tidak ada satu huruf, titik, atau coretan tinta pun di sana! Ia membolak-balik halaman dari awal sampai akhir, dan hasilnya nihil. Seluruh isi buku itu benar-benar bersih sebersih kain kafan, kecuali empat huruf Mandarin di sampulnya tadi.

"Buset, apaan nih?!" gerutu Banyu kesal. Tak mau menyerah, ia langsung menyambar empat buku tanpa judul lainnya dan membukanya satu per satu.

Keempat buku itu malah lebih ekstrem lagi. Dari sampul depan sampai sampul belakang, tidak ada satu huruf pun! Kalau saja buku-buku itu tidak dijilid dengan teknik kuno yang sangat rumit dan rapi, Banyu pasti mengira ini cuma buku tulis sketchbook kosong.

Harapan Banyu untuk menggali rahasia kendi dari buku-buku ini kandas total, menyisakan kekecewaan yang mendalam. Selain mengetahui bahwa salah satu buku itu membahas tentang "Teknik Pemeliharaan Jiwa", ia sama sekali tidak mendapatkan informasi baru.

Namun, logika Banyu menyadari sesuatu. Buku-buku kosong ini tidak mungkin cuma lelucon prank recehan. Semua hal yang bisa muncul dan terwujud di dalam kendi dimensi dewa ini pasti memiliki nilai dan fungsi absolut. Kesimpulannya cuma satu: ini adalah Kitab Tanpa Aksara! Dan jika huruf-hurufnya tidak terlihat, itu berarti Banyu belum memenuhi syarat, atau ia telah melewatkan sebuah langkah krusial untuk bisa membacanya.

"Terus, password-nya apa ya biar tulisannya muncul?" Banyu memandangi kelima Kitab Tanpa Aksara itu dengan dahi berkerut, tenggelam dalam perenungan.

Namun, memeras otak untuk memecahkan teka-teki level dewa tanpa clue sama sekali jelas adalah pekerjaan sia-sia. Untungnya, salah satu sifat terbaik Banyu adalah sikapnya yang easy-going dan pantang dibuat pusing oleh hal yang di luar kendalinya. Menyadari bahwa ia tidak akan menemukan jawabannya malam ini, ia langsung mengibarkan bendera putih sebelum otaknya meledak.

Ia menyusun kembali kelima buku itu ke rak asalnya, mengangkat bahu dengan sangat santai, dan bergumam, "Ya udahlah, toh suatu hari nanti pasti bakal terungkap juga caranya. Ngapain juga aku nyiksa diri sendiri mikirin ginian sekarang?"

Banyu sama sekali tidak menyadari bahwa kepribadiannya yang santai dan 'bodo amat' itu baru saja menyelamatkan nyawanya. Dalam rentang sejarah ribuan tahun, Kendi Penyuling Jiwa telah berpindah tangan ke banyak tuan. Beberapa di antara mereka berhasil mengevolusikan kendi tersebut hingga mencapai tahap yang sama dengan Banyu saat ini. Dan tentu saja, mereka juga dihadapkan pada misteri Kitab Tanpa Aksara ini.

Para pendahulu yang mampu mengevolusikan kendi hingga tahap ini rata-rata adalah sosok jenius dengan tekad sekeras baja dan ambisi yang menggebu-gebu. Mereka semua bersumpah mati-matian untuk memecahkan misteri kitab tersebut. Tragisnya, karena terlalu obsesif dan memaksakan diri, mereka semua berakhir tragis; otak mereka hancur, saraf mereka putus, dan mereka menjadi gila secara permanen! Sebaliknya, Banyu yang punya moto hidup "kalau susah, tinggalkan saja" justru berhasil selamat dari kutukan maut ini dengan mudah. Terkadang, tahu kapan harus berhenti dan pasrah justru mendatangkan anugerah yang tak terduga.

Karena gubuk kecil itu tidak memiliki ruangan lain untuk dieksplor, Banyu memutuskan untuk keluar dan berkeliling mengecek perluasan wilayah di dalam kendinya.

Hal pertama yang menyita perhatiannya adalah penambahan luas area secara signifikan. Padang rumput datar di wilayah tengah kini telah meraksasa, luasnya nyaris mencapai sekitar 1,5 Hektare. Area perbukitan juga mengalami perluasan yang seimbang. Puncak bukitnya bahkan meninggi hingga 50 persen dari sebelumnya; kini ia benar-benar layak disebut sebagai sebuah bukit kecil, bukan sekadar gundukan tanah.

Pohon kecil misterius yang tumbuh di tepi mata air juga mengalami progres. Selain menumbuhkan sehelai daun baru, sebuah tunas muda nan mungil juga tampak mulai menyembul. Daun dari pohon ini adalah aset paling sakti dan berharga yang Banyu miliki, jadi penambahan satu daun dan satu tunas ini sudah cukup membuatnya tersenyum puas.

Ia berjalan menyusuri aliran sungai yang membelah padang rumput. Di titik terlebarnya, lebar sungai itu kini menembus lima meter. Di bagian hilir, sungai itu bermuara pada sebuah danau yang kini telah membengkak seluas setengah Hektare. Banyu bisa melihat kawanan sapi sedang merumput damai di tepian danau. Saat angin bertiup pelan, permukaan danau beriak memantulkan cahaya berkilauan. Sesekali, riakan air yang lebih besar muncul saat sepasang ikan Empurau Sultan melompat riang menembus permukaan air.

Banyu terus menyusuri aliran sungai hingga mencapai muara menuju lautan lepas. Garis pantai berpasir putih yang sangat halus itu kini telah membentang sangat panjang, memanjang sejauh satu kilometer. Belasan pohon kelapa yang ia tanam tempo hari kini telah tumbuh menjulang, memberikan sentuhan tropis yang menawan pada pemandangan pantai yang tadinya sedikit monoton.

Area lautan juga mengalami ekspansi gila-gilaan, melebar dari yang tadinya hanya puluhan meter kini menembus ratusan meter. Seperti biasa, Banyu menggunakan trik konyolnya: memeluk batu besar agar tenggelam dan berjalan menyusuri dasar laut. Semakin jauh ia melangkah, ia menyadari kedalaman laut ini telah menembus lebih dari sepuluh meter. Aura misterius dan keagungan lautan dalam mulai terasa mencekam. Karena wilayah laut ini baru saja diekspansi, kerumunan abalon dan mutiara Pinctada Maxima yang gerakannya super lambat belum sempat bermigrasi ke area terdalam ini. Namun, terumbu karang dan padang lamun sudah tumbuh rimbun di mana-mana.

Tiba-tiba, mata Banyu menangkap pergerakan segerombolan ikan-ikan kecil tak dikenal yang berenang beriringan, menyuntikkan nyawa pada lautan yang biasanya sunyi senyap itu. Dan di antara ikan-ikan kecil itu, sekelebat bayangan licin nan gesit melesat bagai anak panah, memangsa ikan-ikan malang tersebut. Itu adalah belut sidat! Melihat kelincahan si sidat saat berburu, Banyu hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum pahit. Kekhawatirannya selama ini akhirnya menjadi kenyataan.

Memang, perluasan wilayah di dalam Kendi Penyuling Jiwa adalah berkah yang luar biasa. Namun, hal ini membawa satu efek samping yang memusingkan: manajemen hewan ternak menjadi semakin sulit dikendalikan! Menggembalakan sapi di padang rumput datar sih masih gampang, tapi bagaimana cara mengatur populasi ikan Empurau Sultan, belut sidat, abalon, dan kerang mutiara yang tersebar luas di dasar laut dan danau?! Jujur saja, saat ini otak Banyu buntu. Ia terpaksa memakai prinsip pasrah: biarkan saja alam yang mengurusnya, nanti kalau ada masalah baru dipikirin.

Setelah menuntaskan inspeksi menyeluruh di wilayah ekspansi baru ini, Banyu segera keluar dari ruang dimensi kendi. Jadwalnya untuk mengurus proyek pembangunan peternakan di dunia nyata masih sangat padat beberapa hari ke depan, jadi ia harus tidur cepat untuk memulihkan staminanya.

1
Noor hidayati
kayaknya authornya ini memang menyukai free sex
Sri Murtini
Sesuai takdir Siska adalah isteri pertamamu banyu ...mslh dayang lainya ikuti mengalir saja tp dgn pertimbangan istri pertama ya !!
Yusup Surya
sialan plot twist dalam plot twist
Sri Murtini
Banyu segera nikahi Siska siapa tahu ada banyu yunior yg singgah dirahim siska sblm zina berlanjut💪😍😍
wan auw
ahhh kurang bnyak thorrr
isnaini naini
stlh beratus ratus episode...akhirnys....emang author satu ini pnuh kjutan
Memyr 67
𝗆𝖾𝗇𝖺𝗇𝗀 𝖻𝖺𝗇𝗒𝖺𝗄 𝗍𝗎 𝖻𝖺𝗇𝗒𝗎. 𝖽𝖺𝗁 𝖻𝖾𝗋𝗁𝖺𝗌𝗂𝗅 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖾𝖻𝗈𝗅 𝗄𝖾𝗉𝖾𝗋𝖺𝗐𝖺𝗇𝖺𝗇 𝗌𝗂𝗌𝗄𝖺, 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌 𝗆𝖺𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖾𝖻𝗈𝗅 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗉𝖾𝗋𝖺𝗐𝖺𝗇 𝗒𝗀 𝗆𝖺𝗇𝖺 𝗅𝖺𝗀𝗂? 𝗍𝖺𝗇𝗉𝖺 𝗉𝖾𝗋𝗇𝗂𝗄𝖺𝗁𝖺𝗇? 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋 𝗉𝗅𝖺𝗒𝖻𝗈𝗒 𝖼𝖺𝗉 𝗄𝖺𝗉𝖺𝗄.
Hardware Solution
akhirnyaaaa.....
Memyr 67
𝗉𝗎𝖺𝗌𝗒, 𝗒𝗎𝖽𝗈 𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝖻𝖺𝗅𝖺𝗌𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗍𝗂𝗆𝗉𝖺𝗅
Gege
akhirnya banyu pecah prewi...dan ular kadutnya pun berevolusi bukan buat kencing ajah...🤭🤣
Cui Lan Seng
hahaha emang benar novel terjemahan berarti emang indonesia bukan asia ya
Zamo: Anjirr, aku ampe mikir apa maksudnya ini? tapi bener juga ya, dikiranya Indonesia benua sendiri🤭
total 1 replies
Endro Budi Raharjo
lalu crita ditangkep polisi gmn kelanjutannya ???
Riyanganz
seperti biasa dramanya 4 chapter ga selesai selesai😄
Was pray: biasa .... muter2 kayak gangsing, satu konflik gak kelar2.. .. 🤭
total 1 replies
Memyr 67
𝗉𝖾𝗆𝗎𝖽𝖺 𝖺𝗌𝗂𝖺. 𝗄𝖺𝗇 𝗉𝗈𝗌𝗂𝗌𝗂 𝖻𝖺𝗇𝗒𝗎 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗇𝗀 𝖽𝗂 𝖺𝗌𝗂𝖺 𝗍𝗁𝗈𝗋.
asammanis
wkwk bosen hidup🤣🤣
BaksoEnak
hahahah kayaknya ini novel terjemahan Da Xia yaa ketahuan kamu🤭🤭🤭
Was pray
jadi tersangka penganiayaan itu Rendi biar banyu mikir dulu kalau mau bertindak, udah jelas menganiaya Rendi di tempat publik( rumah sakit)itu udah veruko tinggi
Gege
othor berusaha membuat konflik yang memicu emosi pembacanya, ..🤣
asammanis
wkwk kekuatan amplop emang paling top🤣
asammanis
wkwk susternya kena mental 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!