Tahun 1989, desa Suka tani belum tersentuh yang nama teknologi canggih tidak seperti di kotanya. Desa itu mengandalkan alat tradisional khasnya sendiri.
Lampu lentera minyak tanah atau obor minyak tanah menjadi alat utama penerangan rumah, berpergian malam hari. bisa juga di gunakan sebagai penerangan kegiatan pribadi.
Tidak ada namanya motor dan mobil mewah . Delman dan sepeda ontel menjadi opsi alat transportasi. Itu pun hanya di miliki oleh orang kaya saja, orang sederhana tidak memiliki. Mereka mengandalkan kakinya.
Tidak ada ponsel canggih, hanya ada ponsel jadul harus memasuki wilayah terdapat sinyal agar bisa di gunakan menghubungi seorang. Namun ponsel tidak berguna di desa itu. Di mana tidak terdapat listrik.
Tidak ada namanya SMS, maupun pesan teks seperti WA. Orang mengirim pesan lewat surat tertulis di kirim lepat kantor pos maupun lewat temannya hanya sekedar berpesan pada kekasih.
Sebagian besar penduduk asli desa suka tani menekuni sebagai petani, dan nelayan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amatir author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
penyakit Panik berlebihan.
"Tapi, materi matamatika sangat penting bagi kehidupan. Dunia penuh perhitungan." Tambahnya.
"Itu kalian tahu, jika kalian belajar dengan baik. Materi itu sangat menyenangkan." Ucap Asep.
"Oh..
Guman siswa tadi yang bilang matahari.
Asep melangkah ke depan mengumpulkan lembar jawabannya, bergegas pergi langsung mencari jajanan yang dia sukai.
"Kak tunggu, Selly ikut."
Selly berlari kecil mengejar kakaknya.
"Kakak akan beli es pelangi dan somay? Adik suka dengan makanan itu?" Tanya Asep terus melangkah.
"Iya kak Selly suka es pelangi, kenapa kakak menganggap ku tidak suka makanan seperti itu?" Jawabnya.
"kakak berpikir jajanan mu hasil pabrik, jajanan toko seperti es krim dan Chiki mahal." Ucap Asep.
..."Itu juga benar, tapi itu untuk di nikmati di rumah. di rumah ada penjual jajanan sekolah lewa tidak ada penjual yang lewat, Selly akan beli. Tapi tidak ada yang lewat depan rumah kita." ...
"Baiklah, kita kesana." Ucap Asep.
Mereka mencari penjual jajanan yang dia inginkan. Mereka beli sepantasnya dan duduk bersantai di teras depan kelas.
"Iya kak, ibu dan ayah ke kota membeli beberapa alat elektronik, Listrik pun sudah terpasang di rumah."
"Bagaimana dengan alat yang selalu membantu kita, menemani kita belajar dengan sinarnya?" Tanya Selly sambil membuka es pelangi milik lalu memakan berlahan.
"Yang lama biarkan menjadi sejarah dan kenangan. Sudah saatnya kita mengikuti perkembangan. Tapi sifat kita tidak boleh berubah buruk. Kita semakin tekun belajar dan mengaji." Jawabnya.
"Selly mengerti soal itu. soal barang lama nanti kita buat ruangan khusus menyimpan barang tersebut. Siapa tahu menjadi berharga di masa depan. Menjadi kenangan kita sudah dewasa nanti." Ucap Selly lalu menggigit es pelanginya.
"Ide bagus, nanti aku titip barangku. Kita menciptakan kelangan bersama. Jika ada benda bisa mengabadikan setiap momentum itu, kita manfaatkan itu. Seperti foto kamera." Ucap Abdul.
"Tidak, itu khusus barang pribadi keluarga. Foto bersama okelah, itu masuk. Tapi barang pribadi milik mu, dilarang masuk." Ucap Selly.
"Betul sekali, itu merusak pemandangan." Timpal Asep .
"Hi hi..
Abdul hanya tertawa canggung saja.
"Intinya, barang milik bersama kita simpan. Okelah kalian tidak menerima barang pribadi ku, Aku terima. Aku akan simpan sendiri." Ucap Abdul.
"Baiklah kita sudah putuskan, barang pertama kita simpan. Lampu lentera dinding rumah dan Obor minyak tanah juga masuk. Kedua barang itu akan jarang di gunakan setelah ada listrik. Bisa dipakai kembali sebagai alternatif jika listrik bermasalah." Ucap Selly.
"Di rumah lama ku, ada banyak lentera dinding minyak tanah manual terbuat dari kaleng bekas. Mungkin lebih legend bagi kehidupan ku dari lentera petroma minyak tanah." Ucap Asep memasukkan potongan terakhir es pelanginya.
"Itu akan menjadi nilai bagus. Nanti sepulang sekolah, kita ke rumah lama kakak, kita ambil. Kita abadikan dengan kamera tempat kesukaan kakak." Ucap Selly membuang bekas wadah es pelangi di tong sampah dan mengambil siomay miliknya.
"Emangnya kamu memiliki benda seperti itu?" Tanya Asep.
"Aku punya satu kamera, hadiah dari ayah di ulang tahun ku ke 10 tahun." Jawabnya.
"Oh..
Guman Asep mengerti.
"kakak pernah dengar, ayah mu pernah pergi ke kota. Mungkin ayah mu membeli benda itu." Ucap Asep.
"Iya kak, bukan kamara saja. Ayah juga membeli ponsel untuk ku, namun ayah melarang ku menggunakan itu. Alasannya agar aku fokus belajar."
"Lagi pula, di desa kita belum ada sinyal dan listrik stabil. Ponsel itu tidak bisa di gunakan dengan stabil mengirim pesan teks, dan menelpon orang." Ucap Selly.
Abdul hanya diam mengamati sambil memakan siomay milik Asep.
"Oh...
Guman Asep mengambil siomaynya di taruh di bawah, namun tidak menemukan.
"Di mana siomay ku, tadi aku taruh disini!" Ucap Asep mencari keberadaannya.
"Sudah kak, ikhlaskan saja. Siomay milik kakak sudah masuk di perut orang lain." Ucap Selly pelan.
"Kamu yang makan dik?" Ucap Asep.
"Tidak, Selly makan milik ku sendiri. Teman mu yang makan." Jawab Selly memberi kode kepada Asep dengan jarinya .
Asep melihat kearah di tunjukkan oleh jari Selly. Dan melihat Abdul membalikkan badannya sedang melakukan sesuatu.
Asep mencoba melihat apa yang di lakukan oleh temannya dengan rasa curiganya.
"Sudah habis.. maaf." Ucap Abdul sambil menunjukkan bungkus siomay masih terdapat noda sambalnya.
"Huh..
"Temanku ini rakus sekali, siomay kemarin belum sempat aku makan dan buang, dia makan sampai bungkusan berlubang-lubang lagi." Ucap Asep berbohong.
"Ini..
Tegun Abdul terkejut dan percaya.
"Iya, tadi kakak ingin membuang.Tapi sudah di buang di perutmu." Ucap Selly.
"Uek!..
"Uek!!"
Abdul mencoba memuntahkan makanan itu dengan panik. Namun tidak kunjung berhasil.
Wajarnya terlihat panik, sedikit pucat.
"Ini.
"Hentikan, tadi aku hanya berbohong. Siomay itu baru aku beli." Jelas Asep terlihat kasihan dan kepanikan temannya.
"Ini..
Tegun Abdul dan terduduk lemas, terlihat menarik nafasnya.
"Ada apa dengannya? Kenapa menjadi seperti ini." Ucap Selly bingung.
Dia kebingungan melihat Abdul berkeringat dingin, tubuhnya bergetar karena panik.
Asep membeli teh manis.
"Minumlah. Maaf aku lupa." Ucap Asep menyerahkan teh manis itu.
Abdul menerima dan langsung meminumnya.
"Dia memiliki kelainan namanya panik over . Jika dia mendapatkan masalah besar, rasa paniknya berlebihan. Seperti kehilangan barang kesukaannya. Ini sejenis trauma."
"Jika berlarut dan diamkan. Akibatnya patal, bisa menyerang saraf otak pusatnya." Jelas Asep .
"Oh..
Guman mengerti Selly.
"Huh .. huh..
"Kamu hampir membuat ku gila." Ucap Abdul menghela nafas lega.
"Maaf, aku lupa. maaf." Ucap Asep tulus.
"Aku maafkan, jika terulang. Kita tetap teman. He he" Ucapnya.
"Aku tahu, kamu tidak akan melakukan itu lagi." ucapnya lagi.
"Kamu ini masih saja bisa tertawa.dalam keadaan gawat " ucap Asep.
"Penyakit mu, sangat aneh. Pasti ada penyebabnya." Ucap Selly.
"Dulu, aku tidak seperti ini. Setelah mendengar kedua orang ku mendapatkan masalah besar. Aku terkena penyakit itu, waktu itu hampir menjadi pasien rumah sakit jiwa." Jawab Abdul.
"Teh manis minuman kesukaan ku, dengan meminum itu juga bisa menghilangkan kepanikan ku dan menenangkan pikiran." Tambahnya.
"kenapa tidak melakukan pengobatan terapi jalan. jika tidak tidak di obati takutnya menjadi bahaya kedepannya. "
"jika kamu tidak memiliki biaya pengobatan, aku bersedia membantumu sampai sembuh total." ucap Selly.
"tidak perlu, rumah sakit jauh. Membutuhkan waktu lama mondar mandir ke sana." tolak Abdul.
"Kalau begitu akan aku berikan teh aromaterapi. Teh jenis obat bisa menjernihkan pikiran dan juga bisa menenangkan pikiran." Ucap Selly.
"benar yang di katakan mu, rumah sakit besar jauh ada di kota, disini hanya ada puskesmas. mungkin alat pengobatan terbatas. Aku beri teh saja." Tambahnya.
"Terimakasih nona Selly, nona sangat baik sekali. Teh terapi itu sangat mahal, sulit di beli sebarang orang." Ucap Abdul merasa senang dan terharu.
"Tidak perlu berterima kasih, kita adalah teman. Seorang teman harus saling membantu tanpa peduli dengan nilai barang." Jawab Selly santai.
"Hmm..
"Semakin mengenalnya, aku merasa Selly berubah. Sifat sombongnya menghilang." Guman di hati Asep menatap adiknya.
lonceng berbunyi, ujian mata pelajaran ke dua di hari ke tiga ujian semester terakhir di mulai.
Semua peserta dari kelas 1 sampai 2 masuk. Kelas 3 tidak mengikuti karena mereka sudah terlebih dahulu melakukan dan sudah selesai menghadapi ujian Nasional.
Semua mengerjakan soal itu dengan berbagai ekspresi. Ada yang prustasi, ada juga yang santai.
Jarum jam berdetak di angka10 lebih 35 menit. Waktu ujian mata pelajaran kedua sudah selesai.
Semua peserta ujian bergegas berlari dari ruangan kelas dengan riang gembira.