NovelToon NovelToon
Cegil Rusuh Dari Dunia Lain

Cegil Rusuh Dari Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Horor / Teen
Popularitas:37.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy_Ar

​"Ayo mengaku, Mas Sholeh! Kamu bisa lihat aku, kan?! Jangan bohong, bohong itu dosa, nanti masuk neraka loh!"
​Bagi Arash, menjadi cowok indigo itu melelahkan. Makanya, dia pakai trik keramat: Pura-pura buta huruf soal hal gaib. Mau ada pocong kayang pun, Arash bakal tetap lempeng.
​Strategi itu sukses bertahun-tahun, sampai dia ketempelan sesosok roh cewek misterius yang punya jiwa "cegil" (cewek gila) akut. Bukannya nakutin, roh genit ini malah rusuh mengintil kemana-mana, bahkan nekat narik kerah jaket Arash demi minta perhatian.
​Arash mati-matian bertahan demi menjaga iman dan aktingnya. Tapi saat teror mistis yang mengancam nyawanya datang, si hantu cegil justru pasang badan paling depan dengan cara yang paling bar-bar.
​Gimana jadinya kalau cowok sholeh berkharisma harus menghadapi musuh gaib bersama hantu cegil yang ternyata... belum sepenuhnya mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Arash langsung berhenti dan menoleh ke belakang. Tiga sahabatnya terus berjalan ke depan tanpa menyadari kalau Arash sudah tertinggal beberapa langkah di belakang mereka.

​Di dekat tiang mading sekolah yang teduh, Arash bisa melihat sosok roh cewek itu sedang melayang rendah, beberapa sentimeter di atas lantai ubin koridor.

Namun, kali ini ada yang berbeda dari penampilannya. Wajah kuntilanak atau roh cegil yang biasanya selalu heboh, ganjen, dan penuh dengan seringai usil itu kini berubah total.

​Wajah cantiknya tampak meredup, menyiratkan sebuah arti yang mendalam dan penuh dengan keraguan.

Sepasang matanya yang besar tidak lagi berbinar jenaka, melainkan terus menatapi setiap sudut lingkungan sekolah itu dengan pandangan kosong sekaligus rindu.

Dia memandangi deretan kelas, papan mading, hingga koridor panjang yang menuju ke arah laboratorium dengan saksama.

​Ekspresinya tampak linglung, seperti seseorang yang sedang berusaha keras mengingat selembar memori yang sengaja dihapus dari kepalanya.

Ada sesuatu yang sangat ingin dia sampaikan kepada Arash saat itu, sesuatu yang sangat penting dan mendesak, tapi dia sendiri tidak tahu harus mulai dari mana karena kabut tebal masih mengunci ingatan masa lalunya.

​Arash tertegun di tempatnya berdiri, menatap siluet transparan bergaun hitam tanpa lengan itu dengan dahi berkerut dalam.

Rasa kesal dan jengkel yang memenuhi dada Arash sejak subuh tadi perlahan-lahan menguap, digantikan oleh rasa penasaran dan secercah rasa iba yang asing bagi hatinya.

​"Rash! Malah bengong di situ! Ayo buruan, lo mau ditinggal?!" teriakan lantang dari Mike di ujung koridor seketika membuyarkan lamunan Arash.

​Arash tersentak, melirik ke arah sahabat-sahabatnya yang sudah menoleh ke arahnya dengan tatapan heran.

Dengan cepat, Arash kembali menatap roh cewek itu, yang kini balik menatapnya dengan pandangan sayu, seolah meminta tolong agar Arash tidak mengabaikannya kali ini.

​"Iya, bentar! Duluan aja, tali sepatu gue lepas!" seru Arash beralasan, sambil membungkuk berpura-pura membetulkan sepatunya, padahal matanya tetap terkunci pada sosok gaib yang kini melayang mendekatinya dengan perlahan.

"Hay Arash!" sapa seorang gadis cantik berambut panjang hitam yang tampak berkilau di bawah sinar matahari pagi, melangkah anggun menghampiri Arash yang baru saja selesai membetulkan tali sepatunya.

"Oh, hay Vel," kata Arash menoleh sekilas, memaksakan segaris senyum ramah di wajahnya.

Gadis itu adalah Vela, salah satu teman seangkatannya yang dikenal ramah dan cukup populer di kalangan siswa kelas tiga.

Namun, fokus Arash sebenarnya tidak sepenuhnya berada pada Vela.

Begitu kalimat sapaan itu selesai diucapkan, atensi Arash langsung bergerak liar, kembali menyisir area di dekat tiang mading sekolah untuk mencari keberadaan sosok gaib yang tadi melayang linglung di sana.

Sesuai dugaannya, saat dia mencoba melihat hantu tadi, dia sudah menghilang tanpa bekas.

Tidak ada lagi siluet transparan bergaun hitam tanpa lengan, tidak ada lagi aroma kombinasi vanilla dan melati yang pekat. Suasana di koridor itu mendadak bersih dari hawa spiritual yang dingin.

Tiba-tiba, rasa penasaran yang amat sangat muncul di benak Arash. Jantungnya berdegup dengan ritme yang berbeda, bukan karena takut, melainkan karena sebuah teka-teki baru yang membingungkan.

Kenapa hantu itu hilang begitu saja? Kenapa kehadirannya mendadak lenyap?

Sikapnya yang mendadak diam dan penuh rindu saat memandangi koridor tadi benar-benar tidak seheboh kemarin, meninggalkan banyak pertanyaan besar yang menumpuk di benak Arash.

Apakah ada kaitan erat antara masa lalu roh cegil itu dengan SMA tempatnya bersekolah saat ini?

"Oh ya Rash, nanti pulang sekolah mau mampir bentar gak?" suara lembut Vela membuyarkan lamunan panjang Arash, menarik kesadarannya kembali ke dunia nyata.

"Kemana?" tanya Arash singkat, sambil merapikan letak tas ransel di bahunya.

"Ada cafe baru yang estetik banget dekat minimarket depan itu, baru *grand opening* kemarin. Katanya menu kopinya enak-enak," tawar Vela dengan mata berbinar penuh harap.

"Boleh, nanti gue info ke anak-anak juga sekalian," jawab Arash santai, merujuk pada Reno, Alvaro, dan Mike yang pasti tidak akan menolak jika diajak nongkrong gratisan.

"Eh? Ah... iya, boleh juga ajak mereka," Vela tersenyum agak canggung, sebenarnya berharap bisa pergi berdua saja dengan Arash, namun dia segera menguasai ekspresinya. "Oke, see you, Rash!"

"Oke see you," balas Arash pendek.

Mereka berdua akhirnya berpisah di pertigaan koridor.

Arash segera mempercepat langkah kakinya menuju ke kelasnya sendiri, mencoba fokus pada pelajaran matematika yang akan diujikan hari ini, meskipun isi kepalanya masih dipenuhi oleh bayangan wajah sayu sang hantu cegil.

Waktu berjalan begitu cepat. Detik-detik menegangkan di ruang ujian akhirnya berlalu seiring berbunyinya bel tanda istirahat pertama.

Saat istirahat tiba, alih-alih pergi ke kantin yang bising bersama teman-temannya untuk mengisi perut, Arash memilih memisahkan diri.

Pikirannya yang penat butuh ketenangan. Langkah kakinya membawa cowok itu menaiki deretan anak tangga menuju ke area rooftop sekolah tempat tertinggi di gedung itu yang biasanya sepi dan berangin sepoi-sepoi.

Arash membuka pintu besi pembatas rooftop yang berderit pelan.

Namun, pemandangan yang tersaji di depannya seketika membuat pasokan oksigen di parunya seolah tersedot habis.

Jantungnya mencelos ke dada.

Di sana, tepat di ujung pembatas beton yang menghadap langsung ke arah jalan raya di bawah sana, dia melihat seorang gadis berambut panjang sedang berdiri tegak, merentangkan kedua tangannya seolah akan melompat dari atas gedung sekolah berlantai tiga itu.

Nalar kemanusiaan Arash langsung mengambil alih egonya.

Rasa takut terbongkar sebagai anak indigo menguap begitu saja digantikan oleh kepanikan yang luar biasa.

"Jangannn!" Arash berteriak sekuat tenaga, suaranya menggema hebat membelah keheningan rooftop.

Tanpa berpikir dua kali, Arash berlari sekencang mungkin menembus embusan angin, mengerahkan seluruh kecepatan kakinya untuk menghampiri gadis itu sebelum terlambat.

Dengan satu gerakan nekat yang cepat, Arash menjulurkan tubuhnya ke depan dan berhasil meraih pergelangan tangan gadis itu, menariknya mundur dengan sentakan kuat hingga tubuh mereka berdua terjerembap ke atas lantai semen rooftop.

Napas Arash memburu hebat, dadanya naik turun dengan tidak beraturan karena kombinasi antara rasa syok, lelah berlari, dan adrenalin yang meledak-ledak.

Matanya melotot tajam menatap gadis yang kini berada di bawah ketiak nya itu. Emosinya langsung meluap menjadi omelan panjang.

"Lo gila ya, hah?! Udah bosen hidup lo?! Lo mikir gak sih, berapa banyak setan di dunia ini yang pengen hidup lagi, pengen punya kesempatan bertobat dan ngerasain napas?! Sementara lo, lo yang masih idup dan punya fisik utuh malah pengen mati sia-sia dengan cara lompat dari sini! Gak waras ya lo?!"

Omel Arash panjang lebar tanpa jeda, menumpahkan seluruh kemarahannya demi menyadarkan gadis yang dia pikir sedang depresi berat itu.

Namun, di tengah-tengah omelan berapi-apinya, Arash mendadak menyadari sesuatu yang janggal.

'astagfirullah, ini tangan apa es batu'

Tangan gadis yang sedang dicengkeramnya ini... rasanya sangat dingin. Benar-benar dingin yang membekukan, persis seperti es batu yang baru dikeluarkan dari dalam frezer.

Pada awalnya, Arash sempat berpikir bodoh bahwa mungkin tangan itu menjadi sedingin es saking frustrasinya sang gadis akibat tekanan mental yang hebat.

Tapi ternyata, detik berikutnya dia sadar bahwa dia sudah salah besar.

Gadis di hadapannya itu sama sekali tidak menangis ketakutan ataupun menunjukkan raut wajah penyesalan.

Sebaliknya, sebuah senyuman lebar yang kelewat familiar perlahan terukir di wajah cantiknya yang agak transparan di bawah terik matahari.

"Tuh kan bener! Kamu bisa lihat aku, Mas Sholeh! Hihihihi!"

Suara gadis itu terdengar sangat nyaring, melengking tinggi dengan nada ceria khas "cegil" yang sangat merusak suasana dramatis, membuat lubang telinga Arash mendadak terasa sakit dan berdengung hebat.

Arash membeku di tempatnya, cengkeraman tangannya pada pergelangan tangan dingin itu langsung melemas.

Matanya mengerjap-ngerjap tidak percaya. Ternyata, gadis berambut panjang dengan gaun hitam tanpa lengan yang berpura-pura ingin bunuh diri itu adalah kuntilanak alias roh cegil misterius yang terus-menerus mengikutinya dari kemarin malam!

Makhluk itu sengaja membuat skenario ekstrem di tepi *rooftop* hanya untuk menguji apakah Arash benar-benar bisa melihatnya atau tidak.

"Astaghfirullah... kena jebakan gue!" gumam Arash dengan nada suara yang teramat frustrasi, menjatuhkan dahinya ke atas lantai semen dengan pasrah.

Dia mengacak-ngacak rambutnya sendiri sampai berantakan, merutuki kebodohannya yang terlalu cepat panik hingga melupakan fakta bahwa mahluk halus di dekatnya ini memiliki tingkat kelicikan di atas rata-rata setan lokal.

‘’Mas sholeh, udah gak usah bohong lagi sekarang! Ayo buruan bantuin aku! Gak mau tahu pokoknya aku maksa, ayo Mas!’’

1
🍎billaacha90🍎
banyak godaan yang menghantuinya, semoga Arash bisa lulus menghadapi ujian ini😁😁🤭
🍎billaacha90🍎
kamu harus bertahan Arash kamu pasti bisa. buktikan kepada orang tua mu kamu mampu
🍎billaacha90🍎
iyaaaaaa, jadi kamu harus berani dan kuat menjalaninya Arash😁😁🤭
Rosy
gemblengannya di mulai besok saja kyai.. sekarang Arash lagi di tungguin sama hantu cegil yg lagi mau curhat 🤭🤭
Rosy
kenapa pake di perjelas segala sih mom...ngeri banget bayanginnya 😭😭😭😭
Rosy
astaghfirullah ternyata Lala lagi ngobrol sama pocong 😭😭🤣🤣
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
yah Arash mau belajar lagi, Lala pasti merasa dibohongi 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
eh pocongnya kenapa gak bisa bebas ya 🤔
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Wah Lala nangkring sama mas pocong 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
La diajak jadian tuh 🤣
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kau sedang cemburu kah La 🤔🤣
Halimah
Siapa lg nih pocong...Kyk y perlu disekametin jg.
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
walaupun sama² hantu,,,
si Cegil ini ternyata pilih² pasangan ya,,
😅😅
Vike Kusumaningrum 💜
Siap² Rash, Lala ngambek nanti. pasti katanya kamu menghindar dan ingkar janji 🤭
Vike Kusumaningrum 💜
🤣🤣🤣 siapa nih dulunya 🤣🤔🤭🤭
Vike Kusumaningrum 💜
pocong 🤣🤣🤣🤣🤣😭
Vike Kusumaningrum 💜
Cemburu la ? 🤣🤣🤣🤣
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
heh Lala,,knp kamu ngagetin Arash🫵🫵🫵

bisa kan,,,sapa,,

Assalamualaikum dlu😅😅😅
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
ayooohh Arash,,,banguuunnnn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!