"Luka ini masih menganga, kata maaf dan khilaf tidak bisa menguburkanya. Pengkhianatan ini terlalu pahit, hingga aku susah untuk lupa!"
Ini adalah kisah Isana, seorang wanita yang dikhianati Andreas dengan begitu pahit, saat sedang mengandung anaknya. Namun menemukan kisah manis dibalik Cupcake kegemarannya, bersama Althaf Rafardhan, seorang chef yang terkenal dingin dan tidak banyak bicara.
Andreas yang terpuruk karna menyadari, cintanya hanyalah untuk Isana, bukan Risa perempuan penggoda. Ingin kembali lagi, memperbaiki hubungan yang kandas. Mencoba membujuk Isana untuk rujuk, dengan dalih sebagai Ayah biologis anak laki-laki mereka.
Akankah Althaf membiarkan wanita yang ia cintai itu kembali pada pria yang sudah mengahancurkanya?
Dan apa keputusan Isana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Mencarimu, Mas ...
*
*
*
Bau antiseptik memenuhi ruang perawatan yang dingin. Isana membuka mata, namun pertama kali yang ia rasakan bukan sakit yang seperti tadi saat sebelum pingsan, melainkan rasa sepi yang menjalar.
Lampu-lampu rumah sakit terasa menyilaukan, Isana menyipitkan mata. Tenggorokannya terasa kering, seluruh tubuhnya seperti baru saja dihancurkan dan di susun ulang dengan cara yang salah.
Isana menggigit bibir, mengerjapkan mata beberapa kali. "... bayiku ...?"
Bahkan suara yang ia paksakan keluar itu, bagai sebuah erangan yang lolos dan tak tertahan.
Lengang, tidak ada satupun orang yang menjawab. Isana menoleh perlahan. Kursi di samping tempat tidurnya kosong. Tak ada siapa-siapa. Hanya bunyi mesin infus yang berdetak pelan di sudut ruangan.
Kelopak mata Isana kembali berkedip. Ingatan terakhir yang ia miliki adalah rasa sakit luar biasa, suara dokter yang terdengar panik, lalu semuanya gelap.
Jemarinya bergerak lemah menyentuh perutnya yang kini terasa kosong.
Bayi itu sudah lahir. Anak yang sembilan bulan lebih sepuluh hari dikandungannya sudah lahir.
Isana tertegun, menatap perutnya yang kini datar. Air mata memenuhi pelupuk matanya tanpa bisa ia tahan.
"Nak ... Kamu sudah lahir? Mama dengar suara jeritan pertamamu ..."
Ruang perawatan yang dingin, semakin menggigil saat Isana menyadari tak ada siapapun yang berada disisinya. Harapan yang kemarin, bisa menjalani proses ini berdua dengan Andreas, kini telah pupus sudah. Faktanya, bayangan pria itu sama sekali tak ada.
"Perawat..."
Seorang perawat yang kebetulan lewat segera mendekat.
"Iya, Bu?"
" Sus, anak saya... di mana?"
Perawat tersenyum.
"Sehat, Bu. Bayinya sehat."
Kalimat itu membuat dada yang sesak mengingat Andreas tak ada disisinya, perlahan menghangat.
"Anak saya laki-laki atau perempuan, Sus?"
"Selamat ya Bu" perawat itu, kembali mengulas senyum. Menangkupkan kedua tangannya, "...anak Ibu laki-laki. Ia sangat sehat, anggota tubuhnya juga lengkap."
Bibir Isana bergetar, ingin tersenyum. Namun bersamaan dengan itu, ia juga ingin menangis. Keinginan untuk memeluk buah hatinya kian mendesak.
Namun satu pertanyaan yang sejak tadi menghantam kepalanya lebih keras dari rasa sakit jahitan di persalinannya.
"Suami saya, apa sudah datang sus?"
Senyum perawat mendadak memudar. "Oh... Itu, sepertinya belum Bu." suaranya terdengar ragu-ragu.
Dua kata sederhana yang entah kenapa terasa lebih menyakitkan daripada semua kontraksi yang tadi ia rasakan.
Isana memandang langit-langit. Mencoba menelan sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. Tatapannya kosong menerawang, namun hatinya bertanya begitu banyak.
Apa mungkin Andreas belum tahu?
Apa mungkin sedang di jalan, dan terjebak macet?
Apa mungkin—
Pintu kamar terbuka. Suara putaran gagangnya terdengar begitu kentara. Sebelum akhirnya senyap total. Jantung Isana langsung berdegup. Menoleh kearah pintu terbuka.
"Mas Andreas?"
Namun yang masuk bukan suaminya. Bukan pria berbahu tegap yang tadi pagi masih ia cium punggung tangannya dengan takzim. Melainkan, ibu mertua dan ayah mertuanya.
Harapan yang sempat menyala itu padam seketika.
"Mama..." suara Isana lirih.
Dewi, mendekat. "Isa, akhirnya kamu sadar nak ..."
Pelukan singkat dan genggaman tangan Dewi yang hangat seolah membujuk Isana, untuk memaksakan senyum.
"Gimana Sa? Apa kamu merasakan sesuatu? Ada sakit dibagian tertentu?"
Isana menggeleng pelan, "Tidak ada, Ma ..."
Beni yang sedari tadi memperhatikan, mengangguk-angguk pelan. "Syukurlah ..." gumamnya.
Perawat perempuan tadi mendekat, "Ibu, Bapak ... Silahkan lihat bayinya disana ..." ujarnya, sambil menunjuk dengan ibu jarinya ke arah boks bayi transparan yang berada didekat jendela.
"Oh Ya Allah..." seru Dewi, Wajahnya langsung berubah cerah. "Cucu Oma, ganteng sekali."
Beni ikut mendekat. "Mirip Andreas waktu kecil. Mata dan hidungnya sama persis."
Mereka tertawa kecil. Dewi menyelipkan tangannya, menggendong cucu, dari buah hati anak laki-lakinya dengan senyuman yang tak pernah lepas.
Sementara Isana hanya memandang dari ranjangnya.
Jarak antara diantara mereka mungkin hanya beberapa meter. Namun entah kenapa terasa seperti dunia yang berbeda.
"Pa, adzankan dia ..." ujar Dewi, sembari mendekatkan wajah bayi laki-laki itu pada suaminya.
Hati Isana mencelos, hal yang seharusnya dilakukan oleh Andreas selaku Ayahnya, namun kini justru diambil alih oleh Beni, kakeknya.
Sesuatu yang pernah Isana bayangkan, ketika kehadiran buah hati mereka, pertama kalinya menghirup dunia dan yang didengar pertama adalah suara bapak biologisnya. Namun, ternyata bayangan itu tidak menjadi nyata. Isana sekuat tenaga menenangkan hatinya dari kecewa.
"Allahuakbar ... Allahuakbar ..."
Suara Beni menggema, lantunan adzan ditelinga bayi laki-laki itu mengguncang relung hati Isana semakin dalam. Buliran air mata, jatuh satu-satu tanpa bisa lagi ia cegah. Hingga lantunan itu berakhir, menyisakan sesak yang semakin nyata terasa.
"Mama..." Panggil Isana pelan.
"Ya?" sahut Dewi tanpa menggeser pandangnya dari bayi laki-laki itu.
"Mas Andreas mana?"
Dewi menghela nafas, baru kemudian mengalihkan pandangannya pada Isana, "Andreas tidak bisa dihubungi. Mama juga cemas, dan minta Anton untuk menyusul di kantornya. Tapi, kata Anton ... Andreas sudah lama meninggalkan kantor. Bahkan satpam kantor bilang, sudah sejak jam sembilan tadi."
Wajah Beni kembali masam, berdecak kesal, "Kemana anak itu, apa dia tidak tahu kalau istrinya sedang bertaruh nyawa melahirkan anaknya?"
Isana tertegun, pertanyaan yang sama kembali berputar-putar dikepalanya.
Dewi kembali berbicara pada cucunya.
"Aduh, cucu Oma hidungnya mancung sekali."
Perlahan Isana memalingkan wajah ke arah pintu, berharap pintu itu terbuka, menampilkan wajah suaminya. Namun nihil ... Pintu itu tak kunjung terbuka.
Jemarinya meremas seprai. Dada yang sejak tadi terasa sesak akhirnya runtuh sedikit demi sedikit.
'Mas ... Andreas, di mana kamu? Aku hampir mati hari ini. Aku mencarimu saat rasa sakit itu menghancurkan tubuhku. Aku mencarimu saat darahku terus mengalir.
Aku mencarimu saat aku takut tidak bisa membuka mata lagi.'
Batin Isana berkecamuk, menimbulkan berbagai pertanyaan bergantian. Yang tak kunjung ada jawaban.
"Sa ... Siapa namanya?"
Pertanyaan dari Dewi, menghantam dada Isana begitu keras. Menyadarkannya dari gulatan berbagai pertanyaan dihatinya.
Teringat, saat ia mendiskusikan nama untuk buah hatinya dengan Andreas.
"Mas, dari hasil USG tadi ... Anak kita laki-laki. Gimana kalo kita kasih nama Ghazi Alfarez ? atau Attar Alfarez?" Waktu itu, Isana menanyakannya dengan begitu antusias. Namun jawaban Andreas, membuatnya bungkam.
"Aku sibuk, Isana. Simpan dulu pertanyaan tidak pentingmu itu!" tanpa menoleh, dan terus berkutat dengan lembaran-lembaran kertas.
Isana kala itu, mencoba untuk maklum. Sejak ada tawaran promosi jabatan, dari Pak Setyo sebagai project director, Andreas memang mencurahkan semua pikirannya di pekerjaan. Ia begitu berambisi untuk meraih jabatan yang sejak lama ia incar.
"Isa ...?!" panggil Dewi lembut, membuyarkan lamunan Isana.
"Kamu belum menyiapkan nama untuknya?"
Isana terkesiap, terlebih bayi mungil itu berada dekat dengan wajahnya. Tangannya bergerak perlahan, jemarinya menyentuh jemari mungil sang bayi yang bahkan belum mampu menggenggam dengan sempurna. Namun sentuhan kecil itu terasa lebih kuat daripada apa pun yang pernah ia rasakan.
"Ghazi Alfarez ..."
Bersamaan dengan itu, langkah tergesa terdengar dari luar ruangan. Suara gesekan sepatu, berdecit dengan lantai. Gagang pintu berputar, menampilkan wajah kuyu dengan kemeja berantakan.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍