NovelToon NovelToon
Kabur Dari Tuan Muda

Kabur Dari Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nana

Rania terlahir kembali ke lima tahun sebelum tragedi dalam hidupnya terjadi. Di masa depan setelah ia menikah dengan Arya, Rania dijebak oleh Salsa dan dibunuh tepat di malam pertamanya. Di kesempatan kedua ini, ia akan menghindar dari pernikahan itu agar tidak mengalami nasib yang sama.

Berhasilkah ia kabur dari genggaman sang Tuan Muda dan menghindari takdir kematiannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Perundungan

Pagi harinya, Rania membuka mata dan langsung lompat dari ranjang. Membuka pintu dengan kasar hingga menimbulkan suara yang begitu gaduh. Ia berlari turun ke bawah mencari sosok sang ibu. Ia semakin panik saat tidak melihat ibunya dimanapun.

"ada apa Rania? kenapa berisik sekali?"

Rania menoleh ke arah pintu belakang. Ibunya muncul dengan masih menggenggam ember untuk menyiram bunga.

"ibu, ibu tadi malam pergi sama Pak supir kan?"

"ibu tadi malam tidak jadi pergi. Ibu khawatir sama kamu karena tiba-tiba jadi aneh," ucapnya terus terang sambil mencubit hidung Rania. Hal itu membuat Rania merasa lega karena musibah pertama berhasil ia hindari.

Rania berangkat ke kampus seperti biasa. Tapi ia lupa kalau biasanya Arya lah yang menjemput. Ia lupa untuk bilang ke orang tuanya agar berangkat diantar supir saja.

Arya sudah berdiri di halaman rumah Rania dengan mobil mewahnya yang terparkir apik di sampingnya.

"ayo berangkat."

"aku berangkat sendiri, mulai sekarang dan seterusnya."

Arya mengerutkan dahinya, ia tidak menyukai keputusan Rania yang seenaknya dan tiba-tiba. Dulu gadis itu tidak pernah sekalipun menolaknya, tapi sejak kemarin dia terus menolak kehadirannya.

Dengan sigap, Arya langsung meraih tangan Rania dan menariknya ke mobil. Mendapat perlakuan mendadak seperti itu, Rania merasa terkejut. Isi kepalanya tiba-tiba teringat dengan adegan saat Arya menatapnya dengan dingin di dalam kamar itu. Lalu saat ia jatuh dari balkon, hingga saat pria itu menghentikan penyelidikan karena dirinya sudah mati dan tidak berguna.

Rania merasakan sakit di pergelangan tangan karena Arya mencengkramnya dengan cukup kuat. Ia berusaha memberontak dan menarik tangannya tapi tenaganya tidak cukup kuat.

"LEPAS! ARYA LEPASIN!"

"masuk, jangan rewel!"

"rewel?" Rania bertanya dengan nada kesal, "kamu bilang aku rewel? kamu nggak sadar dengan cara kamu memperlakukan aku sekarang ini? tangan aku sakit, hati aku juga jauh lebih sakit!"

Kini Arya berhenti dan melepas tangan Rania saat mendengar keluhan disertai dengan suara yang bergetar menahan tangis. Ia sudah membuatnya menangis pagi ini. Rasa bersalah langsung menyelimuti hatinya, namun Rania enggan memberi ruang untuknya minta maaf.

Setelah lepas dari genggaman Arya, Rania mendorong bahunya lalu berlari masuk ke dalam rumah. Tidak lama kemudian Hanum muncul dari dalam rumah.

"nak Arya, kalian hari ini berangkatnya jangan bareng dulu ya. Rania sedang tidak enak hati, ibu juga nggak bisa paksa dia."

"iya bu, maaf tadi Arya sempet kasar sama Rania."

"jangan minta maaf sama ibu, minta maaf sama Rania langsung nanti atau besok."

"iya bu, Arya berangkat dulu ya."

"iya hati-hati di jalan, jangan ngebut."

Setelah Arya pergi, Rania muncul dari balik pintu dan berjalan perlahan menghampiri ibunya.

"bu.."

"sudah sana berangkat, nanti kalau sudah tenang dan mau cerita sama ibu bilang ya."

Hanum mengusap lembut rambut Rania yang terurai.

"iya bu, Rania berangkat dulu. Ibu ingat ya kalau kemana-mana biar sama pak supir saja jangan nyetir sendiri."

"iya sayang, ibu ingat."

Di kampus, Rania langsung pergi ke kelasnya dan mencari Dewi. Namun sahabatnya itu tidak terlihat batang hidungnya sedikitpun. Rania langsung pergi dari kelas dan mencari keberadaan sahabatnya. Setaunya pagi ini Dewi harus bertemu dengan dosen pembimbingnya dan hari ini hanya ada satu kelas. Itu artinya Dewi sudah berada di kampus sejak pagi. Mengingat kebiasaannya, dia lebih sering duduk menunggu di kelas daripada di kantin, perpustakaan atau tempat lain.

Setiap langkah Rania semakin cepat ketika ia tidak menemukan Dewi dari satu tempat ke tempat lain. Bahkan tempat yang biasanya sering Dewi datangi pun tidak ada.

"kemana ya?"

Saat sedang kebingungan, ia mendengar gerombolan mahasiswa sedang berbicara di koridor.

"tadi aku lihat gengnya si anak populer bawa mahasiswi ke arah belakang kampus."

"eh serius? Jangan-jangan akan ada korban lagi nih."

Rania langsung menarik orang yang baru saja berbicara lalu menunjukkan foto Dewi kepadanya.

"apa dia yang dibawa?"

"emm iya betul dia yang di bawa. Aku nggak lihat mukanya tapi sepatunya sama seperti yang di gambar."

"sepatu?"

Rania melihat kembali foto tersebut dan melihat sepatu yang dipakai oleh Dewi dan merasa sangat familiar. Ia kemudian ingat, tahun lalu Dewi memberikan kado sepatu untuknya tepat di hari ulang tahunnya.

"Ran aku ada kado ulang tahun buat kamu, aku beli sekalian buat aku sendiri."

"ck apaan sih!"

"lihat ini, ini sepatu limited karena aku tau kamu pasti pake barang branded. Aku menabung cukup lama untuk membeli ini," ucap Dewi dengan semangat.

Ia ingat saat itu menerima kado tersebut karena malas mendengar ocehannya lebih lama. Setelah dilihat lagi, ternyata sepatu itu memang limited dan mungkin di kampus ini hanya dia dan dirinya yang memilikinya. Kalaupun ada yang memiliki model yang sama, warnanya pasti berbeda. Jadi Rania semakin yakin kalau yang diseret ke belakang adalah Dewi.

Dengan berlari, ia berusaha secepat mungkin sampai di area belakang kampus. Di sana ada gudang lama yang sudah terbengkalai dan sering dijadikan tempat nongkrong oleh geng berandalan.

Sementara itu di dalam gudang, Dewi diseret lalu dilempar begitu saja ke lantai. Lutut dan sikunya terasa sangat sakit karena menahan bobot tubuhnya saat terjatuh. Wajahnya menyiratkan perasaan takut yang begitu kuat.

"kenapa kalian membawaku ke sini?"

Dewi melihat satu persatu orang yang ada di hadapannya. Ada dua pria yang tadi menyeretnya, lalu di belakangnya masih ada dua lagi.

"kenapa? heh, tanya sendiri saja."

Setelah seorang pria di depannya mengatakan itu, lalu seorang perempuan seusianya masuk ke dalam. Menutup pintunya dengan rapat lalu menghampiri Dewi yang masih terduduk di lantai yang penuh debu.

"Dona?"

"oh kamu mengenalku ternyata, aku kira kamu tidak tau aku."

"kenapa kamu melakukan ini kepadaku?"

"hmm, seharusnya kamu tanya itu ke Rania kan?"

Dona menggunakan kalimat seolah-olah dalang di balik tindakannya kali ini adalah Rania. Dewi tidak ingin percaya tapi sebelumnya, Rania memang selalu kasar kepadanya. Beberapa kali merendahkannya meskipun bukan tindakan langsung. Saat ini, terbesit sebuah pikiran kalau sikap Rania kemarin adalah pura-pura.

"Rania tidak mungkin melakukan ini kepadaku."

"mungkin-mungkin saja, buktinya dia pernah menguncimu di kamar mandi kan?"

Ingatannya kembali ke kejadian satu bulan lalu ketika ia pergi ke kamar mandi setelah kelas. Di sana sudah ada Rania dan Dona. Dewi tetap masuk ke salah satu bilik lalu keluar setelah memastikan dua orang itu pergi. Tapi sayangnya pintunya dikunci dari luar membuatnya harus terkurung sampai malam hari.

"Rania muak dengan sikap sok polosmu itu. Dia sudah benar-benar risih denganmu."

"tapi kemarin.. "

"kemarin? memangnya kenapa kalau sedikit akrab dengan teman sekelas kan."

Dona tertawa lalu berdiri dan berbalik ke arah empat pria di belakangnya. Entah instruksi apa yang diberikan, tapi keempatnya langsung maju bersamaan membuatnya berteriak panik. Dona mundur ke dekat pintu sambil memandangnya dengan tatapan yang dingin dan senyum mengejek.

Keempat pria itu berusaha melucuti pakaian yang dikenakan oleh Dewi. Lalu satu orang diantaranya mengeluarkan ponsel dan menyalakan kamera. Wajah Dewi sudah dipenuhi oleh air mata dan teriakannya tidak ada satupun yang mendengarnya karena posisinya kini berada di tempat yang paling tidak mungkin didatangi mahasiswa.

BRAK!

Dentuman keras membuat semua orang menoleh ke arah pintu dan melihat seseorang masuk ke dalam. Cahaya yang tiba-tiba masuk membuat pandangan semua orang sedikit tidak jelas. Dewi melihat bayangan yang masuk adalah seorang perempuan.

"Dewi! Dewi, kamu baik-baik saja?"

Suara Rania yang berteriak membuat Dewi tiba-tiba merasa lega lalu menangis sesenggukan. Pelukan ringan bisa ia rasakan membuat tubuhnya merasa aman. Rania merapihkan kembali pakaian Dewi lalu melepas sweaternya dan memakaikannya kepada sang sahabat.

"sudah, tidak apa-apa."

Di belakang Rania, muncul lagi seorang pria jangkung. Wajahnya datar seperti biasa namun kali ini di matanya ada sorot yang tajam dan berbahaya. Gerakannya pelan namun pasti, ia menutup pintu lagi dan tidak membiarkan siapapun keluar dari tempat itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!