Reza adalah mantan koki yang dipecat karena difitnah, tetapi ia menemukan tujuan hidup baru setelah mendapatkan Sistem Restoran Dunia Lain.
Kini ia mengelola Restoran di mana pintunya terhubung ke dimensi kultivator dan sihir, menyajikan makanan lezat yang menyelesaikan masalah para pelanggan dari berbagai dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Di area dapur, Reza merebus satu gulungan mi kuning segar ke dalam panci berisi air mendidih.
Dia menggunakan sumpit kayu panjang untuk mengaduk mi agar matang merata dan tidak lengket.
Hanya butuh waktu satu menit baginya untuk mengangkat mi tersebut dengan saringan kawat.
Reza meniriskan mi itu dan memasukkannya ke dalam mangkuk keramik putih berukuran sedang.
Dia menuangkan sedikit minyak wijen, kecap asin, dan sejumput lada putih ke atas mi tersebut.
Reza mengaduk mi itu dengan sangat cepat hingga semua bumbu cair melapisi setiap helaiannya.
Setelah itu, dia menambahkan dua sendok besar tumisan ayam jamur kecap di bagian atas mi.
Sawi hijau rebus dan irisan daun bawang segar menjadi hiasan terakhir di dalam mangkuk itu.
Reza menyajikan kuah kaldu ayam bening di mangkuk kecil terpisah.
Dia membawa pesanan itu menggunakan nampan kayu menuju meja Dimas.
"Ini mi ayam jamur spesial pesanan Anda, Mas," ucap Reza meletakkan mangkuk itu dengan hati-hati.
"Silakan dinikmati selagi mi dan kuahnya masih panas."
"Terima kasih banyak, Mas," jawab Dimas sambil mengarahkan kameranya ke arah mangkuk tersebut.
"Tampilan mi ayam ini sangat rapi dan warnanya sungguh menggugah selera."
Dimas mematikan kameranya sejenak dan meletakkannya kembali ke atas meja.
Dia benar-benar ingin menikmati makanan ini tanpa gangguan.
Dimas mengambil sumpit kayu dan sendok bebek dari tempat alat makan di samping meja.
Dia mengaduk perlahan mi kuning itu agar bumbu ayam kecapnya tercampur lebih merata.
Aroma minyak wijen dan kaldu ayam langsung menyeruak naik saat mi itu diaduk.
Dimas mengambil sejumput mi dengan sumpitnya dan langsung memasukkannya ke dalam mulut.
Mata pemuda itu langsung terbuka lebar pada gigitan pertama.
"Tekstur mi ini sangat kenyal dan tidak lembek sama sekali," ucap Dimas dengan nada terkejut.
"Bumbu kecap asin dan minyak wijennya meresap sempurna ke dalam setiap helai mi."
Dia buru-buru mengambil sendok dan menyendok tumisan ayam beserta potongan jamurnya.
Daging ayam itu terasa sangat empuk dan manis, berpadu pas dengan rasa gurih jamur merang.
"Ini sungguh di luar dugaan saya," kata Dimas menatap Reza yang berdiri di balik konter.
"Rasa mi ayam ini jauh lebih enak daripada buatan restoran besar di jalan raya itu."
"Terima kasih atas pujian Anda, Mas," balas Reza tersenyum simpul.
"Kami memang menggunakan bahan baku paling segar setiap harinya."
Dimas tidak menjawab lagi karena mulutnya terlalu sibuk mengunyah.
Dia menyeruput kuah kaldu dari mangkuk kecil dan merasakan kehangatan yang sangat menenangkan di tenggorokannya.
Rasa lelah dan kesal karena ditolak oleh restoran sebelumnya kini hilang sepenuhnya.
Dimas merasa tubuhnya menjadi jauh lebih segar setelah menghabiskan setengah porsi makanan itu.
"Sobat penonton harus tahu, rasa kaldu ini rasa tulang ayam rebus yang sangat kental," ucap Dimas merekam dirinya sendiri lagi.
"Tidak ada rasa pekat dari penyedap buatan berlebihan, ini benar-benar sangat sehat dan lezat."
Hanya dalam waktu sepuluh menit, isi mangkuk besar itu sudah bersih tanpa sisa sedikit pun.
Bahkan kuah kaldu di mangkuk kecilnya juga telah diteguk habis.
Dimas meletakkan sumpit dan sendoknya lalu bersandar di kursi dengan perasaan sangat puas.
"Luar biasa, ini adalah mi ayam terbaik yang pernah saya makan bulan ini," puji Dimas dengan suara lantang.
"Saya sangat bersyukur ditolak restoran tadi sehingga bisa menemukan tempat ini."
Reza berjalan menghampiri meja Dimas sambil membawa segelas air es teh manis.
"Ini ada es teh manis gratis untuk pelanggan pertama hari ini," kata Reza meletakkan gelas itu.
"Wah, terima kasih banyak Mas koki," jawab Dimas langsung meminum es teh tersebut.
"Nama saya Dimas, saya mengelola saluran ulasan makanan lokal di kota ini."
"Saya Reza, pemilik sekaligus koki tunggal di kedai ini," ucap Reza menjabat tangan Dimas.
"Mas Reza, masakan Anda ini pantas mendapatkan antrean panjang pelanggan," kata Dimas serius.
"Saya pasti akan mengunggah video ulasan ini nanti malam agar orang-orang tahu kedai ini."
"Saya sangat berterima kasih jika Mas Dimas mau membantu mempromosikan tempat kecil ini," jawab Reza tulus.
"Kedai ini baru buka dan memang sangat membutuhkan pelanggan."
Dimas merogoh dompet kulit dari saku celana belakangnya.
Dia mengeluarkan selembar uang berwarna hijau dan orange bernilai dua puluh lima ribu rupiah.
"Ini uang pembayarannya, Mas Reza," ucap Dimas menyodorkan uang tersebut.
"Dua puluh lima ribu sangat sepadan dengan kualitas rasa yang saya dapatkan barusan."
Reza menerima uang tunai itu dengan perasaan bangga yang sangat nyata.
Ting.
Suara pemberitahuan dari Sistem berbunyi sangat pelan di dalam kepala Reza.
"Transaksi dengan pelanggan dari Bumi telah berhasil diselesaikan," lapor Sistem.
"Uang tunai senilai dua puluh lima ribu rupiah sah menjadi milik Host."
"Terima kasih banyak, Mas Dimas," kata Reza menyimpan uang itu ke dalam laci mesin kasirnya.
"Silakan datang kembali kapan saja Anda mau."
Dimas membereskan kameranya dan memasukkannya ke dalam tas selempang.
"Tentu saja saya akan kembali dan membawa teman-teman saya," jawab Dimas melangkah menuju pintu.
"Mas Reza bersiaplah, besok mungkin kedai ini akan mulai ramai orang berkunjung."
Dimas membuka pintu kedai dan berjalan keluar menuju jalanan gang yang mulai panas.
Pemuda itu pergi dengan senyum lebar dan perut yang sangat kenyang.
Reza berdiri di depan meja kasir dan menatap uang dua puluh lima ribu pertamanya dari pelanggan Bumi.
Nilainya memang sangat kecil jika dibandingkan dengan bayaran koin emas dari ksatria Arthur.
Namun uang lembaran asli dari dunia nyata ini memberikan kepuasan batin yang berbeda baginya.
Dia menyadari bahwa pelanggan bumilah yang akan menjadi fondasi dasar kehidupan normalnya sehari-hari.
'Jika video Dimas itu benar-benar ramai ditonton, aku harus bersiap menghadapi banyak orang,' batin Reza.
'Aku harus mulai menyusun menu yang lebih bervariasi untuk pelanggan besok.'
Reza mengambil kain lap bersih dan mulai membersihkan meja bekas Dimas makan.
Dia merasa sangat bersemangat menjalani kehidupannya yang baru sebagai pemilik restoran.
Fitnah kejam dari Hendra, mantan bosnya, kini terasa seperti masa lalu yang sangat jauh dan tidak penting lagi.
Reza hanya ingin fokus memasak dan melihat orang lain bahagia karena makanannya.
Kini dia harus menanti hingga waktu operasional di Bumi selesai pada malam hari nanti.
Setelah itu, dia akan melihat dimensi dunia mana lagi yang akan dibukakan oleh Sistem untuknya esok hari.