Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.
Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.
Suaminya ke mana??
"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"
Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.
" Mas...maaf " lirih suara Arista.
Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.
Arista tergugu, tak ada air mata...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05.Pembelaan
" Eehemm..."
Anisa terkejut dan nyengir kuda saat kepergok sedang mengintip Bu Rahmi.
" Sudah Maghrib, segera ambil air wudhu dan sholat, nanti keburu habis waktunya." Arista menggerakkan kepalanya.
Anisa garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Bergegas dia ke belakang mengambil air wudhu dan segera bergabung dengan ke tiga keponakan jagoaannya.
" Duhh...rasanya nggak sabar mau lihat dedek bayi." celetuk Dityan.
" Selesai sholat kalian boleh tengok adek kalian. Tapi jangan ribut , nanti dia bangun" kata Arista sambil tersenyum.
Sebagai putra tertua Dirga di daulat jadi imam sholat. Air mata Arista menetas tampa sadar, saat mendengar suara putra pertamanya melantunkan ayat-ayat Al Qur'an.
Selama ini Arista merasa tak sia-sia, dia sangat protektif untuk urusan ngaji dan sholat ke tiga buah hatinya. Dia selalu dan tak pernah lupa mengingatkan ke tiga buah hatinya jangan sampai meninggalkan sholat di manapun dan dalam keadaan apapun.
Pun untuk urusan mengaji, Arista terbilang keras. Kalau bukan karena sakit, ke tiga putranya tidak boleh tidak mengaji.
Karena Arista punya pedoman, sakaya apa pun, seluas apa pun pergaulan, dan sebanyak apa pun teman kita.
Kalau diri tidak sholat dan tidak bisa mengaji, kita di pastikan akan merasa rendah diri.
Dan itu pasti. Karena Arista berkaca pada dirinya sendiri.
Dulu dia sholatnya jarang-jarang dan nggak bisa mengaji. Makanya setiap ada yang mengajak ikut pengajian dia selalu menolak. Di pikirannya setiap mengaji itu pasti baca Al Quran.
Padahal hanya datang duduk dan mendengarkan ceramah. Akhirnya lama-lama hatinya terketuk untuk mulai sholat lagi dan belajar mengaji. Karena nggak mungkin kan, selalu menolak ajakan teman atau tetangga.
Alhamdulillah, perlahan tapi pasti Arista berusaha untuk Istiqomah dan mau belajar mengaji dari nol lagi. Yaitu dari huruf Hijaiyah.
" Assalamualaikum warahmatullahi... Dirga mengucap salam, tanda sholat udah selesai.
Selesai sholat Arista ke ruang tamu menemui ibu mertuanya.
"Ibu nggak sholat?."
"Nanti aja di rumah. Mana Dirga, katanya mau ngantarin aku pulang." ketus Bu Rahmi.
" Sebentar saya panggilkan"
Saat memasuki kamar, Arista di buat tertegun. Ke tiga putranya sedang duduk mengitari adek bayinya. Tangan ke tiganya tampak iseng.
Dirga dengan telunjuknya menekan pipi dengan pelan. Dimas mengusap usap ujung hidung dan Dityan telunjuknya berada dalam genggangam si bayi.
Mereka tampak bahagia. Itu terlihat dari tawa mereka.
Arista terharu , tapi dia berusaha tidak meneteskan airmata. Dia nggak ingin ke tiga putranya curiga.
" Wahh...kayaknya kalian asyik banget nih, lain-lain sama adek bayi.
"Lucu Bu, jadi kayak punya boneka hidup." kata Dityan di iringi tawa semua yang berada di kamar tersebut.
" Ngomong-ngomong nenek kalian masih ada di depan. Siapa yang mau mengantarnya pulang?."
" Oh...iya, Dirga lupa. Tadi aku yang janji mau antar nenek. Tapi apa nenek udah selesai sholat, Bu." tanya Dirga.
" Nenek mau sholat di rumah aja katanya. Sudah sana nanti kemalaman."
" Siap, Bu. Dirga ganti baju dulu."
sementara Dirga berganti baju, Arista melangkah menuju ruang tamu.
" Ibu beneran nggak mau sholat si sini, nanti sampe rumah waktu Maghrib udah habis lho, Bu." Arista bicara pelan.
"Makanya anakmu mana, katanya mau antarin. Apa jangan-jangan kamu ya, yang bujukin anakku biar nggak bisa antar neneknya" kata Bu Rahmi dengan nada suara tinggi.
Arista tersentak kagiet, badannya reflek mundur satu langkah ke belakang.
" Ada apa ini. Kenapa nenek marah sama ibu?." tanya Dirga yang tiba-tiba sudah di antar a mereka.
Bu Rahmi gelagapan. Tapi dia tidak menjawab, hanya diam.
" Maaf, nek. Jangan sekali-sekali nenek memarahi ibu."
Arista tersenyum haru. Ternyata putra sulungnya lebih berakhlak di banding ayahnya.