NovelToon NovelToon
TIDUR DOANG TIBA-TIBA JADI MILIARDER

TIDUR DOANG TIBA-TIBA JADI MILIARDER

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Kalian pasti pernah kan, seenggaknya sekali seumur hidup, rebahan di kamar sambil menatap langit-langit terus ngehayal: "Coba aja tidur doang bisa dapet duit, pasti gue udah jadi orang terkaya di dunia." Nah, hayalan konyol yang sering kita impikan pas lagi capek-capeknya hidup itu, mendadak jadi kenyataan buat Abdul. Pemuda miskin korban PHK ini doanya dikabulkan secara ajaib. Sekali merem, saldo banknya bertambah 10 juta. Makin nyenyak dia ngorok, makin triliunan uang yang masuk ke rekeningnya secara legal! Tapi ternyata, dapet duit cuma modal tidur itu gak sesantai kedengarannya. Karena gak pernah keluar rumah tapi mendadak kaya raya, Abdul langsung dicurigai satu kampung pelihara babi ngepet, digerebek warga pas lagi enak tidur, dikejar-kejar orang pajak, sampai didatangi mantan pacar yang dulu ninggalin pas lagi sayang-sayangnya, Ups!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 ALIBI

Siang harinya, setelah situasi di depan rumah agak mereda, Abdul memutuskan untuk keluar. Ia melangkah menuju rumah Bu RT yang berjarak sekitar empat rumah dari kontrakannya.

Di dalam saku celananya, terselip uang seratus ribu rupiah satu lembar. Sesuai janjinya pada Ibunya, ia harus melunasi utang iuran sampah dan kebersihan lingkungan sebesar sembilan puluh ribu rupiah agar mulut tajam Bu RT bisa sedikit diam.

Begitu sampai di teras rumah Pak RT, Abdul mengetuk pintu besi dengan sopan. Tidak butuh waktu lama sampai Bu RT membukakan pintu dengan wajah yang masih sekaku tadi subuh.

"Nih, Bu RT. Uang iuran tiga bulan, sembilan puluh ribu rupiah. Pas, ya," ujar Abdul sambil menyodorkan uang seratus ribuan baru hasil penarikannya kemarin.

Bu RT menerima uang itu, menerawangnya ke arah cahaya matahari seolah curiga uang itu palsu, lalu mendengus. Ia merogoh dompet dasternya, melemparkan uang logam seribuan sebanyak sepuluh koin sebagai kembalian ke tangan Abdul tanpa sepatah kata pun, lalu langsung menutup pintu depan dengan keras.

Abdul hanya menghela napas panjang, memasukkan koin-koin itu ke kantong celananya, lalu berjalan pulang. Namun, sepanjang jalan kembali ke kontrakan, ia menyadari tatapan mata para tetangga tidak lagi sama.

Beberapa ibu-ibu yang sedang menjemur pakaian terang-terangan berbisik sambil menunjuk ke arahnya. Sindiran Bu RT tadi subuh rupanya sudah menyebar luas. Isu pesugihan dan babi ngepet mulai meracuni pikiran warga Gang Seng yang haus akan gosip.

"Aku gak bisa begini terus," gumam Abdul dalam hati. "Kalau besok-besok Aku bawa Bapak ke rumah sakit pakai ambulans atau beli kursi roda baru, rumah ini bisa-biasa beneran dibakar massa karena dikira pakai uang Ngepet."

Abdul tahu ia butuh alibi. Ia butuh sebuah pekerjaan tiruan yang bisa dilihat oleh warga kampung, sesuatu yang masuk akal bagi seorang lulusan SMK jahit yang mendadak punya uang, agar ia tidak perlu terus-menerus dicurigai.

Begitu sampai di dalam kamarnya, Abdul mengunci pintu. Rasa lelah mental akibat tekanan sosial sejak pagi tadi membuat kepalanya kembali berdenyut rata.

Ditambah lagi, semalam ia tidur dengan sangat gelisah, terus-menerus bermimpi dikejar polisi dan dikepung warga pembawa obor.

Berharap mendapatkan keajaiban lagi seperti kemarin, Abdul sengaja merebahkan tubuhnya di atas kasur lantai. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba memaksakan diri untuk tidur siang.

"Ayo tidur, Dul. Siapa tahu bangun-bangun ada SMS sepuluh juta lagi masuk buat biaya berobat Bapak ke rumah sakit besar," bisiknya dalam hati.

Butuh waktu hampir satu jam bagi Abdul yang sedang stres untuk akhirnya bisa terlelap. Ia tertidur dari pukul dua siang hingga menjelang azan asar berkumandang.

Saat terbangun pukul empat sore, Abdul langsung duduk. Hal pertama yang ia lakukan adalah merogoh kolong bantal dan memeriksa HP jadulnya dengan jantung berdebar-debar. Ia membuka kotak masuk SMS, berharap melihat logo BANK SUKA dengan pengiriman dana baru.

Namun, kotak masuknya kosong. Tidak ada SMS baru. Saldo akhirnya tetap sama seperti kemarin, enam puluh juta rupiah lewat sekian perak.

Abdul mengernyitkan dahi, ada rasa kecewa sekaligus lega yang campur aduk di dadanya. "Zonk? Gak masuk lagi?" gumamnya bingung.

Pikiran polos Abdul langsung mengambil kesimpulan sendiri. "Oh, berarti dugaanku kemarin benar. Uang puluhan juta kemarin itu murni karena sistem bank yang lagi eror atau ada orang kaya yang salah transfer massal.

Dan sekarang banknya pasti udah sadar makanya pengirimannya berhenti. Untung semalam sama barusan gak masuk lagi. Kalau saldonya nambah terus, Aku bisa beneran gila karena ketakutan."

Abdul mengembuskan napas lega, merasa beban di pundaknya sedikit berkurang karena mengira lingkaran keanehan ini sudah selesai. Ia pun meletakkan HP jadul itu di atas kasur, lalu melangkah keluar kamar untuk mencuci muka.

Abdul sama sekali tidak tahu, bahwa tepat setelah langkah kakinya menjauh dari kamar, layar HP jadul yang tergeletak di atas kasur tiba-tiba menyala sendiri. Cahaya biru keperakannya memancar redup, menampilkan sebaris laporan mekanis dari sistem.

[System Status: Gagal Mengonversi Waktu Tidur]

[Analisis: Pengguna melakukan aktivitas tidur dalam kondisi 'Stres Tinggi' (High-Beta Brainwaves). Pikiran dipenuhi ketakutan akan hukum, kepanikan sosial, dan paksaan untuk mencari keuntungan.]

[Regulasi: 'Sleeper System' hanya mendeteksi dan mengonversi tidur yang tenang dan berkualitas (Deep Sleep/REM). Uang tidak akan ditransfer jika pengguna tidur dalam kondisi dipaksakan atau banyak pikiran.]

Teks keemasan itu berkedip tiga kali sebelum akhirnya meredup dan hilang sepenuhnya dari layar, meninggalkan ponsel tersebut kembali menjadi HP jadul yang mati total di atas bantal.

Di ruang tengah, Abdul duduk bersama ibunya di dekat meja kayu. Kondisi Pak Rohman di kamar belakang terdengar stabil, suara dengkur halusnya menandakan bahwa obat dari apotek kemarin bekerja dengan sangat baik.

"Bu," buka Abdul sambil menatap ibunya yang sedang merapikan benang. "Abdul mau omong soal omongan Bu RT tadi subuh."

Ibu Yanti menghentikan kegiatannya, menatap Abdul dengan tatapan cemas sekaligus tidak enak hati. "Kenapa, Dul? Kamu jangan masukin ke hati ya omongan orang-orang itu. Ibu minta maaf ya... gara-gara kondisi kita, kamu jadi harus dituduh yang aneh-aneh begitu sama tetangga."

"Bukan begitu, Bu. Abdul gak mikirin omongan Bu RT," potong Abdul cepat, mencoba menenangkan ibunya. "Tapi setelah Abdul pikir-pikir, daripada Abdul luntang-lantung nyari kerjaan baru yang belum pasti pasca-PHK kemarin, lebih baik Abdul buka usaha jahit kecil-kecilan saja di depan teras rumah. Modal ijazah SMK jahit Abdul kan masih ada."

Mata Ibu Yanti seketika berbinar cerah, ada binar harapan yang besar di wajah tua itu. "Usaha jahit? Kamu beneran mau mulai usaha sendiri, Dul?"

"Iya, Bu. Besok pagi Abdul rencana mau ke pasar loak buat beli mesin jahit bekas yang masih bagus sama pasang spanduk kecil di teras rumah. Jadi kalau ada warga atau orang lewat yang mau permak celana levis atau jahit pakaian, Abdul bisa langsung kerjakan di rumah sambil bantu Ibu jagain Bapak," jelas Abdul, menyembunyikan niat aslinya yang butuh tameng finansial.

Ibu Yanti tersenyum lebar hingga matanya berkaca-kaca, merasa sangat bangga melihat semangat anak tunggalnya. "Ya Allah, ide bagus itu, Dul! Ibu dukung banget. Daripada kamu stres nyari kerja keliling kota, mending buka jasa di rumah.

Tapi... apa uang pinjaman dari temanmu kemarin masih cukup buat beli mesinnya? Jangan dipaksakan kalau kurang, Dul, utang kita ke temanmu nanti makin banyak."

"Tenang saja, Bu. Sisa uang dari teman Abdul kemarin masih aman kok di ATM kalau cuma buat beli mesin bekas sekitar satu atau dua juta," bohong Abdul lagi dengan wajah seyakin mungkin demi menjaga rahasia saldonya.

Ibu Yanti mengangguk-angguk lega penuh syukur, sama sekali tidak menaruh curiga. Di pikirannya, ini adalah awal baru yang baik bagi masa depan pekerjaan anaknya.

Sementara itu, Abdul diam-diam mengehmbuskan napas panjang dalam hati, bersiap untuk pergi ke pasar loak esok pagi demi merealisasikan rencana alibi barunya.

1
Ahmadi 241215
udah tau nama nya rizki.masih nanya dasar tolol,di cari di kampus nama rizki.kan udah tau wajahnya.klo bikin cerita pakai otak,kalo gak punya otak,ke rumah sakit jiwa aja anjing
irawan muhdi
lanjut Thor
Farhat Syahada
mantapp up truss
BaekTae Byun
buset gw kira ini tentang sistem santai atau sesuai dengan judul ternyata ngga
Arrofy: ini baru awal perjalanan, ikutin terus perjalanan Abdul, akan banyak kejutan di bab2 selanjutnya😍
total 1 replies
Gege
bilang begene biar argo rumah sakit jalan terus.. kalo cepet sembuh rumah sakit kehilangan ATM berjalannya...🤣
Arrofy: hehehe🤣🤣🤣
total 1 replies
Pur Yono
bagus Dull sudah punya uang tetapp baik hati sama teman yang kesulitan👍
Pur Yono
cerdas kamu thor lanjut kembangkan kreatifitasmu
Pur Yono
upterus👍
Pur Yono
author pintar menyesuaikan cerita dengan situasi dan kondisi jaman sekarang upterus💪
Pur Yono
alur ceritanya santai mudah diikuti lanjut👍
Junior Ian
insprative novel 👍👍
Arrofy: terimakasih ya😍
total 1 replies
irawan muhdi
lanjut Thor
Arrofy: di tunggu ya/Chuckle/
total 1 replies
Gege
naaaah novel tema system yang ringan, enak dibaca modelan begene yang bikin hiburan lengkap... Yoo gass thor 10k kata tiap update..💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!