NovelToon NovelToon
DENDAM ISTRI PERTAMA

DENDAM ISTRI PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Motjaaa

⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"

10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.

Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.

"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Aku berbeda dari Dia

"Hanum! Kebetulan banget kamu nyampe!" seru Dela saat dia baru saja memasuki ruangan.

"Ada apa ini, Kak?" Hanum tampak heran saat dia melihat para karyawan yang sedang berkumpul menatap siaran langsung di Televisi.

"Akhirnya kejadian kemarin dimuat di berita nih, tadi aku diwawancarai sama beberapa reporter yang datang kemari. Makasih banyak ya, Num. Kamu udah bantuin aku angkat kejadian ini," Dela menunjuk televisi dimana di sana terlihat Vanya yang memakai baju tahanan dengan wajahnya yang ditutupi masker hitam tampak dikerumuni oleh para wartawan.

Sebenarnya Hanum merasa bersyukur akhirnya Vanya dibawa ke sel penjara. Namun, di sisi lain dia cukup kaget saat membuka media sosia yang menunjukkan dugaan suap dan kecurangan yang dilakukan oleh Vanya. Terlebih lagi saat dia membuka kolom komentar yang isinya pedas semua.

"Aku juga sudah menduga ini bakalan terjadi, Hanum," ucap Dela saat dia melihat Hanum mengecek Instagram nya.

"Setidaknya untuk saat ini dia diberi pelajaran yang setimpal dengan perbuatannya. Oke, guys malam ini kita makan di restoran ya! Aku udah kirim lokasi dan menu nya di grup, ditunggu list menu nya ya!" kata Dela kepada para karyawannya yang kini antusias sekali.

"Widih.., seriusan nih, Bu?!" ucap Nunung kegirangan.

"Dua rius! Habis ini kembali bekerja, Guyss!!" perintah Dela kemudian.

"Khusus untuk kamu, ayo ke ruangan aku," kata Dela dengan suara yang pelan agar tidak didengar oleh karyawan yang lainnya kepada Hanum.

Hanum pun segera mengikuti perempuan itu, masuk ke dalam ruangannya. Sejenak mengingat kembali rasa penasarannya terkait hubungan Dela dengan Devan.

"Silakan duduk, jangan sungkan-sungkan! Kayak sama siapa aja deh hehe," kata Dela mempersilakan Hanum untuk duduk di sofa ruangannya.

Dela membawa dua gelas jus jambu yang sudah dia siapkan di dalam kulkas ruangan kerjanya. Lalu duduk di depan Hanum.

"Aku cuma mau mastiin aja, apa cuma perasaan aku aja ya? Menurut kamu sejauh ini rasanya aman, gak? Rasanya kejadian kemarin gak cuman nyampe di sini saja kalo feeling aku," ujar Dela mengutarakan isi pikirannya.

"Aku juga mikirnya gitu, Kak.., cuman antisipasi saja mulai saat ini."

Memang benar apa yang dia rasakan saat ini ialah rasa khawatir dan lega yang bercampur menjadi satu. Mengingat Vanya bukanlah orang yang mudah dilawan, dia harus siap dari sekarang untuk menghadapi konsekuensi atau kemungkinan yang terjadi di lain hari.

"Selama masalah ini belum usai, saran aku kamu jangan pergi tanpa pengawasan ya, Num. Usahain aja dulu kayak gitu atau kalau nggak minta Devan nemenin kamu. Oh ya kamu sama Devan pacaran ya?" Tiba-tiba saja Dela menanyainya seperti itu. Dia memang suka blak-blakan orangnya.

"Eh?" Hanum tertegun sejenak. Menyebut nama Devan saja dia masih belum bisa melupakan rasa malunya kemarin.

"Apa aku terlalu cepet ya? Tapi intuisi aku bilang kalau kalian berdua emang lagi deketan, PDKT gitu maksudnya hehe," Dela mengambil gelas jusnya, meminumnya sejenak.

"Aku.., boleh tanya satu hal, Kak?" Hanum berusaha memberanikan diri.

"Hubungan Kakak sama Devan apa ya? Aku lihat.., Kakak sepertinya cukup akrab sama Bunda waktu di rumah..," ucap Hanum dengan sopan, berharap tidak ada penekanan sedikitpun saat dia mengucapkannya.

Dela tampak tertawa kecil. "Aku paham nih, kayaknya kemarin deh ya, waktu aku nginep di rumah, di butik juga kamu buru-buru keluar karena salah paham tentang itu. Jadi, Hanum..," Dela menarik napasnya sebentar. Membuangnya perlahan.

"Aku itu mantan nya Devan dulu. Waktu masih SMA sih kalau gak salah cuma beda sekolahan aja," kata Dela memulai ceritanya.

"Dibilang pacar juga gimana ya, orang dulu aku sama dia cuman cinta monyet gitu. Okelah, aku suka sama dia. Cuman dia nya kadang cuekin aku, sampai aku eneg terus ngamuk deh di depan dia minta putus. Tau apa dia jawab?" Dela tampak bercerita dengan ekspresi wajah menggebu.

"..Apa?" Hanum menunggu lanjutan ceritanya.

"Dia bilang "emang kita pacaran?"! Astaga.., jadi selama ini dia gak nganggep aku pacarnya gitu??"

Hanum ingin sekali tertawa, tetapi dia berusaha menahan sikapnya itu, takut menyinggungnya.

"Ya itulah, cuma memang sih Bunda bilang pacar karena aku duluan yang bilang ke Bunda. Dulu Bunda sama Mama aku deket. Sering main ke rumah, pergi wisata barengan, pokoknya udah kayak keluarga gitu deh. Makanya aku sama Devan bisa sedeket itu. Hanya saja.., Mama aku udah dipanggil duluan sama Yang Kuasa," ucap Dela memelankan bagian akhir ucapannya.

Hanum tampak prihatin, "Semoga Mama Kakak ditempatkan di sisi terbaik Nya ya, Kak. Aku paham kok, Kak. Sudah, tak usah dilanjutkan lagi ceritanya..," pinta Hanum padanya.

"Amiin, gak papa kok. Tapi ada satu hal lagi. Aku sekarang tinggal sama Papa aku dan.., sebulan lagi aku menikah," kata Dela.

"Menikah?? Wah.., selamat ya, Kak!" Hanum tersenyum senang mendengarnya.

"Iya, aku udah tunangan," Dela menunjukkan cincin di jari manisnya.

"Kalo kamu udah jadian sama Devan bilang ya. Kamu tahu? Devan deketin kamu berarti dia suka beneran sama kamu. Gak kayak aku dulu. Jadi, jangan sia-siakan apa yang ada. Tergantung juga sih sebenernya.., semua pilihan tinggal kamu pilih saja. Sisanya serahkan sama Yang Di atas," terang Dela memberikan sedikit nasihat.

"Oke deh, Kak. Makasih banyak ya, Kak," Hanum pun izin meninggalkan ruangan itu setelah menghabiskan jus jambu nya. Disibukkan kembali oleh pekerjaannya.

Waktu makan malam yang dijanjikan pun tiba, kini semua orang berkumpul di salah satu Cafe X yang cukup populer di kota itu. Para karyawan saling bercengkerama dan tertawa. Begitu juga dengan Hanum yang kini sedang mendengar celotehan Nunung yang panjang lebar, mengatakan kalau kemarin betul saja ban dalam motor mereka meledak.

"Sampe ganti ban loh, Mbak. Keluar lagi deh hepeng (duit)," tutur Nunung penuh semangat.

Hanum tertawa kecil.

"Kemarin aku sama Bang Adly udah sepakat untuk diet selama dua minggu demi nombokin pengeluaran kemarin. Habis itu ban cukup mahal juga sih.., tapi lihat sekarang, jadinya Nunung mau makan banyak dulu deh buat isi amunisi."

"Haha, ada-ada kamu. Gimana mau diet kalo gitu?"

Nunung balas cekikikan.

Tadi sebelum magrib, Hanum mengirim pesan ke Bunda. Memberitahu kalau dirinya akan makan malam bersama rekan kerjanya. Hingga pukul delapan malam mereka pun selesai. Hanum bergegas untuk pulang dengan memesan taksi.

"Mau Kakak antarin pulang?" tawar Dela tiba-tiba saat dia muncul dari balik pintu luar. Hanum sedang di luar menunggu aplikasi melacak mobil terdekat.

Eh? Kakak? Pikir Hanum.

"Gapapa, Kak. Aku udah mesen taksi kok," ucapnya berbohong.

"Oh.., ya sudah kalau gitu Kakak duluan ya," kata Dela pamit pergi. Lalu masuk ke dalam mobilnya.

"Hati-hati, Kak.."

"Aduh.., ini napa sih gak ketemu mulu mobilnya. Atau aplikasi nya error ya?"umpat Hanum karena lama sekali. Akhirnya dia keluar dan tidak jadi memesan taksi. Berjalan menuju trotoar siapa tahu dia menemukan taksi yang stand by di tepian jalan.

Sebuah mobil merapat di depannya. Saat Hanum berjalan melewatinya, terdengar suara yang memanggilnya.

"Taksi, Kak?" ucap suara itu dari dalam.

Hanum langsung memutar balik badannya. "Iya, Pak. Akhirnya ada juga," ucapnya. Lalu masuk ke dalam mobil itu. Duduk di bangku belakang.

"Duduknya di depan aja, Kak," ucap Pak Supir yang memakai kaus kasual dan kacamata yang sama-sama berwarna hitam itu. Kulitnya putih, rambutnya tampak acak-acakan tetapi keren jika dilirik dan tampaknya masih muda.

Segera Hanum pindah ke depan. Tidak banyak bicara.

"Antar kemana, Kak?" tanya Pak Supir itu.

"Jalan Manggis, Kompleks Perumahan Cendekia.. Pak," ucap Hanum pelan.

Pak Supir itu pun mengangguk. Menjalankan mobilnya.

"Pesan dari siapa, Kak?" tanya nya lagi saat Hanum sedang sibuk menjawab balasan dari Devan. Yang mana pria itu mengiriminya pesan:

"Mau aku jemput pulang?"

"Dimana lokasinya?"

Membuat Hanum jadi sebal saat membaca pesan itu. Apakah pria itu tidak memikirkan perasaannya yang tak karuan ini? Pikir Hanum.

"Oh.., ini nih orang yang nyebelin. Bikin saya bingung saja mau balas apa," kata Hanum tiba-tiba. Jarinya sibuk mengetik, tetapi buru-buru dia hapus. Berpikir kata-kata apa yang harus dia buat untuk membalas chat itu.

"Nyebelin gimana, Kak? Tampaknya ragu-ragu tuh Kakak balas," kata Supir itu.

"Ya dia itu katanya suka sama saya, Pak. Cuma ini dia chat saya terus, belum saya balas karena saya juga lagi bingung sama perasaan saya sendiri. Ih, gimana lah ya bilangnya," kayak Hanum kemudian.

"Oh.., coba balas aja, Kak. Siapa tahu bisa kasih jawaban yang jelas buat Kakak nya," ucap Supir itu lagi.

Hanum tak melirik sama sekali supir itu. Dia memang menjaga pandangannya saja sekaligus pencahayaannya cukup redup.

Segera dia membalas pesan dari Devan.

"Aku lagi di jalan."

TRING!

Terdengar suara notifikasi dari ponsel yang bukan miliknya. Sejenak, Hanum berpikir. Apa memang kebetulan ya? Dia menatap sekilas Supir di sebelahnya yang sedang fokus mengemudi dengan. Tetapi buru-buru ia menepis dugaannya.

Dia pun mencoba membalas lagi.

"Bentar lagi nyampe."

Kirim.

TRING!

"De-Devan??" ucap Hanum tiba-tiba.

Terdengar suara tawa kecil di sebelahnya.

"Jadi.., ITU KAMU, VAN?!" Ucap Hanum dengan kaget.

"Haha, masak kamu gak nyadar sih?? Ya Allah lucu nya..," ucap Devan kemudian melepas kacamatanya. Menerangkan pencahayaan mobil.

Hanum jelas tersipu malu saat ini. Tetapi segera dia mencubit lengan pria di sebelahnya itu. "Keterlaluan kamu! Bisa-bisanya kamu mainin aku kayak gitu ya!" ucapnya sambil terus mencubit lengan kiri Devan.

"ADUH! AMPUN, NUN! IYA AKU SALAH MAAFF!!" Devan tertawa meskipun menahan sakit karena lengannya baru saja digigit kepiting.

"Udah puas ya kamu bikin aku bingung gini?" kata Hanum masih emosi meski dia berhenti mencubit pria itu.

"Lagian kok bisa sih kamu gak kenal sama orang rumah sendiri?"

"Ya aku mana tau, Van? Kamu juga tumben-tumbenan pake kaus, kacamata, rambut berantakan gini? Mengumbar kegantengan segala gitu, iya?" kata Hanum langsung saja berkata demikian.

"Jadi kata kamu aku ganteng? Makasih, Hanum," Devan membuat Hanum skakmat.

Hanum yang kini menyadari kalau dia salah bicara pun diam. "Iya deh iya.."

"Hanum.., aku masih nunggu jawaban kamu," Devan kembali ke setelah awalnya. Tampak biasa dan tegas.

Hanum tidak bergeming.

"Aku janji bakal bertanggungjawab buat kamu. Aku akan buat kamu yakin kalau aku jelas berbeda dari mantan suami kamu sebelumnya. Dan aku gak nyesel sudah memilih kamu..," sambung Devan lagi.

Bingung mau jawab apa sebenarnya. Hanum masih gundah dengan statusnya, belum lagi dia baru saja bercerai beberap minggu yang lalu, dan sekarang dia dihadapi situasi seperti ini?

"Aku bakalan nunggu kamu, Hanum. Aku akan bersabar."

Hanum menatap pria itu. Mulutnya yang terkatup itu pun akhirnya mengeluarkan kata, "Janji?" ucap Hanum.

Devan menatap penuh harap. "Aku berjanji, Hanum."

Hanum pun tersenyum, "Makasih ya, Van. Aku akan coba belajar menerima perasaan kamu."

Malam itu adalah malam yang membuatnya bahagia setelah bertahun-tahun lamanya. Hingga kabar buruk itu tiba.

1
silainge01
Kasih komen ya beb 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!