Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.
Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Jejak di Timur
Mereka bergerak meninggalkan cekungan batu dengan langkah yang semakin berat.
Wira berjalan paling belakang, sesekali menoleh ke arah lembah yang kini tertutup asap tipis. Dari tempat mereka berada, desa yang terbakar terlihat seperti luka merah di kejauhan. Api belum padam sepenuhnya. Masih ada kepulan yang naik perlahan, seakan tanah itu sendiri menolak menerima bahwa pagi mereka telah hancur. Wira tidak bisa berhenti memikirkan rumahnya, ibunya, dan suara-suara asing yang memanggil namanya. Setiap langkah menjauh dari desa terasa seperti meninggalkan sesuatu yang belum sempat ia selamatkan.
Panca berjalan di depannya dengan napas pendek. Bajunya kotor oleh tanah, rambutnya basah oleh keringat, dan wajahnya menegang seperti orang yang belum percaya bahwa dirinya masih hidup. Sesekali ia mengusap lutut, lalu mendesis kecil setiap kali kaki terantuk batu. Di depan mereka, Ki Rangga tetap tenang. Lelaki itu berjalan seperti orang yang mengenal jalan hutan dengan baik. Tidak terburu-buru, tetapi juga tidak lambat. Segala geraknya hemat, seolah ia sudah terbiasa menilai medan, jarak, dan kemungkinan bahaya hanya dari perubahan napas angin.
Setelah beberapa tikungan kecil di jalur berbatu, Ki Rangga mengangkat tangan.
Wira langsung berhenti. Panca ikut membeku di tempat.
Di depan mereka, jalur tanah menyempit di antara dua batu besar yang tumbuh seperti dinding rendah. Di kiri, semak liar menutup sebagian pandangan. Di kanan, lereng menurun ke arah parit kecil yang airnya mengalir pelan, nyaris tak terdengar. Tempat itu sunyi, tetapi justru karena sunyi itulah Wira merasa jantungnya kembali menegang.
“Kenapa berhenti?” bisik Panca.
Ki Rangga tidak langsung menjawab. Ia mencondongkan badan, mengamati arah datang mereka, lalu memandang ke jalur depan. Beberapa detik berlalu sebelum ia berkata, “Ada yang mengikuti.”
Wira menahan napas. “Dari belakang?”
“Ya.”
Panca memutar kepala cepat, tapi Rangga langsung menahan dengan isyarat tangan. “Jangan menoleh terlalu jelas.”
Wira menatap Ki Rangga. “Sejak kapan?”
“Sejak tadi. Jejak kita cukup mudah dibaca kalau orang yang mengejar paham medan.”
Wira mengerutkan kening. “Kau paham medan ini?”
Ki Rangga menjawab sambil tetap mengawasi jalur belakang, “Cukup.”
Panca menghela napas pendek. “Aku benar-benar tidak suka jawabanmu yang selalu singkat.”
Ki Rangga akhirnya menoleh sekilas. “Itu karena kau belum pernah hidup cukup lama untuk menyukai jawaban yang terlalu panjang.”
Panca mendengus, tetapi tidak sempat membalas. Dari belakang, terdengar suara ranting patah. Lalu langkah kaki. Tidak terlalu keras, namun cukup jelas untuk membuat Wira merasakan bulu kuduknya berdiri. Mereka bertiga serentak diam. Wira menggeser tubuh sedikit di balik batu, menahan napas.
Ki Rangga mengangkat jari ke bibir.
Langkah itu semakin dekat.
Satu orang tampaknya turun ke jalur mereka dengan hati-hati. Wira bisa mendengar napasnya, pendek dan teratur. Orang itu tidak berlari. Tidak panik. Ia sedang mencari secara sistematis. Dugaannya bukan sekadar asal-asalan. Itu berarti mereka benar-benar diburu.
Wira menatap batu besar di sampingnya. Ia bisa melihat celah sempit yang mengarah ke balik akar. Jika perlu, mereka mungkin bisa bersembunyi di sana. Tetapi Ki Rangga tampaknya punya rencana lain.
Saat bayangan orang itu mulai muncul di ujung jalur, Ki Rangga mengambil batu kecil dari tanah.
Wira sempat berpikir lelaki itu akan melemparkannya ke arah musuh, tetapi Ki Rangga justru mengarahkannya ke sisi berlawanan dan melempar dengan gerakan ringan. Batu itu menghantam semak liar di kejauhan dan memunculkan suara keras. Langkah di belakang mereka langsung berhenti.
“Siapa di sana?” terdengar suara laki-laki.
Ki Rangga tidak menjawab.
Orang itu bergerak ke arah suara yang ditimbulkan batu. Wira baru berani mengembuskan napas.
“Bagus,” bisik Panca.
“Belum selesai,” jawab Ki Rangga.
Kalimat itu terbukti benar. Tak lama kemudian, dua suara lain terdengar di belakang. Berarti mereka menyisir dari beberapa arah sekaligus. Ki Rangga memandang jalur depan, lalu belakang, lalu ke semak tinggi di sisi kiri. Ada keputusan cepat yang harus diambil.
“Kita pindah ke sisi timur,” katanya. “Ikuti aku.”
Mereka bergerak lagi, merunduk di balik semak dan bebatuan kecil. Jalurnya menurun pelan, lalu melebar di satu titik sebelum kembali sempit. Wira mengikuti di belakang Ki Rangga sambil mencoba mengatur napas. Keringat sudah mengalir di pelipis dan tengkuknya. Ia merasa seolah seluruh tubuhnya belum sempat menyesuaikan kenyataan bahwa sejak pagi, hidupnya berubah menjadi pelarian.
Setelah berjalan beberapa menit, Ki Rangga berhenti di sebuah cekungan batu yang lebih rendah. Tempat itu seperti kantong kecil di antara batu dan akar pohon tua. Dindingnya setengah melengkung, cukup untuk melindungi mereka dari pandangan langsung. Ada batu datar di dalamnya, dan tanah di sekitarnya kering. Ki Rangga memberi isyarat agar mereka masuk.
Wira duduk di batu itu dengan tubuh berat. Panca langsung mengeluh kecil sambil menekan betisnya. “Aku rasanya mau jatuh pingsan.”
“Kau masih bisa bicara,” kata Wira.
“Itu satu-satunya kemampuan tersisa.”
Ki Rangga berdiri di ambang cekungan sambil mengamati luar. Wira menatap punggungnya sejenak, lalu mengeluarkan lempeng kayu kecil dari pinggang. Benda itu masih terasa dingin. Ia memutar ukiran di permukaannya dengan ibu jari. Tanda itu sederhana, tetapi justru kesederhanaannya yang membuatnya terasa semakin tua dan asing.
Ki Rangga menoleh. “Tunjukkan.”
Wira mengulurkan tangan tanpa banyak bicara. Ki Rangga menerima benda itu dan memeriksanya lagi. Ia tidak hanya melihat permukaannya, tetapi juga bagian tepi, belakang, dan sisa ukiran di sudut yang hampir hilang. Wira memperhatikan sorot matanya berubah sangat tipis.
“Apa?” tanya Wira.
Ki Rangga mengembalikan benda itu. “Ini bukan benda biasa.”
“Itu sudah kubilang.”
“Yang kau tahu baru permukaan.”
Panca mengerutkan dahi. “Kalau begitu jelaskan.”
Ki Rangga menatap Wira lebih lama sebelum menjawab, “Tanda ini dulu dipakai oleh orang-orang yang punya hubungan dengan tempat yang lebih tinggi.”
Wira memandangnya bingung. “Kerajaan?”
Ki Rangga mengangguk. “Ya.”
Panca langsung menegakkan badan. “Kerajaan mana?”
Ki Rangga diam sesaat. Lalu berkata, “Yang sekarang sedang bergerak ke arah perang besar.”
Wira menatapnya, belum sepenuhnya paham. Ia tahu dunia di luar desa mereka memang sering disebut-sebut dalam pembicaraan orang dewasa. Ada nama-nama besar, keluarga besar, penguasa daerah, dan cerita tentang perebutan kuasa. Namun semua itu selalu terasa jauh. Bagi Wira, hidupnya dibatasi sungai, ladang, dan pasar kecil. Mendengar kata kerajaan dari mulut Ki Rangga terasa seperti mendengar pintu tak kasatmata terbuka ke tempat yang lebih besar, lebih gelap, dan lebih berbahaya.
“Kenapa benda ini ada di ibuku?” tanya Wira akhirnya.
Ki Rangga menatapnya lama. “Karena ibumu bukan perempuan biasa.”
Wira menegang.
Panca menoleh cepat ke arah Wira, seolah ingin memastikan reaksi sahabatnya. Wira sendiri terdiam. Selama ini ia menganggap ibunya hanya perempuan desa yang hidup sederhana, menenun, berkebun, dan menjaga rumah. Namun setiap kali ada pertanyaan tentang ayah, perempuan itu menutup pembicaraan terlalu cepat. Setiap kali ada tamu asing lewat, wajahnya berubah sedikit, meski hanya sesaat. Wira baru sadar bahwa ada banyak hal dari ibunya yang tidak pernah ia pahami.
“Jadi siapa dia?” tanya Wira.
Ki Rangga tidak menjawab langsung. “Kalau aku bilang sekarang, kau belum tentu bisa memakainya untuk apa yang kau butuhkan.”
“Jawab saja.”
“Dia mungkin seseorang yang pernah berhubungan dengan lingkaran dalam.”
Panca mengernyit. “Lingkaran dalam?”
“Lingkaran orang-orang yang dekat dengan pusat kuasa,” jawab Ki Rangga.
Wira terdiam. Kata-kata itu terasa lebih berat daripada yang ia kira. Ia memandang lempeng kayu di tangannya. Tanda kecil itu kini tampak seperti sesuatu yang sengaja disimpan dengan sangat hati-hati. Bukan sekadar benda kenangan. Bukan sekadar tanda keluarga. Ada rahasia di baliknya. Dan rahasia itu rupanya cukup penting untuk membuat desa mereka diserang.
Wira menatap Ki Rangga tajam. “Kalau begitu mereka datang pagi ini karena aku membawa tanda itu?”
“Ya.”
“Dan mereka tahu siapa ibuku?”
“Sepertinya.”
Panca menggosok wajahnya dengan tangan. “Aku mulai mengerti kenapa desa ini seperti dipilih untuk dibakar.”
Wira tidak menjawab. Dalam dirinya, ada rasa marah yang mulai tumbuh. Marah karena ibunya tidak pernah menjelaskan. Marah karena hidupnya diguncang oleh orang-orang yang bahkan tidak ia kenal. Marah karena namanya dipanggil berulang kali seperti milik orang lain.
Ia ingin kembali ke desa. Ingin memastikan ibunya selamat. Ingin memegang pintu rumahnya yang mungkin sudah jadi abu. Tetapi suara hati kecilnya juga tahu bahwa kalau ia kembali sekarang, ia hanya akan masuk ke perangkap yang lebih besar. Dan Rangga tampak sadar akan pergulatan itu.
“Kalau kau mau kembali,” kata Ki Rangga pelan, “kau harus siap menghadapi orang-orang yang bahkan tidak berhenti setelah desa terbakar.”
Wira menatapnya. “Maksudmu mereka akan mengejar kami sampai kapan?”
“Selama mereka belum mendapatkan apa yang mereka cari.”
Panca memucat. “Dan itu kita?”
Rangga tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap Wira. Tatapan itu cukup untuk membuat Wira mengerti bahwa dirinya, atau setidaknya benda yang dibawanya, adalah pusat masalah.
Dari luar cekungan, suara langkah kembali terdengar. Kali ini lebih jauh, namun ada banyak. Berarti para pengejar belum pergi. Mungkin mereka belum tahu pasti di mana posisi mereka, tetapi penyisiran masih berlangsung. Ki Rangga melangkah ke tepi ceruk dan mengintip keluar.
“Masih ada orang di jalur atas,” katanya. “Kita harus pindah sebelum mereka menutup sisi timur.”
“Ke mana?” tanya Panca.
Ki Rangga menunjuk ke arah lereng di depan. “Ada pondok tua di hutan kecil itu. Tempat singgah lama. Seharusnya cukup aman untuk malam ini.”
“Seharusnya?” ulang Panca.
Ki Rangga menatapnya sekilas. “Kalau kau tidak suka kata itu, jangan ikut perang.”
Panca mendengus, tetapi tidak membantah lagi.
Wira berdiri perlahan. Kakinya masih berat, lututnya agak nyeri karena banyak berlari dan naik turun batu. Ia mengencangkan kain di pinggang dan menyimpan kembali lempeng kayu ke tempatnya. Lalu ia memandang Ki Rangga.
“Kenapa kau menolong kami?” tanya Wira.
Pertanyaan itu akhirnya keluar setelah sekian lama. Panca langsung menoleh, karena sepertinya ia juga ingin mendengar jawaban itu.
Ki Rangga tidak segera menjawab. Ia menatap lembah jauh di belakang mereka, ke arah desa yang masih memuntahkan asap tipis. Setelah beberapa saat, ia berkata, “Karena kalau aku tidak membantu, kau akan ditangkap oleh orang yang salah.”
Wira mengernyit. “Orang yang salah?”
“Masih terlalu cepat untuk menjelaskan.”
Panca menggeleng. “Aku makin yakin kau suka membuat orang kesal.”
Ki Rangga memberi senyum tipis yang hampir tak terlihat. “Kau masih hidup. Itu cukup.”
Wira ingin menekan lagi, tetapi Ki Rangga sudah memberi isyarat untuk bergerak. Mereka keluar dari cekungan batu dan menyusuri jalur yang mulai melebar ke timur. Hutan di sana lebih rapat, tanah lebih lembap, dan bunyi daun tertiup angin membuat langkah mereka sedikit tersamarkan. Wira berjalan di belakang Ki Rangga dengan pikiran yang masih berputar. Ia sadar jawaban-jawaban yang ia terima justru menambah pertanyaan baru. Siapa ibunya sebenarnya. Siapa ayahnya. Apa hubungan tanda kayu itu dengan kerajaan. Dan siapa tepatnya orang-orang yang menyerang desa mereka.
Di tengah perjalanan, Wira menoleh sekali ke belakang. Desa mereka masih tampak jauh, hanya garis atap dan asap yang samar. Namun dalam pandangannya, tempat itu tak lagi terasa seperti rumah. Ia kini seperti bekas luka yang ditinggalkan sesuatu yang lebih besar.
Panca berjalan di sampingnya. “Kau masih mau pulang?”
Wira diam sebentar. Lalu menjawab, “Bukan sekarang.”
“Bagus. Aku hampir mengira kau akan lari balik.”
“Kalau aku balik sekarang, aku cuma akan ditangkap.”
Panca mengangguk kecil. “Untuk sekali ini, aku setuju.”
Ki Rangga mendengar percakapan itu tanpa menoleh. “Kalian berdua mulai belajar.”
Wira menatap punggung lelaki itu. “Belajar apa?”
“Bahwa bertahan hidup bukan soal berlari paling cepat,” jawab Ki Rangga. “Kadang soal tahu kapan harus berhenti dan memilih arah yang benar.”
Kalimat itu menempel di kepala Wira. Ia tidak langsung membalas. Tetapi di dalam dirinya, ada sesuatu yang mulai berubah. Bukan keberanian penuh, bukan pula ketenangan. Lebih seperti tekad yang masih mentah, namun mulai mengeras. Ia masih takut. Masih bingung. Masih marah. Namun di antara semua itu, ia tahu bahwa berhenti hanya akan membuat semuanya selesai lebih cepat.
Mereka menembus jalur sempit yang memutar ke sisi timur. Langit mulai bergeser, dari pagi yang terbakar menjadi siang yang berat. Angin membawa bau asap dari belakang, tetapi semakin jauh mereka berjalan, bau itu semakin samar. Ki Rangga memimpin tanpa banyak bicara. Panca sesekali mengeluh pelan. Wira terus memegang lempeng kayu kecil di pinggangnya seolah benda itu adalah satu-satunya petunjuk yang tersisa dari hidup lamanya.
Di sela langkah yang teratur, ia kembali memikirkan panggilan nama yang ia dengar pagi tadi.
Siapa pun orang itu, ia tahu Wira lebih dulu daripada yang Wira tahu dirinya sendiri.
Dan itu berarti perjalanannya baru saja dimulai.
bukin pusing aja