Kesempurnaan seorang wanita adalah ketika bisa hamil dan melahirkan. Tapi, bagaimana jika bagian terpentingnya harus di relakan karena sebuah takdir. Apa yang harus kita lakukan? Sementara hidup terus berjalan.
Berdamai dengan sebuah takdir dan menjalani kehidupan seperti biasa adalah hal yang harus di lakukan. Itulah yang di lakukan seorang gadis belia yang harus menyerah pada takdir yang di miliknya.
"Kenapa Tuhan takdirkan aku seperti ini? Apa salah aku?".....
......
Cerita ini hanya hayalan penulis ya... Jadi, maaf jika ada kesamaan karakter atau apapun...
Semoga suka dengan cerita baru nya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keberangkatan Dita
Walau masih merasakan sakit Dita tetap semangat menyiapkan keperluan dirinya untuk pergi berkuliah di kota Y. Kania sang Kakak sudah lebih dulu tinggal dan berkuliah di sana. Dita menolak tinggal bersama Kania dengan alasan jarak. Namun, hal yang sangat membuat kedua orang tuanya gemas Dita pun menolak di antarkan ke tempat kost nya.
Dita tak ingin semua tau siapa dirinya. Dita tidak ingin jika nanti yang mau berteman dengan dirinya karena tau siapa Dita. Begitulah Dita dengan kesederhanaan nya. Sejak dulu Dita paling tidak menyukai jika ada yang mendekatinya karena siapa orang tuanya.
"Nak,,, Mama boleh masuk?" Tanya Bu Jelita di ambang pintu kamar Dita yang sedikit terbuka.
"Boleh dong Ma." Dita.
"Sudah rapi nak?" Tanya Ibu Jelita yang melihat koper Dita sudah tertutup rapat.
Satu koper ukuran sedang dan satu tas ransel sudah siap di pojok kamar Dita.
"Sudah Ma. Besok siap pergi." Dita.
"Kamu hati-hati nanti di sana ya. Mama khawatir Nak. Nanti Mama temenin dulu ya selama masa orientasi?" Bujuk Ibu Jelita.
"Ngga usah Mama. Adek baik-baik saja. Kan ada surat dari dokter jadi nanti Dita kasih itu ke penanggung jawabnya." Dita.
Tanpa banyak bicara lagi Ibu Jelita pun memeluk putri bungsunya dengan erat. Dita pun membalas pelukan Ibu Jelita.
"Mama happy-happy ya sama Papa. Kalo Papa ngga sibuk Mama sama Papa jenguk Dita sama Ka Nia di sana. Kalo Mama sama Papa datang nanti Adek ke rumah Kakak." Dita.
"Iya sayang... Nanti jangan lupa lanjut kontrol di sana ya sama dokter yang sudah di rekomendasikan dokter Yadi." Ibu Jelita.
"Siap Cintanya Aku.." Dita.
Keberangkatan Dita di antar oleh kedua orang tuanya. Kania pun sudah siap menjemput orang tua dan adiknya yang akan bersekolah di kota Y dengan nya. Dita mengabari Kakaknya ketika pesawat yang mereka tumpangi sudah siap take off.
Turun dari pesawat Dita melangkah penuh kehati-hatian karena perutnya sedikit terasa ngilu. Ibu Jelita dengan setia menggandeng tangan putrinya. Pak Wirawan berjalan di belakang keduanya dengan koper mereka. Walau memiliki asisten Pak Wirawan terbiasa melakukan apapun sendiri.
Dalam perjalanan ini pun Pak Wirawan hanya meminta asistennya untuk tetap berada di kantor selama dirinya pergi. Hanya untuk urusan pekerjaan saja keduanya akan pergi bersama. Jika sudah berurusan dengan keluarganya Pak Wirawan lebih memilih melakukannya sendiri.
Sebagai pengusaha yang merintis segalanya dari nol tak membuat Pak Wirawan semena-mena pada orang lain. Itu mengapa keluarganya tetap sederhana dan rendah hati walau mereka bisa memiliki segalanya. Bahkan Pak Wirawan tak memprotes Putra pertamanya ketika memilih menjadi abdi negara.
Bahkan untuk putra keduanya pun Pak Wirawan tak memaksakan kehendaknya. Namun, Putra keduanya merasa kasian pada Pak Wirawan yang menjalankan bisnisnya sendiri itu mengapa Putra keduanya memilih membantu Pak Wirawan mengelola bisnisnya.
"Papa Mama Adek..." Teriak Kania yang melihat orang tua dan adiknya di pintu kedatangan.
Setelah bersalaman dengan kedua orang tuanya dan tak lupa mencium pipi kanan dan kirinya Kania pun memeluk sang adik dan mencium pipinya.
"Selamat datang semuanya." Kania.
"Mobilnya dimana Kak? Biar Papa yang bawa saja." Pak Wirawan.
"Disana Pah. Nia ke sini sama teman." Kania.
"Temen apa temen Kak?" Dita.
"Temen kok." Kania.
"Eh, udah mau mantu lagi Papa sama Mama?" Goda Ibu Jelita.
"Mama..."
"Ya sudah Papa pasang tampang garang dulu sebentar." Goda Pak Wirawan.
"Papa ih... Awas loh jangan di jailin." Kania.
"Di goda boleh ngga Kak?" Goda Dita.
"Ih, awas aja ya Adek. Dia punya kakak loh." Kania.
"Dih,, silahkan. Ngga minat wle..." Dita.
"Eh, sudah-sudah ayo dia udah nunggu loh.." Ibu Jelita.
"Udah gede ya Ma anak-anak kita. Udah mau mantu lagi nih kita." Pak Wirawan.
"Cepet kasih Adek ponakan lucu ya Kak biar semangat nih main ke rumah Kakak." Dita.
"Ya Tuhan kalian."