bagaimana mungkin aku lupa dengan masa itu, bagaimana mungkin aku lupa dengan kenangan kisah cinta kita, yang kita jalin bertahun tahun lamanya, dan tidak pernah ku sangka kisah kita berakhir dengan pengkhianatan yg sadis, kau balas cinta dan pengorbanan ku dengan luka yg begitu hebat, hingga luka itu merubah ku menjadi bukan diriku, hari hari ku di penuhi rasa dendam, hingga muncul niat dalam pikiran ku untuk membunuh mu, namun takdir berkata lain.
aku nyaris kehilangan akal sehat, dan hampir gila dengan alur cerita hidup ku, hingga aku kehilangan arah tujuan hidup ku, sampai pada suatu hari tuhan menghadirkan se orang wanita yg menyadarkan ku, dan menyelamatkan hidup ku, dia merubah hidup ku menjadi berarti, dan bangkit meraih mimpi ku, hingga tuhan mempersatukan ku dengan dia, dan tuhan menganugrahkan kebahagiaan yg luar biasa tak pernah ku rasakan dalam hidup ku bersama dia sebelumnya.
dan kau lah jawaban doa dalam hati ku. HANUM RUSYDAH.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lukmanben99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
berhasil menyatakan cinta
“Tau loe ah, ngada-ngada aja! Ouh iya si Dony mana?” aku nyoba alihin.
“Tuh di belakang!” Maya nunjuk. Dony jalan sempoyongan nyamperin kami, wajan hitam nangkring di tangannya. Aku dan Elina langsung ngakak.
“Loe kenapa, Don? Mabok loe ya?!” tanyaku nggak kuat nahan tawa.
“Hadeh, puyeng anget pala gue, Sat. Loe sejak kapan ada di mari sama Elina?” Dony masih mual.
“Dari tadi gue di mari sama Elina! Loe ngapain bawa-bawa wajan?!”
“Biasa, emak gue nitip beli ini. Loe tau sendiri emak gue gimana kalau masak!” Dony ngeles sambil nunjuk wajan.
“Iya iya,” aku masih ngakak.
“Kak, yuk kita balik sekarang,” Elina narik lenganku pelan.
“Ya udah yuk. Don, May, gue cabut duluan ya!”
“Buru-buru amat,” Maya protes.
“Tau... baru juga jam berapa ini?!” Dony ikut-ikutan.
“Iya soalnya aku disuruh pulang sama Mamah. Ya udah May, Don, aku sama Satria pulang duluan ya!” pamit Elina sopan.
“Ya udah, hati-hati di jalan,” Maya melambai.
" gue cabut ya!" pamitku pada mereka.
“Iya, hati-hati di jalan,” Dony lemes.
Aku dan Elina berjalan menuju vespa yg terparkir, setelah itu aku berangkat mengantarkan elina dengan motor vespa tuaku. Dia duduk di belakang memeluk boneka beruang pemberiaku. Angin malam berembus, senang damai.
Tapi baru jalan 500 meter...
_BREBET... BREP..._ Vespa bututku batuk-batuk, lalu mati Total.
“ kenapa kak? Kok mati motornya?” tanya Elina bingung.
“Nggak tau Lin. Tiba-tiba aja mati nih motor. Bentar ya Lin,” kataku, aku dan elina turun dari motor.
Aku cek bensin. Masih ada. Aku sela berkali-kali. Nggak mau nyala. Bongkar tepong, buka busi. Item dan kotor. "Nah ini dia biang keroknya"
Elina duduk di pembatas jalan, masih memeluk boneka, memperhatikanku yang jongkok bersihin busi. “Itu apa Kak?” tanya elina penasaran.
“Ini busi namanya Lin. Biasa gara-gara ini kotor, jadi nggak mau nyala motornya,” jelasku sambil ngelap busi pakai kain.
“Ouh gitu ya Kak. Coba sini aku bantu Kak. Aku aja yang bersihin,” dia nyamperin, mau ngerebut busi dari tanganku.
“Jangan Lin, nanti tangan kamu kotor,” larangku.
“Udah nggak papa, Kak!”
“Udah nggak usah Lin. Ini udah beres kok. Bentar ya aku pasang dulu!” Aku cepet-cepet pasang businya lagi.
Udah kelar, aku sela lagi. Sekali, dua kali, sepuluh kali. Tetep mati. Aku garuk-garuk kepala, bingung.
Tiba-tiba Elina berdiri, mendekat ke vespa, lalu menunjuk spion. “Ouh, pantesan nggak mau idup motornya Kak. Ini kaca spionnya miring,!” katanya polos sambil benerin spion.
Aku ngakak, “Haha, kamu bisa becanda juga. Ada-ada aja. Masa iya gara-gara spion miring.”
“Ya siapa tau iya. Coba deh sekarang nyalain lagi!” dia maksa dengan muka serius.
“Ya udah deh iya, aku coba lagi ya.” Aku sela lagi. Nihil. Motor tetap tidak mau nyala.
Elina natap aku, lalu natap vespa, lalu ia tersenyum kepadaku. “Udah nggak papa Kak. Kita dorong aja bareng-bareng cari bengkel. Yuk aku bantu dorong...!”
Kata-katanya sederhana. Tapi detik itu juga, duniaku berhenti. Aku terdiam. Menatapnya.
Seorang gadis, secantik dia, rela kotor, rela capek dorong motor butut bersamaku di pinggir jalan malam-malam begini... tanpa gengsi, tanpa keluhan.
Dadaku sesak. Bukan karena sedih. Tapi karena kagum. Karena jatuh cinta. Untuk kesekian kalinya malam ini.
Ternyata selain cantik, Elina hatinya juga seindah itu.
Dan hingga akhirnya aku dan Elina mendorong motorku yang mogok itu bersama. Boneka beruang hadiah dariku dia taruh di belakang jok. Jalanan ramai, bising klakson dan knalpot bersahutan. Keringat mulai turun, tapi ada hal lain yang lebih membakar dadaku.
Lagi-lagi perasaan itu datang. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Di tengah bising jalanan, sambil mendorong vespa, aku memberanikan diri.
“Lin, aku boleh jujur nggak sama kamu?” ucap ku, setengah ke depan.
“Hah? Kenapa Kak?” Elina tak dengar. Suaranya tenggelam oleh deru motor lewat.
Aku tarik napas, kuulang lebih lantang. “LIN, AKU BOLEH JUJUR NGGAK SAMA KAMU?!”
“OUHH, KENAPA?! IYA BILANG AJA!” balasnya sambil tetap dorong dari belakang.
Jantungku bertalu-talu. Keringat dingin. Tapi aku nekat. Kukatakan semuanya:
“ aku suka cinta sama kamu lin, kamu mau gak jadi pacar aku?!!”
Aku terus jalan, menatap lurus ke depan. Malu kalau harus tatap wajahnya pas ngomong begitu.
“KENAPA, KAK? AKU KURANG DENGER, BERISIK BANGET SOALNYA!” teriak Elina lagi.
Aku merem sejenak. _Ya Allah malunya._ Tapi sudah kadung basah. Kuulangi sekali lagi, lebih lantang, lebih terburu-buru, seperti orang dikejar utang:
“AKU SUKA CINTA SAMA KAMU, LINN! KAMU MAU NGGAK JADI PACAR AKU?!”
Lalu aku berhenti. Perlahan menoleh ke belakang.
Elina terdiam. Matanya membulat, menatapku se akan tak percaya dengan apa yg ku katakan. Detik itu rasanya setahun. Aku senyum kaku, salah tingkah, siap dengan jawaban apa pun meski hatiku remuk kalau ditolak.
Lalu... bibirnya melengkung. Senyum itu. Senyum yang selalu bikin duniaku berhenti.
Dia ambil napas, lalu berteriak lantang mengalahkan bising jalanan:
“AKU JUGA SUKA CINTA SAMA KAMU! IYA, AKU MAU JADI PACAR KAMU!!!”
Dunia serasa berhenti. Bising knalpot mendadak hilang. Yang ada cuma suaranya, senyumnya, dan detak jantungku yang mau copot.
Aku nggak percaya. Saking bahagianya, aku reflek _BUG!_ memukul kepala vespaku sendiri sambil berkata, “GAK SIA-SIA LOE MOGOK!!!”
Elina menahan tawa melihat tingkahku. Aku balik menghadapnya, masih salah tingkah.
“Emm, Lin... sekarang kamu jangan panggil aku kakak ya,” pintaku malu-malu.
“Terus apa dong?” dia dengan heran.
“Panggil aku... akang aja ya. Mau kan?”
“Kenapa kok akang?”
“Karena... menurut aku akang itu panggilan yang paling romantis,” jawabku sambil garuk-garuk kepala yang tak gatal.
Elina mikir sebentar, lalu senyum.
“Ehemmm...! Akang. Ya udah deh, sekarang aku panggil kamu Akang. Ya udah yuk Kang, kita lanjut lagi dorong cari bengkel, nanti keburu malem!”
_Akang._ Satu kata itu rasanya lebih manis dari semua permen di pasar malam. Sumpah, aku bahagia setengah mati. Elina kini menjadi pacarku. Dan dia manggil aku Akang.
Kami lanjut dorong lagi. Sudah jauh, tapi belum ada bengkel buka. Kulirik Elina di belakang. Wajahnya lelah, keringetan, tapi tetap dorong tanpa ngeluh. Aku nggak tega melihatnya.
Aku berhenti, menghadapnya. “Kenapa Kak... eh, Kang, kok berhenti?” tanyanya heran.
“Lin, kayaknya daerah sini nggak ada yang masih buka bengkel. Udah malem juga. Aku kasihan sama kamu. Maaf ya kamu jadi ikut-ikutan susah gara-gara motor aku. Emm, kamu pulang duluan aja ya Lin naik taksi.”
“Tapi Kang, nanti Akang gimana sendirian?” matanya khawatir.
“Udah nggak papa Lin. Aku dorong sendiri aja. Lagian rumah aku nggak jauh dari sini kok. Udah malem juga, nanti orang tua kamu nyariin. Yah, kamu pulang duluan aja ya naik taksi.”
“Tapi Kang...”
“Udah nggak papa, aman kok sendiri juga,” potongku. Pas banget ada taksi lewat. Kulambaikan tangan.
terimkasih.