NovelToon NovelToon
Hanya Cinta Yang Bisa

Hanya Cinta Yang Bisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:610
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Helen Kusuma adalah seorang putri konglomerat yang jatuh miskin setelah ibu tirinya, Beatrix Van Amgard mengusirnya paksa pasca mendiang papa Helen, Aditya Kusuma tewas dalam sebuah kecelakaan tragis! Helen harus menghadapi penderitaan dan kehinaan oleh kejamnya Beatrix walau ia sudah tak punya apa pun lagi namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Aryo Diangga membuat hidupnya jauh lebih baik. Bagaimana akhir kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Jatuh Cinta

Helen menatap Ario Diangga, pria asing yang tiba-tiba muncul di tengah badainya. Pria ini misterius, berbahaya, namun juga tampak seperti satu-satunya jangkar yang bisa menahannya agar tidak hanyut lebih jauh.

"Aku akan membantumu, Helen," lanjut Ario, suaranya kini lebih lembut, hampir seperti sebuah janji. "Aku akan mengajarimu cara bertarung di dunia yang kejam ini. Aku akan mengajarimu bagaimana caranya meruntuhkan takhta yang diduduki wanita Belanda itu. Tapi kau harus berjanji satu hal."

"Apa?" tanya Helen tegas.

"Jangan pernah jatuh cinta padaku," ucap Ario dengan nada dingin yang tiba-tiba. "Karena dalam perang yang akan kita jalani, perasaan hanya akan menjadi beban."

Helen terpaku. Ia menatap mata hitam Ario, mencoba mencari tanda-tanda candaan, namun yang ia temukan hanyalah keseriusan yang mematikan. Pipi Helen yang tadi bersemu kini perlahan mendingin. Ia menegakkan punggungnya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa martabat sebagai putri Aditya Kusuma.

"Kesepakatan diterima, Tuan Diangga," jawab Helen, suaranya kini stabil dan penuh determinasi. "Aku tidak butuh cinta. Aku butuh keadilan."

Ario mengangguk puas. Ia berjalan menuju pintu, namun sebelum keluar, ia berhenti sejenak. "Pakaian baru sudah ada di dalam lemari. Bersihkan dirimu. Kita mulai 'latihan' pertama kita sore ini."

Pintu tertutup, meninggalkan Helen sendirian di kamar yang luas itu. Ia menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. Di sana tidak ada lagi gadis rapuh yang menangis di bawah hujan. Di sana ada seorang wanita yang baru saja membuat perjanjian dengan 'iblis' demi menghancurkan iblis yang lainnya.

Di luar, sisa-sisa badai masih menyisakan rintik tipis, namun di dalam dada Helen, sebuah api baru mulai menyala. Api yang tidak akan padam sampai Beatrix van Amgard berlutut di kakinya, memohon ampun dalam bahasa yang tidak akan pernah Helen maafkan.

****

Dunia tidak berhenti berputar hanya karena satu orang hancur. Di jantung kota Jakarta, di dalam gedung pencakar langit berlogo Kusuma Group, kehidupan justru bergerak lebih cepat dan lebih dingin.

Beatrix van Amgard duduk di kursi kebesaran mendiang suaminya. Kursi kulit yang biasanya terasa hangat dengan aroma cerutu Aditya, kini terasa beku di bawah sentuhan jemari Beatrix yang lentik dan tajam. Di atas meja jati yang luas itu, bertumpuk dokumen legalitas yang bisa mengubah peta ekonomi tekstil nasional.

Wajahnya tampak segar, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda duka seorang janda yang baru ditinggal tiga hari. Ia mengenakan blus sutra berwarna zamrud yang membalut tubuhnya dengan sempurna, memberikan kesan kekuasaan yang tak tergoyahkan.

"Tanda tangani di sini, Nyonya," bisik seorang pengacara pria yang tampak gemetar memegang pulpen Montblanc.

Beatrix tidak segera menandatangani. Ia menyesap teh Earl Grey-nya perlahan, matanya yang biru pucat menatap keluar jendela, memandang kemacetan Jakarta yang tampak seperti semut-semut kecil dari lantai lima puluh.

"Katakan padaku, Hendra," suara Beatrix rendah, tajam seperti pisau bedah. "Apakah ada celah bagi Helen untuk menggugat wasiat ini?"

"Secara legal... tidak ada, Nyonya," jawab si pengacara dengan suara tercekat. "Tuan Aditya menandatangani pengalihan aset ini sebulan sebelum kecelakaan. Semuanya sah di mata hukum Indonesia. Anda adalah ahli waris tunggal atas seluruh saham pengendali."

Beatrix tersenyum—sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. Ia segera menggoreskan tanda tangannya dengan gerakan anggun namun kuat. Sret. Sret. Dengan satu tanda tangan itu, sejarah tiga puluh tahun keluarga Kusuma secara resmi terhapus dan digantikan oleh Dinasti Van Amgard.

Tiba-tiba, ponsel satelitnya berdering. Nama yang muncul di layar adalah kode internasional dari Belanda. Wajah Beatrix yang kaku seketika melunak, meski tetap penuh dengan aura superioritas. Ia mengangkat telepon itu dan seketika itu pula, bahasa Belanda yang cepat dan kasar meluncur dari bibirnya.

"Ja, Willem. Het is gedaan. De oude man is dood, en het meisje is weg," (Ya, Willem. Sudah selesai. Lelaki tua itu sudah mati, dan gadis itu sudah pergi,) ucap Beatrix sambil tertawa kecil yang terdengar mengerikan di telinga para asisten rumah tangga yang sedang sibuk menata ruangan.

"Stuur de rest van het team naar Jakarta. We gaan alles verkopen en het geld naar Amsterdam sluizen. Laat de honden maar blaffen, de karavaan trekt voorbij," (Kirim sisa tim ke Jakarta. Kita akan menjual segalanya dan mengalirkan uangnya ke Amsterdam. Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.)

Ia menutup telepon, lalu menatap tajam ke arah seorang pelayan yang tak sengaja menjatuhkan sendok kecil ke atas nampan perak.

"Kau!" bentak Beatrix dalam bahasa Indonesia, matanya berkilat. "Kenapa tanganmu gemetar? Apakah kau merindukan majikan lamamu yang lemah itu? Jika kau tidak bisa bekerja tanpa membuat kebisingan, kau bisa menyusul si pecundang Helen itu ke jalanan!"

"Maaf, Nyonya... Maafkan saya," pelayan itu gemetar hebat, hampir menangis.

Beatrix mendengus jijik. "Keluar. Semua keluar! Dan pastikan semua foto Aditya di ruangan ini segera dibakar. Aku tidak butuh hantu di kantorku."

****

Di sisi lain kota, di sebuah griya tawang yang tersembunyi dan berteknologi tinggi, suasana jauh lebih tenang namun tak kalah tegang.

Helen Kusuma berdiri di depan sebuah papan tulis kaca besar yang dipenuhi dengan bagan organisasi dan foto-foto orang penting. Ia sudah mengenakan pakaian barunya—sebuah setelan blazer hitam yang pas, membuatnya tampak lebih dewasa dan tangguh. Rambutnya yang biasanya digerai manis, kini diikat kuda dengan kencang.

Di sampingnya, Ario Diangga berdiri dengan tangan bersedekap, menatap papan itu seolah sedang mengatur strategi perang.

"Beatrix tidak bekerja sendirian, Helen," ucap Ario, suaranya memenuhi ruangan yang kedap suara itu. "Dia adalah bagian dari sindikat pencuci uang di Eropa Utara. Pernikahannya dengan papamu bukan karena cinta. Itu adalah investasi jangka panjang."

Helen meremas jemarinya. Hatinya perih setiap kali kenyataan pahit itu disodorkan padanya. "Papa sangat mencintainya. Dia selalu bilang Tante Beatrix adalah penyelamat hidupnya setelah Mama meninggal."

"Itulah kesalahan terbesar Aditya Kusuma," sahut Ario tanpa perasaan. "Dia membiarkan hatinya terbuka untuk ular. Dan sekarang, ular itu sudah menelan seluruh kerajaannya."

Ario berjalan mendekati Helen, jarak di antara mereka begitu dekat hingga Helen bisa merasakan panas tubuh pria itu. Ario menyodorkan sebuah tablet digital. Di sana, tertera daftar transaksi rahasia.

"Ini adalah langkah pertama kita," kata Ario. "Beatrix sedang mencoba memindahkan aset lancar Kusuma Group ke rekening-rekening gelap di Belanda. Kita harus menghentikan aliran itu sebelum dia mengosongkan perusahaan."

Helen menatap data-data yang rumit itu. "Tapi bagaimana caranya? Aku bahkan tidak punya akses ke akun perusahaanku sendiri."

Ario tersenyum tipis, sebuah seringai yang sangat tampan namun mematikan. "Kau mungkin tidak punya akses, tapi kau punya 'nama'. Nama Kusuma masih memiliki kekuatan di mata para pemegang saham minoritas yang tidak menyukai cara Beatrix bekerja."

"Aku akan membantumu melakukan infiltrasi secara digital, tapi secara fisik, kau harus muncul sebagai sosok yang berbeda. Tidak boleh ada lagi air mata. Kau harus menjadi wanita yang lebih ditakuti daripada Beatrix sendiri."

Pipi Helen bersemu saat merasakan jemari kuat Ario melingkari tangannya. Namun, ada sesuatu yang lain yang menjalar—sebuah kekuatan baru. Ia menatap mata Ario yang dalam.

"Apa yang harus kulakukan?" tanya Helen, suaranya kini mantap.

"Kita akan menyerang di acara Gala Charity malam ini," jawab Ario. "Beatrix akan hadir untuk memamerkan kemenangannya. Dia pikir kau sudah mati kedinginan di emperan toko. Bayangkan wajahnya saat melihatmu masuk ke ruangan itu, bersanding denganku, dan membawa bukti penggelapan pajaknya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!