Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.
Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.
Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melanjutkan hidup...
Waktu terus berlalu, tidak ada yang berubah. Nadia masih tetap menjadi Nadia yang harus berjuang keras untuk tetap melanjutkan hidupnya.
Hanya saja, sejak kejadian menjijikkan itu, Nadia menjadi semakin pendiam dan tidak pernah mau membuka mulut sekalipun hanya sekedar sapaan pada ibu, Nina terutama Nino.
Jika dulu mereka yang menganggap Nadia tidak ada, sejak hari itu Nadia pun belajar menganggap mereka tidak lagi ada di hidupnya.
Namun, Astrid tentu tidak terima dengan sikap dingin nadia. Kerap kali dia mencaci bahkan sampai memukul nadia. Tapi, Nadia tidak bereaksi, Nadia hanya diam menerima semuanya, air mata pun bahkan tidak bisa lagi menetes saat Astrid memukul punggungnya dengan pipa besi gantungan jemuran sekalipun.
"Dasar anak pembawa sial! Mas Arman meninggal karena kamu! Harusnya kamu gak pernah lahir ke dunia ini..."
Puas memukul dengan pipa besi, Astrid menarik kepala Nadia hingga wajah Nadia mendongak keatas menatapnya. "Berani menatapku dengan tatapan menjijikkan ini, hah! Anak sialan!"
Nadia hanya diam, bukan mati rasa, tapi menahan rasa sakit saat ibu yang sangat ia sayangi begitu membencinya bahkan sampai hati mengatainya anak pembawa sial.
Begitulah waktu yang dilalui Nadia hari demi hari, berminggu, berbulan bahkan tahun pun sudah berganti. Kini Nadia sudah kelas tiga SMA. Dia tetap melanjutkan pendidikannya karena masih menjadi penerima beasiswa.
Sejak masuk SMA Nadia bangkit, tetap berdiri tegap ditengah jiwanya yang rapuh. Dengan penuh tekad, Nadia pun mulai bekerja di beberapa tempat, seperti menjaga mini market sepulang sekolah dan dihari sabtu minggu masih ikut tetangganya berjualan sayur di pasar. Bukan hanya itu saja, malam hari Nadia juga bekerja menyetrika pakaian di laundry.
Dilihat dari luar, hidup Nadia sudah cukup mandiri dan cukup mampu untuk bisa pergi dari rumah ibunya. Namun, tidak semudah itu. Setiap kali Nadia gajian, uangnya akan di rampas oleh Astrid dengan dalih menyimpannya untuk biaya kuliah Nadia kelak.
"Mana uangnya, kamu sudah gajian kan!"
Dengan tangan gemetar, Nadia akan selalu mengulurkan sebagian uang gajinya pada Astrid setiap kali dia menerima gaji bulanan atau mingguan dari tempatnya bekerja. Liciknya, Astrid selalu tahu kapan waktunya Nadia menerima uang gajinya itu.
"Aku bukannya mau memakai uang kamu semauku. Ini akan aku tabung untuk kebutuhan kamu mungkin nanti kamu mau lanjut kuliah." celotehnya sambil menghitung lembaran uang itu.
Nadia ingin protes, tapi tenaganya tidak cukup kuat untuk meladeni wanita itu. Sehingga Nadia membiarkan saja perlakuan semena-mena Astrid padanya.
Malam ini, Nadia bekerja di laundry sampai pukul sebelas malam, karena banyak pakaian yang harus dia setrika. Malam-malam biasanya, Nadia hanya bekerja mulai pukul tujuh sampai sepuluh malam.
"Nadia, ini ada rejeki buat kamu, nak." ibu pemilik laundry memberikan amplop berisi uang pada Nadia yang sudah bersiap untuk pulang.
"Tapi buk, kemaren kan saya sudah gajian." tolak Nadia karena merasa tidak enak.
"Sudah ambil saja. Ini sedekah ibuk buat nak Nadia. Tidak banyak, tapi cukuplah untuk beli bedak sama jajan."
Nadia tersenyum haru. "Terimakasih banyak, buk. Saya akan bekerja lebih giat lagi kedepannya."
Ibu itu menepuk bahu Nadia lembut. "Kamu sudah bekerja cukup giat. Kalau boleh jujur, dari semua karyawan yang bekerja disini, kamu yang paling giat, paling telaten dan paling disiplin. Pertahankan ya nak."
"Terimakasih buk. Akan saya pertahankan sebisa mungkin."
Ibu itu tersenyum senang pada Nadia. "Ya sudah sana pulang. Naik ojek kan?"
"Iya buk."
"Sudah ada ojeknya?"
"Sudah menuju kemari buk. Kalau begitu saya pamit pulang."
"Hati-hati, nak!"
Nadia menoleh sambil mengangguk sebelum keluar dari ruko itu.
Kini Nadia duduk di halte yang tidak jauh dari ruko laundry sambil menunggu ojek tumpangannya datang.
"Malam neng." sapa seseorang yang langsung duduk di sebelah kiri Nadia.
"Sendirian aja nih!" Seru orang lainnya yang duduk di sebelah kanan Nadia.
Dilihat dari penampilan, dua orang ini preman pasar.
Dengan cepat Nadia langsung berdiri, berjalan cepat menyusuri pinggiran jalan raya tanpa tujuan. Sedangkan dua orang preman tadi melangkah pelan mengikutinya dengan santai.
Toko-toko sudah tutup, kendaraan yang lewat pun sudah tidak banyak. Bahkan saat ini, tidak terlihat satu kendaraan yang lewat setelah beberapa saat lalu ada empat mobil dan dua motor yang melintas.
Nadia mulai panik. Langkahnya makin cepat, hingga kakinya sempat tersandung dan Nadia jatuh.
Dua preman itu memanfaatkan kesempatan itu. "Jatuh juga akhirnya. Mau dibantu berdiri gak manis!" ucap mereka mulai berani menyentuh wajah Nadia.
"Pergi! Jangan sentuh saya!" Pekik Nadia sambil menarik tubuhnya beringsut di tanah.
"Tenang manis. Kita bukan orang jahat kok. Kita cuma mau kenalan aja."
"Tolong! Tolong..." Jerit Nadia yang malah ditertawakan oleh dua preman itu.
"Teriak aja neng. Teriak yang keras!" Ejek mereka dengan terus tertawa lepas.
Nadia terus beringsut dengan menjadikan telapak tangan sebagai tumpuan. Rasa pusing mulai menyerangnya. Kejadian serupa beberapa tahun lalu mulai memenuhi kepalanya. Nadia ketakutan, gemetar, pandangan berkunang-kunang hingga akhirnya jatuh pingsan.
"Woi!" teriak seorang pemuda tinggi yang kebetulan mobilnya melintas di sekitar area kejadian.
Dengan cepat dia meloncat turun dari mobil, dua preman itu pun sempat terkejut.
"Lepasin dia!" menunjuk tubuh Nadia.
"Lo siapa? Kalau bukan suaminya gak usah sok ikut campur anak ingusan!" ucap mereka memperingatkan.
"Pengecut, gak punya nyali, banci!" pemuda itu sengaja memancing emosi dua preman pasar itu.
"Anak ingusan... Kurang ajar lo!" Teriak mereka marah.
Perkelahian pun terjadi. Dua preman itu awalnya sangat percaya diri bisa melumpuhkan pemuda itu. Namun, kurang dari dua menit kemudian, merekalah yang dilumpuhkan sekaligus oleh pemuda itu.
"Cabut!" dua orang itu lari terbirit-birit dalam keadaan lebam-lebam di sekitar wajah dan beberapa bagian tubuh lainnya.
Pemuda itu segera menghampiri Nadia, meraih tubuh Nadia untuk dia gendong dan membawanya ke mobil. Pemuda itu mengantarkan Nadia ke rumah sakit terdekat.
Keesokan harinya saat bangun, Nadia sudah berada di rumah sakit. Sempat bingung, tapi perawat menjelaskan semuanya. Beruntungnya biaya pengobatan Nadia juga sudah dibayar semua oleh pemuda baik itu.
Nadia tidak tahu siapa pemuda baik hati yang telah membantunya. Satu yang pasti, pemuda itu meninggalkan gantungan kunci boneka kelinci.
"Gantungan kunci ini milik pemuda yang bawa dek Nadia ke rumah sakit. Dia sengaja meninggalkan gantungan kunci ini, katanya sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, dek Nadia menggenggam erat gantungan kunci ini." tutur perawat yang menjaga Nadia.
Kelinci putih. Siapa pemilik mu? Siapapun kamu terimakasih banyak.
Bersambung...