[y/n] adalah seorang gadis yang hidup dalam topeng sempurna. Baginya, dunia adalah panggung sandiwara di mana senyumnya, ketenangannya, bahkan tatapan matanya hanyalah kepalsuan yang disusun rapi tanpa celah. Namun, benteng yang ia bangun bertahun-tahun mendadak retak saat ia menginjakkan kaki di sekolah barunya.
Seorang pemuda bernama Ariel—si berandal jenius yang ugal-ugalan namun memiliki insting tajam—menjadi satu-satunya orang yang mampu melihat di balik topeng tersebut. Di saat semua orang tertipu oleh keramahan [y/n], Ariel justru menantangnya untuk jujur.
Akankah hidup [y/n] berubah setelah rahasianya mulai terkelupas satu per satu? Mengapa ia begitu terobsesi dengan kepalsuan? Dan rahasia gelap apa yang sebenarnya ia sembunyikan di balik helai rambut birunya? Temukan jawabannya dalam perjalanan penuh rima, luka, dan perlindungan yang tak terduga...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mondᓀ‸ᓂ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
:**: rumah atau sangkar?
Langkah [y/n] terhenti sejenak. Jantungnya berdegup kencang, tapi dia segera menarik napas dalam-dalam dan menoleh ke arah Ariel dengan sisa-sisa keberaniannya. Dia harus tetap pada perannya. Gadis ceria yang punya keluarga normal.
"Lu salah faham kok..." ucap [y/n] berusaha terdengar tenang, meskipun ujung jarinya masih terasa dingin.
Dia memaksakan senyum tipis yang terlihat meyakinkan. "Tadi cuman dapat kabar kalau ibu gua sakit, jadi harus transfer uang buat berobat. Dan gua pucat sama gemeter karena takut ibu gua kenapa-napa. Biasalah, panik namanya juga orang tua satu-satunya."
Ariel nggak langsung menjawab. Dia masih bersandar di tembok, memainkan korek api peraknya yang mengeluarkan bunyi tik... tak... tik... yang ritmis dan menyebalkan. Matanya yang gelap menatap [y/n] lurus-lurus, seolah sedang membedah setiap inci kebohongan di wajah gadis itu.
"Sakit, ya?" Ariel mendengus pendek. "Sakit apa yang bikin anaknya gemeteran kayak habis liat hantu di kamar mandi?"
"Ya sakit... mendadak lah! Pokoknya bukan urusan lu," sergah [y/n] cepat, takut kalau dia bicara lebih lama lagi, kebohongannya akan runtuh. "Gua harus balik ke kelas. Udah mau bel."
[y/n] segera melangkah lebar melewati Ariel. Dia nggak menoleh lagi, tapi dia bisa merasakan tatapan Ariel masih tertuju pada punggungnya.
Ariel mematikan korek apinya dengan sekali sentak. Dia menatap punggung [y/n] yang menjauh dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia sudah terlalu sering melihat orang yang pura-pura baik-baik saja. Dia hafal bagaimana cara seseorang menyembunyikan luka di balik alasan "keluarga sakit" atau "nggak apa-apa".
"Sakit atau pecandu... baunya sama aja di mata gue," gumam Ariel sangat pelan, hampir tertelan suara angin koridor.
Ariel kemudian berbalik arah, bukannya kembali ke kelas, dia malah berjalan menuju arah kantin yang sudah sepi. Dia butuh udara segar. Bertemu dengan orang yang punya "bau" penderitaan yang sama dengannya membuat dadanya mendadak terasa sesak.
Sementara itu, [y/n] masuk ke kelas dengan napas terengah. Dia segera duduk di bangkunya, mengabaikan tatapan tanya dari Yupi dan Amu. Dia menatap layar ponselnya yang kini menunjukkan saldo Rp0.
Tahan, [y/n]. Jangan nangis di sini. Tinggal beberapa jam lagi sampai pulang, batinnya menyemangati diri sendiri.Setelah [y/n] pergi, Ariel nggak langsung beranjak.
Di kantin Ariel duduk termenung di meja kantin
Dia duduk di bangku kantin yang tadi ditempati [y/n] dkk, tempat yang masih menyisakan aroma parfum buah yang samar—kontras dengan bau rokok yang biasanya menempel di baju Ariel.
Saat dia hendak berdiri, matanya menangkap sesuatu yang berkilau di sela-sela bangku kayu. Ariel membungkuk, mengambil sebuah gelang tali sederhana dengan bandul kecil berbentuk bintang.
Ariel tertegun sejenak. Dia ingat gelang ini. Tadi pagi, saat [y/n] memperkenalkan diri dengan senyum yang menurutnya "palsu" itu, matanya sempat melirik sekilas ke pergelangan tangan cewek itu yang gemetaran. Gelang ini melingkar di sana.
"Ceroboh banget sih," gerutu Ariel pelan. Dia memasukkan gelang itu ke saku jaketnya, niatnya mau dibalikin nanti kalau ketemu di kelas.
Jam pulang sekolah akhirnya tiba. Bel panjang berbunyi, disambut sorak sorai murid-murid yang berhamburan keluar. Ariel berjalan dengan malas menuju kelas 12-D, tangannya meraba gelang di sakunya. Dia sudah menyiapkan kalimat ketus seperti, "Lain kali jangan nyampah barang lu di kantin," buat dilempar ke [y/n].
Tapi begitu sampai di ambang pintu, kelas sudah hampir kosong. Dia cuma melihat Yupi yang lagi sibuk masukin buku ke tas.
"Si anak baru mana?" tanya Ariel datar, nggak pakai basa-basi.
Yupi kaget, hampir menjatuhkan tempat pensilnya. "Eh? [y/n]? Tadi dia buru-buru banget pulangnya, Riel. Katanya ada urusan penting. Kenapa? Tumben nanyain?"
Ariel nggak menjawab. Dia langsung berbalik dan berjalan cepat menuju gerbang sekolah. Entah kenapa, rasa penasaran yang nggak diundang tiba-tiba muncul di kepalanya. Alasan "ibu sakit" yang dibilang [y/n] tadi di depan kamar mandi terasa sangat mengganjal di telinganya.
Dari kejauhan, Ariel melihat rambut biru tua [y/n] yang berkibar tertiup angin saat cewek itu berlari menuju halte angkot. Wajah [y/n] nggak seceria tadi pagi; dia kelihatan tegang, berkali-kali ngecek ponselnya dengan muka pucat.
Ariel mengambil motornya di parkiran, tapi dia nggak langsung tancap gas pulang. Dia menjaga jarak, mengikuti angkot yang dinaiki [y/n] dari belakang.
Kenapa gue jadi kayak penguntit gini sih? maki Ariel dalam hati. Tapi tangannya tetap stabil memegang kemudi, mengikuti angkot itu sampai masuk ke kawasan perumahan yang agak kumuh di pinggiran kota.
[y/n] turun di sebuah gang sempit. Ariel mematikan mesin motornya agak jauh, lalu berjalan kaki membuntuti dari balik bayang-bayang tembok. Dia melihat [y/n] berdiri di depan sebuah rumah kecil dengan pagar yang sudah berkarat.
Baru saja [y/n] mau membuka pintu, suara teriakan melengking dari dalam rumah terdengar sampai ke telinga Ariel.
"MANA MINUMAN GUE?! LU LAMA BANGET SIH JADI ANAK!"
Ariel terpaku di tempatnya. Suara itu... suara wanita yang mabuk berat. Dia melihat [y/n] menarik napas panjang, bahunya merosot lemas sebelum akhirnya masuk ke dalam "neraka" itu.
Di tangan Ariel, gelang bintang milik [y/n] terasa makin berat. Ternyata tebakannya benar. Bau penderitaan mereka memang berasal dari sumber yang sama.