Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Gema di Balik Garis Depan
Langit di atas semenanjung Utara berwarna abu-abu besi, tertutup oleh asap dari sisa-sisa ledakan yang terjadi beberapa kilometer dari kamp utama. Udara di sini tidak beraroma pinus atau bunga liar. Di sini, udara berbau logam, tanah basah yang terinjak-injak ribuan sepatu bot, dan aroma kecut dari kecemasan yang menggantung.
Matthew von Eisenberg berdiri di atas bukit kecil yang menghadap ke lembah strategis. Mantel militer beratnya berkibar tertiup angin kencang. Wajahnya yang berusia dua puluh delapan tahun itu kini tampak lebih dewasa, dengan gurat-gurat kelelahan yang ia sembunyikan di balik tatapan mata dark blue yang setajam belati.
"Jenderal, laporan logistik dari Ibukota sudah tiba," ujar ajudannya, seorang letnan muda yang tampak gemetar karena suhu udara yang hampir mencapai titik beku.
Matthew tidak langsung menoleh. Ia hanya mengangguk singkat. "Letakkan di mejaku. Bagaimana dengan pergerakan musuh di sektor barat?"
"Mereka mundur, Jenderal. Taktik pengepungan yang Anda perintahkan berhasil memutus jalur suplai mereka. Kita hanya perlu menunggu mereka menyerah dalam hitungan minggu."
"Bagus. Jangan lengah. Musuh yang terdesak adalah yang paling berbahaya."
Matthew melangkah masuk ke dalam tenda komandonya yang luas namun fungsional. Tidak ada kemewahan di sini. Hanya ada peta besar yang dipenuhi pin merah dan biru, sebuah ranjang lipat, dan meja kerja kayu yang kasar. Namun, di atas meja itu, ada sesuatu yang sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya, sebuah vas kecil dari potongan kaleng bekas yang berisi setangkai bunga kering.
Setiap kali ia merasa kemanusiaannya mulai terkikis oleh kerasnya perintah eksekusi dan strategi perang, Matthew akan menatap bunga itu—sebuah pengingat bahwa di belahan dunia lain, ada seorang wanita yang mungkin sedang memetik bunga segar di taman pribadinya.
Ia duduk di kursi kayunya yang keras, lalu merogoh saku bagian dalam mantelnya. Sapu tangan sutra berinisial D itu masih di sana. Warnanya sudah tidak seputih dulu, ada sedikit noda debu yang sulit hilang, tapi aroma parfum bunga bakung milik Daisy masih tersisa samar jika ia mendekatkannya ke hidung.
Matthew teringat malam pernikahan mereka. Ia ingat betapa kaku dirinya saat itu. Ia dibesarkan oleh Ibu dan Neneknya untuk menjadi pemimpin, menjadi pelindung, namun mereka lupa mengajarinya cara menjadi seorang suami. Baginya, pernikahan awalnya hanyalah tugas protokol untuk meneruskan garis keturunan Eisenberg.
Tapi sekarang, setelah satu setengah tahun berada di tengah kematian dan kehancuran, sosok Daisy yang pemalu dan mandiri itu berubah menjadi obsesi yang aneh di kepalanya.
Apakah rambutnya masih panjang? Apakah dia masih suka menulis lagu dengan wajah yang begitu serius hingga dahinya berkerut?
Ia menarik laci mejanya, mengambil sebuah majalah internasional yang entah bagaimana bisa sampai ke garis depan melalui paket logistik seorang prajurit. Di sampulnya, wajah Daisy terpampang nyata.
Matthew mengusap permukaan kertas itu dengan ibu jarinya yang kasar. Dunia memuja istrinya. Dunia mengenal Daisy sebagai jenius, sebagai idola. Namun, hanya Matthew yang tahu bagaimana ekspresi Daisy saat dia merasa gugup, atau bagaimana bahu mungilnya gemetar saat dia mencoba menyembunyikan rasa takutnya di depan sang Jenderal.
"Kau terlalu bersinar untuk tempat gelap ini, Daisy," bisik Matthew pelan.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terburu-buru terdengar. Letnan tadi kembali masuk dengan wajah pucat. "Jenderal! Ada penyusupan di gudang suplai sektor selatan! Mereka melakukan serangan bunuh diri!"
Tanpa membuang waktu satu detik pun, insting perang Matthew mengambil alih. Ia menyambar pedang dan pistolnya, memasukkan kembali sapu tangan Daisy ke sakunya dengan gerakan protektif, dan berlari keluar tenda.
Pertempuran itu singkat namun brutal. Matthew berada di garis paling depan, bergerak dengan presisi yang mematikan. Ia tidak takut mati—seorang Eisenberg tidak pernah takut—namun kali ini ada dorongan berbeda. Ia harus bertahan hidup. Ia harus pulang. Ia tidak boleh membiarkan Daisy menjadi janda di usia yang begitu muda. Ia tidak boleh membiarkan wanita itu sendirian di Glanzwald yang luas.
Setelah kekacauan mereda dan api berhasil dipadamkan, Matthew berdiri di tengah reruntuhan dengan napas terengah-engah. Darah musuh menciprat di pipinya yang tirus. Ia menyeka darah itu dengan punggung tangannya, lalu meraba sakunya. Sapu tangan itu masih ada. Aman.
Malam itu, Matthew tidak bisa tidur. Ia duduk di depan tumpukan surat dari markas besar. Di antara tumpukan itu, ia menemukan sebuah amplop kecil yang tidak resmi. Ia membukanya dengan tangan yang masih sedikit gemetar karena sisa adrenalin pertempuran.
Isinya hanya secarik kertas dengan tulisan tangan yang sangat ia kenali.
"Bunga-bunga di Glanzwald sudah bermekaran... aku sedang belajar cara menyukai musim panas."
Hanya itu. Tanpa kata rindu, tanpa kata cinta. Tapi bagi Matthew, itu lebih bermakna daripada laporan kemenangan perang mana pun. Ia bisa membayangkan Daisy yang gengsian itu sedang duduk di bawah pohon ek besar, memilin ujung rambutnya sambil menulis kalimat ini.
Matthew mengambil pena. Ia ingin membalas. Ia ingin mengatakan bahwa ia merindukan aroma rambutnya, bahwa ia bosan dengan suara meriam dan ingin mendengar melodi lagu baru Daisy. Namun, tangannya membeku di atas kertas. Kekakuannya masih menjadi penjara.
Akhirnya, ia hanya menulis satu baris singkat:
"Jaga dirimu baik-baik di musim panas ini. Aku akan pulang untuk melihat bunga-bunga itu."
Ia melipat surat itu, memasukkannya ke dalam amplop militer, dan memanggil kurir tercepat.
Matthew kemudian berjalan ke luar tendanya, menatap ke arah Selatan—ke arah di mana Glanzwald berada. Musim panas ketiga tidak lama lagi. Ia merasa seperti seorang tawanan yang sedang menghitung hari menuju kebebasannya. Hanya saja, kebebasannya bukanlah tentang lepas dari tugas negara, melainkan tentang kembali ke pelukan seorang wanita yang tinggi badannya hanya sampai ke dadanya, namun memiliki kekuatan untuk meruntuhkan seluruh dinding es di hatinya.
"Tunggu aku, Daisy," gumamnya pada angin malam yang menusuk tulang. "Kali ini, aku tidak akan membiarkanmu merasa sendirian lagi."