Renata seorang istria dan ibu rumah tangga, dia mengabdikan hari-harinya untuk sang suami tercintanya Raditya dan anak semata wayang mereka Rindiani.
Dulunya Renata merupakan seorang direktur diperusahaan yang saat ini dipegang oleh suaminya tapi karena dia sudah memiliki anak jadi memilih untuk menyerahkan jabatan ke Raditya suaminya dan akan mengurus anaknya saja dirumah.
Tapi sepertinya keputusan dia salah, karena sang suami ternyata berselingkuh dibelakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atul Maronge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Bermain Cantik
Setelah pertemuannya dengan Rendi, kini Renata menangis dalam mobilnya bagaimanapun juga dia seorang istri yang diselingkuhi pasti ada rasa sakit di dada dan juga kecewa.
"Aku akan segera mengamankan aset mulai sekarang" gumamnya dan langsung pulang ke rumah.
Pertama dia ke kamar utama mencari sertifikat rumah ini dan juga bpkb mobil miliknya dan juga milik Raditya, nanti kalau ada waktu yang tepat dia akan mengambil stnk dan juga memfoto ktp milik Raditya agar mudah untuk membalikkan nama bpkb mobilnya dengan namanya.
"Nah sertifikat rumah dan bpkb ini akan aku simpan di rumah papa saja lebih aman seperti aset ku yang lain" gumam Renata.
Karena dia hanya menyimpan beberapa aset saja dirumah ini, didalam brangkas pribadinya ada buku rekening blackcard emas batangan berlian dan juga uang tunai.
Aku segera mengambil koper untuk memasukkan semua harta didalam brangkas ke koper dan segera aku simpan dirumah papa, karena kalau disini tidak akan aman. Selain mas Raditya tahu password brangkas juga dia mudah sekali membobolnya karena hanya pemilik yang dapat dengan mudah membuka tanpa password.
Karena saat membelinya dulu mereka mendaftarkan dua email, miliknya sendiri dan juga Raditya.
"Bu kok bawa koper mau kemana?" Tanya bi Rahmi saat aku turun dari tangga dengan menyeret koper.
"Emhh mau kerumah papa bi, ini hanya sebagian baju yang tidak pernah kupakai" Jawabku berbohong, bagaimana mungkin aku menjelaskan ke Art kalau di dalam koper ada harta yang sangat banyak bisa bisa dia pingsan harta sebanyak ini ku masukkan dalam koper.
Saat aku sedang berada didalam mobil Rohana menelepon, aku segera menepikan mobilku sebelum mengangkat panggilan darinya.
[hallo assalamualaikum Hana] sapaku.
[waalaikumsalam, kamu dimana?]
[lagi di jalan mau ke rumah papa naruh semua aset kenapa?]
[aku lagi di restoran xx, di sana ada Raditya dan juga sekretarisnya. Coba kamu buka foto dan video yang aku kirim barusan]
[bentar-bentar] aku segera membuka pesan dari Rohana di sana mas Raditya terlihat menyuapi sekretarisnya itu dengan penuh cinta.
[kamu terus awasi mereka dan tolong ikutin kemana mereka pergi jangan lupa abadikan.
Nanti aku kasih bonus buat kamu] Ucapku.
[kamu nggak ke sini ngelabrak gitu?] tanya Rohana.
[aku akan bermain cantik Hana, malas sekali mengotori tanganku untuk melabrak mereka berdua] Jawabku.
[oke deh semoga misi ini berhasil ya] Ucapnya dengan tulus.
[amiin udah dulu ya, makasih banyak infonya assalamualaikum]
Setelah menutup panggilan dari Rohana aku segera melajukan mobilku ke rumah papa, aku akan menceritakan semuanya termasuk bukti-bukti yang aku bawa.
Sekitar sepuluh menit kemudian aku sudah sampai dikediaman kedua orangtuaku, aku merupakan anak tunggal jadi papa memintaku mengelola perusahaan itu semenjak lulus kuliah dulu, itu merupakan perusahaan warisan dari kakek.
Saat ini papa mengelola perusahaannya sendiri yang didirikan semenjak menikah dengan mama.
"Assalamualaikum" sapaku saat masuk kerumah mama dan papa.
"Waalaikumsalam nak, ada apa? Kenapa kamu membawa koper?" Jawab mama dengan memberondongku dengan beberapa pertanyaan.
"Ini aset milik Rena ma, mau aku simpan dikamarku saja. Tidak aman kalau dirumah sendiri, sebentar ya ma Rena naik dulu" Ucapku dengan menyeret koper naik ke lantai dua dimana kamarku berada.
Ternyata mama mengikuti langkahku, mungkin firasat seorang ibu benar. Dulu saat aku akan menikah dengan mas Raditya beliau menentangnya karena keluarga mas Raditya terkenal matre dan perhitungan. Tapi aku tak memperdulikan keluarganya yang penting mas Raditya mencintaiku dan setia kepadaku.
"Renaaa..." panggil mama saat kami sudah ada didalam kamar.
Aku tak menjawab mama dan menangis dipelukannya. Aku tak kuat menahan ini sendirian biarlah ku tumpahkan air mataku disini agar saat menggugat mas Raditya tidak ada lagi air mata untuknya.
"Menangislah sepuasmu nak, tapi janji nanti ceritakan semuanya sama mama dan papa. Mama sudah menelepon papa agar pulang" Ucap mama sambil mengusap pelan punggungku.
Cukup lama aku menangis dalam pelukan mama dengan penuh penyesalan dan bayangan masa-masa indah bersama mas Raditya. Hingga suara papa membuyarkan lamunanku.
"Renata.." panggilannya.
Aku lantas menoleh dan mencium punggung tangan papa.
"Ceritakan kenapa." Ucap papa dengan tegas.
"Mas Raditya selingkuh pa" Jawabku dengan sesugukan.
"Kurang ajar..!!"
Dasar laki-laki tak tahu diuntungkan, biarkan papa memberi dia pelajaran..!!" ucap papa penuh dengan emosi.
"jangan kotori tangan papa, biarkan Renata sendiri yang bekerja. Renata akan bermain cantik pa, saat ini bukti-bukti sedang ku kumpulkan"
"Lalu kamu akan menggugat dia?" Tanya papa dengan tatapan menyelidik.
"Benar pa, tapi sebelum itu Renata sudah membereskan beberapa aset di rumah. Ini sudah Renata bawa mending aman disimpan disini, hanya tinggal mengubah nama bpkb saja yang atas nama mas Raditya" Jawabku.
"Bagus, jangan sampai dia menikmati hartanya bersama dengan selingkuhannya. Apalagi dia bisa seperti ini karena siapa...!"
"Iya pa, kemarin Renata diberikan blackcard oleh mas Raditya dan saldonya melebihi gaji dan tunjangan seorang direktur selama dua tahun. Jadi renata mentransfer uang yang tidak masuk dalam hitungan gaji itu ke rekeningku"
"Saat ini blackcardnya masih ada sama kamu?"
"Sudah diminta kembali pa, tapi kayaknya mas Raditya gak sadar soalnya masih aman aja sampai sekarang"
"Ada yang tidak beres sama suamimu, selidiki lebih dalam.
Papa akan mengirimkan audit dari perusahaan papa kesana dalam minggu ini"
"Iya pa, kalau mas Raditya korupsi setidaknya uangnya udah ada sama Rena" Ucapku.
"Yasudah pa Rena mau jemput Rindiani dulu, oh ya bisa minta tolong bang Ronal untuk membelikan brangkas pa? Brangkas milik rena sudah penuh" Ucapku.
"Iya nanti papa akan bilang sama Ronald, sekarang dimana aset yang kamu bawa?"
"Itu dikoper hehe"
"Astagaa Rena...!!
Cepat gembok kopermu itu dan simpan di bawah lemari rahasia. Kamu gak takut Raditya tiba-tiba datang kesini dan membongkar isi kopermu?"
"Mangkanya pa Rena minta dibelikan brangkas lagi" Jawabku dan langsung menggembok koper itu serta menyimpannya ditempat yang aman.
"Oke oke, jam berapa Rindiani pulang?" Tanya papa.
"Satu jam lagi pa, habis ini mau rena jemput"
"Yasudah buruan kasihan cucu papa kalau sampai menunggu, kamu sih disuruh pakai sopir untuk antar jemput Rindiani gak mau. Kan jadinya kamu yang jadi kayak sopir" Ucap papa menggerutu.
"Rena hanya mau seperti ibu ibu lainnya pa. Antar jemput anak tanpa bek"
"Iya deh iya, tapi kalau ada apa-apa sama perusahaan kamu yang harus menjabat lagi menjadi direktur utama.!
Kan Raditya hanya menjabat sementara sesuai dengan SK dulu"
"Siap papa bos, yaudah Renata mau ke sekolah Rindiani dulu.
Assalamualaikum" Ucapku sambil mencium punggung tangan papa dan mama.
"Waalaikumsalam, nanti kamu ke sini lagi kan?" Tanya mama.
"Nanti deh aku kabarin mama, soalnya tadi adiknya mas Raditya chat katanya mau kerumah. Entahlah mau ngapain" Jawabku.
"Oh yaudah, mama mau arisan nanti"
"Iya ma berangkat aja. Dadaaa mamaku yang cantik" Ucapku dan langsung keluar dari rumah.
Sesampainya disekolah Rindiani gerbang masih ditutup tapi sudah banyak orang tua yang sudah menunggu anaknya.
"Astagaa lupa belum ngabarin tukang cctv, ini tinggal dua dipasang dimana ya" gumamku.
Saat sedang memikirkan lokasi strategis dirumah, lamunanku terbuyarkan dengan suara Rindiani mengetuk pelan kaca mobil.
"Hai anak mama udah dari tadi?"Tanyaku.
"Belum ma, mama kenapa?" Tanyanya.
"Mama hanya sedikit capek sayang, kita langsung pulang ya" Ucapku yang langsung diangguki olehnya.
Disepanjang jalan aku memikirkan lokasi itu hingga terfikir jika kamar tamu dan ruang kerja mas Raditya menjadi sasaran utamaku. Besok saat di rumah tidak ada orang aku akan menghubungi Ramli si tehnisi cctv agar datang kerumah.