Alicia Roses hidup di panti asuhan sejak dia berumur lima tahun, setelah kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan.
Bibinya Melinda Stone merampas seluruh harta warisan milik Alicia dan membuang Alicia kecil ke panti asuhan.
Hidup selama dua puluh lima tahun dengan membawa dendam, untuk memuluskan rencana balas dendam nya Alicia menerima lamaran dari pria yang sangat terobsesi dengan nya.
Revano Ace Draco pria gila yang memiliki kekuasaan mengerikan di dunia gangster.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05
...****************...
Mobil hitam Brian melaju cepat meninggalkan restoran menuju kawasan pelabuhan lama.
Di ujung dermaga yang tampak seperti gudang logistik biasa, berdiri markas tersembunyi milik organisasi yang dipimpin oleh Revano Ace Draco.
Bangunan itu tampak sunyi dari luar.
Namun di dalamnya sebuah markas yang menjadi incaran para mafia kelas atas.
Puluhan orang bersenjata berjaga. Sistem keamanan digital yang sulit ditembus menjadi pelapis benteng pertahanan markas itu.
Pintu baja terbuka otomatis saat mobil Brian masuk.
Ruang Kerja Revano
Revano duduk di kursi kulit besar, membelakangi jendela tinggi yang menghadap laut. Jas hitamnya rapi, ekspresinya tenang namun penuh wibawa.
Di meja kayu gelap itu tergeletak peta distribusi wilayah, beberapa berkas transaksi, dan satu foto lama.
Foto keluarga Roses.
Pintu diketuk.
“Masuk,” suara Revano rendah namun tegas.
Brian melangkah masuk dan menunduk hormat.
“Tuan.”
Revano tidak langsung menoleh.
“Bagaimana pertemuanmu ?, dia setuju atau tidak.”
Brian tersenyum tipis.
“Dia datang, namun belum menempatkan dimana keberpihakan.”
Revano akhirnya berbalik perlahan.
“Dan?”
“Dia tidak pernah mengatakan ‘setuju’. Tapi dia meminta seluruh data tentang Red Devils.”
Sudut bibir Revano terangkat.
“Artinya dia tertarik. Tapi masih memberikan jarak”
“Dia mengatakan satu hal yang cukup jelas, Tuan.”
“Apa itu?”
“Dia bukan bidak catur.”
Revano tertawa pelan.
“Wanita cerdas, pantas dia sangat sulit untuk dilacak.”
Brian melangkah mendekat.
“Tuan.., dia sangat berhati-hati. Dan dia tahu kita mengetahui identitas aslinya.”
Revano berdiri dan berjalan menuju jendela.
“Dia memang harus tahu.”
“Apakah bijak memberitahunya bahwa Anda mengetahui dia adalah Alicia Roses?”
Revano memandangi laut dengan tatapan dalam.
“Jika kita ingin bekerja sama dengan seseorang seperti dia, kita tidak bisa bermain setengah-setengah.”
Brian mengangguk pelan.
“Dia kuat, Tuan. Bahkan saat saya menyebut kecelakaan itu, dia tidak menunjukkan kelemahan.”
Revano tersenyum samar.
“Itulah alasan aku menginginkannya, Alicia gadis yang sangat menarik.”
Tujuan Sebenarnya lebih dari sekedar kerja sama.
Brian sedikit ragu sebelum bertanya,
“Tuan.., apakah tujuan kita murni menghancurkan Red Devils?”
Revano menoleh, tatapannya tajam.
“Kau meragukanku?, lagi pula apa pun keinginan ku yang sebenarnya itu menjadi urusan ku.”
“Tidak. Tapi Alicia jelas memiliki agenda pribadi. Jika dia berhasil membalas dendam pada Miranda Stone, bisa saja dia pergi.”
Revano kembali duduk di kursinya.
“Brian, kau tahu apa perbedaan antara Red Devils dan kita?”
Brian menjawab hati-hati, “Mereka membunuh demi uang. Kita membunuh demi kekuasaan.”
Revano tersenyum tipis.
“Kita membangun sistem. Mereka hanya menjual kekacauan.”
Ia mengambil foto keluarga Roses di mejanya.
“Ayah Alicia dulu pernah menolak bekerja sama dengan Red Devils.”
Brian terdiam.
“Dan beberapa hari kemudian, kecelakaan itu terjadi,” lanjut Revano pelan.
“Apakah Tuan sudah tahu sejak dulu?”
“Aku tahu itu bukan kecelakaan biasa, selain karena Miranda Stone memang berniat merampas harta keluarga Roses, namun apakah kau pikir organisasi Red Devils bisa bertindak begitu saja hanya karena dibayar oleh seorang wanita serakah.”
Brian menatap pemimpinnya dengan lebih dalam sekarang.
“Lalu kenapa baru sekarang bergerak?”
Revano menyandarkan punggungnya dengan santai.
“Karena sekarang kita punya senjata yang tepat.”
“Mr A,” ucap Brian pelan.
Revano mengangguk.
“Red Devils sangat bergantung pada sistem digital mereka. Jika Alicia masuk dan menghancurkan fondasi finansial mereka, kita hanya perlu memberikan dorongan terakhir.”
Brian tersenyum kecil.
“Perang tanpa banyak peluru.”
“Perang paling indah adalah yang membuat musuh runtuh tanpa tahu siapa yang mendorongnya.”
Brian menatap Revano beberapa detik.
“Tuan.. apakah Anda mempercayainya?”
Revano tertawa ringan.
“Tidak.”
Brian terdiam.
“Tapi aku menghormatinya.”
Revano meletakkan foto itu kembali.
“Dia membenci Miranda Stone lebih dari siapa pun. Dan kebencian seperti itu, sangat berguna.”
Brian mengangguk.
“Red Devils mulai mencurigainya.”
“Biarkan mereka.”
“Jika mereka mengetahui bahwa kita bekerja sama?”
Revano menatap Brian dengan dingin.
“Mereka tidak akan sempat bereaksi.”
Hening beberapa detik.
“Siapkan semua data yang dia minta,” perintah Revano akhirnya.
“Termasuk arsip lama tentang kecelakaan itu?”
Revano tersenyum tipis.
“Terutama yang itu.”
Brian membungkuk hormat.
“Baik, Tuan.”
Saat Brian keluar dari ruangan, Revano kembali memandang laut.
Ia berbisik pelan pada dirinya sendiri,
“Alicia Roses, mari kita lihat seberapa jauh kau bisa melangkah.”
...****************...