NovelToon NovelToon
Lamaran Ketujuh

Lamaran Ketujuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Hanum, seorang wanita cantik dan berbakat, telah menolak enam lamaran dari pria-pria yang ingin menikahinya. Semua orang berpikir bahwa Hanum terlalu selektif, namun sebenarnya dia hanya sedang menunggu satu orang, yaitu Reza.

Reza merupakan cinta pertama Hanum, namun ternyata Reza memiliki rahasia yang tidak diketahui oleh Hanum. Reza lebih mencintai Nadia, adik kandung Hanum yang penampilannya lebih seksi.

Setelah Hanum menyadari bahwa Reza tidak serius padanya, Hanum berusaha tegar dan menerima kenyataan. Saat itu juga, Abi tiba-tiba datang ke rumah membawa lamaran ke tujuh, setelah lamarannya ditolak tanpa alasan yang jelas oleh keluarga Nesa, kekasihnya sendiri.

Karena terikat sebuah janji, Hanum menerima lamaran itu. Akankah Hanum dan Abi akan menemukan kebahagiaan setelah hidup bersama, atau keduanya masih akan terikat dengan cinta lamanya?

Temukan jawabannya dalam Lamaran Ketujuh! 🤗🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sulit dipercaya

  Dua jam telah berlalu, sepulangnya Abi dari rumah Nesa, belum ada kata yang terucap dari bibir Abi. Begitupun dengan bu Elis. Keduanya masih sangat syok, semua itu sungguh sulit untuk dipercaya.

   "Bi, coba kamu hubungi Nesa." Titah bu Elis dengan suara nyaris tak terdengar, akibat rasa terpukulnya.

  "Nomornya nggak aktif, bu." Jawab Abi yang membuat tangis bu Elis pecah.

  "Ibu cuma mau tahu, apa alasan Nesa sampai nggak mau sama kamu? Selama ini Nesa sudah ibu anggap seperti anak sendiri, begitupun yang ibu rasa dari Nesa. Setiap kali dia datang ke rumah ini, ibu merasa sangat yakin kalau Nesa benar-benar menyayangi kamu." Ucap bu Elis, dengan suara yang tercekat ditenggorokan.

  "Bu, ibu sabar ya, bu?" Abi nyaris mengeluarkan air matanya, karena tidak tega melihat ibunya.

  "Tapi kita berhak tahu alasan Nesa. Ibu yakin, Nesa dipaksa sama ayahnya."

  "Iya, bu. Besok Abi cari keberadaan Nesa ya, bu?" Ucap Abi yang dijawab anggukan dan air mata dari ibunya.

  Abi dan ibunya hampir tidak dapat tidur dengan nyenyak, sebelum mendapat jawaban pasti dari Nesa. Keduanya merasa terpukul dan masih belum bisa percaya dengan penolakan itu.

   * *

  Mendapat penolakan memang sakit, namun rasa malu pada orang-orang sekitar, lebih besar dari pada rasa sakit itu. Terlebih para tetangga dan kerabat dekat, sudah banyak yang mengetahui hubungan Abi dan Nesa.

  Aktivitas berbelanja sayur yang biasa bu Elis lakukan pada pukul 6 pagi, terabaikan akibat rasa malunya.

  "Hari ini kita makan seadanya ya, Bi. Ibu merasa malu, bertemu sama tetangga di tukang sayur." Kata bu Elis.

  "Nggak apa-apa, bu, kalau soal makan, nggak usah dipikirin. Yang penting ibu harus bisa menempatkan hati ibu, supaya ibu tidak larut dalam rasa sedih dan kecewa." Kata Abi, sambil memeluk ibunya yang sedang duduk di meja makan, dari belakang.

  Bu Elis mengangguk lemah, bibirnya mengukir senyum, namun butiran kristal yang terus berjatuhan tak mampu untuk dihentikan. "Iya, kamu benar, Bi. Kita harus belajar ikhlas, menerima kenyataan ini."

  Keduanya saling menguatkan, dan saling memberi dukungan. Lalu mereka dikejutkan oleh teriakan dari luar.

  "Jeng... Jeng Elis!" Teriak bu Susan sambil tergopoh-gopoh menyelonong masuk rumah Abi.

  "Ada apa, Jeng?" Jawab bu Elis, kebingungan.

  "Abi, jeng Elis. Kalian sudah tahu belum?" Tanya bu Susan dengan napas terenggah-enggah.

   "Bu Susan kenapa, bu?" tanya Abi balik.

  "E—itu, anu—" bu Susan bingung cara mengatakannya.

  "Ada apa, jeng? Jangan buat kita panik!" kata bu Elis dengan pipi yang masih terlihat basah dan mata yang sembab.

  Bu Susan mencoba mengatur napasnya agar dapat bicara dengan tenang, lalu Abi memberinya air putih.

  "Minum dulu, bu Susan." Kata Abi sambil memberikan segelas air putih pada bu Susan.

 Bu Susan menenggak habis minumnya, lalu menatap iba pada Abi dan bu Elis.

  "Cepat katakan, jeng!" Titah bu Elis, tak sabar ingin segera tahu apa yang terjadi.

 "Saya baru saja melewati rumah Nesa. Saya melihat ada banyak orang di sana, lalu saya bertanya pada salah satunya, dan orang itu mengatakan kalau pak Wili akan menikahkan Nesa dengan anak dari rekan bisnisnya." Cerita bu Susan, sambil mengedarkan matanya ke arah bu Elis dan Abi secara bergantian.

  Ketika mendengar berita itu, Abi merasa seperti ada kilat yang menyambar di pagi hari. Seorang wanita yang ia cintai dengan setulus hati, akan menikah dengan orang lain.

  Abi merasa tidak percaya, dengan apa yang baru saja bu Susan katakan. Tanpa pikir panjang, Abi menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja, lalu berlari keluar rumah, tanpa menghiraukan panggilan dari ibunya.

  "Abi... Abi... Tunggu, nak!" teriak bu Elis sambil berlari mengejar Abi, namun terlambat.

 Abi langsung menginjak gas, mobilnya melaju sangat kencang mengiringi suasana hatinya. Ia tidak peduli dengan lalu lintas, serta keselamatan dirinya. Abi hanya peduli dengan satu hal, yaitu melihat Nesa untuk tahu apa yang terjadi.

  Dengan menahan emosi yang hampir meledak, Abi tiba di halaman rumah Nesa. Ia melihat wanita yang sangat dia cintai, baru saja menjadi istri orang lain.

  Abi merasa seperti ditikam, hingga hampir tak dapat bernapas. Tubuhnya terasa sulit untuk digerakan, hanya bisa berdiri mematung, menatap mereka duduk bersanding diatas pelaminan.

  "Secepat ini?" ucapnya tak percaya. "Aku, aku harus melupakan dia. Tapi, tapi aku tidak bisa melakukanya."

  Nesa yang menyadari keberadaan Abi di sana, segera berlari menghampiri Abi dengan pakaian pengantin yang masih lengkap.

  "Bi—" Nesa memohon agar penjelasannya bisa didengar oleh Abi. "Abi—" lidahnya terasa kelu, sulit untuk digerakan.

  Abi hanya berdiri, menatap dengan mata berair dan tubuh yang bergetar. Abi segera pergi meninggalkan Nesa sebelum mendengar penjelasannya, karena di belakang Nesa tampak pak Wili, dan seorang pria yang baru saja menjadi suami Nesa, sedang berjalan cepat menuju arahnya. Ia merasa tak kuat berlama-lama berada di sana.

  "Ibu... Apa kesalahan aku, ibu?" Dia bertanya pada ibunya, setelah sampai di rumahnya kembali, "apa kurangnya aku?"

  Bu Elis menangis pilu, memeluk anaknya. "Nggak ada, nak. Kamu nggak salah, nggak ada yang kurang darimu. Ikhlaskan, ikhlaskan dia." Lirihnya.

  * *

  Usai kepergian Abi, Nesa berlari sambil menangis, lalu mengunci diri di kamarnya. Dia tak mau membuka pintu meski teriakan ayah, ibu, dan beberapa orang kerabat terdengar begitu riuh dari balik pintu.

  Hingga sore tiba, Nesa tak kunjung membuka pintu kamarnya. Ayah dan ibunya hampir menyerah dibuatnya.

  Kali ini, Davin, suaminya Nesa yang mengetuk lembut pintu kamar Nesa. "Nesa, aku mohon buka pintunya, aku janji tidak akan memaksamu. Kita harus bicara dengan baik-baik, jangan se—" ucapnya terhenti saat pintunya terbuka pelan.

  "Alhamdulillah...!" ucap semua orang yang menunggu di sana.

  Nesa keluar dengan pakaian santai, namun dengan wajah sendu penuh penyesalan, karena menikah dengan Davin dan meninggalkan Abi tanpa perasaan.

  Ayah dan ibunya memeluk Nesa tanpa mendapat balasan peluk dari Nesa. Baru saja pak Wili akan mebuka mulutnya, Nesa langsung mendahului ayahnya bicara.

  "Ijinkan aku bicara sama mas Davin, berdua saja, ayah!" Ucapnya dengan suara lemah.

  Davin sudah menjadi suami sahnya Nesa, tentu dengan senang hati ayahnya tidak melarang mereka untuk bicara. "Oh, iya, iya nak. Tentu, ayah ijinkan." Kata pak Wili dengan senang hati.

  Bu Leha pun turut bahagia, berharap Nesa akan menerima Davin dengan tulus.

  Begitupun dengan Davin, dia begitu bahagia saat Nesa mengajaknya bicara berdua saja. Dengan segudang harapan, Davin mengikuti Nesa ke kamarnya.

  Tanpa ragu, Nesa memberi tahu hubungannya dengan Abi pada Davin. Ia ceritakan semuanya pada Davin, berharap Davin akan menceraikannya, setelah mendengar semua itu.

  Davin menghela napas dalam-dalam. "Sayangnya semua sudah terlambat, Nesa. Harusnya kamu ceritakan ini, sebelum kita menikah." Kata Davin yang bijaksana.

  "Belum terlambat, mas. Kamu bilang sama ayah dan ibuku, kalau sebenarnya kita berdua nggak ada kecocokan satu sama lain." Bujuk Nesa yang ditolak oleh Davin.

   "Aku nggak mau. Kamu pikir pernikahan bisa buat mainan?" tolak Davin. "Nesa, semua sudah terlanjur. Kita sekarang suami istri, pernikahan kita disaksikan Tuhan dan banyak orang, jangan kamu jadikan mainan."

   Nesa terdiam setelah Davin menjelaskan. Keduanya berdiskusi untuk mencapai sebuah kesepakatan

...****************...

1
Abad
lanjut sama jangan kelamaan upnya
Emily
wah gak tau gimana tabiat si rendra
Emily
meski sulit tapi harus di paksa biar biasa
Diana Dwiari
ayo sikat ulet keket itu dg cara elegan......
Fatra Ay-yusuf
menarik
Restu Langit 2: Terimakasih 🤗
total 1 replies
Abad
Yang ini mana kelanjutannya Thor?
Restu Langit 2: ditunggu ya...
total 1 replies
Diana Dwiari
wah.....hati2 kamu Nadia....malah jadi tawanan rendra
Diana Dwiari
salahmu sendiri nesa,meski dijodohkan ,tp setidaknya kan selesaikan dulu dg masalalu
Abad
Ceraikan saja Davin, biar Nesa makin terpuruk setelah ditingal nikah Abi 🤣
Abad
Reza pasti ambil kesempatan tuh
Restu Langit 2: he he 🤭
total 1 replies
Rian Moontero
lanjuutt👍😍
Restu Langit 2: Makasih penyemangatnya 🤗
total 1 replies
Abad
wah wah masalah pasti sama keluarga pak karto
Restu Langit 2: sepertinya begitu 🤭
total 1 replies
Abad
Semangat!
Restu Langit 2: Terimakasih Apresiasinya 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!