Dijodohkan dan bertunangan sejak putih abu membuat Naka dan Shanum menyembunyikan hubungan keduanya dari orang lain termasuk teman-temannya. Terlebih, baik Naka ataupun Shanum tak pernah ada di daftar putih masing-masing.
Tapi siapa menyangka, diantara usaha keduanya, perasaan cinta justru hadir mengisi setiap ruang hati satu sama lain. Siapakah yang akan duluan menyatakan cintanya?
Say, love you too....
Katakan, aku juga cinta kamu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Tokoh antagonis
"Untuk acara sumpah pemuda sendiri kami tidak ada masalah, karena memang setiap tahunnya agenda ini rutin dilaksanakan. Namun mengenai undangan dan ajakan pihak luar, apakah ini tidak akan beresiko pada tindakan perusakan, keamanan, dan kebersihan di sekolah?"
Naka melirik Airani dan Jeevika yang memang hafal tugas tanpa harus di ingatkan oleh Naka sendiri. Ia sudah menduga jika poin ini yang akan diangkat oleh Juna dan ia sudah siap dengan jawabannya.
Naka memberikan kesempatan untuk Arjuna sampai selesai bicara, lalu ia kembali angkat bicara, "untuk poin-poin yang akan dirundingkan bersama rasanya sudah jelas dari pemaparan bendahara dan ketua organisasi dan kaderisasi kami, jadi saya rasa tidak ada yang harus di bicarakan sampai di titik ini, selama panitia acara belum dibentuk. Dan untuk hal-hal yang menjadi persoalan seperti undangan dan ajakan...tentu saja sudah kami pikirkan matang-matang." Jeda Naka.
Cara bicaranya yang tidak hanya menyasar Juna bukanlah sebuah intimidasi melainkan ia tatap juga seluruh pengurus MPK termasuk Shanum dan Canza, adalah gestur yang benar jika ia sedang memberikan pemahaman.
Shanum tentu tak akan bertanya-tanya dan sudah tak meragukan kemampuan kepemimpinan dan alih situasi rapat begini, jelas Naka ahlinya.
"Tentang keamanan, kenyamanan siswa-siswi Budi Pekerti X, lingkungan. Akan selalu ada resiko untuk setiap acara yang kita gelar. Seberapa besar atau kecilnya itu...meskipun nantinya jika kita hanya akan membuat acara sendiri tanpa sekolah lain...."
"Tapi kita bisa meminimalisir tenaga, biaya dan menjaga keamanan tetap ada di lingkungan sekolah." Potong Juna, situasi naik tensi. Dan kembali keadaan ini sudah biasa meski membuat situasi ruangan menjadi lebih, hangat.
Lihatlah wajah Pandu yang tak nyaman, lebih pada---kesal, ingin ikut menyela bicara dengan gaya bicaranya yang---ah elah, ribet banget sih Jun, lebay Lo, dan biasa aja dong, sewot! Sebab----
Chika memiringkan badannya demi bisa berbisik pada teman-temannya, "gue pikir selama ini yang paling nyebelin Naka. Eh ternyata Juna lebih nyebelin asli."
Adit mengangguk, "iyeee. Mana dari tadi gue itung-itung udah ada 4 kalinya manggilin, nam-num, nam-num doang. Gitu kan ya, Ji? "tiru Adit setengah berbisik.
Frizka menyetujui.
"Udah sii, kalo menurut gue Juna ngga cocok ngikutin gaya Naka. Tokoh antagonis lebih afdol dipegang Naka. Muka Juna muka teletubbies, terlalu ramah anak." Chika berbisik.
Jemima yang biasa si paling tertawa, hanya bisa menahan tawanya beberapa kali sampai-sampai merasa geli semuka-muka mendengar ocehan teman-temannya di tengah rapat yang semakin sini semakin tegang, sebab bukan hanya Naka yang bicara. Namun Pandu turut bicara...yang wahhh! Surprise sekali jika ternyata ide mengundang dan bekerja sama dengan sekolah lain adalah ide dari divisinya dan Humas, atas dasar dorongan dari perangkat kelas dan MAK BUTI serta kesiswaan juga.
"Emang ngundang sekolah lain bukan ide Naka?" tanya Shanum digelengi Chika, "ya bukanlah. Naka justru lagi mati-matian jadi tameng buat belain pengurusnya ini....asli sih, Naka kejam-kejam tapi pemimpin banget."
"Ide Pandu sama Daffa yang cetusin. Tapi bukan semata-mata ide ngayal tanpa alasan doang, dari anak-anak juga sih..."
Ahhh, oke...Shanum manggut-manggut paham begitupun Jemima dan Frizka, "ngga sia-sia juga sih Lo semua keseringan rapat. Chemistry-nya dapet banget." Akui Frizka disaat Naka, Pandu dan Savero saling menimpali Juna yang bicara hanya bersama Navvaro.
Canza hampir dibuat tak bisa menahan tawanya sejak tadi, "nih emak-emak emang ngga dimana-mana pasti gosipan. Berasa di angkot aja Bu..." cibirnya pada keempat gadis di sampingnya itu.
"Nyet, Lo ngga mau ngomong gitu, bantuin Juna?" tanya Mima, "daripada nguping ibu-ibu gosipan?"
"Ada saatnya pemimpin sebenarnya bicara nanti sebagai penengah." Jawabnya jumawa membuat Mima menyarangkan dorongan kepalanya di kepala Canza.
Shanum melihat urat-urat yang menegang dari Juna, sementara Naka...ia masih--chill.
"Jika sudah tidak ada lagi yang akan ditanyakan. Termasuk sudah turunnya ijin dari pihak sekolah, maka kami anggap MPK ikut menyetujuinya, kami juga mengajak majelis perwakilan kelas untuk ikut serta dalam kepanitian sebagai bentuk kekompakan, kesediaan, dan kekeluargaan."
Canza ambil alih bicara sebagai ketua komisi disana, hingga akhirnya MPK tak dapat lagi mengelak agenda acara yang akan dibuat OSIS kali ini. Terlebih...
"Silahkan untuk ditentukan struktur kepanitiaan acara sumpah pemuda tahun ini..." Naka kembali duduk dan disana Savero yang mengambil alih bicara.
"Untuk ketua...saya menyarankan Pandu Pahlevi, sebagai pencetus, jembatan dan kepala yang memikirkan jalannya acara...adakah kandidat lain?"
Ada Daffa dari divisi Humas, bahkan sampai Canza dari MPK.
Akhirnya setelah voting, terpilihlah Pandu sebagai ketua panitia acara sumpah pemuda tahun ini, "yeeee, Nduu!" Chika dan Frizka bertepuk tangan. Begitupun Jeevika dan yang lain.
"Ini gue dapet hak prerogatif kan, Ka?"
Naka mempersilahkan.
"Kalo gitu gue mau wakil gue Daffa. Terus ngga etis jika hanya jajaran OSIS yang ada disusunan kepanitiaan, gue mau Shanum dari MPK yang jadi sekertaris."
Otomatis pandangan seisi ruangan jatuh pada Shanum yang mendadak melongo seraya menunjuk dirinya sendiri, gue?
"Ndu, apaan sih?!" bibirnya menyungging naik, alih-alih marah dan kesal mereka yang tadi pagi mendengar obrolan geng ceriwis justru tertawa termasuk Naka, apaan sih milik Shanum menjadi jargon tersendiri.
Jeevika mencatat di papan tulis nama Shanum, "eh sebentar...kan gue ngga iyain?!"
"Gue yang udah iyain..." jawab Pandu, Adit tertawa, "udah Num, kalo mamak sudah berbicara, kelarrr idup Lo."
Kini Chika dan Frizka yang tertawa, sebab Jemima sudah tergelak, "mamak Pandu."
Saat semua sudah bubar jalan, Shanum masih terjebak di ruang OSIS bersama kepanitiaan acara sumpah pemuda bersama Jemima yang ditunjuk jadi bendahara dan Canza dari MPK yang selalu ada mengawasi kegiatan dan pergerakan OSIS secara lapangan, tak lupa tentunya anak-anak OSIS itu sendiri.
Hoam! Ia melirik jam di tangan, merasakan juga sibuknya anak OSIS jika ada acara besar begini.
Bosan dan lelah dengan keadaan dalam ruangan, ia menepi sejenak untuk mencari udara di luar.
Ada anak-anak paskibraka yang sesekali Canza turut bergabung disana, kemampuan baris berbaris mereka memang tak perlu diragukan lagi, beberapa kali paskibraka Budi Pekerti X menyabet gelar juara bertahan di beberapa kompetisi yang diselenggarakan antar SMA-SMK atau rentang usia.
Ia pandang pemuda jangkung yang Mima beri julukan ireng itu.
Keringat bercucuran efek sinar matahari meski ia memakai topi yang menutupi tengkuknya itu. Sikap tegapnya itu, suara lantangnya itu....sepertinya setelah Naka, posisi pemimpin cocok disematkan untuk Canza.
Sorot matanya tajam, dengan rahang tegas dan fisik mumpuni. Ingat Canza...Shanum mengingat obrolan Naka dan kawan-kawannya kemarin. Adrian---SMA Karya Bangsa, bukankah dia itu kakak tiri baru Jemima?
"Ngga lagi suka Canza, kan?"
Ia telah menanggalkan jas OSIS miliknya, bahkan ujung seragamnya telah keluar dari celana, "ngga lupa pake dalam annn kan?" Shanum tertawa tapi Naka tak tersinggung, "engga lah. Kan ngga lagi sama Lo doang." Shanum mendelik dan menyarangkan tonjokannya di bahu Naka.
Keduanya diam kembali memperhatikan Canza yang bergerak tegap, sesekali mengeluarkan komandonya, meski banyolan dan tawa diselipkan agar suasana tak terlalu tegang.
*Siap ulangi, ha-ha-ha*! Seru mereka.
"Ka!" itu Daffa, tapi ia tak sendiri sebab---
"Naka, sorry gue ganggu....bisa ngobrol dulu sebentar ngga?! Ada yang perlu di diskusiin nih..." nada suaranya riang tapi tak cempreng terkesan tak kampungan.
Daffa bersama dengan Rea yang merupakan ketua MAK BUTI.
"Kenapa?" Naka meliriknya sebentar lalu mengikuti langkah Daffa dan Rea meninggalkannya.
Shanum memperhatikan itu, iya...tatapan Rea yang kentara betul mengumbar sorot kagumnya pada Naka, seolah ada binar yang tak bisa ia jelaskan namun ia amat paham. Oh, dan lihatlah...Rea bahkan tak malu untuk menepuk bahu Naka meski kemudian ia meminta maaf.
.
.
.