Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.
Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.
Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.
Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Api telah padam namun bau hangus masih menggantung di udara Kediaman Menteri Yun, menyusup ke setiap sudut bangunan megah yang kini kehilangan separuh wajahnya.
Dinding hitam, kayu runtuh, genting runtuh berserakan di tanah. Gudang penyimpanan di sisi timur hangus hingga menyisakan rangka kayu gosong. Dan paviliun kecil tempat Yun Mailan dahulu tinggal
Lenyap.
Tidak tersisa apa pun selain abu.
Para pelayan berdiri berjejer dengan kepala tertunduk, wajah mereka pucat. Tidak ada yang berani berbicara terlalu keras. Bahkan napas pun terasa salah di hadapan sosok yang berdiri kaku di tengah halaman utama.
Menteri Yun, pria paruh baya itu berdiri dengan jubah resmi masih dikenakan, meski rambutnya acak-acakan dan wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua dalam semalam.
Matanya menatap ke arah puing-puing paviliun Yun Mailan, tatapan kosong, tidak ada amarah dan tidak ada kepanikan hanya… diam.
“Mayat?” tanya Menteri Yun akhirnya, suaranya serak.
Kepala pelayan berlutut dalam-dalam. “Tu-tuan… kami sudah mencari. Tapi api terlalu besar. Tidak… tidak ditemukan jasad.”
Menteri Yun mengerutkan kening, “Tidak ditemukan… atau tidak ada?”
Kepala pelayan menelan ludah. “Tidak ada, tuan.”
Hening.
Angin pagi bertiup pelan, meniup abu ke udara, putra sulung Menteri Yun, Yun Zhe kakak kandung Yun Maila berdiri tak jauh darinya. Wajah pria itu dingin, rahangnya mengeras, namun sorot matanya jelas tidak menunjukkan kesedihan.
“Kalau tidak ada jasad,” ucap Yun Zhe datar, “berarti dia mungkin sudah mati terbakar hingga tidak tersisa.” Nada suaranya terlalu tenang seolah sedang membicarakan benda rusak
Menteri Yun menoleh, menatap putranya sesaat, “…Mungkin,” jawabnya pelan. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyebut nama Yun Mailan dengan penuh emosi seolah keberadaannya memang tidak pernah penting.
Di sisi lain halaman Yun Hi berdiri dengan kedua tangan menutup mulutnya, gaun putihnya sedikit ternoda abu, wajahnya pucat, mata berkaca-kaca. Ia tampak seperti gadis rapuh yang baru saja kehilangan seseorang yang sangat berarti.
“Gege…” suara Yun Hi bergetar. “Apakah… apakah jiejie benar-benar…?”
Yun Zhe menoleh melihat adik angkatnya yang menangis tertahan itu, ekspresinya melunak, sesuatu yang tidak pernah ia tunjukkan pada Yun Mailan.“Kita belum tahu,” katanya lembut. “Tapi kemungkinan besar…”Ia tidak melanjutkan.
Namun Yun Hi langsung tersedu, air mata jatuh satu per satu.“Ini semua salahku…” isaknya. “Kalau saja aku menjaga jiejie kemarin… kalau saja aku tidak ketiduran, pasti saat ini jie jie baik baik saja"
Beberapa pelayan perempuan ikut menunduk, terlihat terharu.“Putri Yun Hi baik sekali…”
“Iya… masih memikirkan nona besar meski diperlakukan begitu…”
Yun Hi mendengar bisikan itu dan di balik telapak tangannya ia tersenyum tipis terukir, "Matilah kau dengan sempurna, Yun Mailan," batinnya dingin, "Akhirnya dunia ini bersih tanpamu"
Namun ia tetap menangis, menangis dengan indah, menangis dengan tepat dan menangis seperti malaikat.
Tidak Lala terdengar suara langkah kaki kuda terdengar dari gerbang utama.
Tak lama kemudian, seorang pria berpakaian jubah militer berwarna gelap turun dari kudanya. Posturnya tinggi, wajahnya tampan dan tegas, sorot matanya tajam seperti pedang terhunus.
Dialah Gu Changfeng, putra Jenderal Besar Gu dan juga tunangan dari Yun Mailan.
Begitu kakinya menginjak halaman Kediaman Yun, ia langsung mencium bau hangus.
Matanya menyapu puing-puing. “Apa yang terjadi?” tanyanya dingin.
Menteri Yun menoleh. “Changfeng… kau datang.”
“Paman ada apa ini?,” ulang Gu Changfeng, suaranya mengeras. “Apa yang terjadi di sini?”
Yun Zhe melangkah maju. “Paviliun Yun Mailan terbakar semalam.”
Gu Changfeng mengerutkan kening. “Yun Mailan?” Nama itu keluar begitu saja, tanpa emosi.
Namun entah kenapa, dadanya terasa aneh.“…Di mana dia?” tanyanya.
Hening.
Pelayan menunduk, menteri Yun menatap tanah sedangkan Yun Hi terisak lebih keras.
Gu Changfeng menyadari kejanggalan itu.“Di mana dia?” ulangnya, kali ini tajam.
Yun Zhe menghela napas. “Kemungkinan… mati terbakar.”Kata-kata itu jatuh seperti palu.
Gu Changfeng membeku.“Mati?” ucapnya pelan.
Ia menatap puing-puing paviliun itu dan tiba tiba bayangan seorang gadis muncul di benaknya dengan wajah pucat, mata penuh harap, selalu berdiri menunggunya meski ia tak pernah datang.
Ia mengerutkan kening, merasa tidak nyaman.
“Tidak ditemukan jasad,” tambah Yun Zhe. “Tapi api terlalu besar.”
Gu Changfeng mengepalkan tangan, entah kenapa, ia tidak merasakan lega. Yang muncul justru… kosong seperti kehilangan sesuatu yang tidak pernah ia hargai.
------
Malam hatinya Gu Changfeng berdiri sendirian di depan sisa puing paviliun Yun Mailan, langit bahkan mendung, angin malam dingin.Ia menunduk, memungut sesuatu dari tanah.
Sepotong logam kecil hiasan rambut yang dulu pernah ia berikan pada Yun Mailan… hanya sekali… lalu melupakannya.
Tangannya mengencang.“Bodoh…” gumamnya pelan.
Ia teringat bagaimana Yun Mailan selalu menatapnya dengan mata berbinar, bagaimana ia selalu menghindar, bagaimana ia selalu merasa terganggu.“Kenapa kau harus mati sekarang?” bisiknya, namun tidak ada jawaban hanya angin dan penyesalan datang terlambat.
Di paviliun Yun Hi gadis itu duduk di depan cermin, air mata sudah berhenti dengan wajahnya tenang, bahkan… puas, “Akhirnya,” gumamnya sambil tersenyum kecil. “Penghalang itu hilang.” Ia menatap bayangannya sendiri. “Sekarang… Changfeng gege hanya akan melihatku.”
Di balik pintu seorang pelayan berdiri gemetar, mendengar semuanya, namun ia tidak berani bersuara karena semua orang tahu di Kediaman Yun, kebenaran tidak penting dan yang penting adalah siapa yang dicintai.
Sedangkan Yun Mailan yang mereka kira sudah mati saat ini berada di Kota Qinghe. Kota Qinghe berbeda dari ibu kota kekaisaran, tidak ada intrik istana yang kental di udara, tidak ada langkah pejabat yang menekan dada, tidak ada pandangan sinis yang selalu menilai siapa lebih rendah dan siapa layak diinjak.
Kota itu hidup dengan caranya sendiri aroma obat kering, suara tabib memanggil pasien, pedagang rempah berteriak menawarkan harga, dan denting lonceng kecil di pintu-pintu toko.
Di sinilah Yun Ma berdiri di depan kios kecil yang baru saja ia sewa. Papan kayu sederhana digantung di atas pintu.
“Toko Obat Feng Ling ”
Yun Ma menatap papan itu lama lalu tersenyum tipis, “Api sudah membakarku,” gumamnya. “Sekarang… aku akan membakar balik.”
"Nona selamat atas pembukaan toko obatnya, semoga semua berjalan lancar" ujar pemilik toko dengan ramah
"Terima kasih paman We" jawab Yun Ma sembari tersenyum kecil dan di sampingnya Ayin menatap nonanya dengan haru.
Di kejauhan benang takdir mulai bergerak dan mereka yang tertawa di atas abu yang akan segera tahu bahwa Yun Mailan belum mati.
Ia hanya berubah dan saat ia kembali tidak akan ada api yang cukup untuk menghentikannya.
Bersambung