Memiliki tubuh obesitas ternyata membuat Amanda dibenci orang-orang di sekeliling, keluarga yang selama ini dia percaya. Di saat usianya berusia 10 tahun ibunya pergi meninggalkannya membuatnya hidup bersama sang ayah.
Hidupnya sejak kecil begitu sempurna nyaris tidak pernah merasakan kesulitan, ketika sang ayah menikah dengan teman masa SMA- ya yang sudah memiliki dua Putri. Amanda justru mendapatkan kasih sayang dari ibu tirinya.
Tetapi siapa sangka Amanda menyadari semua itu hanyalah sandiwara ketika dia sudah dewasa. Tubuhnya yang gendut dengan wajah yang jelek, cupu membuat keluarganya jijik kepadanya, kematian ayahnya membuat penderitaan hidupnya semakin bertambah.
Pria yang dia nikahi baru 1 bulan ternyata memiliki hubungan dengan saudara tirinya, dikhianati oleh keluarganya sendiri membuat Amanda nyaris ingin mengakhiri hidup.
Tetapi semangatnya kembali dalam bentuk pembalasan ketika semua berlalu dia datang dengan penampilan yang sempurna bahkan nyaris Tidak dikenali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35 Penyelidikan
Amanda dan Egar akhirnya kembali ke hotel.
"Tuan Egar terima kasih sudah mengantar saya untuk membeli obat dan terima kasih sudah membelikan saya obat dan terima kasih sudah mengantarkan saya pulang," ucap Amanda panjang lebar mengucapkan terima kasih kepada Egar.
"Kamu tidak perlu memanggil tuan," sahut Egar.
"Lalu harus panggil apa. Kamu, seperti memiliki hubungan spesial saja harus memanggil Aku, kamu," celetuk bercanda dari mulut Amanda mampu membuat Egar memperhatikan Amanda tampak senyum-senyum dan terlihat santai.
Egar kembali mengalihkan pandangannya.
"Ayo turun!" ajak Egar.
"Oke!" sahut Amanda begitu sangat semangat yang akhirnya turun dari mobil.
"Kamu sebaiknya langsung beristirahat, jangan lupa besok pagi obatnya juga kembali diminum," ucap Egar.
"Baik tuan Egar!" lagi dan lagi Amanda memanggil dengan tuan.
"Saya sungguh tidak suka mendengar panggilan itu," ucap Egar menegaskan sekali lagi dan tampak serius.
"Baik...." sahut Amanda dengan menundukkan kepala.
"Kalau begitu saya langsung saja ke kamar dulu, saya mengucapkan terima kasih atas hari ini!" Amanda menentukan kepala dan kemudian berlalu terlebih dahulu dari Egar.
Egar hanya melihat kepergian Amanda dengan kondisi tubuhnya yang sepertinya sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Egar menghela nafas dan kemudian melanjutkan langkahnya.
******
Pagi ini Amanda baru saja bangun tidur, tubuhnya masih terlihat begitu lemas dengan memijat-mijat belakang lehernya.
Dratt-dratt-drat.
Pagi ini ponselnya sudah berdering yang membuat Amanda mengangkat telepon tersebut yang ternyata dari Gina.
"Apa syutingnya sudah dimulai Gina?" tanyanya.
"Tidak Amanda, aku menghubungi kamu justru Ini udah tahu kepada kamu bahwa hari ini kita tidak ada syuting. Pak Egar mengatakan kita tidak syuting hari ini, karena kamu juga kurang enak badan," ucap Gina menyampaikan hal penting yang ingin disampaikan kepada Gina.
"Jadi, tidak ada syuting hari ini?" tanya Amanda memastikan sekarang.
"Benar! Hari ini libur syuting, kamu sebaiknya istirahat ya, kondisi kamu jangan lagi fit dan besok bisa syuting kembali," ucap Gina memberi masukan kepada Amanda.
"Hmmmm, kamu mau apa? aku akan kirimkan makanan dan buah-buahan ke kamar kamu," ucap Gina.
"Tidak usah Gina, aku sepertinya kurang tidur dan lebih baik tidur saja, aku akan menggunakan kesempatan dengan tidak syuting hari ini untuk beristirahat," ucap Amanda.
"Baiklah kalau begitu kamu beristirahat saja," sahut Gina.
Amanda regina saling mengakhiri telepon tersebut.
"Huhhhh, padahal kondisiku sudah baik-baik saja, tetapi sudahlah jika diberi kesempatan untuk tidak syuting dan artinya aku bisa beristirahat lebih lama lagi," batin Amanda dengan menghela nafas.
Amanda melanjutkan tidurnya dengan memberikan tubuhnya. Bagi Amanda kesempatan yang telah didapatkan adalah hal yang paling penting untuk beristirahat.
******
Kondisi Amanda sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Amanda terlihat fress dan bahkan sudah mandi.
"Bosan juga jika hanya terus berada di dalam kamar, sebaiknya aku keluar untuk lihat-lihat sekedar refreshing agar tidak terlalu penat," ucap Amanda menghela nafas.
Amanda kemudian keluar dari kamarnya dan ternyata persamaan dengan Egar yang juga keluar dari kamarnya.
"Kamu sudah membaik?" tanya Egar.
"Hmmm, sudah bahkan jauh lebih baik daripada sebelumnya, aku bahkan tidak perlu untuk beristirahat sebentar, tetapi karena telah diberikan kemudahan untuk tidak syuting selama 1 hari, maka kesempatan itu aku manfaatkan dengan baik dan sekarang tubuhku sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya, aku benar-benar sehat," ucap Amanda terlihat begitu semangat.
"Baguslah kalau begitu, semoga kedepannya kamu bisa menjaga kesehatan lebih baik lagi," ucap Egar.
"Sudah pasti," sahut Amanda.
"Hmmmm, Amanda ada hal yang ingin saya bicarakan dengan kamu," ucap Egar.
"Katakan ada apa?"
"Kita sebaiknya mencari tempat untuk berbicara," jawab Egar.
"Apa begitu penting sekali?" tanya Amanda memastikan.
"Ayo ikut dengan saya!" ajak Egar berjalan terlebih dahulu dan mau tidak mau disusul oleh Amanda.
Amanda dan Egar akhirnya mendapatkan tempat untuk mengobrol yang duduk di salah satu bangku dengan saling berhadapan.
"Kamu ingin mengatakan apa kepada saya?" tanya Amanda.
"Kamu kepikiran tentang orang yang waktu itu melajukan sepeda motornya ke arah kamu yang ingin menabrak kamu?" tanya Egar.
"Menabrak! Apa itu merupakan tabrakan atau memang hanya kecerobohanku?" tanya Amanda justru pertanyaan yang diberikan Egar membuatnya kebingungan.
"Sejujurnya saya memeriksa rekaman cctv yang ada di tempat lokasi kejadian, sepeda motor yang melaju kencang itu tidak memiliki plat apapun dan seperti sudah sengaja didesain agar tidak ada yang menemukan sepeda motor itu dan terlebih lagi di saat saya menarik kamu dan pada saat itu orang yang menabrak kamu justru berputar arah dan bukan melaju terus yang artinya memang ada kesengajaan yang dilakukan," ucap Egar.
"Sungguh sampai seperti itu?" tanya Amanda.
"Ini masih dalam penyelidikan, apakah benar hanya sebuah insiden yang kebetulan atau justru ada kesengajaan," jawab Egar.
"Seandainya kecelakaan itu adalah bentuk kesengajaan? Lalu untuk apa orang tersebut melakukan hal itu?" tanya Amanda.
"Entahlah, mungkin kamu memiliki musuh atau orang yang tidak menyukai kamu," jawab Egar.
"Aku tidak memiliki musuh sama sekali, aku lama tinggal di Australia dan baru kembali ke Indonesia, justru selama di Indonesia aku tidak mengenal banyak orang dan bagaimana mungkin ada musuh," ucap Amanda.
"Saya masih menyelidiki hal ini yang dibantu pihak kepolisian yang ada di Tokyo. Kita akan tahu jawabannya apakah ini memang benar-benar insiden atau justru ada tindak kesengajaan," ucap Egar.
"Kamu membantu saya untuk menjawab semuanya?" tanya Amanda.
"Saya rasa hanya itu yang bisa saya lakukan karena saya merasa ada kejanggalan dalam hal ini, jadi menurut saya ini perlu diselidiki lebih lanjut lagi dan siapa tahu memang ini ada unsur ketengahan yang justru akan membahayakan nyawa kamu dan mungkin hari-hari berikutnya akan ada serangan seperti ini lagi, kita tidak tahu jiwa manusia yang sesungguhnya seperti apa dan lebih baik untuk berhati-hati," jawab Egar
"Sungguh saya juga masih belum bisa menyimpulkan apakah semua ini untuk kesengajaan atau bagaimana, tetapi apapun itu saya mengucapkan terima kasih jika dibantu untuk menyelidiki masalah ini dan apa yang kamu katakan benar, mungkin kedepannya saya akan lebih hati-hati lagi," sahut Amanda.
"Untuk keamanan kamu berikutnya di negara ini, saya akan memberikan pengawasan untuk orang-orang berjaga di sekitar kamu," ucap Egar.
"Terima kasih, sejujurnya saya merasa tidak enak, terlalu banyak dibantu," ucap Amanda.
"Tidak perlu merasa tidak enak, menurut saya ini bagian dari kewajiban saya, sebagai orang yang harus bertanggung jawab terhadap kliennya," ucap Egar membuat Amanda menganggukkan kepala.
Bersambung....