Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.
Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.
SALAM DARI AUTHOR 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 32 : CINTA DAN MANUVER SANG DOKTER GENIUS
Lobi Hotel Grand Luminance perlahan-lahan kembali tenang setelah drama pengusiran Fandi oleh empat petugas sekuriti tadi. Beberapa staf resepsionis yang sempat menonton drama perebutan itu langsung pura-pura sibuk kembali ke komputer mereka, meskipun ekor mata mereka tetap melirik penasaran ke arah tengah lorong. Di sana, tinggallah Radit dan Kalea yang masih berdiri berdekatan.
Radit mengembuskan napas panjang yang cukup kasar dari lubuk dadanya, mencoba mengusir sisa amarah batinnya akibat kelakuan kurang ajar mantan kakak ipar Kalea itu. Pria setinggi 185 sentimeter itu memutar tubuh jangkungnya, menatap lekat-lekat ke arah wajah imut Kalea. Tapi Kalea? Cewek bermata biru itu benar-benar membuang wajahnya kaku, menolak keras untuk menatap ke arah Radit sepeser pun.
Radit tidak marah, dia justru mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat manis di bibir tampannya, memamerkan keindahan lesung pipinya secara samar. "Kalea..." panggil Radit dengan nada suara bariton yang rendah, lembut, dan terdengar penuh kehangatan emosi.
Kalea tidak menjawab. Dia tetap diam membeku laksana patung lilin, melipat kedua tangannya di depan dada dengan rahang yang mengeras menahan dongkol. Sifat keras kepala dan merajuknya benar-benar menyala total siang ini.
Melihat kerasnya hati sang pacar rahasia, tangan kanan Radit yang besar bergerak perlahan, mencoba meraih dan menggenggam erat jemari tangan mungil Kalea. Namun, baru saja kulit mereka bersentuhan, Kalea dengan gerakan refleks yang sangat cepat langsung menepis kasar tangan Radit menjauh dari tubuhnya. "Jangan pegang-pegang aku ya, Mas! Jaga batasanmu!" ketus Kalea sedingin es.
Radit menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, lalu terkekeh pelan. "Ya Allah, Kalea... Kamu benar-benar tega ya sama aku. Kemarin seharian aku nelpon kamu puluhan kali tapi nggak pernah kamu angkat. Pas aku cek tadi subuh, ternyata nomor pribadiku udah kamu blokir! Makanya siang ini aku nekat bolos jam dinas dari rumah sakit cuma buat datang ke hotel tempat kamu kerja ini. Aku takut kamu beneran mau ngilang dari hidupku setelah kejadian di mal bareng Natasha kemarin lusa."
Kalea akhirnya memutar tubuh tegapnya, menatap lurus ke dalam manik mata elang Radit dengan sepasang pandangan mata biru yang sangat tajam, datar, dan dipenuhi kabut kekecewaan yang mendalam akibat harga dirinya yang terluka. "Kalau emang kamu beneran mencintai aku seperti bicaramu di telepon malam itu, Mas... Tolong BUKTIKAN sekarang juga di depan aku! Jangan cuma pinter kasih janji manis di mulut, tapi kenyataannya kamu malah pasrah dipeluk dan difoto mesra bareng Natasha di butik itu! Aku bukan cewek bodoh yang gampang kamu kibulin pakai taktik darurat palsumu itu!"
Mendengar tantangan terbuka dan tuntutan kepastian hukum dari mulut Kalea, Radit bukannya terpojok atau marah. Sebaliknya, pria berusia 29 tahun itu justru langsung meledakkan sebuah senyuman lebar yang sangat menawan dan tulus memenuhi wajah tampannya. Radit menganggukkan kepalanya dengan gerakan yang mantap penuh percaya diri seutuhnya.
"Aku bakal buktiin, Kalea sayang. Aku janji demi nyawaku sendiri," ucap Radit, tatapan matanya mengunci jiwa Kalea penuh keseriusan romantis yang mendalam. "Aku sekarang lagi nyusun berkas rahasia bareng tim hukum buat ngebongkar seluruh kelicikan Natasha dan ngebatalin paksa perjodohan gila dari Mommy tanpa perlu bikin jantung Mommy drop lagi. Jadi tolong... Tolong jangan mendiamkan aku lagi kayak gini, dan tolong buka kembali blokiran nomorku setelah ini, ya? Aku bener-bener bisa gila kalau nggak denger suara bar-barmu seharian, Kalea."
Kalea yang mendengar kalimat rayuan manis itu sempat merasakan jantung wanitanya kembali berdegup sangat kencang dan liar di dalam rongga dada. Pipinya yang mulus mendadak merona merah merona tipis laksana kepiting rebus akibat salah tingkah luar biasa. Namun, demi menjaga wibawa manajernya, Kalea tetap memasang wajah ditekuk kaku. "Hm," jawab Kalea pendek, sangat acuh tak acuh.
Radit kembali meledakkan tawa renyah pertamanya, merasa gemas yang luar biasa besar menatap wajah merajuk Kalea yang menurutnya kelihatan sangat lucu dan menggemaskan laksana anak kecil. Tanpa memberikan aba-aba, tangan kekar Radit bergerak secepat kilat maju ke depan, lalu dengan gemas mencubit pelan pipi kiri Kalea yang tembam.
Cklek!
Kalea terkejut setengah mati akibat dicubit di depan umum, refleks melotot tajam menatap Radit sambil menepis tangannya lagi. "Heh! Dokter Sombong! Tanganmu lancang banget ya! Suka banget cubit-cubit pipi orang!"
Radit tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa lepas yang sangat puas terdengar merdu memenuhi seluruh sudut langit-langit ruangan. Radit dengan gesit langsung merangsek maju satu langkah mengikis jarak di antara mereka, mulai mengeluarkan rentetan kalimat gombalan romantis andalannya untuk mencairkan ketegangan batin wanita berhijab di depannya itu. "Hahaha! Abisnya kamu kalau lagi cemberut merajuk begitu kelihatan imut banget, Kalea sayang. Bikin aku makin nggak bisa berpaling ke cewek mana pun di dunia ini. Dengerin ya... Mau seberapa banyak cewek seksi kayak Natasha yang nempel, di mataku tetap cuma bayangan mata birumu yang paling bersinar indah di dalam ruang hatiku. I love you, Kalea sayang..."
PLAKKK!!!
"Iihh! Mas Radit!!! Diam nggak kamu?!" bentak Kalea salah tingkah setengah mati karena malunya udah mencapai ubun-ubun kepala. Demi membungkam mulut gombal Radit, Kalea mengangkat tangan mungilnya lalu memukul lengan kekar Radit dengan pukulan yang cukup keras.
"Aww!!! Aduh... Sakit banget, Kalea!" mengaduh Radit mendadak, memegangi lengan kanannya sambil menekuk wajah tampannya kaku laksana orang yang sedang menahan rasa sakit medis yang luar biasa hebat pasca-operasi.
Kalea yang melihat respon kesakitan Radit langsung tersentak panik. Sifat pedulinya mendadak bangkit, dan dia merasa benar-benar bersalah karena mengira pukulannya tadi terlalu keras menghantam lebam sisa pukulan Fandi kemarin. Kalea melangkah maju satu langkah, memegang lengan Radit dengan tangan gemetaran cemas. "Eh... Eh, ya ampun, Mas! Maaf, maaf banget! Aku nggak sengaja pukul sekencang itu! Mana yang sakit, Mas? Di sebelah sini ya? Tolong kasih tahu aku!"
Radit yang melihat kepanikan tulus dari mata biru Kalea langsung menarik sudut bibirnya, memunculkan seringai jahil kemenangan dalam hatinya. Pria itu mendadak menghentikan akting kesakitannya, lalu memindahkan tangan kanan Kalea dari lengan menuju tepat ke arah dada kirinya, menempelkan telapak tangan mungil Kalea di atas detak jantungnya yang berdegup kencang di balik kemeja hitamnya.
Radit menundukkan kepalanya sedikit, menatap lekat-lekat mata Kalea penuh getaran asmara yang luar biasa manis meluap-luap. "Di sini yang sakit, Kalea sayang... Hatiku yang bener-bener sakit luar biasa selama dua hari ini gara-gara kamu nggak mau komunikasi, nggak mau angkat telpon, dan tega blokir nomorku setelah kejadian di mal waktu itu bareng Natasha. Rasanya pasokan oksigen di hidupku langsung habis total kalau kamu diemin kayak begini."
DEG!!!
Mendengar karangan taktik romantis bercampur gombalan tingkat akut keluar dari mulut pria sekaku Radit, Kalea seketika melongo sempurna selama tiga detik sebelum akhirnya tersadar kalau dia baru saja dijebak oleh akting palsu suaminya masa depan tersebut. Kalea langsung menarik tangannya kasar dengan wajah yang semakin memerah padam menahan malu bercampur gemas. "Ih!!! Dokter Sombong!!! Kamu bener-bener licik banget ya! Bisa-bisaan akting pura-pura sakit jantung di depan aku!"
Radit kembali terkekeh geli menikmati kepuasan menjahili pacar rahasianya. Memang benar, sudah dua hari penuh mereka benar-benar kehilangan kontak dan tidak berkomunikasi sama sekali setelah keributan butik mal waktu itu, membuat menit-menit di lobi hotel siang ini terasa begitu berharga mengikis seluruh rasa rindu di batin Radit.
Radit melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul dua belas lewat lima belas menit siang. "Udah jam makan siang nih, Kalea sayang. Perutku udah keroncongan banget dari subuh belum kemasukan makanan karena mikirin kamu terus. Yuk, aku ajak kamu makan siang berdua di restoran hidangan laut terdekat dari sini, nggak ada penolakan ya."
Kalea menatap ketulusan dan binar kelaparan di mata elang Radit, lalu setelah mengembuskan napas panjang penuh kepasrahan yang manis, dia akhirnya menganggukkan kepalanya perlahan dengan seulas senyuman manis yang kembali merekah indah di bibir ranumnya. "Ya udah, iya... Kebetulan aku juga lagi laper banget setelah urusan Fandi tadi. Tapi kamu yang bayar ya, Mas."
"Tentu saja, calon istriku tercinta," jawab Radit tersenyum manis penuh kemenangan.
Radit dengan gerakan yang sangat tegap langsung merapatkan tubuh jangkungnya, menuntun langkah tegap Kalea berjalan beriringan menerobos pintu kaca lobi menuju ke arah parkiran mobil mewahnya dengan suasana batin yang kian mencair dipenuhi getaran asmara yang nyata.
...****************...
Fandi Achmad Mahendra melangkah keluar dari lobi Hotel Grand Luminance dengan napas memburu menahan murka. Diusir oleh empat petugas sekuriti atas perintah Radit benar-benar meremukkan seluruh harga diri dan egonya. Begitu kakinya menginjak area pedestrian luar dekat parkiran yang agak sepi, Fandi meluapkan emosinya dengan menendang sebotol kaleng minuman kosong di atas aspal jalanan.
"Sialan kau, Raditya Evan Baskara! Urusan kita belum selesai!" maki Fandi dengan suara serak menahan geram.
Kloncleng... Puk!
Botol kaleng yang ditendang Fandi terbang melesat cepat, lalu tanpa terduga mendarat tepat menghantam tumit sepatu hak tinggi seorang wanita cantik berpenampilan super seksi yang baru saja turun dari mobil sportnya. Wanita itu tidak lain adalah Natasha Olivia Renata. Natasha yang terkejut langsung memutar tubuh seksinya, menatap tajam ke arah dari mana botol itu berasal.
"Heh! Siapa sih yang berani lempar-lempar sampah—" Kalimat Natasha mendadak terputus. Sepasang matama membelalak sempurna, begitu pula dengan Fandi yang ikut mematung kaku di tempat berdiri mereka.
"Fandi?!" tanya Natasha dengan nada suara yang sangat terkejut, menurunkan sedikit kacamata hitamnya.
"Natasha?!" balas Fandi tidak kalah syok, meneliti penampilan seksi Natasha dari atas sampai bawah.
Ya, dua anak manusia ini benar-benar sudah saling mengenal satu sama lain secara mendalam sejak lama! Selama ini, publik hanya tahu Fandi adalah manajer di perusahaan pialang saham keluarga Wijaya, namun tidak ada yang tahu kalau jauh sebelum itu, Fandi juga memegang posisi strategis sebagai Manajer Keuangan di perusahaan besar milik Hendra Sanjaya, papanya Natasha.
Di tempat kerja itulah, rahasia kelam bermula. Fandi dan Natasha sudah sering tidur bersama, berbagi kehangatan di sela-sela urusan dinas luar kota maupun luar negeri, jauh sebelum Fandi menikahi Fitri dua tahun lalu. Hubungan terlarang itu tersimpan sangat rapi; bahkan Fitri selama menjadi istrinya benar-benar kaku tertutup dan tidak tahu apa-apa, apalagi Shinta yang gampang dibodohi oleh kata-kata manis buatan Fandi.
Fandi menatap lekat ke arah dada Natasha yang agak menonjol di balik crop top ketatnya, membuat air liur di tenggorokannya mendadak mengering. Pengaruh gairah kotor seketika bangkit merusak akal sehatnya. Fandi melangkah mendekat, menurunkan nada suaranya menjadi bisikan penuh rahasia. "Natasha... lama banget ya kita nggak ketemu berduaan semenjak proyek luar negeri itu. Omong-omong... gimana kabar tentang anak itu?"
Natasha tersenyum tipis, mengendikkan kedua bahu seksinya dengan gerakan acuh tak acuh. "Anak yang mana? Oh, bayi itu? Dia aman kok."
Sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur hidup-hidup oleh mereka berdua dari dunia luar akhirnya terkupas siang ini. Sewaktu dinas di luar negeri satu tahun lalu, Natasha hamil dan melahirkan seorang bayi laki-laki hasil hubungan luar nikah bersama Fandi. Mereka tidak pernah menikah. Karena takut karir modelling Natasha hancur dan status Fandi di keluarga Wijaya terancam, mereka berdua kompak menolak merawat darah daging mereka sendiri. Tanpa sepengetahuan Hendra Sanjaya maupun Larasati, bayi laki-laki yang kini berusia 3 bulan itu diberi nama Elvano Mahendra dan langsung dibuang, dibawa secara sembunyi-sembunyi ke sebuah panti asuhan terpencil di pinggiran kota.
Semua orang tidak ada yang tahu. Mereka menutupinya dengan rapat. Fakta kelam inilah yang sebenarnya bikin Fandi tempo hari begitu lancang meneriaki Fitri sebagai wanita mandul yang tidak bisa memberi keturunan di depan Hermawan, karena di dalam kepalanya, Fandi merasa egonya tinggi sebab sudah terbukti punya anak laki-laki bersama Natasha yang memakai nama belakangnya sendiri!
"Natasha... aku bener-bener lagi pusing dan stres banget hari ini," ucap Fandi dengan pandangan mata mesumnya yang kian liar mengunci dada Natasha. "Boleh nggak... aku mau minum susumu sekarang? Aku butuh ketenangan."
Natasha yang dasarnya juga memiliki moralitas yang longgar, justru tersenyum genit mendapat permintaan mesum Fandi. Dia sengaja membusungkan buah dadanya ke depan wajah Fandi dengan gaya memprovokasi berahi. "Ih, Fandi... kamu kok langsung nafsuan banget sih pas ketemu aku? Kamu nggak mau ajak aku sewa kamar di hotel depan itu aja biar lebih nyaman?"
"Nggak usah ke hotel! Kelamaan! Cari tempat sepi di sudut taman parkiran belakang sana aja, yuk!" jawab Fandi penuh gairah yang sudah tidak bisa ditahan lagi.
Natasha terkekeh manja, lalu melangkah mengekor di samping Fandi menuju ke area sudut taman belakang yang sunyi, teduh, dan tertutup oleh rimbunnya pepohonan palem yang jarang dilewati orang. Begitu tubuh mereka berlindung di balik tembok semen yang sepi, Fandi langsung merangsek maju. Tanpa membuang waktu sepeser pun, Fandi langsung membekap kasar tubuh Natasha, mencium bibirnya dengan sangat liar, lalu tangannya bergerak cepat menyingkap pakaian Natasha demi memuaskan hasrat kotornya untuk meminum susu dari buah dada Natasha siang itu. Natasha mendesah pelan, membiarkan kemaksiatan itu terjadi di area terbuka.
Namun, di sela-sela pergumulan liar penuh kebusukan moral yang mereka lakukan di sudut sepi tersebut, Fandi dan Natasha benar-benar melakukan kesalahan terbesar dalam hidup mereka.
Tepat di balik celah semak-semak tanaman hias yang berjarak hanya tiga meter dari posisi mereka, berdiri sesosok pria misterius berpakaian serba hitam. Sepasang mata tajam milik pria itu menatap lurus ke arah adegan mesum Fandi dan Natasha dengan pandangan yang sangat dingin. Tangan kanannya dengan sangat tenang memegang sebuah ponsel pintar, mengarahkan lensa kamera beresolusi tinggi untuk MEREKAM seutuhnya setiap detik adegan menjijikkan dan percakapan rahasia tentang anak panti asuhan mereka tanpa terlewat satu senti pun.
Pria misterius itu menarik sudut birunya ke samping, mengulas sebuah senyuman sinis yang sangat lebar, dingin, dan dipenuhi oleh kilatan taktik kemenangan balas dendam yang mutlak dalam hatinya.
"Fandi... Natasha... kalian bener-bener manusia berhati iblis yang udah menggali lubang kubur kalian sendiri siang ini," batin pria itu bersorak puas.
Dia menyimpan kembali ponselnya dengan aman ke dalam saku, lalu membalikkan tubuh tegapnya melangkah pergi melesat senyap meninggalkan area taman tanpa menimbulkan suara, membawa rekaman maut yang dipastikan bakal jadi bom waktu paling mengerikan buat menghancurkan mereka berdua.