NovelToon NovelToon
Sekretaris Kaku VS CEO Random

Sekretaris Kaku VS CEO Random

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rara_R

Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.

​Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Aroma roti panggang yang mulanya menggugah selera di dapur bersih itu kini berbaur dengan atmosfer taktis yang mendadak pekat. Kabar mengenai tuntutan RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa) dari sisa-sisa faksi Pak Baskoro bukanlah sesuatu yang bisa diremehkan. Di dunia korporat skala raksasa seperti Baskara Group, sebuah mosi evaluasi jabatan CEO bisa menjadi senjata pemusnah massal jika tidak diredam sejak dini.

Kirana melangkah mundur satu langkah, mengambil tablet kerjanya yang tergeletak di dekat meja bar. Jemarinya bergerak dengan kecepatan yang konstan, membuka bagan kepemilikan saham terbaru korporasi.

"Faksi Pak Baskoro yang tersisa menguasai sekitar 12% hak suara melalui konsorsium fiktif dan beberapa komisaris independen yang dulu mereka suap," Kirana memulai analisisnya tanpa perlu diminta, suaranya kembali ke intonasi profesional yang presisi. "Secara regulasi, 12% tidak cukup untuk langsung mendepak Anda dari kursi Direktur Utama. Namun, jika mereka berhasil menghasut para pemegang saham publik dan institusi asing dengan narasi pelanggaran kode etik, mereka bisa menggalang suara hingga mencapai batas kritis empat puluh persen".

Radit mengambil cangkir kopinya, menyesap isinya perlahan sambil ikut memperhatikan layar tablet yang disodorkan Kirana. Pria itu tampak tenang, seolah ancaman RUPSLB ini hanyalah interupsi kecil di hari Sabtunya.

"Mereka menggunakan dalih Good Corporate Governance (GCG)," Radit mendengus, seutas senyum meremehkan muncul di wajahnya. "Lucu sekali melihat orang-orang yang selama ini memakan uang suap dari Baskoro tiba-tiba bicara tentang kode etik dan tata kelola perusahaan yang bersih".

"Mereka sedang terdesak, Radit. Ini adalah bentuk mekanisme pertahanan terakhir mereka. Jika Anda jatuh, mereka punya kesempatan untuk menunjuk CEO sementara dari kubu mereka dan menghentikan penyelidikan internal terkait aliran dana ilegal Baskoro," Kirana menatap Radit sambil menyesuaikan letak kacamatanya. "Kita harus mengunci suara mayoritas sebelum hari Senin tiba".

Radit meletakkan cangkirnya, lalu menopang tubuhnya dengan kedua tangan di atas konter marmer, menatap Kirana dengan binar mata yang kembali tajam dan fokus.

"Ibu memegang 25% saham pendiri. Aku pribadi memiliki 8%. Secara total, keluarga inti kita menguasai tiga puluh tiga persen. Kita butuh setidaknya dua puluh persen lagi untuk mengamankan posisi mutlak yang tidak bisa diganggu gugat oleh mosi mana pun".

"Dan pemegang saham institusi terbesar di luar keluarga besar Baskara adalah Arwana Fund," sela Kirana cepat. "Mereka memiliki 18% saham. Dan pemegang saham mayoritas dari Arwana Fund saat ini adalah..." Kirana menjeda kalimatnya, ekspresinya mendadak berubah agak rumit.

"Wira Atmajaya," lanjut Radit, menyelesaikan kalimat Kirana. Pria itu menghela napas pendek. "Mantan tunanganmu yang gagal, sekaligus pria yang hampir menjebakmu dalam pernikahan bisnis demi aset Arwana Property sepuluh tahun lalu".

Suasana dapur mendadak sunyi sejenak. Menyebut nama Wira Atmajaya seperti membuka kembali lembar sejarah lama yang tidak menyenangkan bagi Kirana. Setelah kejatuhan ayah Kirana, keluarga Atmajaya adalah orang pertama yang membatalkan pertunangan secara sepihak dan ikut menjarah sisa-sisa aset Arwana Property. Kini, roda nasib membawa mereka kembali ke titik di mana Wira Atmajaya memegang kunci keselamatan karier Radit.

Radit berjalan mendekati Kirana, mengikis jarak di antara mereka hingga dia bisa meraba ketegangan yang kembali merayap di bahu wanita itu. Radit mengulurkan tangan, menggenggam lembut tangan Kirana yang memegang tablet.

"Kamu tidak perlu menemui dia jika kamu tidak mau, Kirana," ujar Radit, suaranya melembut, penuh dengan nada protektif seorang pria. "Aku bisa menghadapi Wira sendirian di meja negosiasi".

Kirana menatap tangan Radit yang menggenggamnya, lalu mendongak menatap sepasang mata tegas di depannya. Ketakutan sesaat itu menguap, digantikan oleh ketangguhan yang menjadi alasan mengapa Radit jatuh cinta kepadanya.

"Tidak, Radit," Kirana menggelengkan kepalanya dengan mantap. "Wira Atmajaya adalah tipe oportunis sejati. Jika Anda mendatanginya sendirian, dia akan menaikkan harga sahamnya setinggi langit karena tahu Anda sedang terdesak. Tapi jika saya ikut bersama Anda... saya tahu persis kartu as apa yang dia sembunyikan di bawah mejanya. Kita akan mendatanginya sebagai satu tim".

Radit menatap Kirana lama, sebelum akhirnya sebuah seringai bangga terukir di wajah tampannya.

"Baiklah. Aturan Baru Pasal 2: Kita selalu menghadapi musuh bersama-sama".

___

Sabtu sore, pukul empat. Hujan sisa semalam telah sepenuhnya reda, meninggalkan hawa sejuk di sebuah klub golf eksklusif di kawasan Bogor. Tempat ini adalah area privat di mana Wira Atmajaya biasa menghabiskan akhir pekannya bersama para kolega bisnis kelas atas.

Wira Atmajaya, seorang pria berusia pertengahan tiga puluhan dengan penampilan narsis dan rambut klimis, sedang duduk di area lounge VIP luar ruangan saat Radit dan Kirana berjalan mendekat diantar oleh pelayan klub.

Wira menurunkan cangkir tehnya, matanya seketika melebar saat melihat sosok Kirana yang berjalan anggun di samping Radit Baskara. Ada kilat keterkejutan, yang kemudian dengan cepat digantikan oleh senyuman sinis yang meremehkan.

"Wah... Wahh. .. lihat siapa yang datang ke tempat terpencil ini," Wira bangkit berdiri, merapikan kaus polo mahalnya. Dia mengulurkan tangan kepada Radit, lalu beralih menatap Kirana dengan pandangan menilai yang tidak sopan. "Pak Raditya Baskara. Dan... Kirana. Sudah lama sekali ya, Kirana? Kamu terlihat jauh lebih... profesional sekarang, berbeda dengan sepuluh tahun lalu saat kamu menangis di depan rumahku memohon bantuan hukum untuk ayahmu".

Radit yang mendengar kalimat itu langsung merasakan rahangnya mengeras. Langkah kakinya maju setengah langkah, aura intimidasinya mendadak naik drastis, siap untuk membungkam mulut Wira saat itu juga. Namun, sebelum Radit sempat bertindak, Kirana dengan tenang menyentuh lengan Radit, memberikan isyarat halus agar menahan diri.

Kirana melangkah maju, menatap Wira dengan pandangan yang sedingin es di balik lensa kacamatanya.

"Waktu mengubah banyak hal, Pak Wira Atmajaya," ujar Kirana dengan nada suara yang sangat stabil dan datar, seolah hinaan Wira barusan hanyalah debu yang lewat. "Termasuk fakta bahwa hari ini, kami ke sini bukan untuk memohon bantuan Anda, melainkan untuk menawarkan Anda sebuah kesepakatan bisnis yang akan menyelamatkan Arwana Fund dari kebangkrutan massal akibat investasi bodong di proyek superblok Pak Baskoro".

Senyuman sinis di wajah Wira seketika membeku. Dia buru-buru menoleh ke sekeliling, memastikan tidak ada anggota klub lain atau pelayan yang mendengar ucapan Kirana.

"Apa maksudmu, Kirana? Jangan bicara sembarangan!" desis Wira, suaranya mendadak turun beberapa oktaf menjadi panik.

Radit mengambil alih pembicaraan, menyandarkan tubuh tegapnya pada kursi rotan di depan Wira dengan sikap yang sangat dominan.

"Sekretaris saya tidak pernah bicara tanpa data, Wira. Silakan duduk, dan mari kita bicara seperti pria dewasa yang memegang kendali atas miliaran dolar".

Wira perlahan duduk kembali, wajah narsisnya kini tampak sedikit tegang. Kirana meletakkan tablet kerjanya di atas meja, menampilkan salinan dokumen audit rahasia yang telah dia siapkan bersama tim keuangan khusus sejak tadi siang.

"Arwana Fund diam-diam menyuntikkan dana sebesar lima puluh juta dolar ke dalam proyek anak perusahaan Baskara Group yang dikelola secara pribadi oleh Pak Baskoro di koridor timur," Kirana membacakan data tersebut dengan kejam. "Uang itu ditransfer melalui rekening bayangan di Cayman Islands. Dengan ditangkapnya Pak Baskoro oleh kepolisian siber kemarin siang, seluruh aset dan proyek di bawah kendalinya resmi dibekukan oleh negara. Jika posisi Raditya Baskara sebagai CEO digoyang melalui RUPSLB, proyek itu akan dinyatakan gagal total, dan Arwana Fund harus melakukan write-off (penghapusan buku) atas seluruh investasi tersebut besok pagi. Apakah Anda siap menjelaskan kerugian lima puluh juta dolar itu kepada dewan komisaris Anda sendiri hari Senin nanti, Pak Wira?"

Wira Atmajaya menatap layar tablet itu dengan mata melotot. Keringat dingin mulai tampak di pelipisnya. Dia tahu betul bahwa Kirana tidak menggertak. Sebagai sekretaris utama Baskara Group, akses Kirana terhadap data internal perusahaan adalah hal yang mutlak.

"K-kalian... dari mana kalian mendapatkan dokumen transfer ini?" tanya Wira dengan suara bergetar.

"Itu tidak penting," sela Radit dingin. Pria itu memajukan tubuhnya, menatap Wira dengan pandangan yang mengunci. "Pilihannya sekarang ada di tanganmu, Wira. Ikut bersama sisa-sisa faksi Baskoro yang sudah tenggelam untuk menjatuhkanku di RUPSLB, dan bersiaplah melihat Arwana Fund hancur bersamanya. Atau, serahkan 18% hak suaramu padaku hari ini juga untuk mengunci posisi mayoritas mutlak".

Wira menelan ludah dengan susah payah. Dia melirik Kirana, lalu beralih ke Radit. Dia tahu dia tidak punya pilihan lain. Di dunia bisnis, tidak ada tempat untuk ego masa lalu jika taruhannya adalah kehancuran finansial.

1
paijo londo
q salut sama keterusterangan Kirana tentang masa lalunya yg kelam tnpa kebohongan untuk mengatakan yg sebenarnya pada Radit itu yg membuat mereka kompak dan kerjasama mereka jadi sukses💪💪💪
paijo londo
🤔🤔q yakin pasti itu paman Radit yg pengen depak Radit dari posisi ceo
paijo londo
ternyata oh ternyata sifat random Radit menurun dari nyonya Sofia y🤭🤭
paijo londo
tuh kan Radit bos yg benar2 ajaib sifatnya🤭🤭🤭paling2 yang setress sekertarisnya karena hidupnya yg teratur jadi jungkir balik kenak mental karna Radit 🤣🤣
paijo londo
mampir thor biasanya kalo q baca novel lainnya yg bersifat ksku kayak kanebo kering tuhosnya ya🤔🤔laaa ini kebalik yg sifatnya ajaib tuh malah bosnya yg kyak kanebo kering sekertarisnya unik banget moga ceritanya seunik sifat bosnya y yang penuh keajaiban🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!