"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23.Sketsa yang menjadi bukti.
Suasana di ruang forensik terasa semakin dingin dan mencekam, bukan hanya karena suhu ruangan yang memang diatur rendah, tapi juga karena rasa heran dan kebingungan yang kini menyelimuti benak Rian. Matanya masih terpaku lekat-lekat pada wajah jenazah Riza Amalia yang terbaring kaku di atas meja baja itu. Setiap lekuk wajah, bentuk mata yang sedikit melotot karena rasa sakit terakhir, hingga letak tahi lalat kecil di dekat sudut bibir kanan wanita itu… semuanya persis sama, seratus persen identik dengan gambar yang ada di buku sketsa Salsa tadi pagi.
Jantung Rian berdegup tak beraturan. Ia perlahan mengangkat tangan kanannya, masuk ke dalam saku jaket kulit tebal yang masih ia kenakan. Di sana, terlipat rapi selembar kertas yang tadi sempat ia sobek dari buku sketsa itu sebelum bergegas pergi, berniat untuk mempelajarinya lebih lanjut di kantor nanti. Tangannya terasa sedikit gemetar saat mengeluarkan kertas itu dan membukanya perlahan di hadapan wajah Bobby.
Garis pensil yang rapi, detail, dan sangat hidup itu kini tergeletak di tangannya. Gambar wajah Riza yang digambar Salsa semalam, seolah menatap balik ke arah mereka berdua.
"Ini… lihat baik-baik, Bob," ucap Rian pelan, suaranya terdengar berat dan penuh tanya.
Bobby yang awalnya hanya berdiri santai sambil memegang buku catatan, kini mencondongkan tubuhnya mendekat. Pandangannya jatuh ke atas kertas di tangan Rian. Detik berikutnya, mata Bobby membelalak lebar seolah mau copot dari tempatnya, mulutnya terbuka sedikit tak percaya. Ia menatap bergantian antara gambar di tangan Rian dan wajah jenazah yang ada di hadapannya. Berkali-kali ia menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan bahwa matanya tidak salah lihat.
"Ya ampun…!" seru Bobby dengan suara tertahan, tangannya menunjuk-nunjuk ke arah sketsa itu. "Pak… ini… ini persis sama! Sama banget kayak yang ada di meja itu! Bahkan tahi lalat kecilnya pun ada di sini… Seakan gambar ini hidup, Pak! Seakan pelukisnya melihat korban ini langsung dengan matanya sendiri! Dari mana Bapak dapat gambar ini? Ini… ini luar biasa akuratnya!"
Rian menghela napas panjang, lalu mengembuskan perlahan. Ia sudah menduga reaksi Bobby akan seperti ini. "Dapat dari adik saya," jawabnya singkat dan hati-hati.
Mata Bobby berbinar penuh rasa ingin tahu, wajahnya berubah antusias seolah baru saja menemukan petunjuk emas dalam kasus pelik. "Adik Bapak? Rani maksud Bapak? Wah, nggak nyangka adik Bapak jago gambar begini! Pantas saja Rani pintar, ternyata bakat seni juga ada. Tapi… kok bisa dia gambar orang yang baru ditemukan mati pagi ini, Pak? Apa dia kenal sama korban?"
Rian segera menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bukan Rani. Bukan dia."
"Terus siapa?" Bobby semakin bingung, alisnya bertaut rapat.
"Dari adik sepupu saya. Namanya Salsa. Dia baru datang ke kota ini kemarin sore, tinggal di rumah ku. Dia yang menggambar ini semalam," jawab Rian menjelaskan seperlunya, berusaha menjaga nada bicaranya tetap tenang dan biasa saja.
Ada satu hal yang paling penting dan harus dijaga Rian saat ini 'rahasia pernikahan mereka'. Ia sangat tahu betul sifat Bobby. Rekannya ini memang baik dan setia kawan, tapi mulutnya… ibarat ember yang bocor. Sekali saja Bobby tahu bahwa gadis bernama Salsa itu bukan sekadar adik sepupu, melainkan istri sah Rian, maka dalam waktu satu jam saja, satu kantor polisi besar ini sudah pasti akan heboh membicarakannya. Gosip tentang pernikahan mendadak seorang perwira polisi dengan gadis yang jauh lebih muda akan menjadi topik hangat, dan itu pasti akan membuat Salsa tidak nyaman. Ia tidak ingin istrinya menjadi bahan pembicaraan dan bisik-bisik tidak penting di tempat kerjanya.
Bobby masih menatap sketsa itu dengan tatapan takjub bercampur heran. "Hah? Adik sepupu? Baru datang kemarin? Terus kok dia bisa gambar wajah korban yang hilang sebulan lalu dan baru ketemu sekarang? Ini aneh banget, Pak. Ini bisa jadi petunjuk besar lho! Kita harus tanya langsung sama dia, dari mana dia tahu wajah korban ini!"
"Nanti saja. Sekarang fokus kita ke penyebab kematian dan jejak pelakunya dulu," potong Rian tegas, lalu melipat kembali kertas itu dan memasukkannya kembali ke dalam saku jaketnya. Ia berusaha mengalihkan perhatian rekannya itu. "Tentang gambar ini nanti akan saya selidiki sendiri. Sekarang, coba cek lagi laporan forensiknya. Ada barang apa saja yang hilang dari korban? Apakah ada bekas lain yang terlewat? Dan cari tahu hubungan korban dengan orang-orang terdekatnya. Mulai dari keluarga, teman kerja, sampai tetangga kostnya. Jangan ada yang terlewat."
"Siap, Pak!" jawab Bobby, meski masih terlihat penasaran setengah mati, namun ia tahu kapan harus berhenti bertanya. Ia pun kembali sibuk mencatat data-data di bukunya.
Sementara Rian berdiri diam di sana, menatap jenazah Riza dengan pandangan yang semakin rumit. Ada sesuatu yang tidak beres di sini, sesuatu yang rasionalitasnya sebagai polisi sulit menerima. Namun bukti nyata ada di tangannya. Salsa… gadis itu pasti menyimpan rahasia besar. Dan rahasia itu tampaknya berhubungan erat dengan kasus-kasus kematian yang misterius.
Di Sekolah SMA Wijaya Utama
Suasana kelas terasa hidup dan hangat. Setelah Bu Anita selesai memperkenalkan Salsa dan duduk di kursi guru, jam pelajaran dimulai, namun di sela-sela waktu istirahat pendek di antara pergantian mata pelajaran, Salsa langsung dikerumuni oleh teman-teman sekelasnya, terutama Rani dan dua sahabat karibnya.
Rani memang gadis yang sangat ramah dan mudah bergaul. Ia langsung merangkul bahu Salsa seolah mereka sudah berteman akrab selama bertahun-tahun.
"Nah, Sal, kenalin nih! Ini Mery, dan ini Lusi. Mereka berdua sahabat aku sejak TK lho! Kita bertiga nggak pernah terpisahkan, dan sekarang ada kamu, kita jadi berempat! Asik banget kan?" seru Rani ceria.
Mery dan Lusi tersenyum ramah sambil mengulurkan tangan. Keduanya memiliki penampilan yang sangat rapi, bergaun seragam yang terlihat mahal dan pas di badan, rambut mereka ditata rapi dengan aksesori berkilau. Jelas sekali terlihat dari cara bicara, penampilan, dan wibawa mereka bahwa keduanya berasal dari keluarga terpandang, setara bahkan mungkin lebih berada dibandingkan keluarga Wijaya.
"Hai Salsa! Salam kenal ya. Rani udah cerita banyak soal kamu. Katanya kamu pindahan dari desa, tapi nilai-nilainya luar biasa banget sampai langsung diterima di sini," ucap Mery dengan nada lembut dan sopan.
"Iya, Rani bilang kamu pintar banget. Senang banget bisa kenalan sama kamu," sambung Lusi sambil tersenyum manis.
Salsa merasa sangat lega dan senang. Ia khawatir akan dianggap aneh atau dijauhi karena latar belakangnya, tapi ternyata teman-teman barunya ini sangat baik. "Salam kenal juga, Mery, Lusi. Makasih ya udah mau terima aku. Aku masih banyak nggak tahu soal suasana di sini, jadi tolong bantuannya ya," jawab Salsa tulus dengan senyum polosnya.
Mereka berempat pun mengobrol dengan akrab, membahas hal-hal ringan mulai dari pelajaran, kegiatan sekolah, hingga hobi masing-masing. Suasana begitu menyenangkan, sampai tiba-tiba bulu kuduk Salsa meremang seketika.
Di samping kiri Mery, tepat di samping bahu gadis kaya itu, udara seolah berubah menjadi lebih dingin dan berat. Kabut tipis berwarna kelabu perlahan terbentuk, dan dari kabut itu, muncullah sesosok tubuh yang agak tembus pandang, berjalan perlahan lalu berdiri diam di sana.
Adalah seorang nenek tua. Pakaiannya lusuh dan kuno, rambutnya putih semua dan diikat asal, wajahnya penuh keriput namun terlihat tegas dan cemas. Nenek itu menatap tajam ke arah Mery, lalu perlahan memutar kepalanya menatap tepat ke arah Salsa.
Mata mereka bertemu.
Jantung Salsa seakan berhenti berdetak. Ia langsung membuang muka dengan cepat, mengalihkan pandangannya ke arah papan tulis di depan. Ia berusaha pura-pura tidak melihat apa-apa, berusaha mengabaikan sosok nenek itu. Jangan muncul sekarang, jangan bicara sekarang, batin Salsa berdoa dalam hati. Ia berjanji pada dirinya sendiri di pagi hari tadi, di sekolah ia akan menjadi siswa biasa, tidak akan berurusan dengan hal-hal gaib, tidak akan melakukan "detektif hantu" di sini. Ia ingin hidup tenang dan normal seperti remaja lainnya.
Namun, sosok nenek itu tidak bergeming. Ia tetap berdiri di sana, tepat di sebelah Mery, dan bibirnya bergerak-gerak mengeluarkan suara yang hanya bisa didengar oleh Salsa saja.
"Anak muda… kamu bisa melihatku, kan? Aku tahu kamu bisa. Tolong… sampaikan pesanku pada gadis ini, pada cucuku Mery…"
Suara itu berat, bergetar, dan penuh kekhawatiran, bergema langsung di dalam kepala Salsa.
Salsa semakin tidak nyaman. Ia mencoba berpaling ke arah lain, tapi sosok itu tetap ada, semakin mendekat, wajahnya semakin terlihat cemas dan memohon.
"Jangan biarkan hak warisnya jatuh ke tangan ayahnya! Mereka berencana membalikkan nama surat tanah dan asetnya hari ini juga, memindahkannya ke nama anak perempuan istri mudanya. Kalau sampai itu terjadi, Mery akan miskin dan tersakiti seumur hidupnya! Sampaikan… sampaikan pesan ini, Nak… sebelum semuanya terlambat!"
Rasa cemas nenek itu menular ke dalam hati Salsa. Ia mengerti betul pesan apa yang ingin disampaikan, dan betapa pentingnya hal itu bagi masa depan Mery. Namun dilema besar kini menggerogoti hatinya.
Jika ia menyampaikan pesan itu, bagaimana caranya? Dengan cara seperti "Eh Mery, tadi ada nenek nenek di sebelah kamu bilang jangan kasih hak waris ke ayahmu"? Sudah pasti Mery, Rani, Lusi, dan semua teman sekelasnya akan menganggapnya gila, menganggapnya orang aneh yang suka mengarang cerita halusinasi. Ia baru saja diterima dengan baik, baru saja mendapatkan teman, dan ia bisa saja langsung dijauhi dan dicemooh.
Tapi jika ia diam saja… sosok nenek itu jelas tidak akan pergi. Ia akan terus mengikuti, terus berbisik, terus mengganggu ketenangannya. Dan yang lebih berat di hati nurani Salsa ialah ia tahu bahaya apa yang sedang mengancam sahabat barunya itu, tapi ia diam saja. Itu sama saja membiarkan Mery celaka.
Salsa menggigit bibir bawahnya pelan. Matanya melirik sekilas ke arah Mery yang sedang tertawa riang bersama Rani dan Lusi, sama sekali tidak tahu bahaya apa yang sedang mengintai masa depannya.
Dengan napas panjang, Salsa pun memberanikan diri. Ia memutuskan mengambil risiko, apa pun konsekuensinya nanti.
"Ehm… Rani, Mery, Lusi… aku izin ke toilet sebentar ya," ucap Salsa tiba-tiba sambil berdiri buru-buru. Wajahnya terlihat sedikit pucat dan gelisah.
"Lho? Ada apa, Sal? Kamu pusing?" tanya Rani khawatir.
"Enggak kok, cuma mau ke toilet sebentar aja. Aku nyusul lagi nanti," jawab Salsa sambil tersenyum kaku, lalu berjalan cepat keluar dari kelas.
Ia berjalan menyusuri koridor yang agak sepi menuju toilet yang terletak di ujung lorong belakang, tempat yang sepi dan jarang dilewati orang. Di belakangnya, sosok nenek itu mengikuti dengan melayang perlahan, terus berada tepat di belakang bahu Salsa.
Sesampainya di dalam bilik toilet paling belakang yang kosong dan terkunci rapat, Salsa akhirnya berhenti. Ia memutar badan dan menatap lurus ke arah sosok nenek itu yang kini berdiri tepat di depannya, menatapnya penuh harap.
"Baiklah… aku dengar. Apa lagi pesanmu?" bisik Salsa pelan, hanya cukup terdengar oleh arwah itu saja.
Nenek itu tersenyum lega, matanya berkaca-kaca penuh rasa terima kasih.
"Katakan padanya… suruh dia segera ambil surat-surat berharga di laci meja kerja mendiang ibunya. Dan jangan percaya satu kata pun dari mulut ayahnya atau ibu tirinya. Waktunya sedikit sekali, Nak. Tolong cucuku… tolong selamatkan dia dari kehancuran yang sudah disiapkan ayahnya sendiri."
Salsa mengangguk pelan, menghafal setiap kata itu dengan saksama. Hatinya berdebar kencang karena gugup.
"Aku janji akan kusampaikan. Tapi… aku nggak tahu mereka bakal percaya atau nggak sama aku," gumam Salsa pelan pada dirinya sendiri.
Dengan tekad yang sudah bulat, Salsa membuka pintu bilik itu kembali. Ia membenahi seragamnya, menarik napas panjang, dan berjalan keluar kembali menuju kelas. Ia tahu, saat ia kembali ke sana dan menyampaikan pesan itu, ia mungkin akan dianggap aneh, mungkin akan dijauhi. Tapi ia tidak peduli. Ia sudah berjanji pada kakeknya dulu, ia akan selalu menolong siapa saja yang membutuhkan, dari dunia mana pun mereka berasal.
Saat langkah kakinya mendekati pintu kelas kembali, Salsa menguatkan hatinya. Biarlah mereka menganggapku aneh. Asal sahabatku selamat, itu lebih penting, batinnya tegas.
Pintu kelas terbuka, dan semua mata kembali menatapnya. Kali ini, tatapan Salsa tidak lagi polos dan malu-malu. Ada ketegasan dan keberanian di dalamnya. Ia berjalan lurus menuju tempat duduknya, tepat di sebelah Mery, dan duduk sambil menatap tajam wajah gadis kaya itu. Saatnya bicara, dan saatnya mengambil risiko itu.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍