NovelToon NovelToon
VENA - AIR YANG MATI

VENA - AIR YANG MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Fantasi
Popularitas:147
Nilai: 5
Nama Author: Catnonimous

Aris hanyalah seorang petugas instalasi pipa bawah tanah yang dibayar murah untuk melakukan pekerjaan kotor yang dihindari semua orang. Namun, upah rendahnya tidak sebanding dengan apa yang ia temukan.
Seekor tikus yang berubah setelah meminum tetesan air dari pipa.
Tubuhnya mengeras lalu meledak tapi sisa tubuhnya masih bisa bergerak.
Apakah benar hanya tetesan air itu yang membuat tikus itu berubah?
Bagaimana dengan manusia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Catnonimous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 : Green Zone

Begitu berhasil melewati barikade kawat berduri, Aris, Liora, dan yang lainnya langsung diarahkan oleh petugas bersenjata menuju tenda paramedis untuk mengecek kondisi fisik mereka. Suasana di dalam pos kesehatan itu sangat sibuk. Bau cairan antiseptik menyengat hidung, bercampur dengan suara tangisan anak-anak.

Petugas medis segera membagikan botol-botol air mineral kepada mereka. Setelah melalui pemeriksaan singkat, hasil diagnosis dokter menunjukkan kondisi yang sama: mereka semua mengalami dehidrasi parah dan kelelahan fisik, namun beruntung tidak ada luka gigitan atau cakaran di tubuh mereka.

Aris langsung meneguk air botolnya dengan rakus. Rasa dingin air itu seolah membasahi tenggorokannya yang sudah kering selama berhari-hari di bawah tanah.

Di saat yang lain sedang memulihkan tenaga, rekan Rasyid nampaknya tidak ingin membuang waktu untuk beristirahat. Ia mendekati Rasyid dan membisikkan sesuatu, meminta izin untuk pergi memeriksa sebuah urusan yang sangat mendesak terkait perkembangan situasi di luar. Rasyid mengangguk pelan memberikan izin, dan detektif itu pun segera melangkah cepat meninggalkan area paramedis.

Aris menyandarkan punggungnya yang lelah ke tiang penyangga, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Di pos kesehatan ini, ia melihat bermacam-macam ekspresi wajah para warga yang berhasil di evakuasi. Ada warga yang hanya sekedar duduk diam mematung, ada yang saling mengobrol dengan suara berbisik yang cemas, dan tidak sedikit pula yang melamun menatap kosong ke lantai beton. Kehilangan dan ketakutan terpancar jelas dari mata mereka.

Setelah selesai diperiksa, Aris berjalan perlahan menuju pembatas ruangan. Dari posisinya, ia bisa melihat ke arah aula utama yang sangat luas. Di sana, ribuan warga berkumpul dan berlindung, tidur beralaskan tikar seadanya. Gedung megah yang dulunya adalah kantor pemerintah daerah kini telah dialihfungsikan sepenuhnya menjadi shelter atau tempat pengungsian darurat bagi masyarakat kota yang tersisa.

Liora berjalan mendekat, lalu duduk di samping Aris sambil memeluk lututnya. Ia menatap kerumunan pengungsi di aula dengan tatapan sedih.

"Aris... kenapa semuanya bisa berubah sekacau ini?" tanya Liora dengan suara pelan, hampir berbisik.

Aris hanya diam. Ia menatap botol air di genggamannya, lalu menggelengkan kepala perlahan. Ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa.

Bayangan tentang Dr. Stela, Axel, dan tangki-tangki air di bawah tanah membuat pikirannya terlalu penuh untuk bisa merangkai kata.

Tak lama setelah itu, Detektif Rasyid kembali muncul di area paramedis. Ia berjalan menghampiri tempat duduk mereka berdua dengan langkah yang tegas.

"Aris, Liora, ikut saya," panggil Rasyid dengan nada serius. "Ada orang yang harus kita datangi sekarang."

Aris dan Liora saling berpandangan sejenak. Dengan sisa tenaga yang ada, mereka berdua bangkit berdiri dan berjalan mengikuti langkah Rasyid membelah kerumunan pengungsi, menuju ke bagian dalam gedung parlemen yang dijaga ketat oleh aparat militer.

...----------------...

Mereka bertiga kemudian duduk di kursi yang sudah tersedia di dalam ruangan rapat yang disulap menjadi ruang komando taktis. Di seberang meja, mereka berhadapan langsung dengan kepala tim penanganan darurat kejadian ini, Kolonel Mirza. Aura di dalam ruangan itu terasa sangat formal dan menegangkan.

"Kolonel, ini Aris dan Liora," buka Rasyid memulai pembicaraan. "Mereka adalah dua relawan yang berhasil selamat dari area tanah amblas di proyek darurat dua minggu lalu."

Kolonel Mirza mengangguk, lalu memperkenalkan dirinya dengan singkat. Tanpa basa-basi, ia langsung menjelaskan, "Terima kasih sudah kooperatif. Ini bukan interogasi, kami hanya ingin menanyakan beberapa hal penting terkait situasi di luar dan apa yang sebenarnya terjadi pada kalian."

Rasyid kemudian mengambil alih pembicaraan. Ia menatap Aris dan Liora dengan serius. "Saya sudah mencari dan memeriksa apa pun yang berhubungan dengan kalian selama kalian hilang. Awalnya, saya sempat mencurigai kalian berdua terlibat dalam sesuatu yang ilegal. Tapi setelah beberapa bukti kami temukan, justru saya merasa kalian tahu sesuatu yang jauh lebih besar."

"Bukti apa maksud Anda?" tanya Liora dengan dahi berkerut, mulai merasa tidak nyaman.

Kolonel Mirza menimpali, "Tim kami telah menggeledah rumahmu, Liora. Di sana, kami menemukan rekaman CCTV, lembaran denah, catatan riset, dan beberapa kliping koran lama yang disimpan rapi. Sepertinya kamu sedang menyelidiki sesuatu."

"Denah itu... itu hanya bagian dari riset pribadi saya, Pak," jawab Liora membela diri.

"Lalu bagaimana dengan rekaman CCTV?" tanya Mirza tajam.

Aris segera menyela sebelum Liora tersudut. "CCTV itu milik toko Pak Jaya, Pak. Kami sengaja menyelamatkan perangkat rekamannya dari toko karena takut ada pihak lain yang menghapusnya.

Itu satu-satunya bukti kuat tentang kejanggalan kematian Pak Jaya."

Kolonel Mirza mangut-mangut, lalu melemparkan pertanyaan berikutnya. "Lalu, apa hubungan kalian dengan Dokter Ferdi? Apa yang kalian cari dari dokter Ferdi?"

Mendengar nama itu disebut, Aris dan Liora langsung terkejut. Ekspresi shock tidak bisa mereka sembunyikan.

"Dokter Ferdi sudah meninggal, Pak," jawab Aris dengan suara rendah.

Mendengar kalimat itu, baik Kolonel Mirza maupun Detektif Rasyid langsung terenyak di kursi mereka. "Meninggal? Bagaimana bisa?" tanya Rasyid kaget.

"Iya, Dokter Ferdi meninggal di bawah sana, di dalam bunker," Aris mulai menjelaskan dengan napas yang agak berat. "Di bawah kota ini ada fasilitas tersembunyi yang menyimpan hal-hal yang tidak bisa dicerna oleh akal sehat, Pak."

Secara bergantian dan rinci, Aris dan Liora menjelaskan semua hal gila yang mereka saksikan selama dua minggu terkurung. Mereka menceritakan keberadaan makhluk-makhluk cacat yang sama persis dengan yang menyerang kota saat ini, keterlibatan pria bernama Axel, kebangkitan Dr. Stela, hingga kesaksian mereka saat melihat Dokter Ferdi dieksekusi, serta kehadiran Walikota Yunus di dalam ruangan tersebut.

Rasyid tiba-tiba mengangkat tangannya, meminta Liora untuk berhenti menjelaskan sejenak. Wajah detektif itu tampak tegang, pikirannya terpaku pada dua nama: Stela dan Walikota Yunus.

Rasyid merogoh tasnya dan menyodorkan selembar kertas catatan yang mereka sita dari rumah Liora. Di kertas itu, nama Dr. Stela Hindenburg dilingkari dengan tebal. "Untuk Stela, ini cocok dengan risetmu, Liora. Tapi apa kaitan Walikota Yunus di bawah sana?" tanya Rasyid menuntut penjelasan.

"Walikota Yunus yang membawa Dokter Ferdi masuk ke dalam ruangan Stela malam itu," jawab Aris cepat. "Mereka berdua bicara tentang hasil tes laboratorium atau sampel zat tertentu. Saya tidak tahu pasti zat apa itu, tapi tampaknya itu adalah sesuatu yang sangat penting dan berharga bagi Stela maupun Walikota."

Kolonel Mirza mengernyitkan dahinya dalam-dalam. "Dr. Stela Hindenburg? Bukankah dari arsip sejarah, dokter itu sudah dinyatakan lama meninggal tahun 1980?"

"Dia tidak mati, Pak," sela Liora dengan mata berkaca-kaca menahan ngeri. "Sulit untuk dijelaskan, tapi yang pasti sekarang Dr. Stela memiliki kemampuan biologis yang sangat mengerikan. Dokter Ferdi mati di depan mata kami karena kepalanya ditembus oleh tentakel dari tangan wanita itu."

Rasyid lantas melemparkan pandangan menyelidik. "Kalau kalian melihat Walikota Yunus ada di dalam sana dan menyaksikan pembunuhan itu, kenapa tadi saat bertemu di jalan dia sama sekali seperti tidak mengenali kalian? Jangan sampai kesaksian ini berbalik menjadi bumerang yang menyudutkan kalian karena menuduh pejabat publik."

"Kami bersumpah, Pak!" tegas Aris, suaranya naik. "Walikota itu menemui Stela, membawa Ferdi, dan dia ada di sana menyaksikan Ferdi mati. Mungkin tadi dia terlalu panik karena pengawalnya habis dicabik-cabik makhluk di luar, makanya dia tidak memperhatikan wajah kami!"

Kolonel Mirza mengetukkan jarinya ke meja, menimbang-nimbang semua informasi yang baru saja ia dengar. Situasi ini jauh lebih rumit daripada sekadar serangan monster biasa; ada konspirasi politik dan eksperimen ilegal di dalamnya.

"Baiklah, cukup dulu untuk sekarang," potong Kolonel Mirza menyudahi sesi tersebut. "Kami menerima kesaksian kalian. Untuk sementara waktu, kami akan memantau ketat pergerakan dan situasi Walikota Yunus di dalam shelter ini secara diam-diam. Kalian berdua sudah melalui banyak hal, pergilah dan istirahat saja dulu."

...****************...

1
Anak_misterius😑
bagus novel nya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!