Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.
Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.
Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Di Bawah Langit Malam
Tanpa aba-aba, Arnold menarik kerah depan kemeja Teddy dengan satu tangannya. "Lalu, bagaimana denganmu yang hanya bisa berkhayal sampai akhir cerita?"
"Hei! Lepaskan Teddy! Kau mau main hakim sendiri, ya?!" jerit Leticya hendak keluar dari mobil, bergerak cepat hendak memukul lengan Arnold menggunakan tas desainer terakhir yang masih sempat ia bawa.
Namun, belum sempat Leticya menyentuh Arnold, sebuah lengan kekar lainnya menahan pergelangan tangan wanita itu dengan kasar.
"Heh, Nona Saudara Tiri! Jangan ikut campur urusan para pria! Kau itu terlalu ikut campur" potong Dev yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Leticya dengan senyum meremehkan. Dev dengan cekatan melirik ponsel yang masih digenggam erat oleh Leticya. "Dan ... terima kasih sudah menunjukkan di mana ponselnya."
Leticya menggeleng beberapa kali dengan cepat, segera menyembunyikan benda itu ke belakang. Namun, Dev telah terlebih dahulu menarik benda pipih itu.
"Hahah, ternyata kau setakut itu jika kedokmu terbuka, Pak Dokter ... hmmm, Tuan Muda Darmawan?" Teddy menepis kasar tangan Arnold yang masih mengunci dirinya.
"Lepaskan saja, dia. Bukan kah, kau telah mendapatkan semua yang kau inginkan?"
Arnold sedikit tersentak. Emang benar apa yang diucapkan Teddy. Sekarang, dia tak perlu lagi memusingkan harta yang kini telah berada sepenuhnya di tangannya.
'Melepas Zarisha? Tidak bisa!' batinnya menolak.
"Tak saya pungkiri semua yang kau katakan memang benar. Namun, saya memiliki banyak alasan untuk tetap mengikatnya sebagai istri saya,"ucap Arnold, berusaha menguasai dirinya sendiri.
Teddy menyipitkan mata, tentu saja dia tak percaya. "Alasan! Bilang saja kau ingin mengurungnya untuk dirimu sendiri! Biar kau bisa memanfaatkannya menutup kedokmu mengatakan pada dunia bahwa kau itu lelaki normal. Mana ada pria normal, terlebih lagi kau itu seorang ahli kejiwaan, memanfaatkan kondisi pasiennya sendiri demi keuntungan pribadi? MUNAFIK!"
Rentetan ucapan Teddy, benar-benar bagai peluru yang langsung menghancurkan benteng pertahanan Arnold. Tenggorokannya tercekat membuat Arnold hanya bisa diam seribu bahasa.
"Kembalikan ponselku, sialan! Kau tidak berhak mengambil barang pribadiku!" jerit Leticya histeris, mencoba merebut kembali benda pipih itu dari tangan Dev. Napasnya memburu, panik setengah mati karena seluruh rencana cadangannya dan Teddy tersimpan di dalam sana.
Dev dengan santai mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi, memanfaatkan postur tubuhnya yang jangkung hingga Leticya sama sekali tidak bisa mencapainya.
"Barang pribadi? Tapi di dalam sini ada rekaman ilegal yang berniat merusak nama baik sahabatku, Nona," sindir Dev dengan senyum mengejek. Ibu jarinya dengan lincah mengutak-atik layar ponsel Leticya yang kebetulan belum terkunci. "Wah, kerjamu cepat juga ya. Untung belum sempat terkirim ke istrinya."
"Teddy! Lakukan sesuatu! Ponselnya ada padanya!" teriak Leticya meminta bantuan, suaranya melengking frustrasi di tengah keheningan jalanan malam.
Teddy melirik sekilas ke arah Leticya, lalu kembali menatap Arnold dengan senyum sinis yang dipaksakan. "Kau pikir dengan menghapus video itu, kau bisa menang? Pernikahan permainanmu ini tidak akan bertahan lama. Cepat atau lambat, Lova akan tahu kalau dia hanya dijadikan alat!"
Arnold berusaha menutupi bahwa dirinya sendiri mulai ragu. Ia terus melangkah satu kali lebih maju, menipiskan jarak di antara mereka hingga auranya yang intimidatif mengunci pergerakan Teddy sepenuhnya.
"Jika hari itu tiba, biarlah Lova sendiri yang menilainya, tak perlu keluar dari mulut busuk siapa pun," bisik Arnold rendah, suaranya begitu berat dan dingin.
"Oh, ya ... Saya sarankan agar kamu tak perlu mengikuti apa pun yang dikatakan wanita jahat ini." Arnold melirik Leticya dengan senyum sinis.
"Siapa yang jahat bencong sialan!" Dengan cepat Leticya ingin memukul Arnold. Namun, dengan cepat Arnold menahan tangan itu.
"Yang jahat itu kau! Kau manfaatin wanita sakit untuk menendang kami! Kurang ajar! Udah capek-capek merawat si tua bangka itu, lalu seenaknya kau usir kami," ucap Leticya mencak-mencak karena tangannya terasa sakit oleh genggaman kuat Arnold.
Arnold menyeringai dingin. "Merawat? Dengan kau ganti obat-obatan papa sampai dia tak sadarkan diri?" Wajah Arnold pun berubah datar. "Harusnya, menendang dua ular tak tahu diri seperti kalian, kulakukan semenjak dulu." Dengan kasar, Arnold melempar tangan Leticya dari genggamannya.
Leticya terhuyung ke belakang hingga punggungnya membentur pintu mobil. Wajahnya yang semula merah padam karena marah, mendadak terdiam karena otaknya masih terus bekerja.
"Itu salah si tua bangka itu yang tak mau diam. Harusnya, aku yang mendapatkan warisan itu, bukan kau! Kau telah lari dari si tua bangka itu sejak dua puluh tahun yang lalu! Aku dan mamaku lah yang bersamanya di masa tuanya. Tapi, tetap saja semua hartanya diserahkan padamu!"
Mendengarkan penjelasan itu, Arnold hanya menyemburkan senyum sinis, puas melihat wanita ini jatuh. Meskipun, masih ada orang bodoh yang mau menampungnya.
"Nold, nih HP-nya. Udah bersih total, cloud-nya juga udah gue babat habis," potong Dev tak memedulikan Leticya mengungkapkan semua kenyataan itu.
Ia melempar ponsel Leticya ke atas kap mobil dengan bunyi kleng yang nyaring, lalu melirik tajam ke arah Teddy. "Saran gue, otak lu dibenerin deh! Tentu saja semua harta Tuan Charless Darmawan diberikan pada putra kandung satu-satunya, sang pewaris yang dimilikinya. Tak mungkin lah diserahkan sama babu naik pangkat seperti kau dan ibumu!"
"Sudah lah, Dev! Buang-buang waktu aja menjelaskan pada manusia licik ini." Arnold memutar badan, melangkah lebar menuju pintu penumpang mobil perkasanya.
"Masuk, Dev. Udah terlalu malam, kasihan istriku tidur sendirian di rumah," ucap Arnold melirik Teddy dan tersenyum sinis penuh kemenangan.
"Siap, Dokter!" Dev menyeringai puas, melompat ke kursi kemudi dan langsung menghidupkan mesin.
Mobil besar itu menderu keras, berputar arah meninggalkan Teddy dengan amarah yang semakin membakar. "Arnold, sampai kapan kau akan terus merasa di atas angin?"
Leticya memeriksa kondisi ponselnya. Dengan napas memburu, ia menatap kendaraan yang terus meninggalkan bayangan yang semakin menjauh. "Untung saja semua sudah aku kirimkan padamu," ucap Leticya.
...****************...
Begitu mobil sampai di basement parkiran, Arnold bahkan tak menunggu Dev memarkirkan mobil dengan sempurna. Ia langsung melompat turun dan bergerak cepat menuju lift.
"Kau boleh pulang!" titahnya dan masuk lift dan melesat menuju lantai penthouse-nya dengan jantung yang berdegup tidak karuan.
Klek.
Arnold mendorong pintu depan dengan perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara kegaduhan di jam dua dini hari ini. Suasana di dalam rumah sangat sunyi, namun lampu koridor yang menyala terang benderang langsung membuatnya sadar bahwa Lova sempat keluar dari kamarnya, dan tahu sedang ditinggal tanpa pamit.
Arnold melangkah lebar menyusuri koridor, melewati ruang tamu yang kosong, hingga pandangannya tertuju ke arah balkon yang pintunya sedikit terbuka.
"Uhuk! Uhuk... hhh..."
Suara batuk yang terdengar lemah dan tertahan itu mempercepat langkahnya menuju balkon.
Di sana, di bawah temaram kelap-kelip lampu kota, Lova sedang terduduk lemas di dekat kanvas lukisannya. Wajahnya yang tadi pagi merona karena bahagia rumah ibu direnovasi, kini terlihat pucat pasi seputih kapas, dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya.
Lova tampak begitu rapuh, terbatuk-batuk kecil memeluk diri sendiri melawan dinginnya angin malam. Kedatangan Arnold yang begitu senyap sama sekali tak disadarinya. Pandangan mata Lova yang sayu hanya menatap kosong ke arah langit malam.
"Kak, untuk apa kamu membawaku ke sini, tetapi ... aku ... teta ...." Tubuh Lova perlahan mulai rebah tak sadarkan diri.
*bersambung*
Yuhuu, malam Senin adalah waktunya aku ngemis Vote. Jika kakak-kakak Suka pada cerita ini, bagi VOTE dan GIFT ya. Dukung kami terus untuk bertahan meski yang baca tipis banget. Terima kasih.
kalau memang kamu udah ga bisa sembuhin lova
lepas aja lah🥹
judulnya terapi cantik ku yg rupawan
itu aja Thor
gemulai mah... terlalu klise😍😍
jadi bayangin
aduuh ternoda dah pikiran aye cyiiin🤣🤣🫣
lova si udah mulai sembuh
ga terlalu perlu lu juga si...
tapi gimana yaaa???
keplak kali palanya biar balik normal🤣🤣
cyiin nya diilangin🫣🤣🤣
geplak lagi ninpake anduk
vote otw ka😍
kyk korban pelecehan
🫣🤣🤣🤣