NovelToon NovelToon
SUAMI YANG DI BUANG TERNYATA PEWARIS TERKAYA

SUAMI YANG DI BUANG TERNYATA PEWARIS TERKAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mochamad Fachri

(Tokoh utama Pria+Wanita)

Raka Pradipta adalah seorang suami yang selama menikah hanya menjadi alat penghasil uang bagi keluarga istrinya, ia di paksa membiayai kehidupan seluruh keluarga istrinya. Tapi karena rasa cinta yang sangat besar Raka menjalani kehidupannya dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sedikitpun. Namun, ketika sebuah kenyataan pahit menghantamnya, rasa sayang yang selama ini hanya ia simpan untuk istrinya lenyap seketika ketika istrinya lebih memilih berkhianat dengan seorang pria yang lebih segalanya darinya, Raka pun di paksa menceraikan sang istri lalu ia di usir tanpa hormat oleh keluarga istrinya itu.

Namun, tak ada yang menyangka jika Raka adalah seorang anak dari penguasa jaringan bisnis di negaranya, dan apakah identitas aslinya itu akan di ketahui keluarga mantan istrinya?

ayo simak cerita baru author yang satu ini, semoga para reader suka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Selina

Raka tetap berdiri beberapa saat di sisi mobil, tatapannya tenang namun dingin memperhatikan situasi di depan rumah. Ia tidak bergerak mendekat, tidak juga menunjukkan keberadaannya, beberapa menit berlalu, suara perdebatan mulai mereda.

Farhan yang sejak tadi tampak keras kepala akhirnya terlihat menarik napas panjang sambil berbicara cepat pada para penagih. Entah apa yang ia katakan, tetapi perlahan satu per satu pria-pria itu mulai pergi sambil tetap melontarkan ancaman mengenai batas waktu pembayaran.

“Besok terakhir! Jangan bilang kami tidak memberi kalian kesempatan!” bentak salah satu dari mereka sebelum menaiki motor.

Suasana depan rumah mendadak lebih sepi, meski jelas meninggalkan tekanan yang masih terasa berat. Ibu Sari tampak terduduk lemas di kursi teras, sementara Rasti berdiri mematung dengan wajah pucat. Farhan sendiri terlihat frustrasi, satu tangannya memijat pelipis sambil menghembuskan napas kasar.

Di dalam mobil, Doni langsung membuka pintu.

“Mas...” panggilnya pelan.

Raka menoleh singkat.

“Aku turun dulu,” ucap bocah itu cepat sambil menggenggam tali tasnya erat.

Raka mengangguk kecil lalu berdiri lebih tegak ketika Doni mendekat. “Mas antar sampai depan,” ucapnya tenang.

Namun Doni buru-buru menggeleng. “Nggak usah, Mas,” jawabnya cepat, lalu melirik sekilas ke arah rumah dengan ekspresi rumit. “Kalau Mas kelihatan... nanti malah makin ribut yang ada.”

Kalimat itu membuat Raka terdiam sesaat.

Doni tersenyum sebelum kembali berkata, “Mas... makasih ya buat hari ini.”

Raka mengembuskan napas pendek lalu mengusap kepala Doni pelan. “Kalau ada apa-apa, telepon Mas,” ucapnya datar namun terdengar tegas. “Dan ingat, uang itu buat sekolahmu. Jangan dipakai yang lain.”

Doni buru-buru mengangguk. “Iya, Mas.”

Raka sempat melirik rumah itu sekali lagi sebelum berkata, “Kalau mau, ikut pulang sama Mas dulu.”

Doni terdiam beberapa detik. Sorot matanya bergerak antara Raka dan rumahnya sendiri.

Namun akhirnya ia menggeleng kecil. “Aku tetap harus pulang,” jawabnya lirih. “Mama sama Kak Rasti lagi banyak masalah... Doni nggak bisa ninggalin mereka.”

Jawaban itu membuat Raka tersenyum samar, tipis sekali, anak ini masih terlalu kecil, tetapi sudah memikul terlalu banyak beban.

“Baiklah,” ucapnya pelan. “Jaga dirimu baik-baik.”

Doni tersenyum kecil lalu melambaikan tangan sebelum berjalan cepat menuju rumah. Raka memperhatikannya beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya masuk kembali ke dalam mobil.

“Pulang,” ucapnya singkat.

Jack mengangguk hormat sebelum kembali masuk ke kendaraan belakang.

***

Langit mulai benar-benar gelap ketika Bugatti hitam itu akhirnya memasuki area mansion, lampu taman menyala hangat menerangi jalan panjang menuju bangunan utama, menciptakan suasana yang jauh lebih tenang dibanding kekacauan yang baru saja ia tinggalkan.

Begitu mobil berhenti di depan pintu utama, Raka baru saja keluar ketika suara langkah cepat terdengar dari arah dalam mansion.

“Kamu baru pulang?”

Selina berdiri di ambang pintu sambil melipat tangan di dada, rambutnya sedikit berantakan seolah baru selesai mandi, sementara ekspresinya terlihat antara kesal dan lega.

Tatapannya langsung bergerak naik turun memperhatikan Raka. “Dari mana saja?” tanyanya cepat. “Aku sampai lebih dulu dari kantor, bahkan sudah mandi dan makan buah satu mangkuk penuh.”

Raka menghentikan langkah beberapa detik, entah kenapa, untuk pertama kalinya ia benar-benar memperhatikan hal kecil itu.

Cara Selina berdiri menunggu di depan pintu, nada kesalnya yang terdengar lebih seperti kekhawatiran. Dan bagaimana wanita itu jelas sengaja menunggunya pulang.

Dulu ia mungkin akan menganggap semuanya biasa. Namun sekarang, setelah bertahun-tahun hidup tanpa benar-benar dipedulikan, perhatian kecil seperti itu terasa jauh lebih nyata.

Raka menghembuskan napas pelan. “Ada sedikit urusan di jalan,” jawabnya singkat.

Selina mendecak kecil. “Minimal kasih kabar,” gerutunya. “Tante Shanum sampai terus bertanya.”

Sudut bibir Raka bergerak tipis. “Kamu juga khawatir?” tanyanya santai.

Selina langsung tersedak kecil oleh ucapannya sendiri. “Si-siapa yang khawatir?” balasnya cepat sambil mengalihkan wajah. “Aku hanya malas jika satu mansion ini heboh karena kamu kembali menghilang.”

Raka terkekeh pelan, hal kecil itu membuat Selina mendadak salah tingkah sendiri. Namun sebelum suasana berubah lebih aneh, langkah kaki tergesa terdengar dari arah ruang tamu.

Jack masuk bersama seorang pria paruh baya berpakaian formal membawa koper dokumen kulit hitam.

“Tuan muda,” ucap Jack hormat. “Pengacara keluarga sudah datang.”

Raka sedikit mengernyit, pria paruh baya itu langsung menundukkan kepala sopan.

“Selamat malam, Tuan muda,” ucapnya formal sebelum membuka koper tipis di atas meja ruang tamu. “Dokumen yang Anda minta sudah selesai diproses.”

Beberapa map diletakkan dengan rapi, tatapan Raka tertuju perlahan pada dokumen di bagian paling atas, terlihat jelas tulisan.

Dokumen Gugatan dan Perceraian Raka Pradipta dan Rasti Amelia

Ruangan mendadak terasa sedikit lebih sunyi, Selina yang semula berdiri santai perlahan ikut terdiam, matanya bergerak sekilas ke arah map itu sebelum kembali menatap Raka.

Sementara Raka sendiri berdiri tanpa banyak perubahan ekspresi, tatapannya berhenti beberapa detik lebih lama pada nama itu. Untuk pertama kalinya setelah semua yang terjadi, kenyataan bahwa semuanya benar-benar akan selesai terasa begitu nyata.

Raka berdiri diam beberapa saat di depan meja, tatapannya tetap tertuju pada map dokumen itu. Jemarinya bergerak pelan menyentuh tepi berkas sebelum akhirnya menarik kursi dan duduk dengan tenang.

“Sudah diperiksa ulang?” tanyanya datar.

Pengacara keluarga langsung mengangguk hormat. “Sudah, Tuan muda. Semua dokumen lengkap, termasuk pembagian administrasi dan bukti pendukung yang diperlukan. Tinggal menunggu tanda tangan Anda untuk proses pengajuan resmi.”

Raka membuka halaman pertama tanpa tergesa, sorot matanya bergerak tenang menyusuri lembar demi lembar, seolah membaca laporan biasa.

Namun di balik wajah datarnya, pikirannya bergerak lebih jauh. Tahun-tahun yang dulu ia pertahankan dengan keras kepala kini berakhir hanya dalam beberapa tumpuk kertas.

Dan anehnya... tidak sesakit yang pernah ia bayangkan, mungkin karena rasa kecewa yang sudah terlalu lama mengikis semuanya sedikit demi sedikit.

Di samping sofa, Selina berdiri diam dengan kedua tangan terlipat, untuk pertama kalinya sejak tadi, wanita itu tidak melontarkan komentar sembarangan.

Tatapannya beberapa kali tertuju pada wajah Raka, memperhatikan bagaimana pria itu terlihat terlalu tenang menghadapi sesuatu yang seharusnya tidak mudah.

“Apa kamu yakin?” tanya Selina akhirnya, nadanya jauh lebih pelan dari biasanya.

Raka mengangkat pandangan perlahan.

Selina berdeham kecil sebelum melanjutkan, “Maksudku... ini keputusan besar.”

Raka terdiam sesaat lalu menyandarkan tubuhnya ringan pada kursi. “Keputusan besar apa?” jawabnya tenang. “Hanya hal kecil saja.”

Kalimat itu membuat Selina kehilangan kata-kata beberapa detik, ada sesuatu di nada suara Raka yang terasa terlalu tenang, bukan marah, bukan kecewa, melainkan seperti seseorang yang benar-benar sudah selesai berharap.

Pengacara keluarga mendorong satu lembar ke depan beserta pena hitam elegan. “Jika Tuan muda siap,” ucapnya hati-hati.

Tatapan Raka turun pada garis tanda tangan di bagian bawah halaman, jemarinya meraih pena itu perlahan.

Beberapa detik berlalu, lalu, tanpa ragu, ia menandatangani dokumen tersebut dengan gerakan tenang.

Suara gesekan pena terasa begitu jelas di ruangan yang terasa hening. Tidak ada ekspresi berlebihan di wajahnya dan tanpa keraguan sedikit pun.

Hanya napas pendek yang keluar pelan setelahnya.

Pengacara segera menundukkan kepala hormat. “Baik, Tuan muda. Besok pagi akan langsung kami proses.”

Raka mengangguk kecil lalu menutup map itu kembali. “Pastikan berjalan dengan cepat,” ucapnya singkat.

“Baik.”

Tak lama kemudian, pengacara berpamitan bersama Jack untuk mengurus dokumen lebih lanjut. Ruang tamu kembali sepi, menyisakan Raka dan Selina.

Wanita itu berdiri canggung beberapa saat sebelum akhirnya menarik kursi di seberang. “Aneh,” gumamnya pelan.

Raka melirik datar. “Apanya yang aneh?”

Selina menopang dagu sebentar sebelum menghembuskan napas kecil. “Aku pikir kau akan terlihat sedih.”

Raka terkekeh lirih, nyaris tak terdengar. “Untuk apa aku bersedih karena wanita itu,” jawabnya tenang.

Jawaban itu membuat sesuatu di dada Selina terasa sedikit sesak, tanpa sadar, wanita itu mengulurkan tangan lalu mendorong segelas air hangat yang sejak tadi ada di meja ke arah Raka.

“Minum dulu,” ucapnya cepat, seolah tidak ingin terdengar terlalu peduli. “Wajahmu terlihat menyebalkan.”

Raka berhenti beberapa detik, lalu terkekeh pelan sambil tersenyum ke arah Selina, malam itu, tatapannya benar-benar tertuju pada Selina sedikit lebih lama.

“Terima kasih,” ucapnya pelan.

Selina langsung berdeham kecil lalu buru-buru mengalihkan wajah. “Jangan salah paham,” gumamnya cepat. “Aku hanya tidak mau seorang pewaris terlihat lesu di hadapan banyak orang nanti.”

Sudut bibir Raka bergerak samar. Malam di mansion terasa jauh lebih tenang, tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada sesuatu yang terasa berubah perlahan di dalam dirinya.

1
azizan zizan
hah... yah mau salah si watak utama ia tidak salah sih udah si ATHOR buat ia kayak gitu apa boleh buat...Yakan...
Mio Amore
lanjut bca
kite cuhi2 waktu bace
azizan zizan
maknanya Tim it Tim pengawal yang mc punya masih di lvl amatir lah gitu... Kerna bertindak dalam sesuatu kasus perlu makan waktu yang lama... masih lemah lalu gitu mcnya...
moch fachri: tenang, bukan lemah, Mc sebenarnya dah tau siapa yang jadi dalang, cuman dia tidak bertindak sesuka hati harus cukup bukti😄
total 1 replies
azizan zizan
Thor cuma saran aja kalau boleh jangan di ulang-ulang yang sama berterusan maksud saya perkataan di bab lepas jangan di ulang lagi di bab yang baru... jadi bosan baca Thor jika perkataan yang sama di ulang terus..
moch fachri: oke aman, ntar di perbarui di setiap babnya terimakasih kak udah mampir dan memberi masukan🙏😄
total 1 replies
LANY SUSANA
dasar ibu mertua gak tau diri...
masih sj menyalahkan raka
pdhal! sjk nikah raka jd sapi perah di kel rasti, tp msh tetep diam sj
LANY SUSANA
next Thor ceritanya cukup bagus....
azizan zizan
wahh.. ini bener2 mc yang tidak berguna Nih kerana seorang perempuan jalang ia sanggup membiarkan ibunya menderita sakit memang kurang Hajar ni Nih kurang sopan kesantunan Nih orang..
moch fachri: 🤣🙏 jangan emosi kak
total 1 replies
azizan zizan
perjuangan yang sia2.. udah hidup enak malah di buang untuk jadi orang yang tolol...kasihan bodoh amat..
juwita
kenapa g di talak dm si rasti nya. tar klo tau raka holang ky malah g mau diceraikan lg
juwita
sia" perjuangan km hidup miskin raka. ternyata di selingkuhin. udh enak jd holang kaya malah mau jd org miskin. coba lah tukaran posisi sm aq. biar aq ngerasain jd org ky banyak duit🤣🤣🤣
♋Ichageul💞
Jono kan yang nguli bareng Raka, kan? Bukannya dia udah tahu kalau Raka pewaris Pradipta Group?
moch fachri: ceritanya dia ngelag dan belum sadar kalo sahabatnya itu pewaris, jadi otaknya kan masih mencerna itu😄
total 1 replies
♋Ichageul💞
Curiga itu mantannya pak dokter🤣
moch fachri: 🤣tidak seperti itu
total 1 replies
Erchapram
Ulat bulu datang lagi 🤔
moch fachri: biar gereget😄🤣
total 1 replies
Mio Amore
woow kurien
Dinar Keke
Bacanya langsung marathon dulu, tinggal momentary.
Hati hati Doni mending ditabung saja, kalau perlu deposito kan.
moch fachri: makasih kak udah mau mampir😄🙏
total 1 replies
LANY SUSANA
Dion sini nitip aku sj uangmu yg 10 juta ya
hati 2 lo ilang, lagian raka bukannya kasih ATM sj lbh simpel ya, ni dion pergi2 bw uang banyak lo, takutnya di smbil. nenek. lampir
♋Ichageul💞: Jangan, takutnya investasi bodong🤣🏃🏃🏃
total 2 replies
Mio Amore
apakah rasti mulai galau
moch fachri: rasti nanti galaunya pas liat Raka bawa bugatti🤣
total 1 replies
Mio Amore
lanjut
♋Ichageul💞
Iyalah nikah aja sama Selina, aku dukung
LANY SUSANA: aku juga dukung...
jodoh yg tertunda ni selama
sjk dulu di jodohin raka nolak tp selama udah cinta 😍
total 1 replies
LANY SUSANA
semoga lancar proses nya dan uang yg di beri unt dion ga di kasih ortu
siap2 ya farhan km nanggung hutang jel rasti🤣🤣🤣puyeng puyeng deck km
♋Ichageul💞: Doni, kenapa jadi Dion🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!