Bagi Alya, pernikahan adalah sebuah janji suci. Namun, di usianya yang ke-22, janji itu berubah menjadi transaksi gelap. Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan hukum akibat kebangkrutan besar dan serangan jantung ibunya, Alya terpaksa menerima pinangan Arka Dirgantara, seorang pengusaha muda nan dingin yang memiliki kekuasaan mutlak.
Alya mengira dia hanya akan menjalani pernikahan tanpa cinta. Namun, kenyataan jauh lebih pahit: Arka tidak menginginkan hatinya, ia menginginkan kehancurannya.
Arka menyimpan dendam masa lalu yang membara. Ia meyakini bahwa ayah Alya adalah penyebab kematian tragis ibunya bertahun-tahun silam. Baginya, menikahi Alya adalah cara paling elegan untuk menyiksa musuhnya melalui tangan orang yang paling dicintai sang musuh. Di mansion megah yang lebih menyerupai penjara emas, Alya harus bertahan menghadapi dinginnya sikap Arka, intimidasi ibu mertua yang kejam, hingga kehadiran masa lalu Arka yang terus memojokkannya.
Namun, di tengah badai air mata dan perlak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wyzy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar
Suasana hangat di ruang tengah apartemen London itu mendadak menguap, digantikan oleh ketegangan yang pekat saat Arka mengutarakan niatnya. Prasetyo meletakkan cangkir porselennya dengan tangan gemetar, sementara Dewi menatap menantunya seolah mencari jawaban yang lebih masuk akal.
"Ulangi sekali lagi, Arka," suara Prasetyo memberat, matanya menyipit di balik kacamata bacanya. "Kau bilang minggu depan?"
"Ya, Pa. Tiket dan jet sedang diurus. Kita kembali ke Jakarta."
Dewi menutup mulutnya dengan tangan, wajahnya memucat. "Tapi kenapa mendadak sekali? Kita sudah begitu tenang di sini. Arsenio baru saja mulai terbiasa dengan udara London. Apa yang terjadi? Apa ada masalah dengan bisnismu di sana?"
Alya melangkah maju, duduk di samping ibu mertuaya dan menggenggam tangannya yang dingin. "Tidak ada masalah bisnis, Ma. Ini murni keputusan kami. Aku yang memintanya pada Arka."
"Alya, Nak..." Dewi menatapnya dengan tatapan memohon. "Kau tahu sendiri bagaimana kita pergi dari sana. Itu bukan keberangkatan, itu pelarian demi nyawa kalian. Apakah enam bulan cukup untuk menghapus kebencian orang-orang itu?"
"Kebencian mereka tidak akan pernah hapus, Ma," potong Arka sambil berdiri bersedekap di dekat jendela. "Tapi aku tidak bisa membiarkan mereka mengatur bagaimana cara kami hidup. Semakin lama kita di sini, mereka akan menganggap kita lemah."
Prasetyo mendengus, lalu berdiri dan berjalan mondar-mandir. "Ini bukan soal lemah atau kuat, Arka! Ini soal strategi. Di Jakarta, musuhmu bukan hanya bayangan. Mereka punya wajah, punya uang, dan punya koneksi di pemerintahan. Kau pikir Mahendra akan diam saja melihatmu mendarat di bandara?"
"Mahendra sudah kehilangan taringnya sejak aku mencabut investasinya di Singapura, Pa," jawab Arka tenang, namun nadanya sedingin es.
"Tapi dia masih punya kuku untuk mencakar!" seru Prasetyo. "Lalu bagaimana dengan Arsenio? Dia masih bayi. Satu ledakan, satu pengadangan di jalan raya, dan semua kekayaanmu tidak akan bisa mengembalikan nyawanya!"
Dewi mulai terisak pelan. "Benar, Arka. Mama tidak peduli soal harta atau rumah kita di Menteng. Mama hanya ingin kalian selamat. Di sini, kita bisa berjalan ke taman tanpa harus dikelilingi sepuluh pria berjas hitam dengan senjata terselip di pinggang."
Alya menatap Dewi dengan lembut namun tegas. "Ma, lihat aku. Apakah Mama ingin Arsenio tumbuh besar dengan berpikir bahwa orang tuanya adalah pengecut yang bersembunyi di negeri orang?"
"Bukan pengecut, Al... hanya waspada," isak Dewi.
"Arsenio harus mengenal akar budayanya," lanjut Alya, mengabaikan protes kecil Dewi. "Dia harus tahu siapa kakeknya, bagaimana perjuangan ayahnya membangun kerajaan bisnisnya, dan... dia harus melihat taman itu. Taman yang dibangun Arka di atas luka masa lalu kita."
Prasetyo berhenti melangkah. Ia menatap Alya lama, lalu beralih ke putranya. "Jadi kau sudah setuju? Kau membiarkan istrimu mengambil risiko ini?"
"Alya benar, Pa," Arka melangkah mendekati ayahnya. "Aku bisa membangunkan istana di Swiss atau New York untuk mereka, tapi itu tetap saja penjara. Aku lelah melihat Alya menatap jendela setiap malam dengan pandangan rindu. Dia merindukan rumahnya. Dan rumah kami bukan di London."
"Risikonya sangat besar, Arka," bisik Prasetyo lagi, intensitas suaranya menurun, tanda pertahanannya mulai goyah.
"Aku tahu. Karena itu, aku tidak akan main-main. Aku sudah menghubungi Dimas. Pengawalan akan ditingkatkan ke level maksimal. Kendaraan antipeluru, protokol antipenyadapan, dan rumah di Menteng sudah dirombak dengan sistem keamanan terbaru."
Arka menatap ayahnya lurus-lurus. "Siapa pun yang berani menyentuh sehelai rambut putraku atau mengusik ketenangan istriku, mereka tidak akan pernah melihat matahari esok hari. Aku akan memastikan itu menjadi hukum yang berlaku di Jakarta."
Prasetyo menghela napas panjang, bahunya merosot. "Kau sudah bicara seperti seorang Baskoro yang sesungguhnya. Keras, dingin, dan tak tergoyahkan."
"Aku harus menjadi seperti itu agar mereka aman, Pa."
Dewi menghapus air matanya, menatap Alya dengan saksama. "Kau yakin, Nak? Kau tidak akan menyesal jika suatu saat keadaan menjadi sulit?"
Alya tersenyum, sebuah senyum yang memancarkan kekuatan yang belum pernah dilihat Dewi sebelumnya. "Kesulitan adalah bagian dari hidup kita, Ma. Tapi hidup dalam ketakutan adalah hal yang paling ingin kuhindari. Aku ingin kita pulang bukan sebagai korban, tapi sebagai pemenang yang mengklaim kembali hak kita."
Prasetyo kembali duduk, tangannya meraih tangan Dewi. "Mungkin... mungkin kalian benar. Selama ini aku hanya memikirkan keamanan fisik kita, tapi aku lupa bahwa jiwa kita juga butuh ketenangan. Dan ketenangan itu hanya ada di rumah."
"Jadi, Papa setuju?" tanya Arka.
Prasetyo mengangguk pelan. "Sudah saatnya debu-debu masa lalu itu dibersihkan. Jika kita harus bertarung, maka kita akan bertarung di tanah kita sendiri. Bukan di tanah pinjaman ini."
Dewi menghela napas pasrah, meski kecemasan masih membayangi matanya. "Baiklah. Mama akan mulai merapikan pakaian Arsenio. Tapi Arka, berjanjilah pada Mama satu hal."
"Apa itu, Ma?"
"Jangan pernah biarkan kemarahanmu mengalahkan akal sehatmu. Pulanglah untuk membangun kebahagiaan, bukan untuk membalas dendam."
Arka terdiam sejenak, menatap Alya yang mengangguk kecil ke arahnya. "Aku pulang untuk kebahagiaan Alya dan Arsenio, Ma. Dendam hanyalah efek samping yang harus kuselesaikan agar kebahagiaan itu abadi."
"Kapan tepatnya kita berangkat?" tanya Prasetyo.
"Rabu depan, jam sepuluh malam waktu London. Kita akan mendarat di Jakarta saat subuh, untuk menghindari kerumunan media yang mungkin sudah mencium kabar ini."
"Bagus," Prasetyo berdiri dengan sisa-sisa wibawa lamanya. "Aku akan menyiapkan beberapa dokumen penting. Ada beberapa kawan lama di Jakarta yang perlu kutahu di mana posisi mereka sekarang. Apakah mereka masih kawan, atau sudah menjadi lawan."
"Terima kasih, Pa," ujar Alya tulus.
Saat Prasetyo dan Dewi beranjak ke kamar mereka, ruang tengah kembali hening. Arka mendekati Alya, merangkul pinggangnya dari belakang.
"Kau dengar itu? Papa akan mulai 'berperang' lagi," bisik Arka di telinga Alya.
Alya menyandarkan kepalanya. "Itu lebih baik daripada melihatnya layu karena bosan di sini. Keluarga kita butuh tantangan, Arka. Kita butuh membuktikan bahwa kita masih ada."
"Dan kita akan membuktikannya, Al. Jakarta akan tahu bahwa keluarga Baskoro telah kembali. Dan kali ini, tidak akan ada yang bisa mengusir kita lagi."
Alya memejamkan mata, membayangkan udara Jakarta yang lembap, suara bising kota yang tak pernah tidur, dan taman indah yang menantinya. Kepulangan ini bukan lagi sebuah pelarian, melainkan pernyataan perang terhadap segala trauma yang pernah menghancurkan mereka.
"Mari kita buat mereka menyesal karena pernah meremehkan kita," gumam Alya pelan.
Arka hanya mengeratkan pelukannya, matanya menatap tajam ke arah kegelapan malam London, pikirannya sudah terbang jauh melintasi samudra, merancang strategi untuk melindungi harta paling berharganya di kota yang paling kejam.