"Satu tahun aku dihina sebagai supir sampah. Satu tahun aku diam saat istriku dijajah keluarganya sendiri. Tapi hari ini, kesabaranku habis."
Arka Pratama bukan sekadar supir. Dia adalah pewaris tunggal Klan Naga Utara, penguasa ekonomi dunia yang memilih hidup melarat demi sebuah janji suci. Menikah dengan Nadia Atmaja lewat wasiat misterius, Arka harus menahan diri dari serangan politik kotor, sihir hitam, hingga pengkhianatan keluarga.
Namun, saat Kakek Wijaya dan Reno mencoba merampas harga diri Nadia di depan publik, sang Naga tidak lagi bisa diam.
"Kalian ingin melihat kekuasaan? Aku akan memulainya dengan membeli hotel ini, lalu menghapus nama kalian dari kota ini."
Saat identitas aslinya terungkap, apakah Nadia akan tetap mencintai supirnya, atau justru ketakutan pada sosok Naga yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husein. R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan V.E.N.O.M
Mobil SUV putih Leo melesat membelah jalanan menuju Banten. Tapi, di tengah jalan tol yang sepi, semua layar monitor di dasbor mobil Leo tiba-tiba berkedip merah. Suara statis yang menyakitkan telinga keluar dari speaker.
"Apa-apaan nih? Sistem gue di-hack?" Leo panik, jarinya menari cepat di atas keyboard virtual, tapi aksesnya ditolak.
Seketika, sebuah logo berbentuk kepala ular kobra dengan mata merah muncul di layar utama. Di bawahnya tertulis sebuah singkatan yang bikin bulu kuduk gue meremang: V.E.N.O.M.
Vanguard for Extinction, Neutralization, and Operational Mayhem.
"V.E.N.O.M?" bisik Hana sambil menggenggam sabitnya lebih erat. "Organisasi pembunuh bayaran tingkat interkontinental. Mereka nggak punya majikan, nggak punya ideologi. Mereka cuma bergerak buat satu hal: kehancuran total."
Tiba-tiba, suara berat dan dingin keluar dari speaker mobil. "Naga Utara, Serigala Putih... kalian terlalu berisik. Perang kecil kalian dengan Naga Selatan telah merusak keseimbangan pasar kami. V.E.N.O.M tidak terikat dengan Sakti Langit, apalagi sampah seperti Reno. Tapi keberadaan kalian... sekarang menjadi target eliminasi kami."
BOOM!
Sebuah ledakan menghantam aspal tepat di depan mobil kami. Bukan rudal, tapi sebuah kapsul logam yang jatuh dari langit. Begitu kapsul itu terbuka, muncul tiga orang dengan zirah taktis hitam legam yang teknologinya jauh di atas Pasukan Serigala Putih.
"Sial! Mereka bukan tentara bayaran biasa!" Leo banting setir, mencoba menghindar dari rentetan tembakan laser penghancur. "V.E.N.O.M itu unit hantu! Mereka nggak bisa dilacak!"
Gue melihat ke luar jendela. Salah satu dari mereka melompat ke atas kap mobil kami, mencengkeram besi mesin dengan tangan robotiknya sampai ringsek. Matanya tertutup visor merah yang memindai langsung ke arah jantung gue.
"Reno cuma umpan," desis gue sambil nahan getaran mobil. "V.E.N.O.M sengaja nunggu momen kita lengah setelah lawan Sakti Langit. Mereka nggak mau dokumen, mereka cuma mau kepala sang Naga buat dijual ke penawar tertinggi."
Gue nengok ke Leo. "Buka atapnya, Leo! Gue bakal kasih mereka sambutan yang pantas."
"Tapi Bosque, ini jalan tol! Kalau lu keluar sekarang—"
"Lakuin aja!" teriak gue.
Atap mobil terbuka. Gue berdiri di tengah terpaan angin kencang. Tato naga di punggung gue kembali bereaksi, tapi kali ini warnanya bukan lagi putih perak murni, melainkan bercampur dengan warna ungu gelap—respon alami saat menghadapi ancaman yang benar-benar asing dan mematikan.
"V.E.N.O.M, ya?" gue menatap sosok zirah hitam di depan gue. "Kalian bilang kalian nggak terikat siapa pun? Bagus. Berarti nggak akan ada yang nangis saat gue kirim kalian ke neraka tanpa nama."
Gue hentakkan tangan, menciptakan ledakan energi yang mementalkan sosok itu dari kap mobil. Tapi di langit-langit, gue liat lebih banyak kapsul yang berjatuhan. Ini bukan sekadar cegatan, ini adalah invasi dari organisasi yang selama ini dianggap mitos oleh dunia bawah tanah.
Gue mendongak ke langit yang mendadak bising. Di tengah deru angin jalan tol, terdengar tiga lengkingan tajam yang membelah udara. SKRAAAKKK!
Tiga bayangan melesat jatuh dari langit layaknya elang yang mengunci mangsanya. Sebelum anggota V.E.N.O.M yang ada di kap mobil sempat menyeimbangkan diri, sebuah peluru kaliber besar melesat dengan presisi gila.
DORRR! CPRAAAK!
Lengan mekanik anggota V.E.N.O.M itu putus total, percikan oli hitam dan kabel-kabel halus muncrat ke mana-mana. Dia terpental jatuh ke aspal, terseret ratusan meter karena kecepatan mobil kami.
"Hooo, nice shot!" Leo teriak kegirangan sambil banting setir buat ngehindarin rongsokan kapsul.
Tiga sosok mendarat dengan mulus di atas mobil-mobil yang lagi melaju kencang di sekitar kami. Mereka semua pake jirah ringan dengan motif bulu elang di bahunya. Yang paling depan, seorang cowok berambut cepak dengan senapan sniper raksasa di punggungnya, cuma nyengir sambil dadah-dadah ke arah kami.
"Kalau mau main jangan sendiri, Han. Nggak seru kalau kita nggak kebagian jatah," suara cewek dari interkom helm salah satu dari mereka masuk ke frekuensi kami.
Hana yang tadinya tegang banget, perlahan nurunin sabitnya. Gue bisa liat ada sedikit rasa lega di matanya, meski mukanya tetep datar. "Gue nggak minta kalian dateng, The Falcons."
"Nggak minta bukan berarti nggak butuh," sahut cowok pembawa sniper itu sambil loncat ke kap mobil SUV kami. Dia natep gue, lalu natep tato naga di lengan gue. "Jadi ini 'Naga' yang bikin gempar Jakarta? Lumayan juga selera lu, Han."
Leo langsung protes, "Eh, eh! Jangan seenaknya mendarat di mobil gue ya! Ini coating-nya mahal, malih!"
Gue cuma diem, masih siaga. "Hana, siapa mereka?"
"Teman lama. Unit gerilya udara yang pernah kerja bareng gue dan Kian dulu," jawab Hana singkat.
Tapi V.E.N.O.M bukan organisasi yang gampang nyerah. Anggota yang lengannya putus tadi berdiri lagi, mata merah di visornya makin terang. Dari balik hutan di pinggir jalan tol, muncul lebih banyak lagi pasukan hitam itu. Sepertinya mereka udah nyiapin skenario pembantaian massal di sini.
"Obrolannya nanti aja," gue bilang sambil ngerasain tanah bergetar karena langkah berat unit V.E.N.O.M kelas berat yang mulai keluar dari bayangan pohon. "Kayaknya elang-elang temen lu ini dateng di waktu yang pas buat bantu gue ngeratain jalanan ini."
Si pemimpin Falcons itu ngokang senjatanya. "Siap, Bos Naga. Kita bakal bersihin langit, lu beresin sampahnya di bawah. Deal?"
Gue nyengir sinis. Mata gue berpendar perak ungu, hawa panas naga gue mulai ngebakar aspal di sekitar ban mobil. "Gue bakal bikin V.E.N.O.M tau, kalau berburu elang itu susah, tapi ngebangunin naga itu fatal."