NovelToon NovelToon
Mantu Idaman

Mantu Idaman

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Irh Djuanda

"Saya nikahkan engkau dengan Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin satu set perhiasan emas dan uang seratus juta rupiah di bayar tunai"

"Saya terima nikah Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin tersebut tunai" sahut Xena.

"Sah"

" Sah"

Air mata Rasti mengalir deras. Dengan cepat ia mengusapnya agar tak terlihat oleh ibu dan adiknya. Sementara itu Budi ayah Xena tersenyum senang. Namun berbeda dengan Mira istrinya ,raut wajahnya menunjukkan ketidaksenangan melihat pernikahan putranya. Namun ia sebisa mungkin menutupinya.

"Selamat ya Nak, kini kau sudah menjadi seorang istri." ucap Siti, ibu Rasti sambil memeluk putrinya.

Rasti hanya bisa mengangguk pelan. Sungguh ini suatu mimpi buruk baginya. Ia tak pernah mengira akan menikah dengan pria yang sama sekali belum mengenalnya bahkan untuk melihat juga belum pernah.

"Siti, terima kasih atas semuanya. Akhirnya hutangku pada sahabatku lunas. Kini aku akan menjaga Rasti seperti putriku sendiri." Ujar Budi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan malam penuh hangat

Malam turun perlahan di desa itu. Suara jangkrik mulai terdengar bersahutan, berpadu dengan hembusan angin yang masuk dari jendela kayu yang sedikit terbuka. Lampu kuning sederhana menggantung di tengah ruangan, menerangi suasana hangat yang terasa begitu berbeda dari biasanya.

Di ruang tamu, tikar anyaman pandan sudah digelar rapi. Di atasnya, berbagai hidangan sederhana. Aroma masakan memenuhi ruangan. Nasi hangat, sayur asam, ikan goreng, sambal dan beberapa lauk lainnya yanh dimasak langsing oleh Siti.

"Ayo...silahkan dimakan...jangan sungkan," ucap Siti sambil tersenyum, meski matanya sesekali masih menatap Rasti penuh haru.

Mira mengangguk sopan, "Terima kasih, Siti. Kami susah merepotkan saja."

"Ah, tidak sama sekali. Saya senang kalian mau menginap di sini," balas Siti pelan.

Semua mulai duduk melingkar, Budi duduk bersila dengan santai. Sementara Mira di sampingnya. Rani langsung duduk dekat Rasti, seolah tidak ingin jauh sedikit pun dati kakaknya. Sementara Xena, ia sempat ragu sejenak sebelum akhirnya duduk di sisi kanan Rasti. Rasti melirik sekilas ke arah Xena.

"Kak, makan yang banyak ya,"/ucap Rani sambil langsung mengambilkan lauk ke piring Rasti.

" Iya, Nak," tambah Mira lembut.

Xena ikut memperhatikan. Tangannya sempat terangkat, ingin mengambilkan sesuatu, tapi berhenti di tengah jalan. Ia menatap piring Rasti beberapa detik. Lalu diam-diam ia mengambil sayur dan menaruhnya ke piring Rasti. Semua orang langsung menyadari. Rasti terkejut sedikit. Ia kembali menoleh ke arah Xena. Namun Xena tak menatapnya. Ia justru pura-pura fokus mengambil makanannya sendiri.

"Sayurnya ringan...bagus untukmu," gumamnya pelan.

Rani langsung menyikut pelan langan Rasti sambil berbisik nakal, " Ciee.."

"Rani..." ucap Rasti memperingatkan, sambil menahan senyum, pipinya sedikit memerah

Sementara itu, Budi memperhatikan dari kejauhan. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding, lalu berbisik pada Mira, "Dia berubah."

Mira tersenyum kecil, "Dia baru sadar, Pa."

Suasana makan malam itu perlahan menjadi hangat. Obrolan ringan mulai mengalir. Rani yanga paling banyak bicara, menceritakan hal-hal kecil di desa. Siti sesekali menimpali membuat Mira ikut tertawa. Bahkan Budi pun sesekali ikut bicara. Menceritakan masa lalunya bersama almarhum Adi, ayah Rasti.

Namun berbeda dengan Xena, matanya beberapa kali tertuju pada Rasti. Cara Rasti makan perlahan dan sesekali ia memegang perutnya tanpa sadar. Cara Rasti tersenyum kecil saat mendengarkan cerita Rani. Sungguh hal itu membuatnya bahagia. Beruntung Xena belum terlambat menyadarinya.

"Kau tidak makan?" tanya Rasti tiba-tiba.

Xena tersadar, ia menoleh pelan, "Aku sudah selesai."

"Sedikit sekali. Apakah tidak enak ya?" tanya Rasti lagi.

"Enak kok. Masakan Ibu sangat enak," sahut Xena cepat.

Rasti menatapnya beberapa detik, seolah memastikan tidak ada kebohongan di balik jawaban itu. Tatapannya lembut, tapi cukup dalam untuk membuat Xena sedikit salah tingkah.

"Kalau enak, kenapa makanannya sedikit?" tanya Rasti lagi, kali ini lebih pelan.

"Aku... belum terbiasa makan seperti ini," jawabnya jujur.

Semua langsing menoleh kearahnya.

"Maksudmu?" tanpa Mira.

Xena melirik sekilas. Tikar pandan, piring sederhana, suasana hangat yang ramai oleh suara keluarga.

"Biasanya aku tak pernah makan bersama Mama dan Papa. Tapi setelah aku menikah kita selalu makan bersama. Dan kali ini, suasana hari ini membuat perutku kenyang. Kenyang karena suasananya begitu hangat."

Hening. Mira mendengus pelan, "Kau saja yang selalu menghindari makan bersama."

Xena menatap Ibunya tapi Mira hanya menatap piringnya sambil menikmati makanannya.

Budi ikut terkekeh mendengar itu, lalu menyandarkan punggungnya lebih santai ke dinding.

"Kalau begitu, sering-sering saja kau pulang ke sini. Biar perutmu kenyang terus," goda Budi ringan.

Rani langsung menyahut cepat, "Iya! Tapi jangan sendiri, harus bawa Kak Rasti juga!"

Suasana kembali dipenuhi tawa kecil. Namun Xena, ia tidak ikut tertawa. Tatapannya justru jatuh pada piring di depannya. Perlahan ia mengambil lagi nasi dan lauk. Gerakannya tenang, tapi jelas ia mau makan lagi.

"Katanya kenyang," ucap Mira matanya melirik, sudut bibirnya terangkat tipis.

Xena tidak menanggapi. Tapi kali ini, ia tidak berhenti sampai benar-benar selesai.

***

Setelah makan malam usai, suasana tetap hangat. Rani masih berceloteh, Siti dan Mira membereskan dapur. Sementara Budi keluar sebentar ke halaman depan. Budi berjalan pelan sambil menatap ke langit.

"Adi, aku sudah menepati janjiku. Anak kita... sudah bersatu," ucapnya pelan.

"Aku datang kali ini...dengan membawa calon cucu kita," sambungnya lagi.

"Paman," ucap Rani tiba-tiba.

Budi menoleh langsung. Rani berjalan mendekati Budi yang tengah melamun itu.

"Apa yang Paman pikirkan?" tanya Rani pelan.

Budi tersenyum simpul, menatap Rani yang semakin mendekat, " Paman sedang mengingat ayahmu. Sudah lama sekali sejak kami berpisah dulu."

Rani ikut tersenyum tipis, "Sudah sepuluh tahun Ayah meninggal. Tapi Rani masih merindukannya."

Budi terdiam sejenak. Ia menatap Rani intens. Menatap mata gadis itu yang kian berkaca-kaca.

"Ayah pernah berjanji akan membawaku ke kota jika aku dewasa nanti. Tapi...itu tidak akan pernah terjadi," ucapnya lagi.

"Kau ingin ke kota?" tanya Budi yakin.

Rani menatap Budi sekilas, lalu mengangguk pelan, "Sekarang tidak lagi. Jika Rani ke kota...siapa yang akan menemani Ibu?."

Budi menghela nafas pelan, " Kalau kau memang ingin ke kota, kenapa tidak sekalian saja bawa Ibu mu. Paman yang akan membawa kalian."

Rani terhenyak, "Maksud Paman?"

Budi mengangguk-angguk kecil sambil tersenyum penuh guna meyakinkan kata-kata nya barusan.

"Iya. Kita ke kota. Paman akan membawa mu keliling kemana pun kau mau." ucap Budi.

Rani terdiam beberpa detik. Tawaran iru terlalu tiba-tiba. Matanya menatap Budi, mencoba memastikan bahwa pria itu tidak sedang bercanda.

"Paman serius?" tanyanya pelan.

Budi mengangguk tanpa ragu, "Serius. kau pikir Paman suka bercanda soal begini?"

Rani menggigit bibirnya pelan. Ada sesuatu yang berkilat di matanya, bukan sekedar senang, tapi ragu.

"Rani ingin... tapi..." ucapnya terhenti.

"Ibu lagi?" tebak Budi.

Rani mengangguk. Budi tersenyum tipis, lalu menepuk pelan bahu Rani.

"Ibumu tidak sendiri. Sekarang ada kami," ucapnya tenang.

Rani menunduk. Kata-kata itu hangat, tapi tetap saja hatinya belum sepenuhnya berani melangkah sejauh itu. Budi terus saja meyakinkan Rani yang masih tetap ragu. Ia memastikan semuanya akan baik-baik saja. Budi juga akan meminta Siti untuk ikut dengan mereka nanti saat kembali ke kota.

"Biar Paman yang mengatakan pada Ibumu. Kau jangan ragu. Paman yakin, Ibumu tidak akan menolak," ucap Budi.

Rani hanya menatap Budi dengan tatapan penuh bimbang.

"Percaya sama Paman. Ibumu tidak akan menolak," lanjut Budi lagi.

Budi menatap Rani sekali lagi. Tatapannya begitu meyakinkan. Hingga akhirnya Rani mengangguk tegas.

1
amatiran
awal yang bagus 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!