Aruna Prameswari tidak pernah tahu bagaimana hidupnya berubah menjadi runyam. Semenjak Kedatangan sosok Liam Noah Rajasa, Atlet bola sekaligus Pengusaha ibukota. Hidupnya dibuat kacau balau sejak laki-laki itu selalu merecoki harinya yang gitu-gitu aja. Kerja, lembur, nongkrong, dan pulang.
Laki-laki itu semakin gencar mendekati dirinya ketika tahu kalau dirinya baru saja putus dari pacarnya, padahal Aruna masih belum begitu move on. Namun Liam dengan segala usahanya hingga membuat dirinya menyerah dan cinta itu datang tiba-tiba.
akankah Cinta Aruna yang datang tiba-tiba berakhir dengan indah atau malah sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nisa_prafour, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
Dua kota. Satu jam. Dua layar.
Di Bandara Kota, Noah berdiri di depan boarding gate. Koper kabin di tangan, paspor Indonesia di saku, jas digantung di lengan. Di layar: GA 897 – Paris to Jakarta Boarding.
Di Jakarta, Aruna menatap layar HP. Video call_ dari Noah. Latarnya gate, suaranya berkejaran dengan announcement.
“Hai" Noah tersenyum. Lelah, tapi matanya hidup. “30 menit lagi boarding. 16 jam lagi aku bernafas dengan udara yang sama kayak kamu, Mencium bau soto, dan juga mencium kamu. 16 jam 5 menit lagi aku nyium kamu. Aku janji”
Aruna duduk di depan resto makan yang sepi. Hujan lagi. Di meja, dua Latte. Kebiasaan sejak injury time dimulai beberapa waktu lalu: tiap Noah janji telepon, Aruna akan bikin dua Latte. Satu untuk diminum, satu untuk dirindukan.
“Awas delay,” goda Aruna. Bibirnya gemetar. Bukan karena takut. Karena percaya.
“Nggak akan. Semuanya pasti lancar,” jawab Noah. Ia angkat paspor, tempel ke kamera. Stempelnya masih kosong. “Kali ini aku check-in pakai nama Noah. Hanya Noah. Bukan CEO. Bukan pewaris. Cuma laki-laki yang mau pulang.”
Green flag sampai detik terakhir. Aruna suka dengan sikap Noah yang satu ini. Selalu bisa membuatnya tenang. Dan senang secara bersamaan.
Aruna mengangguk. “Hati-hati. Kabarin pas transit Dubai.”
“Deal,” Noah mengecup layar. “Simpen satu latte buat aku ya. Jangan dingin.”
Panggilan berakhir. Keduanya tersenyum penuh arti, boarding dimulai.
Pukul lima sore di Pusat kota Jakarta,
Aruna sengaja izin pulang lebih cepat. Pulang. Mandi. Pakai dress biru yang Noah bilang “seperti langit selesai hujan”. Ia buka payung kayu pemberian Noah diletakkan di samping pintu masuk cafe langganan mereka. Biar Noah lihat pertama kali saat masuk.
Sedang di sisi lain kota, 09.10 CET – Paris
Announcement menggema.
“Ladies and gentlemen, we regret to inform you that GA 897 is cancelled due to operational issue. All passengers please contact the counter.
Noah membeku. Kopernya jatuh.
Petugas mendekat. “Mr. Pattingga, your legal team is waiting. There is an emergency board meeting. Your signature is required today. You cannot leave city"
Noah menatap gate. Pintu itu tidak terbuka. Takdirnya yang buka: jadi CEO, bukan jadi Noah.
Ia mengambil ponselnya, jarinya menari diatas layarnya.
Run, maaf. Flight cancel. Daddy... maksudku, perusahaan... ada masalah. Aku nggak bisa tinggalin. Aku janji, aku cari cara. Jangan marah ya?
_Delete_.
Ketik lagi:
Run, sorry. Aku gagal pulang lagi. Aku rindu kamu
_Delete_.
Telepon. Tidak diangkat. Aruna pasti sedang di jalan, atau Aruna sudah sampai di Cafe dan tengah menyiapkan kejutan?
Noah tahu tabiat gadis cantik itu. Selalu membuatnya mampu tertawa dan tersenyum dengan kejutan-kejutan kecilnya.
Noah remas paspor. Untuk pertama kalinya, ia benci nama belakangnya.
---
Aruna di taksi. Airport Di pangkuan: payung kayu, thermos isi Latte. Masih hangat.
HP-nya berbunyi. Bukan dari Noah. Namun notifikasi yang entah kenapa ia ingin membukanya.
Sebuah grup supporter ramai dan sudah banyak chat yang masuk namun belum sempat ia baca.
Jantung Aruna berhenti. Nafasnya tertahan. Jarinya gemetar membuka tautan portal berita itu.
Dan di sana, di headline @venesiacelebritynews, 12 menit lalu:
[EXCLUSIVE] Noah Pattingga rajasa, CEO Group K.A Sports, Officially Engaged to Piere Hunt – Daughter of Swiss Banking Venesia. Private Ceremony Held This Morning in Bern. #MergerOfTheCentury
Foto Noah. Jas dengan jas navy. Dasi. Di sampingnya perempuan pirang, dengan gown putih, cincin sebesar mata Aruna. Noah tidak senyum. Tapi tangannya melingkar di pinggang wanita itu.
Di bawah foto, terdapat satu baris caption: "Two empires become one. Pattingga Group & Hunt Bank sign 4B Franc deal sealed with engagement.”_
Latte di dalam termos tumpah. Di pangkuan Aruna. Panas. Tapi tidak sepanas dada.
Taksi berhenti. “Mbak, sudah sampai Terminal 1.”
Aruna tidak turun. Tidak bisa. Gate 23 di Paris tidak terbuka. Gate di hatinya baru saja dibanting.
HP berbunyi lagi. Kali ini Noah. Video call.
Aruna menggeser ikon hijau cepat mengangkatnya. Tidak peduli thermos tumpah, tidak peduli supir taksi melirik kasihan.
Di layar: Noah. Di lounge bandara. Wajah hancur. Kemeja kusut. Latarnya bukan gate. Latarnya logo perusahaannya
“Run?" suaranya pecah. “Itu nggak... itu bukan aku. Daddy maksa. Aku harus sign atau 4.000 karyawan di-PHK. Piere... dia cuma... business”
Aruna menatap Noah. Lama. Di matanya tidak ada marah. Ada lelah. Lelah yang sama seperti seperti beberapa bulan yang lalu.
“Noah,” potongnya. Suaranya datar. Seperti lapangan setelah hujan. Hatinya kacau seperti sampah yang dilempar sembarangan “Kamu ingat offside?”
“Iya...”
“Kamu _moffside lagi, Noah. Kamu menyerang masa depanku pakai janji pulang, sebelum kamu siap tackle keluargamu."
“Noah bisa beli klub bola,” Aruna lanjut. Air matanya jatuh, tapi suaranya tidak goyah. “Tapi Noah tidak bisa beli waktu. Dan aku... aku sudah habisin injury time ku buat nunggu kamu.”
“Run, biar aku jelasin...”
“Udah, Noah, stop it!” Aruna tersenyum. Pahit. " Latte nya udah dingin. Payungnya udah basah. Dan aku... aku udah selesai jadi perempuan yang nunggu di gate yang nggak pernah buka.”
Tap
Panggilan berakhir begitu saja. Cepat. Tanpa drama dan basa-basi
Bukan karena benci. Karena skor akhir harus ditulis. 0-1. Noah menang di bisnis. Aruna kalah di cinta.
Di sebrang sana, Noah menjatuhkan HP. Di layar, call ended. Di luar lounge, salju pertama turun.
Di Jakarta, Aruna turun dari taksi. Tidak masuk bandara. Ia balik. Meninggalkan thermos meninggalkan payung nya di kursi belakang.
Karena beberapa barang, kalau sudah dibawa pergi tapi tidak pernah sampai, lebih baik ditinggal.
Malam itu, Aruna menghapus nomor Noah.
Malam itu, Noah tanda tangan 400 dokumen lagi.
Cincin di jarinya bukan untuk Piere. Tapi untuk 4.000 karyawan.
Dan di antara Venesia dan Jakarta, Gate 23 selamanya closed. Tidak ada extra time.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...