Mati karena kelelahan melayani 10 istri cantik? Itu adalah akhir paling konyol dalam hidup Arka. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlahir kembali sebagai Reno, seorang pemuda miskin di desa terpencil dunia Beast Tamer.
Di dunia di mana kekuatan ditentukan oleh hewan kontrak, Reno justru menjadi bahan tertawaan karena hanya mampu menjinakkan seekor cacing tanah kecil yang lemas. Semua orang menghinanya, menganggap masa depannya telah berakhir sebagai petani rendahan.
Tapi mereka tidak tahu... cacing itu bukanlah cacing biasa. Di dalam tubuh kecil itu, bersemayam jiwa Nidhogg, Naga Kuno legendaris yang pernah memusnahkan sebuah negara dalam satu malam!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menuju Lembah Kabut Abadi
Episode 3**2**
Pagi hari di hari keberangkatan, salju tidak lagi turun, namun sisa-sisanya membeku di atas jalanan batu, menciptakan lapisan es yang licin. Di depan gerbang utama Akademi Elang Hijau, delapan kereta kuda lapis baja yang dikawal oleh barisan ksatria zirah emas sudah bersiap. Tidak ada kerumunan murid yang bersorak kali ini. Suasana begitu sunyi, hanya terdengar ringkikan kuda dan denting senjata para penjaga.
Reno berdiri di depan kereta nomor satu. Ia mengenakan jubah perjalanan tebal dengan tudung yang menutupi wajahnya. Di balik bajunya, Nidhogg terus menggeliat gelisah, seolah-olah ia mencium aroma sesuatu yang sangat ia rindukan dari kejauhan.
"Reno, kau sudah siap?"
Instruktur Raka mendekat, mengenakan seragam tempur lengkap. Di pinggangnya tergantung dua bilah pedang pendek yang memancarkan aura perak.
"Siap, Instruktur," jawab Reno singkat. Ia melirik ke arah tujuh orang lainnya yang sedang bersiap menaiki kereta masing-masing. Mereka adalah sisa-sisa terbaik dari turnamen ini.
Di antara mereka, ada seorang gadis pendiam bernama Kiran dari Kelas S yang selalu membawa busur besar. Ada juga Baron, pemuda bertubuh raksasa yang binatang kontraknya adalah Beruang Armor Besi. Mereka berdua adalah kandidat terkuat setelah Reno dan Vance. Sisanya adalah murid-murid elit yang berhasil bertahan dari kekacauan di rawa sebelumnya.
"Ingat," Raka merendahkan suaranya saat mereka berada di dekat pintu kereta. "Di Lembah Kabut nanti, jangan percaya pada penglihatan mu. Kabut di sana bukan kabut biasa; ia bisa memanipulasi ingatan dan menciptakan ilusi berdasarkan ketakutan terdalam mu. Tetaplah fokus pada detak jantung binatang kontrakmu."
Reno mengangguk. "Bagaimana dengan Pangeran Zenon?"
"Dia sudah berangkat lebih dulu melalui portal sihir rahasia bersama ksatria intinya. Dia akan menunggu di benteng pengawas di puncak lembah. Tugasmu adalah bertahan di bawah sana sampai turnamen secara resmi dimulai," jelas Raka sebelum ia memberi isyarat agar Reno segera masuk ke dalam kereta.
Perjalanan menuju Lembah Kabut Abadi memakan waktu sekitar empat jam. Selama perjalanan, Reno tidak banyak bicara. Ia duduk bersila di dalam kereta yang berguncang, melakukan meditasi untuk menstabilkan energi api hitam yang masih tersisa sedikit di pembuluh darahnya.
Di kehidupan lampau sebagai Arka, ia sering melakukan perjalanan bisnis dengan jet pribadi yang mewah. Sekarang, ia berada di dalam kotak besi yang sempit, menuju sebuah tempat yang mungkin akan menjadi kuburannya. Namun anehnya, Reno tidak merasa takut. Ada semacam adrenalin yang terus memacu jantungnya.
"Reno... kita semakin dekat," Nidhogg berbisik, suaranya terdengar sangat haus akan sesuatu. "Aku bisa merasakannya... energi fragmen itu... dia berada di kedalaman gua di tengah lembah. Ada sesuatu yang menjaganya, sesuatu yang sangat besar dan sangat lapar."
"Bisakah kau memperkirakan jaraknya?" tanya Reno.
"Sekitar sepuluh mil dari titik penurunan. Tapi kabut itu... ia mencoba menolak keberadaan ku. Fragmen itu seolah olah dipenjara oleh sihir kuno yang sangat kuat."
Reno menyipitkan mata. Jika fragmen itu dipenjara, berarti ada pihak lain di masa lalu yang tahu tentang keberadaan jiwa Nidhogg dan sengaja menyembunyikannya di sana.
Kereta kuda akhirnya berhenti. Begitu pintu dibuka, Reno disambut oleh pemandangan yang membuat bulu kuduk berdiri. Mereka berada di tepi sebuah jurang raksasa. Di bawah sana, sebuah lembah luas tertutup oleh kabut tebal berwarna abu-abu keputihan yang tidak bergerak sedikit pun, meskipun angin bertiup kencang di atas sini.
Pohon-pohon di sekitar lembah ini berwarna hitam dan tidak berdaun, seolah-olah kehidupan telah dihisap keluar dari tanahnya.
"Semua finalis, harap berkumpul!" teriak Master Gandos yang sudah menunggu di sana bersama beberapa pejabat kerajaan.
Reno dan tujuh orang lainnya berdiri berbaris di tepi jurang. Master Gandos menunjuk ke arah jalan setapak sempit yang menurun menuju kabut.
"Aturan babak 8 besar ini berbeda," ucap Gandos dengan nada serius. "Kalian akan diturunkan di titik yang berbeda di bawah sana. Tugas kalian adalah menemukan 'Altar Cahaya' yang terletak di pusat lembah. Di Altar itu hanya ada empat slot untuk lencana emas. Empat orang pertama yang sampai dan memasang lencana mereka akan maju ke babak semi-final. Sisanya... akan dieliminasi."
Baron, si penjinak beruang, menggeram. "Bagaimana jika kami bertemu di tengah jalan? Apakah kami boleh bertarung?"
"Sama seperti sebelumnya, tidak ada aturan," jawab Gandos. "Tapi ingat, kabut ini sangat berbahaya. Jika kalian merasa tidak sanggup, pecahkan kristal darurat kalian. Namun, butuh waktu bagi tim penyelamat untuk sampai ke posisi kalian di dalam kabut."
Reno melihat ke arah lencana emas di tangannya. Ini bukan lagi soal duel satu lawan satu yang teratur. Ini adalah perlombaan bertahan hidup di wilayah yang sangat tidak ramah.
Satu per satu, murid-murid diturunkan menggunakan tali sihir ke berbagai titik di bawah lembah. Saat giliran Reno tiba, Instruktur Raka mendekatinya dan memberikan sebuah kantong kecil.
"Ini adalah serbuk penawar ilusi. Gunakan hanya jika kau benar-benar merasa kehilangan kesadaran," bisik Raka.
Reno menerima kantong itu, lalu ia melompat turun menuju kabut. Saat tubuhnya masuk ke dalam lapisan kabut, Reno merasa seolah olah ia masuk ke dalam air yang sangat dingin. Suara angin di atas seketika hilang, digantikan oleh kesunyian yang mencekam.
Jarak pandangnya langsung menyusut hingga hanya dua meter. Bahkan suara langkah kakinya sendiri terdengar seperti suara orang lain yang sedang mengikutinya dari belakang.
"Reno, waspada! Ada energi yang mencoba merayap masuk ke telingamu!" Nidhogg memperingatkan.
Reno segera mengaktifkan teknik Arus Bumi. Ia memfokuskan energinya ke saraf pendengaran dan penglihatannya. Ia melihat sekeliling. Pohon-pohon di dalam kabut ini tampak seperti raksasa yang sedang membeku. Akar akarnya mencuat seperti tulang-tulang yang berserakan.
Tiba-tiba, Reno mendengar suara yang sangat familiar di telinganya.
"Mas Arka... kenapa kau meninggalkan kami?"
Reno tertegun. Itu adalah suara Maya, istri kesepuluhnya di dunia lama. Reno menoleh ke belakang dan melihat sesosok wanita cantik mengenakan pakaian modern berdiri di antara pepohonan mati. Wajahnya penuh air mata, persis seperti saat Reno sedang sekarat di tempat tidur dulu.
"Mas, kembali... kembalilah ke rumah kami..."
Jantung Reno berdegup kencang. Logikanya tahu ini adalah ilusi, namun jiwanya yang merindukan kedamaian sempat goyah.
"RENO! JANGAN TERTIPU! ITU HANYA SIHIR KABUT!" Nidhogg mengeluarkan aura hitam yang panas, membakar kabut di sekitar kepala Reno.
Reno menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Sial... kabut ini benar-benar tahu cara menyerang titik terlemah manusia."
Reno tidak menoleh lagi. Ia terus berjalan maju mengikuti kompas jiwa yang ada di dalam Nidhogg. Namun, baru beberapa langkah berjalan, ia mendengar suara benturan logam di dekatnya.
TRANG! TRANG!
"Pergi kau! Monster sialan!" teriakan itu berasal dari suara murid lain.
Reno bergerak mendekat secara perlahan. Di balik sebuah batu besar, ia melihat salah satu finalis sedang bertarung mati-matian. Namun, lawannya bukanlah murid lain, melainkan sebuah bayangan hitam yang menyerupai dirinya sendiri.
Kabut ini menciptakan replika lawan yang sama kuatnya dengan dirimu sendiri, batin Reno.
Reno memutuskan untuk tidak ikut campur. Ia harus menghemat energinya untuk fragmen jiwa naga. Namun, saat ia hendak menjauh, Nidhogg tiba-tiba menarik bajunya.
"Reno... tunggu. Di belakang bayangan itu... aku merasakannya. Bukan fragmen utama, tapi penjaga pintu fragmen itu sedang bangun. Dia mencium kehadiran kita!"
Tanah di bawah kaki Reno tiba-tiba bergetar hebat. Dari dalam lumpur di bawah kabut, sebuah tangan raksasa yang terbuat dari tengkorak dan akar pohon muncul, mencoba menangkap kaki Reno.
"Sepertinya kita tidak akan bisa sampai ke Altar dengan tenang," ucap Reno sambil menarik sabitnya.
Petualangan di Lembah Kabut Abadi baru saja dimulai, dan kali ini, musuh Reno bukan hanya manusia atau binatang buas, melainkan manifestasi dari kegelapan dan masa lalunya sendiri.