Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.
Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.
Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.
"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.
Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Gadis itu turun dengan gagah, lalu berjalan menuju lift. Saat sampai di lobi, petugas resepsionis yang melihat penampilan keren dan berwibawa itu langsung menyambut dengan hormat dan segera mengantarnya naik ke lantai atas, mengira itu adalah tamu penting atau pejabat tinggi.
Sesampainya di ruangan kerja Xin Yuning, Xin Yi pun membuka helmnya dan meletakkannya di meja tamu.
Melihat sosok adiknya yang berdiri di sana dengan penampilan penuh gaya, jaket kulit, dan aura tough girl yang begitu kuat...
Wajah Xin Yuning kembali berubah menjadi masam dan ia segera memijat pelipisnya yang mulai sakit lagi.
"Kau ini... pakaian apa yang kamu kenakan?!" keluhnya tak habis pikir. "Cepat ganti pakaianmu!"
Mendengar omelan itu, Xin Yi tidak merasa tersinggung sedikitpun. Dengan kepatuhan yang luar biasa, ia segera berjalan menuju kamar mandi dalam ruangan kerja kakaknya untuk berganti pakaian menjadi setelan yang lebih sopan dan rapi.
Setelah selesai merapikan diri dan menyimpan tas serta perlengkapannya dengan aman di ruang istirahat, ia pun melangkah keluar menuju ruangan utama.
Namun langkahnya terhenti seketika saat melihat sosok yang sudah duduk di sana.
Quan Yubin.
Pria itu menoleh saat mendengar suara langkah kaki.
Saat tatapan mata mereka bertemu, Quan Yubin seketika membeku di tempat duduknya.
Hampir satu tahun lebih ia menahan diri untuk tidak bertemu, sibuk mengubur perasaan dan kesibukan. Namun saat melihat gadis itu berdiri di hadapannya sekarang... ia sadar betapa banyak perubahan yang terjadi.
Xin Yi kini terlihat lebih tinggi, lebih dewasa, dan memancarkan aura wanita muda yang anggun namun tetap mempertahankan ketajaman di matanya yang gelap itu.
"......"
Keduanya saling menatap dalam keheningan yang aneh.
Melihat suasana mulai canggung, Xin Yuning segera memecah lamunan mereka.
"Ayo, jangan diam saja. Kita harus segera ke ruang rapat. Teman-teman bisnis sudah menunggu," ucapnya tegas.
Benar saja, Xin Yi berniat untuk magang dan belajar di perusahaan kakaknya mulai hari ini, berada di bawah pengawasan penuh Xin Yuning untuk belajar seluk-beluk bisnis.
Saat ketiganya masuk ke ruang rapat yang luas, terlihat dua orang warga negara asing sudah duduk menunggu dengan wajah serius.
Pertemuan dimulai. Namun tidak lama kemudian, alis Xin Yi mulai berkerut dalam.
Ia mendengarkan dengan saksama percakapan antara kedua pihak. Dan dengan kemampuan bahasanya yang luar biasa—termasuk fasih berbahasa Jerman—ia segera menyadari sesuatu yang sangat salah.
Kata-kata yang diucapkan oleh kedua tamu asing itu, berbeda jauh dengan terjemahan yang disampaikan oleh penerjemah mereka kepada Xin Yuning.
Ini bukan sekadar salah terjemahan... batin Xin Yi mulai waspada.
Penerjemah ini sengaja memutarbalikkan arti kalimat. Dia berniat membuat kedua belah pihak salah paham dan berakhir gagal dalam kerja sama ini!
Mata gadis itu menyala tajam. Ia tidak akan membiarkan hal buruk terjadi di depan matanya sendiri.
Dengan gerakan tegas, Xin Yi meletakkan buku catatan di atas meja rapat dengan suara yang cukup keras.
BUK!
Suara itu memecah percakapan yang sedang berlangsung dan membuat semua kepala serentak menoleh ke arahnya dengan tatapan terkejut.
Gadis itu duduk dengan anggun namun wajahnya memancarkan ketegasan yang luar biasa. Ia menatap penerjemah itu sekilas, lalu menatap kedua tamu asing tersebut, dan tanpa ragu sedikitpun ia mulai berbicara.
"Guten Tag, meine Herren."
Suaranya jernih, fasih, dan memiliki logat yang sangat alami dan halus layaknya penutur asli bahasa Jerman.
"......"
Xin Yuning dan Quan Yubin saling memandang dengan mulut ternganga.
Bahasa Jerman?! Sejak kapan si kecil ini bisa bahasa sehalus itu?!
Dengan percaya diri, Xin Yi mulai menjelaskan poin-poin penting dari proposal kerja sama tersebut.
Ia menjabarkan keuntungan yang akan didapatkan kedua belah pihak, namun juga dengan jujur ia menyinggung potensi kerugian dan risiko yang mungkin terjadi, serta solusi konkret untuk mengatasinya.
Pembicaraan yang tadi kacau dan penuh kepalsuan karena ulah penerjemah yang tidak bertanggung jawab, kini menjadi jelas, transparan, dan sangat profesional berkat penuturan Xin Yi.
Kedua pejabat asing itu pun terlihat sangat terkesan dan lega; akhirnya mereka bisa berkomunikasi dengan benar dan menemukan titik temu yang menguntungkan semua pihak.
Di sisi meja, Xin Yuning dan Quan Yubin hanya bisa duduk terpaku menyaksikan kehebatan adik mereka itu.
Wajah mereka kaku, namun mata mereka bersinar penuh kekaguman yang tak terhingga.
"Gila... anak ini benar-benar monster ya..." bisik Xin Yuning pelan pada temannya.
"Dulu dia hanya anak desa yang tahu soal ikan dan laut, sekarang bisa jadi jenius multibahasa seperti ini?!"
Quan Yubin tidak menjawab; ia hanya menatap profil gadis itu dari samping dengan tatapan yang semakin dalam dan gelap.
Xin Yi... kau benar-benar berubah menjadi sosok yang luar biasa menakjubkan. Atau mungkin kamu sebenarnya menyimpan banyak hal.
Di luar ruangan, Xin Yuning dengan gagah berjabat tangan dan mengantar kedua mitra bisnis asing itu hingga ke pintu lift. Wajahnya tampak lega namun tetap serius.
Di dalam hatinya, ia tak henti-henti merasa takjub. Jika ia mengingat kembali penampilan dan cara bicara Xin Yi tadi... ia hampir merasa seolah sedang melihat bayangan ibunya sendiri, Huo Feilin.
Sosok yang tegas, kuat, disiplin, dan tidak pernah ragu-ragu dalam mengambil keputusan.
Gadis kecil itu benar-benar tumbuh menjadi wanita yang tangguh dan berwibawa.
Sementara itu, suasana di ruangan kembali mencekam namun kali ini targetnya berbeda.
Xin Yi duduk tenang di kursi panjang, jari-jemari halusnya memainkan pensil dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Tidak jauh dari tempatnya, Quan Yubin sedang duduk tegak menatap tajam kepada penerjemah yang tadi hampir saja merusak segalanya.
Pria itu mulai melakukan interogasi dengan nada dingin dan tegas, menuntut penjelasan mengapa penerjemah itu sengaja memutarbalikkan fakta dan berniat menjebak perusahaan mereka.
Wajah penerjemah itu pucat pasi dan gemetar ketakutan menghadapi tatapan Quan Yubin yang menusuk, sementara Xin Yi hanya menjadi saksi bisu dengan wajah datar yang polos.
Melihat jarum jam yang menunjukkan waktu pulang, gadis itu pun berdiri dari tempat duduknya. Ia menatap Quan Yubin yang masih sibuk menekan si penerjemah, lalu berkata dengan nada datar,
"Aku akan pulang duluan. Silakan selesaikan pekerjaan kalian dengan baik."
Gadis itu berbalik dan hendak membuka pintu, namun tiba-tiba tangan besar Quan Yubin bergerak cepat menahan pergelangan tangannya.
"Tunggu..." suara pria itu terdengar berat dan mendesak.
"...jangan pergi dulu. Tunggu kami selesai sebentar lagi. Kita akan pulang bersama."
"......"
Xin Yi menunduk melihat tangan mereka yang bersentuhan, lalu menatap mata Quan Yubin. Di sana, ia bisa melihat tatapan yang gelap namun penuh harap dan permohonan yang tak terucapkan.
Namun Xin Yi hanya menghela napas pelan, lalu dengan lembut namun tegas ia melepaskan genggaman itu.
"Mungkin lain kali saja, Kak. Hari ini saya ingin pulang sendiri," jawabnya singkat.
DEG!
Quan Yubin tertegun di tempat. Penolakan itu menusuk hatinya lebih tajam dari yang ia bayangkan. Ia melihat tangan gadis itu lepas begitu saja, lalu melihat punggung kecil itu berjalan pergi tanpa menoleh lagi.
Di luar ruangan, Xin Yi berpapasan dengan Xin Yuning yang baru saja kembali.
"Eh? Mau pulang sekarang?" tanya kakaknya santai.
"Iya, sudah waktunya. Aku akan pulang dulu," jawab Xin Yi dengan ringan.
Xin Yuning tidak menahannya; ia tahu adiknya pasti lelah setelah tampil hebat tadi. Ia pun membiarkan gadis itu pergi.
Namun saat Xin Yuning melangkah masuk kembali ke dalam ruangan rapat, suhu udara di ruangan itu seakan tiba-tiba turun drastis. Aura dingin dan mematikan terpancar begitu kuat hingga membuat bulu kuduk merinding.
Di sana, Quan Yubin masih duduk diam.
Namun wajahnya... jauh lebih menakutkan, jauh lebih gelap, dan jauh lebih berbahaya daripada ekspresi marah manapun yang pernah Xin Yuning lihat selama bertahun-tahun mereka berteman.
"Yubin... kau... tidak apa-apa kan?" tanya Xin Yuning hati-hati, mulai takut pada temannya sendiri.
Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua? Kenapa suasana jadi seberat ini?
Xin Yi mengendarai motor barunya dengan kecepatan stabil menyusuri jalanan kota. Angin sore berhembus kencang meniup rambutnya yang baru saja dilepas dari ikatan, namun tidak mampu mendinginkan suasana hati yang sedang kacau.
Saat berhenti di persimpangan lampu merah, ia menepuk pelan tangannya sendiri.
Aku marah... kenapa aku merasa marah sekali pada Kak Quan? batinnya bertanya-tanya.
Ia sendiri tidak mengerti sumber emosi itu berasal dari mana. Mungkin karena pria itu tiba-tiba muncul lagi setelah sekian lama menghilang seolah tidak ada apa-apa?
Atau mungkin karena tatapan dan sikap pria itu yang membuatnya bingung dan tidak nyaman?
Yang jelas, melihat sosok itu berdiri diam di sana, memandangnya dengan tatapan aneh namun tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun untuk menjelaskan kepergiannya...
Itu membuat Xin Yi merasa sangat kesal.
Kami ini dianggap apa? Mainan yang bisa ditinggal pergi seenaknya dan dipanggil kembali seenaknya?!
Rasa kesal dan kebingungan yang tidak ia mengerti namanya itu membuat dadanya terasa sesak dan panas.
"Sudahlah... tidak perlu dipikirkan," gerutunya pelan sambil menyalakan mesin kembali saat lampu hijau menyala.
"Fokus berkendara saja. Itu jauh lebih mudah daripada memikirkan perasaan manusia yang rumit."