Raisa Maureen ditinggal mati suaminya di dalam kondisi masih prawan, lalu ia melakukan hubungan satu malam dengan kakak iparnya karena pria itu mabuk berat dan kehilangan keperawanannya. setelah menikah dengan Evan ia baru mengetahui kenapa selama ini Aditya almarhum suaminya tidak pernah menyentuhnya. Apa yang sebenarnya terjadi? ikuti kelanjutan kisah nya hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mertua Galak
Raisa masih memeluk bantal sofa sambil menatap kosong ke langit-langit rumah.
Pikirannya bercampur aduk.Malu. Takut. Tapi juga… lega karena akhirnya ia jujur pada ibunya.
Tak lama kemudian ponselnya kembali bergetar.
Nama Evan muncul di layar.Raisa langsung menggigit bibir kecil sebelum mengangkatnya."Halo…"
Suara Evan terdengar santai dari seberang."Udah masuk rumah?"
Raisa menghela napas pelan."Udah."
Evan langsung sadar nada suaranya berbeda."Kamu kenapa?"
Raisa terdiam beberapa detik."Tadi Ibu telepon."
Evan langsung sedikit menegang."Terus?"
Raisa memejamkan mata."Keluarga kamu ternyata udah cerita semuanya."
Suara Evan langsung berubah serius."Papa ngomong apa ke orang tua kamu?"
"Katanya aku hamil… dan pacaran sama kamu."
Evan menghembuskan napas kasar pelan."Papa memang keterlaluan."
Raisa tersenyum lemah.
"Ibu sampai syok."
"Terus kamu jawab apa?"
Raisa menggigit bibir kecil.
"Aku jujur."
Evan langsung diam beberapa detik.
"Jujur yang mana?"
Raisa makin malu sendiri.
"Semuanya…"
Evan mengernyit.
"Termasuk soal kita?"
"Iya."
"Kalau aku bukan hamil anak Mas Aditya."
Evan langsung memijat keningnya di dalam mobil.
"Sa…"
Raisa buru-buru bicara,"Aku capek bohong terus."
Suara Evan melembut."Mas nggak marah."
Raisa menunduk sambil memainkan ujung bajunya.
"Ibu bilang kamu harus datang minggu ini."
Kalimat itu membuat Evan langsung terdiam cukup lama.
Raisa mulai gugup.
"Mas?"
Namun tiba-tiba Evan tertawa kecil pelan."Kenapa malah ketawa?"
"Karena ternyata calon mertua mas lebih galak dari papa."
"Mas serius!"
Evan tersenyum tipis meski Raisa tidak melihatnya."Iya, mas serius juga."
Nada suaranya perlahan berubah lebih tenang.
"Berarti mas harus siap mental dilabrak ayah kamu."
Raisa akhirnya ikut tersenyum kecil."Ayah aku memang serem."
"Mas juga serem."
"Kamu beda. Kamu mesum."
Evan langsung tertawa pelan."Nah itu baru Raisa mas."
Pipi Raisa kembali memerah mendengar pria itu bicara seolah semuanya sudah pasti.Namun beberapa detik kemudian Evan berkata lebih lembut,."Sa."
"Iya?"
"Terima kasih."
Raisa mengernyit kecil.
"Buat apa?"
"Karena kamu mulai percaya sama mas."
Hati Raisa langsung menghangat.
Ia memejamkan mata pelan sambil tersenyum kecil.
Meski hubungan mereka penuh masalah dan omongan orang— untuk pertama kalinya Raisa merasa ada seseorang yang benar-benar memilih dirinya.
Raisa terdiam beberapa detik setelah mendengar ucapan itu.
Jantungnya terasa hangat.
Ia memeluk lututnya sendiri di atas sofa sambil tersenyum kecil malu-malu.
"Aku belum percaya sepenuhnya kok."
Evan tertawa kecil dari seberang telepon.
"Tapi udah mulai, kan?"
Raisa mendengus pelan.
"Dikit."
Evan tersenyum puas mendengarnya.
"Perkembangan bagus."
Raisa menggeleng kecil sambil tersenyum sendiri.
Suasana di antara mereka terasa jauh lebih ringan dibanding beberapa hari terakhir.
"Mas sekarang di mana?"
"Masih di jalan."
"Kok belum sampai rumah?"
Evan menghela napas santai.
"Mas lagi mikir."
"Mikir apa?"
"Gimana cara bikin ayah kamu nggak langsung lempar sandal pas lihat mas."
Raisa spontan tertawa kecil untuk pertama kalinya malam itu.
"Nggak mungkin sampai lempar sandal."
Evan ikut tertawa.
"Syukurlah. Berarti paling disuruh push-up."
"Mas…"
Evan tersenyum mendengar tawa kecil Raisa yang akhirnya muncul lagi.
Jujur saja— ia lebih suka melihat wanita itu tertawa daripada menangis seperti tadi di lapas.
"Sa."
"Hm?"
"Nanti kalau mas datang ke rumah kamu…"
Raisa langsung mulai gugup lagi.
"Kenapa?"
"Mas ngomong jujur aja ya?"
Raisa langsung diam.
"Jujur soal apa?"
"Kalau mas memang serius mau nikahin kamu."
Pipi Raisa langsung memanas.
Padahal mereka hanya bicara lewat telepon.
Namun ucapan Evan selalu berhasil membuatnya salah tingkah.
"Mas ngomongnya gampang…"
Evan tersenyum kecil.
"Karena dari dulu mas memang maunya kamu."
Raisa langsung terdiam.
Kalimat itu membuat dadanya kembali berdebar tidak karuan.
"Kenapa diem?"
Raisa menggigit bibir kecil.
"Mas jangan ngomong begitu terus."
"Kenapa?"
"Aku malu."
Evan tertawa kecil puas.
"Berarti mas harus sering-sering ngomong."
"Mas!"
Evan kembali tertawa.
Raisa akhirnya ikut tersenyum sambil menutup wajahnya sendiri dengan bantal sofa.
Lalu beberapa detik kemudian Evan berkata pelan,
"Sa…"
"Iya?"
"Mas beneran nyesel nggak mengutarakan isi hati Mas sejak awal sebelum kamu dilamar Aditya."
Senyum kecil di wajah Raisa perlahan memudar.
Ia menatap kosong ke depan.
Kalau saja Evan datang lebih dulu… mungkin hidupnya tidak akan serumit ini.Namun di sisi lain kalau semua itu tidak terjadi, mungkin mereka juga tidak akan sedekat sekarang.
ulat bulu mulai berdatangan...
Raisa kamu harus kuat menghadapi para uget uget yang mengincar Evan...
semangat naik ranjang
udah tau juga belang Aditya..
udah dengerin aja,jangan jadi orang yang sok tau gimana Aditya
udah di obok obok tiap hari msak gak mau dinikahi..
ada2 aja,kemana harga diri Mu Sa
pak David tukang kibul malah dikibulin...
anak sendiri pula pelakunya 🤣🤣🤣🤣