NovelToon NovelToon
Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:15.6k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.

Marsha Zaiva Dominic.

Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.

Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.

Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Marsha terdiam, namun kata-kata itu seperti memantik sesuatu yang lama ia tekan. Dadanya terasa sesak, bukan karena terkejut, melainkan karena amarah yang perlahan bangkit ke permukaan.

Dendam yang selama ini ia kubur rapi kini kembali menyala, panas dan tak terbendung, terlebih saat mengingat siapa ibu kandungnya, wanita itu tidak pernah benar-benar berubah.

Licik, manipulatif, dan selalu tahu bagaimana memutar keadaan demi keuntungannya sendiri. Bahkan dari balik jeruji sekalipun, ia masih mampu mengendalikan segalanya seolah dunia berada dalam genggamannya. Bukan tidak mungkin ia akan keluar dengan mudah, cukup dengan satu surat keterangan yang menyatakan dirinya mengalami gangguan kejiwaan.

Marsha mengepalkan tangannya perlahan, rahangnya mengeras, jika itu benar terjadi, maka semua yang dulu akan terulang kembali. Dan kali ini Ia tidak akan tinggal diam.

Marsha menghela napas panjang, berusaha meredam gejolak yang masih tersisa di dadanya. “Aku harus kembali. Sebaiknya kau juga istirahat,” ucapnya pelan pada Archio.

Tidak ada jawaban.

Archio tetap terdiam, masih bersandar di bangku taman dengan tatapan kosong, seolah pikirannya berada jauh dari tempat itu.

Marsha tidak menunggu lebih lama. Ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan suasana hening di antara mereka. Suara langkahnya perlahan menjauh, sementara Archio tetap di sana, membeku dalam pikirannya sendiri, ditemani angin malam yang berhembus pelan.

___

Langkah Marsha terasa berat, seolah setiap pijakannya di atas aspal dingin itu menarik kembali memori pahit yang berusaha ia hapus. Begitu sampai di dalam mobil, ia tidak segera menyalakan mesin. Ia mencengkeram kemudi hingga buku-bukunya memutih, membiarkan kesunyian kabin menjadi saksi bisu atas keputusasaan yang berubah menjadi tekad baja.

“Cukup sekali kau menghancurkan hidupku,” bisiknya parau, menatap pantulan matanya sendiri di spion tengah.

Matanya yang biasanya lembut kini berkilat tajam sebuah transformasi yang dipaksakan oleh keadaan.

Alih-alih pulang ke rumahnya, Marsha memutar arah. Pikirannya melayang pada rencana licik sang ibu yang mungkin sudah mulai berjalan. Jika surat keterangan gangguan kejiwaan itu benar-benar sedang diusahakan, maka Marsha harus bergerak lebih cepat. Ia tidak bisa hanya menunggu badai datang; ia harus menjadi badai itu sendiri.

Ia merogoh ponselnya, mencari satu nama yang selama ini ia hindari di daftar kontak. Seorang pengacara tua yang mengenal semua rahasia gelap keluarganya.

Sementara itu, di bangku taman yang mulai basah oleh embun, Archio akhirnya bergerak. Ia menyentuh tempat yang tadi diduduki Marsha, masih ada sisa kehangatan di sana, namun jiwanya terasa kosong. Ia tahu Marsha benar; ibu kandung wanita itu adalah ancaman nyata yang tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang ia mau.

Archio menatap langit malam yang kelam tanpa bintang. Ia menyadari satu hal: diamnya bukan lagi bentuk perlindungan, melainkan sebuah kelalaian. Jika ia terus membeku seperti ini, ia akan kehilangan Marsha untuk selamanya.

Ia bangkit berdiri, merapikan jasnya yang kusut, dan mengeluarkan ponsel. Sebuah pesan singkat dikirimkan kepada orang kepercayaannya.

"Cari tahu siapa dokter yang mengeluarkan surat rekomendasi kesehatan jiwa di Lapas Kelas I. Aku ingin data lengkapnya dalam satu jam."

 

Mesin mobil akhirnya menyala, memecah keheningan yang sejak tadi menekan Marsha. Namun ia tidak langsung melaju, tangannya masih menggenggam kemudi erat, tatapannya lurus ke depan, sementara pikirannya berputar cepat, menimbang setiap kemungkinan yang bisa terjadi.

Nama itu masih terpampang di layar ponselnya, ia menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak, lalu tanpa memberi ruang pada keraguan, menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum akhirnya terangkat.

“Halo.” Suara di seberang terdengar berat dan tajam, sama seperti yang ia ingat.

“Aku butuh bantuan,” ucap Marsha tanpa basa-basi.

Hening sejenak, cukup untuk memastikan bahwa pria itu mengenali siapa yang berbicara.“Sudah lama kau tidak mencariku.”

“Aku tidak punya pilihan.” Nada suara Marsha tetap tenang, tetapi ketegasan di dalamnya tak terbantahkan.

“Kalau sampai kau menelepon, berarti masalahnya serius.”

“ya, dia akan keluar,” potong Marsha langsung. “Dengan alasan gangguan kejiwaan, Archio mengatakan jika Valerina menemukan surat keterangan, jika wanita itu memiliki gangguan kejiwaan.”

Keheningan kali ini terasa lebih berat. “Siapa dokternya?”

“Belum tahu, tapi aku akan cari.”

“Tidak,” sahut pria itu cepat, suaranya berubah lebih dingin. “Kalau ini melibatkan ibumu, berarti semuanya sudah disiapkan. Kau tidak bisa bergerak lambat. Apalagi keluarga Arditho juga punya kekuasaan.”

Marsha mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. “Lalu?”

“Kita hancurkan dari akarnya.” Nada suaranya tetap tenang, namun mengandung tekanan yang tak terbantahkan. “Kau harus lebih pintar… dan lebih licik. Mengingat kau sudah hampir mati berkali-kali.”

Ia berhenti sejenak, seolah mempertimbangkan sesuatu. Lalu, dengan nada yang jauh lebih rendah, ia menambahkan. “Kadang aku curiga kau bukan anak mereka.”

Dunia seolah berhenti sesaat, untuk pertama kalinya, Marsha benar-benar terdiam, bukan karena marah, melainkan karena kalimat itu menghantam sesuatu yang bahkan tidak pernah berani ia pikirkan.

Namun hanya sepersekian detik, matanya kembali terbuka, kini jauh lebih tajam, dingin, dan penuh kendali. “Aku tidak akan gagal kali ini.”

“Pastikan begitu,” balas pria itu singkat. “Kirim semua yang kau tahu. Sisanya biar aku yang urus.”

Panggilan terputus.

Marsha menurunkan ponselnya perlahan. Wajahnya kembali datar, namun kali ini bukan karena tenang, melainkan karena semua emosi telah mengeras menjadi tekad.

Tanpa ragu, ia menginjak pedal gas. Mobil itu melaju membelah malam, meninggalkan satu pertanyaan yang kini mulai menggerogoti pikirannya Jika ia bukan anak mereka, Lalu siapa dirinya yang sebenarnya?

Di sisi lain kota, Archio berdiri di balkon kamarnya dengan ekspresi dingin. Layar ponselnya menyala saat sebuah pesan masuk. “Data awal ditemukan. Ada pergerakan mencurigakan di dalam lapas. Salah satu dokter sering masuk tanpa jadwal tetap.”

Tatapan Archio menajam. “Kirim identitasnya. Sekarang."

Balasan datang cepat dalam bentuk file. Ia membukanya, menelusuri setiap detail dengan teliti hingga akhirnya berhenti pada satu nama dan foto. Ekspresinya berubah tipis, bukan terkejut, melainkan seperti menemukan potongan puzzle yang tidak seharusnya terhubung. “Menarik,” gumamnya pelan.

Tanpa membuang waktu, ia mengambil kunci mobilnya. Jika dugaan ini benar, maka Marsha sudah berjalan ke dalam permainan yang jauh lebih besar dari yang ia sadari, dan kali ini ia tidak akan membiarkannya menghadapi semua itu sendirian.

1
Nessa
apakah liam jodohnya marsha 😁
Forta Wahyuni
gk slh thor, tapi marsha anak bungsu n koq manggil adik sama archio.
羽菜 Hana: iya kak ada kesalahan, Terimakasih banyak untuk koreksinya.
total 1 replies
Nessa
ahh mewek 😭
Nessa
ngeriii kok ada y ibu yang hatinya seperti iblis binatang aja g tega membuang anaknya loh miris kali
Risma Surullah
di bab lain marsha anak bungsu yg dibenci, di bab selanjutnya archio adalah adik marsha...hehe bingung bingung aq bingung
Muji Lestari
lanjut thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!