Maharani, gadis manis tapi pemalu yang menyukai seorang laki-laki anak kepala desa yang tampan bernama Andrean.
cinta yang tulus tapi dibalas oleh sebuah kejahatan.
maharani hanya menuntut tanggung jawab, tapi dia dijebak, lalu di rud*p*ksa oleh Andrean bersama dua rekannya.
maharani di tolong oleh seroang nenek yang kemudian memberinya ilmu kanuragan untuk balas dendam pada orang-orang yang menyakitinya.
akankah para pelaku ditangkap atau berakhir tragis, yuk simak kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
akhir dendam
Langit malam semakin gelap diselingi kilatan petir berwarna merah darah yang sedikit memberi pencahayaan malam itu.
Semua orang terperangah, menatap tak percaya akan satu sosok setinggi dua kaki yang berdiri dihadapan mereka.
Eyang Darsih menatap nanar sosok itu.
Dia menerka dalam kepalanya jika ini adalah sosok yang dulu pernah diceritakan oleh orang-orang tua terdahulu kepadanya.
Sosok tinggi besar, kulit hitam legam dan dengan wajah yang mengerikan berikut dengan dua taring panjang yang keluar dari mulutnya. Serta dua tanduk disisi kepalanya.
Sempat dirinya gentar namun jika tak diselesaikan maka akan banyak korban yang akan berjatuhan dikemudian hari.
Eyang Darsih mengerahkan tongkat kearah raja iblis.
"Kembalilah keduniamu! Disini bukan tempatmu!" titah eyang Darsih.
Makhluk itu mengeram layaknya hewan buas yang kelaparan. Matanya menyala bak bara api yang siap membakar siapa saja dan apa saja.
Semua orang berpegangan satu sama lain.
Mereka gemetar ketakutan.
Eyang Darsih berdiri dihadapan raja iblis seperti mengajak duel meskipun dia tahu, jika makhluk itu bukanlah lawannya.
"Jangan memerintah ku Darsih....! Kau bahkan bukan lawanku. Menyingkir lah dari hadapanku! Jangan sok jadi pahlawan bagi manusia-manusia tamak seperti mereka!" suara raja iblis menggema mengisi tenangnya malam.
"Tidak akan aku biarkan kemungkaran merajalela didunia ini...!"
"Ha ha ha...Kau bisa apa Darsih dengan tubuh rentamu itu? Jangan melawanku!"
"Kekuatan yang didasari kejahatan takkan pernah abadi" tegas eyang Darsih.
"TUTUP MULUTMU DARSIH!!"
Pertarungan dimulai.
Saling beradu ilmu kanuragan.
Eyang Darsih sempat terhuyung karena pukulan iblis mengenai dadanya.
Eyang Darsih memegang dadanya.
Tetes darah mengalir keluar dari mulutnya.
Saat keduanya bertarung, Maharani melirik kearah Andre yang masih dibaringkan diatas meja panjang.
Kepalanya menengadah keatas.
Bulan purnama sebentar lagi mulai penuh.
Matanya memancar amarah dan dendam.
"Kau pikir kau akan aman? TIDAK! Kau akan tetap aku tumbalkan Andre. Kau harus membayar atas semua yang pernah kau lakukan padaku" kata Maharani yang berdiri disisi meja.
"Tolong... maafkan aku Rani.. Ampuni aku.. Aku bersalah.. Tolong lepaskan aku...." ujar Andre ketakutan.
Maharani tak terpengaruh dengan tangisan buaya dari Andre.
Dia tahu laki-laki itu tidak pernah menyesal dengan apa yang telah dilakukannya selama ini.
"Kau tidak pantas dihukum didunia... Kau hanya pantas dihukum dengan tanganku!"
Maharani mengangkat tubuh Andre lalu membantingnya ketanah.
Hempasan itu membuat tulang punggung Andre patah dan darah segar mencuat dari mulutnya.
Para makhluk berebut ingin menghisap darah laki-laki itu dan Maharani membiarkannya.
"Andre..." teriak bu Ratih
Maharani menoleh kearah bu Ratih dengan tatapan mengerikan.
Langkahnya kini tertuju pada wanita paruh baya itu.
Bersiap kembali meminta darah.
Baru saja Maharani akan melancarkan aksinya, seseorang telah berdiri menghalanginya hingga terkena serangan Maharani.
"Bapak....."
"Pak Rahmaannnn..."
Teriak semua orang berlari menuju tubuh pak Rahman yang ambruk ketanah.
Pak Rahman memegangi dadanya.
"Pak..."
"Bapak...."
Isak bu Sukma dan Bagas bersamaan.
Maharani kemudian bergeming.
Kakinya refleks mundur selangkah.
Tatapan yang semula dingin membun*h perlahan memudar.
"Rani, putri bapak.... Bertaubat lah nak... Mohon ampun pada Tuhan... Kembalilah nak.." tatapan sayu seorang ayah yang merindukan putrinya mampu membuat iblis yang ada didalam tubuh Rani lenyap.
"Pak...." cicit Bagas memeluk pak Rahman.
"Maafkan bapak karena tidak bisa menjadi ayah yang berguna dan melindungi mu nak... Maafkan bapak... Tolong, kembalilah.... Kami menyayangimu nak "
Pak Rahman merasakan kesadarannya perlahan memudar. Pandangan mulai kabur dan perlahan, kedua matanya terpejam.
Pak Rahman meninggal dunia ditangan putrinya sendiri. Putri yang dulu ia timang-timang.
"Bapak... Jangan tinggalkan ibu...." isak bu Sukma.
***
"SUDAH CUKUP KAU MERENGGUT SETIAP KEBAHAGIAAN ORANG-ORANG....! TERIMA BALASANNYA....!!"
Eyang Darsih mengambil tusuk konde dari rambutnya dan menusukkannya tepat ke dada raja iblis yang lengah.
Bukan hanya Maharani yang ambruk, melainkan semua para pengikutnya termasuk mbah Djani seperti semuanya terkoneksi satu sama lain.
"Aaaaa........ Panas... Panas....!!!" teriak semua makhluk.
Namun raja iblis tak tinggal diam, dia juga membalas eyang Darsih hingga tubuh tua eyang terpental cukup jauh.
Tio segera berlari menghampiri eyang.
"Eyang... Eyang...." panggil Tio khawatir.
"Eyang baik-baik saja... Mereka telah kalah.... " cicit eyang yang perlahan memejamkan kedua matanya.
Tenaga raja iblis begitu kuat meski sempat kesakitan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bapak... Ibu... Bagas...." panggil Maharani dengan nada rendah.
Bu Sukma menoleh pada putrinya.
"Kamu kembali nak? Ini Maharani putri ibu?" cicit bu Sukma.
Airmata jatuh membasahi pipi Rani.
"Bapak... Maafkan Rani pak... Rani berdosa pada kalian..... Maafkan Rani...." dia terisak dan bersimpuh dihadapan jasad pak Rahman.
Bu Sukma membawa Maharani kedalam pelukannya. Memeluk perempuan itu erat seolah sedang melepas rindu yang mendalam.
Pun dengan Bagas ikut memeluk kakaknya.
"Mbak Rani...."
"Tolong Rani... Selamatkan Rani bu...." isak Rani.
Disaat semuanya sedang mengharu biru menyambut kembalinya Rani, tanpa mereka sadari raja iblis tidaklah benar-benar mati.
Dia masih berdiri tegap. Serangan dari eyang Darsih tak mampu memusnahkannya.
Hanya dengan kekuatan jarak jauh dia berhasil menarik Maharani kembali padanya.
"Ibu... Bagas... tolong Rani....!!" teriak Maharani menggema berusaha menggapai tangan ibunya.
Rani ditarik kedalam rangkulan raja iblis.
"Kau pikir kau bisa pergi begitu saja setelah menyerahkan jiwamu padaku?" kata raja iblis dingin.
"Jiwa dan ragamu adalah milikku selamanya. kau diciptakan untuk melayaniku! Dan kau akan terus menjadi budakku selamanya meskipun kau tidak menginginkannya lagi"
"Rani.."
"Mbak Rani...!"
Teriakan itu tidaklah berguna karena Maharani bersama raja iblis telah menghilang bersamaan kabut hitam pekat yang tiba-tiba muncul entah darimana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Langit malam kembali seperti semula seperti tak ada yang terjadi sebelumnya.
Suara tim penyelamat mengisi tenangnya hutan.
Jasad pak Herman, mbah Djani dimasukkan kedalam kantong mayat.
Dan jasad Andre?
Tak ada dimanapun. Yang tersisa hanya ceceran darah yang memenuhi tanah.
Sementara jasad eyang Darsih digotong dengan tandu.
Semua orang terlihat bingung dengan apa yang mereka lihat didepan mata.
Meski banyak pertanyaan dikepala mereka namun tak satupun keluar dari bibir masing-masing seolah mereka bekerja dalam senyap membereskannya secepat mungkin sebelum ayam berkokok.
Bu Ratih yang nampak syok dibawa kerumah sakit untuk pemeriksaan kejiwaannya.
Begitupun dengan Bagas dan bu Sukma atas permintaan Tio.
"Semua telah berakhir " lirih Ujang.
"Ya.. kamu benar Jang... Semuanya berakhir dan tak menyisakan satu kejahatanpun... Maharani membalasnya hingga tuntas...." sahut Hasan.
"Kami turut berduka atas kepergian eyang..." ujar Hasan menepuk pundak Tio.
Tio menatap nanar kesegala arah.
Ini benar-benar berakhir tak tersisa.
Tio menatap lurus kedepan.
Tatapan itu seperti sebuah ucapan perpisahan.
"Selamat tinggal... ini akhirnya dan maaf aku tidak bisa menyelamatkan mu... semoga kelak kamu bisa damai diduniamu yang baru"
Tio kembali melangkah meninggalkan hutan begitu juga dengan semua orang.
Hutan pinus dan semua isinya tetap akan jadi sebuah misteri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
7 tahun kemudian....
"Mas... Terima kasih udah menyempatkan datang" tutur Bagas.
"Lagi ada waktu luang... Lihat siapa yang datang...." Tio menggeser badannya.
Dua laki-laki melambaikan tangan dengan senyum bangga disambut oleh Bagas dengan senyum serupa.
"Selamat Gas... Sekarang kamu udah jadi dokter muda...." puji Hasan yang diikuti oleh Ujang.
"Makasih banyak mas Hasan, mas Ujang... Berkat dukungan kalian, aku bisa sampai dititik ini...." ujar Bagas haru.
Ketiganya menepuk pundak laki-laki itu dengan bangga. "Ini juga berkat kerja kerasmu" ujar Hasan.
"Ayo pulang... Mbak mu udah siapin jamuan buat nyambut dokter satu-satunya dirumah..." ajak Tio yang disetujui oleh Hasan dan Ujang.
"Besok jadi ke makam ibu dan bapak?" tanya Tio dalam perjalanan pulang kerumah mereka.
"Jadi mas... Udah lama aku nggak kesana... Kangen juga nyekar kemakam bapak dan ibu...." tutur Bagas.
Enam tahun lalu, bu Sukma mengalami sakit parah pasca kepergian suaminya dan juga Maharani putrinya dalam peristiwa berdarah dihutan pinus.
Dia tidak bisa bertahan dan menghembuskan nafas saat Bagas sedang menjalani studinya disalah satu sekolah dikota.
Setelah peristiwa mengenaskan itu seluruh warga desa Lestari memilih pindah dari desa mereka, pun dengan bu Sukma dan Bagas.
Mereka diminta oleh Tio tinggal dirumahnya dan menjadi bagian dari keluarganya karena kebetulan, Tio juga hidup sebatang kara setelah kepergian eyang Darsih.
Bagas disekolahkan oleh Tio hingga selesai SMA dan mendapat beasiswa penuh di fakultas kedokteran karena kepintarannya.
Tio akhirnya menikah dengan seorang gadis yang menjadi juniornya di kesatuan lalu memilih kembali bertugas di kota seperti sebelumnya disusul dengan Hasan dan juga Ujang.
Mereka mendapat kenaikan pangkat.
Kasus Andre ditutup karena tersangka yang telah meninggal dunia.
Namun pihak wartawan tetap menyiarkan semua kejahatan laki-laki itu di berbagai platform media sosial sebagai pengingat kejahatan yang pernah dia lakukan semasa hidupnya.
Desa Lestari kini bagai desa yang terkubur dan dihilangkan dari peta.
Semua akses menuju desa itu dihilangkan.
Tak ada yang tahu nasib bu Ratih karena terakhir kali dia dibawa kerumah sakit namun setelahnya wanita itu hilang bak ditelan bumi.
Tak ada yang tersisa dari sebuah dendam.
Kini Maharani merasakan hidup namun jiwanya telah mati. Dia menjadi budak iblis karena dendamnya sendiri.
Setan dan iblis tidak pernah memberikan sesuatu secara cuma-cuma. Apa yang mereka berikan hari ini untuk membantumu melukai orang lain besok akan mereka gunakan untuk memaksamu melakukan hal yang jauh lebih jahat lagi sehingga kamu akan kehilangan jiwamu sendiri.
Dendam Maharani memang sudah terbalaskan akan tetapi dirinya juga ikut hilang seiring dendam yang terselesaikan.
The end....
Hai hai....
Terima kasih sudah sudi mampir ke karya ku ya...
Kisah ini tidak panjang tapi tetap aku selipkan pesan didalamnya.
Jangan lupa vote, subscribe ya...
Sampai ketemu dikisah selanjutnya....
Love you all.... ❤️