Willy Tjokro anak dari owner TV swasta nekad berubah wujud jadi perempuan. Targetnya mendekati Summer Lidya, gadis incaran sejak masa SMA yang menolaknya mentah-mentah karena phobia laki-laki.
Definisi jodoh nggak kemana, mereka ditakdirkan berkuliah di satu kampus dan jurusan yang sama. Hal yang menjadi celah bagi Willy mendekati Summer lagi.
Namun, kali ini berbeda, bukan sebagai pria, tapi bestie cewek jadi-jadian yang mengerti isi hati Summer.
Akankah penyamaran Willy berhasil?
Story by Instragram & Tiktok @penulis_rain
Cover Ilustrasi by ig @iyaa_laa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Giana tidak langsung bertanya lagi. Ia hanya diam sambil memegang cangkir coklat hangat di tangannya, membiarkan Summer menenangkan pikirannya sendiri.
Suara hujan masih turun deras di luar. Angin sesekali membuat jendela bergetar pelan. Summer memandang ke arah luar dengan tatapan kosong, mengingat seberapa dalam luka yang ia rasakan dulu sampai memiliki trauma berat seperti sekarang ini.
Kilasan balik tentang kehidupannya dulu, membuat Summer memejamkan matanya pelan, menikmati sakitnya sendiri.
“Dasar anak bodoh, kalau apa-apa itu lakuin yang bener. Bikin kopi aja nggak becus, dasar anak sama ibu sama-sama gak berguna!”
“Sekarang, kamu ayah hukum. Diam di luar dan jangan berani-berani masuk kedalam rumah sebelum ayah kasih izin. Berani kamu masuk, ayah pukul ibu kamu sampe mati. Mau kamu?”
“E-enggak yah, nggak. Ja- jangan hukum ibu, hukum Summer aja yah.”
“Bagus kalau kamu nyadar diri. Sekarang, kamu diam diluar, duduk di bangku itu sampai besok pagi. Berani geser sedikit aja kamu dari sana, ayah habisi ibu kamu!”
“Iya ayah.”
Malam itu, sejak habis Maghrib hingga menjelang subuh, Summer benar-benar berdiam diri diluar rumah, tepatnya dihalaman belakang rumah dengan keadaan tubuh basah kuyup akibat kehujanan. Hujan turun dengan lebat tanpa henti, bahkan berkali-kali petir menyambar dan membuat Summer ketakutan setengah mati.
Terlebih lagi, saat petir itu menyambar pohon kelapa yang cukup tinggi, Summer menjerit kuat ingin lari dari posisinya saat itu. Tapi ketakutannya akan kemungkinan ibunya dipukuli ayahnya lagi, membuat Summer harus meringkuk diatas bangku dibawah guyuran hujan deras dan petir yang tidak pernah berhenti.
***
Summer merasakan jantungnya berdebar kuat, saat bayangan sialan yang sudah bertahun-tahun ia kubur itu mulai bangkit kembali.
“Mer..” Giana memanggil Summer pelan, dan mengusap bahunya, membuat Summer tersentak seketika.
“Eh so- sorry. Gue bikin Lo kaget ya?”
Summer menggeleng pelan,”nggak ko. Gue… gue cuma lagi ngelamun dikit tadi, hehe. Gimana, tadi Lo tanya apa?”
Giana menggeleng pelan. “Nggak ko, gue nggak tanya apa-apa. Gue…"
“Oh iya, soal trauma gue tadi ya? Gue tadi bilang kalau gak mau cerita kan, sorry ya. Gue kayanya….”
“Kalau gak mau cerita juga gapapa, Mer,” potong Giana akhirnya pelan, merasa kalau Summer sepertinya memang memiliki trauma yang gak main-main soal petir. “Jangan dipaksain ya, nanti Lo malah gak nyaman lagi.”
Summer tersenyum tipis, membalas tepukan pelan dibahu Giana.
“Bukan gak mau cerita karena takut bikin keinget lagi kok.”
“Terus?”
“Gue gak tahu harus mulai dari mana, lagian kan… trauma yang gue alami itu udah lama. Jadi, gue kayak gak tau mau ceritanya dari mana.”
Giana mengangguk kecil. Ia paham perasaan itu. Kadang ada luka yang terlalu lama dipendam sampai akhirnya sulit dijelaskan bahkan dengan kata-kata sendiri.
“Dulu,” ujar Summer pelan, “gue sempet mikir kalau suara petir itu pertanda bakal ada sesuatu yang buruk kejadian.”
Giana mendengarkan tanpa menyela.
“Waktu kecil, tiap hujan besar datang, rumah gue gak pernah tenang.”
Summer tertawa hambar, apa yang ia ceritakan saat ini, memang bukan pemicu trauma dia yang sebenarnya. Hanya saja, Summer merasa kalau bagian ini saja yang mampu ia katakan pada Giana.
“Lucu ya? Orang lain takut petir karena suaranya. Gue takut karena setelah suara itu muncul, biasanya bakal ada orang yang nangis.”
Raut wajah Giana perlahan berubah. Summer menurunkan pandangannya ke coklat hangat di tangannya.
“Bokap gue temperamental.”
Kalimat itu keluar pelan. Tapi cukup membuat suasana kamar berubah sunyi.
“Kalau hujan gede sama petir mulai bunyi, emosinya makin gak ketebak. Kadang marah. Kadang banting barang. Kadang...” Summer berhenti sebentar. “Kadang… juga dia ngamuk gak jelas.”
Giana langsung menegang. Summer tersenyum kecil, tapi senyum itu terlihat pahit.
“Makanya gue takut sampe sekarang. Mau cerita yang lain juga, gue kayak apa ya… kayak gak bisa gue..”
Suara hujan di luar terdengar makin jelas di tengah keheningan kamar itu.
“Waktu kecil gue selalu nutup telinga tiap hujan,” lanjut Summer. “Awalnya karena takut petir. Tapi lama-lama gue sadar, yang gue takut bukan petirnya.”
“Lo takut apa yang datang setelahnya,” sambung Giana pelan.
Summer mengangguk.
“Kadang habis suara petir, gue dengar piring pecah.”
“Kadang suara orang teriak.”
“Kadang suara nyokap nangis.”
Napas Giana tertahan sesaat.
Ia tidak menyangka cerita di balik sikap dingin Summer ternyata seberat itu.
“Dan yang paling gue inget...” Summer tersenyum hambar lagi. “Gue pernah ngumpet di bawah meja makan sambil nutup kuping. Gue pikir kalau gue gak dengar apa-apa, semuanya bakal berhenti.”
Giana menggigit bibir bawahnya pelan. “Mer...”
“Tapi gak berhenti disitu.” Summer menunduk. “Makanya sampai sekarang gue masih takut hujan gede sama petir.”
Untuk beberapa saat, tidak ada yang bicara. Giana hanya memperhatikan Summer diam-diam dan perlahan ia mulai mengerti. Ia mengerti kenapa Summer sulit dekat dengan orang. Kenapa gadis itu gampang gugup. Kenapa tatapannya sering terlihat waspada.
Karena sejak kecil, rumah yang seharusnya jadi tempat aman malah jadi sumber ketakutan.
“Eh sorry, gue malah curcol kayak gini,” kekeh Summer, seraya menghela napas dalam dan menghembuskannya kasar.
Ia tidak tahu, kenapa bisa seterbuka ini pada Giana. Padahal, mereka tidak terlalu dekat dan Summer baru bisa terbuka pada Willa. Tapi sekarang? Semenjak Willa muncul di hidupnya, perlahan Summer mulai berubah.
Sedikit demi sedikit, ia mulai bisa bicara lebih banyak dengan orang lain. Mulai bisa bertahan lebih lama dalam percakapan tanpa merasa sesak. Dan anehnya, hal itu baru Summer sadari sekarang.
“Eh, jangan bilang sorry gitu lah,” protes Giana sambil mencondongkan tubuhnya sedikit. “Gue malah seneng Lo mau cerita.”
Summer terkekeh kecil. “Tumben ada yang bilang seneng denger cerita gue.”
“Ya karena selama ini Lo nutup diri banget.”
Summer diam sebentar. “Mungkin.”
Giana meniup coklat panasnya pelan sebelum kembali bicara. “Tapi jujur ya, Mer.”
“Hm?”
“Gue salut sih sama Lo.”
Summer langsung mengernyit. “Salut apaan?”
“Lo masih bisa bertahan sampai sekarang.”
Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa membuat dada Summer terasa hangat.
Sudah lama tidak ada yang mengatakan hal seperti itu padanya.
Biasanya orang hanya melihat dirinya sebagai gadis aneh. Pendiam. Sulit diajak dekat. Kaku. Judes.
Padahal sebenarnya, Summer hanya terlalu lelah untuk terus merasa takut.
“Gue gak sekuat itu kok,” ucap Summer pelan.
“Menurut gue kuat.”
Summer tersenyum kecil, lalu menunduk menatap permukaan coklat hangat di tangannya.
“Kadang gue iri sama orang lain.”
“Karena?”
“Mereka bisa gampang ketawa, gampang ngobrol, gampang dekat sama orang.” Ia menggantung lama sebelum melanjutkan. “Sedangkan gue...” Summer tertawa hambar. “Ngomong sama orang aja sering mikir dulu sejam.”
Giana ikut tersenyum kecil. “Tapi sekarang udah lumayan kan?”
“Maksudnya?”
“Lo udah mulai bisa ngobrol sama gue.”
Summer langsung mendelik kecil. “Lah iya juga ya.”
“Nah kan.”
Mereka sama-sama terkekeh pelan. Suasana kamar kembali terasa hangat walaupun hujan di luar masih deras.