Reality Bender – Sang Penguasa Kehampaan
"Di dunia di mana cahaya matahari adalah hukum, mampukah ketiadaan menjadi penyelamat?"
Dikhianati oleh kekaisaran yang ia bela dan diburu oleh takdir yang haus darah, Fang Han terbangun dengan kutukan yang mustahil: Inti Kehampaan. Kekuatan ini tidak hanya menghapus musuhnya, tetapi perlahan mengikis ingatan, emosi, dan kemanusiaannya sendiri. Setiap langkah menuju puncak kekuasaan adalah langkah menuju kegelapan abadi di mana ia terancam melupakan wajah orang-orang yang ia cintai.
Dari pelarian maut di Puncak Kun-Lun hingga menjadi tawanan di Benteng Obsidian yang mengerikan, Fang Han harus memilih: menjadi senjata pemusnah massal bagi musuhnya, atau menguasai Pedang Shatter-Fate untuk memutus rantai takdir dunia.
Ikuti perjalanan epik penuh pengorbanan, pengkhianatan politik, dan cinta yang melampaui dimensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TARIAN KEHAMPAAN
Energi telapak tangan raksasa itu lenyap di udara sebelum sempat menyentuh pakaian Fang Han. Tidak ada ledakan, tidak ada suara benturan. Energi itu seolah-olah tidak pernah ada sejak awal, terhapus sepenuhnya oleh aura kehampaan Fang Han.
Seluruh area gerbang mendadak menjadi sangat sunyi. Para Ketua klan Lin terbelalak. Mereka tahu seberapa kuat serangan tadi, dan melihatnya hilang begitu saja tanpa bekas adalah hal yang tidak masuk akal.
"Apa?! Teknik macam apa itu?!" teriak Ketua yang menyerang tadi dengan wajah pucat.
Lin Feng menyipitkan matanya, rasa sombongnya sedikit berganti dengan kewaspadaan. "Ketua Agung, bunuh dia sekarang! Jangan beri dia kesempatan untuk melakukan trik sulap lagi!"
Ketiga Ketua tingkat Pembentukan Inti itu secara bersamaan maju. Mereka mengeluarkan senjata mereka: pedang panjang, palu gada, dan tongkat besi. Ketiganya menyerang dari tiga arah berbeda, mengunci seluruh sudut pelarian Fang Han.
"Mu Chen, jaga ayahmu. Aku akan membersihkan jalan ini dalam sepuluh tarikan napas," ucap Fang Han.
Fang Han akhirnya menarik Sunya Long dari punggungnya. Kain hitam pembungkus pedang itu hancur menjadi serpihan saat bilah putih transparan itu muncul. Udara di sekitar gerbang mendadak menjadi sangat dingin, seolah-olah musim dingin telah tiba lebih awal.
TINGG!
Fang Han menangkis pedang Ketua pertama dengan ujung jari kirinya yang dilapisi energi emas, sementara tangan kanannya mengayunkan Sunya Long dalam gerakan melingkar yang lambat namun mematikan.
"Sunya Long: Tarian Kehampaan." Gumam Fang Han
Bayangan pedang Fang Han tampak seperti ribuan helai rambut abu-abu yang memenuhi udara. Setiap kali bilahnya bersentuhan dengan senjata musuh, senjata itu akan berkarat atau retak secara instan.
Ketua kedua yang membawa palu gada mencoba menghantam kepala Fang Han dari belakang. Fang Han melakukan gerakan miring yang sangat tipis, membiarkan palu itu lewat hanya satu inci dari telinganya. Tanpa melihat ke belakang, ia menyodorkan gagang pedangnya ke dada sang Ketua.
Dhuakkk!
Ketua itu terpental sejauh sepuluh meter, memuntahkan darah beserta potongan organ dalamnya yang hancur oleh getaran kehampaan.
"Berani-beraninya kau melukai Ketua klan Lin kami!" raung Ketua ketiga sambil mengayunkan tongkat besinya yang memancarkan api merah.
Fang Han menatap tongkat api itu dengan dingin. "Api yang lahir dari niat jahat... tidak layak untuk membakar."
Ia melakukan tebasan vertikal yang sangat cepat. Garis abu-abu membelah udara, memotong tongkat besi itu menjadi dua bagian seolah-olah itu hanyalah batang tebu. Tebasan itu berlanjut hingga mengenai bahu sang Ketua, menghapus separuh daging di sana hingga menampakkan tulang yang berwarna abu-abu.
Ketua itu berteriak histeris, jatuh berlutut sambil memegangi bahunya yang tidak lagi berdarah namun perlahan mulai menguap menjadi debu.
Lin Feng, yang tadinya berdiri dengan sombong di depan tandunya, kini mulai gemetar hebat. Kipas emas di tangannya jatuh ke tanah. Ia tidak pernah membayangkan bahwa tiga Ketua terhebat di kotanya bisa dikalahkan semudah itu oleh seorang pemuda yang tampak seperti rakyat jelata.
"Kau... kau siapa sebenarnya?! Aku adalah putra dari Lin Ba, Penguasa Kota Awan Putih! Jika kau menyentuhku, klanmu—eh, maksudku klan Mu—akan dibantai habis!" teriak Lin Feng dengan suara yang melengking karena ketakutan.
Fang Han berjalan mendekati Lin Feng. Setiap langkahnya terdengar seperti lonceng kematian di telinga Tuan Muda kaya itu.
"Kau bicara tentang kekuatan klanmu... tapi di sini, saat ini, hanya ada kau dan ketakutanmu," ucap Fang Han.
"Mu Chen! Tolong! Kita berteman, bukan?! Aku hanya bercanda tentang Mu Ling! Aku akan memberikan kalian emas! Banyak emas!" Lin Feng mencoba merangkak mundur, namun ia menabrak kaki tandunya sendiri.
Mu Chen berjalan mendekat, berdiri di samping Fang Han. Wajahnya tidak lagi penuh amarah, melainkan penuh penghinaan yang mendalam.
"Berteman? Setelah kau mencoba menjadikan adikku tungku kultivasi? Setelah kau mencoba memanfaatkan kematian pengawal klan kami untuk kepentingan pribadimu? Kau tidak layak disebut manusia, Lin Feng," ucap Mu Chen dengan suara dingin.
Mu Chen menoleh ke arah Fang Han. "Han-er, biarkan dia hidup. Tapi hapus seluruh kultivasinya. Tanpa kekuatannya, dia hanyalah sampah tak berguna yang akan dimakan oleh musuh-musuhnya sendiri di Kota Awan Putih."
Fang Han mengangguk. Ia mengangkat satu jarinya ke arah dahi Lin Feng.
"TIDAK! JANGAN! AMPUN—"
ZAPPP!
Seberkas cahaya abu-abu masuk ke dalam dahi Lin Feng lalu menjalar ke dantian dan menghancurkannya (pusat energi) secara permanen. Seluruh Qi yang telah ia kumpulkan selama bertahun-tahun keluar dari tubuhnya seperti balon yang bocor. Kulitnya yang tadinya kencang menjadi sedikit kendur, dan matanya kehilangan binarnya.
Lin Feng jatuh pingsan, tubuhnya lemas seperti tumpukan kain kotor.
Para pengawal klan Lin yang melihat tuan muda mereka lumpuh dan para Ketua mereka tak berdaya segera memutar arah kuda-kuda mereka. Mereka lari kocar-kacir, meninggalkan tandu megah dan tuan muda mereka yang pingsan di jalanan.
Mu Tian mendekati kedua pemuda itu dengan tatapan tidak percaya. "Fang Han... kau benar-benar seorang jenius yang diturunkan dari langit. Kota Awan Putih pasti akan mengirim pasukan besar setelah ini."
Fang Han menyarungkan kembali pedangnya. "Biarkan mereka datang, Ketua Mu. Tapi saat mereka sampai di sini, mereka akan menemukan bahwa Klan Mu bukan lagi klan yang bisa mereka injak-injak. Aku akan meninggalkan sedikit formasi pelindung di gerbang ini sebelum kami pergi."
Fang Han menghabiskan waktu sejenak untuk mengukir rune-rune kehampaan di pilar gerbang. Selama ia masih hidup, energi di rune itu akan tetap aktif, memberikan peringatan dan tekanan bagi siapa pun yang memiliki niat jahat saat memasuki wilayah Klan Mu.
Setelah selesai, Fang Han kembali menatap Mu Chen. "Waktu kita sudah banyak terbuang. Ayo, Mu Chen. Paman Zhou sudah menunggu."
Mu Chen menarik napas dalam-dalam, menatap adiknya, Mu Ling, yang baru saja keluar dari rumah utama dengan mata sembab. Mu Chen memeluk adiknya sejenak.
"Jangan takut lagi, Ling-er. Kakak pergi untuk sementara, tapi sahabat kakak telah menjaga rumah kita. Tidak akan ada lagi yang berani menyentuhmu," bisik Mu Chen.
Mu Ling mengangguk, menatap Fang Han dengan tatapan penuh rasa syukur dan kekaguman. "Terima kasih, Kak Fang Han. Semoga perjalanan kalian selamat."
Fang Han hanya memberikan anggukan kecil di balik capingnya.
Keduanya pun kembali melangkah meninggalkan gerbang klan. Namun kali ini, tidak ada lagi penghalang. Jalan setapak menuju Desa Qinghe tampak terbuka luas di bawah sinar matahari yang kini sudah meninggi.
Di tengah perjalanan, Mu Chen tiba-tiba tertawa kecil.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Fang Han tanpa menoleh.
"Aku hanya berpikir... setiap kali kita berniat pergi dengan tenang, selalu saja ada orang bodoh yang mencari masalah. Sepertinya rambut putihmu itu benar-benar magnet bagi masalah, Han-er," canda Mu Chen.
Fang Han tersenyum tipis di balik cadar capingnya. "Bukan rambutku, Mu Chen. Dunia ini memang penuh dengan kotoran. Tugas kita hanyalah memastikan kotoran itu tidak menempel di sepatu kita."
Mereka berdua pun menghilang di balik kerimbunan hutan, mempercepat langkah mereka. Di dalam hati Fang Han, ada perasaan mendesak yang semakin kuat. Ia tahu bahwa meskipun ia telah membereskan masalah di Klan Mu, tantangan di Desa Qinghe dan rahasia Paman Fang Zhou akan jauh lebih besar dan berbahaya.
"Tunggu aku, Paman. Aku membawa obatmu, dan aku membawa kekuatan untuk melindungi rumah kita," bisik Fang Han dalam hati.
Perjalanan pulang mereka berlanjut dengan penuh kewaspadaan, sementara di Kota Awan Putih, kabar tentang tumbangnya Lin Feng mulai memicu badai baru yang akan mengejar Fang Han hingga ke ujung dunia.