bertemu dengan pria yang super duper nyebelin udah mah dia yang di tabrak ke mobil sekarang dia yang harus ganti rugi
itu yang di alami Ara bertemu dengan yoga pria yang paling nyebelin versi dia
ehh harus bertemu lagi dengan pria nyebelin dalam ikatan pacar(sewaan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Septiayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menemani
Pintu rumah sakit terbuka dengan keras.
Bella hampir berlari masuk tanpa benar-benar memperhatikan sekitar.
“Ibu, cepat…” ucapnya terburu-buru sambil menoleh ke belakang, tapi langkahnya tidak berhenti.
Ia langsung menghampiri meja resepsionis.
“Mbak, pasien atas nama Yoga Dinata di mana?!” suaranya panik, napasnya terengah.
Petugas sempat terkejut melihat kondisi Bella. “Di ruang UGD, lurus lalu belok kanan—”
Bella tidak menunggu penjelasan selesai.
Ia langsung berlari.
Langkahnya cepat.
Hampir terhuyung.
“Ibu… ayo…” teriaknya sambil terus berlari.
Koridor rumah sakit terasa panjang.
Sangat panjang.
Jantungnya berdegup kencang.
Setiap langkah terasa berat.
Namun ia tidak berhenti.
Sampai akhirnya—
ia melihat mereka.
Keluarga Yoga.
Rafi.
Andre.
Kania.
Semua berdiri di depan ruang UGD dengan wajah tegang.
Bella langsung menghampiri.
“Kania!”
Semua menoleh.
Wajah mereka langsung berubah saat melihat Bella.
“kak Bella…” suara Kania pelan.
Bella langsung menatap satu per satu.
Matanya sudah penuh air.
“Yoga mana?!”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Bella menoleh ke ibu Yoga.
“Tan… Yoga gimana…?”
Ibu Yoga hanya menatap Bella dengan mata merah… lalu menggeleng pelan.
Satu gerakan kecil itu—
cukup membuat jantung Bella seperti jatuh.
Deg.
Tubuhnya langsung melemas.
“Apa maksudnya…” suaranya bergetar.
Kania langsung mendekat, memegang tangan Bella.
“Kak… kondisi Kak Yoga kritis…”
Air mata Bella langsung jatuh.
“Benturannya parah… dia belum sadar…”
Bella menggeleng cepat. “Nggak… nggak mungkin…”
Suaranya mulai pecah.
“Kania… tadi… tadi dia masih baik-baik aja…”
Kania ikut menangis. “Dia nyetir sendiri ke Jakarta… buat nyari Kak Bella…”
Kalimat itu…
langsung menghantam Bella.
Ia mundur satu langkah.
Tangannya menutup mulut.
“Gara-gara aku…” bisiknya lirih.
Rafi menghela napas berat. “Sekarang dokter lagi siapin buat pindahin dia ke ICU…”
Bella langsung menatap pintu UGD itu.
Matanya penuh ketakutan.
“Dia… dia sadar nggak…?” tanyanya pelan.
Andre menggeleng. “Belum…”
Air mata Bella semakin deras.
Tubuhnya gemetar.
“Yoga…” suaranya hampir tidak terdengar.
Tiba-tiba pintu UGD terbuka.
Beberapa perawat keluar mendorong ranjang pasien.
Semua langsung menoleh.
Bella ikut melihat.
Dan di sana—
Yoga.
Terbaring lemah.
Dengan selang di mana-mana.
Wajahnya pucat.
Tidak bergerak.
Seperti… orang yang benar-benar tak berdaya.
“Yoga…” Bella langsung melangkah maju.
Air matanya jatuh tanpa henti.
Ia ingin mendekat—
namun perawat menahan.
“Maaf, keluarga tidak boleh ikut ke dalam ICU.”
Bella langsung berhenti.
Tangannya terulur di udara.
Namun tidak bisa menyentuh.
“Yoga…” suaranya pecah.
Ranjang itu terus berjalan.
Masuk ke dalam.
Pintu ICU tertutup.
Dan di saat itu—
Bella merasa sesuatu di dalam hatinya ikut tertutup.
Ia berdiri diam.
Air matanya tidak berhenti.
Tangannya perlahan jatuh lemas.
“Ibu…” suaranya lirih.
Ibu Bella langsung memeluknya dari belakang.
Bella langsung menangis di pelukan itu.
“Bu… aku takut…” ucapnya terisak.
“Ibu tahu…” jawab ibunya pelan sambil mengelus rambutnya.
Di luar ICU—
semua hanya bisa menunggu.
Dengan doa.
Dengan harapan.
Dan dengan ketakutan yang sama—
Di depan ruang ICU, suasana terasa hening.
Hanya suara alat medis yang samar terdengar dari dalam.
Bella berdiri di depan jendela kaca.
Tubuhnya diam… tapi hatinya tidak.
Matanya menatap ke dalam.
Di sana—
Yoga terbaring lemah.
Tubuhnya dipenuhi alat medis.
Selang di mana-mana.
Wajahnya pucat.
Sangat berbeda dari Yoga yang biasanya kuat, tegas, dan selalu bisa melindunginya.
Sekarang…
ia hanya bisa terbaring.
Tak bergerak.
Tak bersuara.
Bella perlahan mengangkat tangannya.
Menempelkan telapak tangannya di kaca.
Seolah ingin menyentuh.
Namun terhalang.
Air matanya jatuh lagi.
Perlahan.
Tanpa suara.
“Yoga…” bisiknya lirih.
Suaranya nyaris tak terdengar.
Namun hatinya berbicara lebih keras.
“Terima kasih…”
Napasnya bergetar.
“…kamu datang di mimpiku…”
Matanya tidak lepas dari wajah Yoga.
Seolah takut kehilangan satu detik pun.
“Sekarang aku tahu…”
Air matanya semakin deras.
“…kamu lagi berjuang.”
Bella menggigit bibirnya, menahan tangis yang semakin pecah.
“Aku di sini…”
Tangannya masih menempel di kaca.
“Aku nggak akan pergi lagi…”
Suaranya mulai bergetar lebih kuat.
“Jadi kamu juga jangan pergi…”
Dadanya terasa sesak.
Sangat sesak.
“Ayo… kita berjuang bareng…”
Air matanya jatuh tanpa henti.
“Yoga… aku…”
Ia berhenti sejenak.
Menarik napas dalam.
Seolah mengumpulkan keberanian.
“Aku mencintai kamu…”
Kalimat itu keluar dengan penuh perasaan.
Tanpa ragu.
Tanpa ditahan lagi.
Dan justru di saat seperti ini—
ia baru benar-benar mengatakannya.
Namun orang yang ia tuju…
belum bisa mendengar.
Bella menunduk.
Tangisnya pecah.
Bahunya bergetar.
Di belakangnya—
ibu Yoga melihat semua itu.
Hatinya ikut tersentuh.
Perlahan ia mendekat.
Lalu memeluk Bella dari samping.
Bella langsung bersandar di pelukan itu.
Menangis.
“Tan…” suaranya lirih.
“Aku takut…”
Ibu Yoga mengelus rambutnya pelan.
“Tidak apa-apa… kita doakan yang terbaik…”
Bella mengangguk lemah.
Namun air matanya belum berhenti.
Matanya kembali menatap ke dalam.
Ke arah Yoga.
Yang masih berjuang.
Dan untuk pertama kalinya—
di antara semua rasa sakit, salah paham, dan jarak—
cinta itu terasa sangat jelas.
Sangat dalam.
Dan sangat nyata.
Suasana di depan ruang ICU masih sama.
Sunyi.
Tegang.
Dan penuh harap.
Bella masih berdiri di dekat kaca, menatap ke dalam tanpa berkedip. Seolah jika ia berpaling sedikit saja… sesuatu yang buruk akan terjadi.
Matanya sembab.
Tubuhnya lemas.
Sejak datang… ia belum makan sedikit pun.
Rafi yang melihat itu akhirnya mendekat, membawa kantong makanan di tangannya.
“Bel…” suaranya pelan.
Bella tidak langsung menoleh.
Masih fokus ke arah Yoga.
Rafi menghela napas, lalu berdiri di sampingnya.
“Bel, makan dulu.”
Bella menggeleng pelan.
“Nggak mau…”
Suaranya lemah.
Hampir tidak terdengar.
Andre ikut mendekat. “Dari tadi lo belum makan.”
Bella tetap menggeleng.
“Nggak lapar…”
Padahal jelas—
itu bukan soal lapar.
Itu soal… hatinya.
Rafi menatapnya serius. “Bel, lo harus makan.”
Bella akhirnya menoleh, matanya penuh air.
“Gimana aku bisa makan… dia di sana kayak gitu…” suaranya pecah.
Tangannya menunjuk ke arah ICU.
“Dia lagi berjuang… aku malah makan?”
Kalimat itu membuat semua terdiam sejenak.
Ibu Yoga ikut mendekat, menatap Bella dengan lembut.
“Justru karena itu kamu harus kuat, Nak…”
Bella menunduk.
Air matanya jatuh lagi.
“Kalau kamu ikut sakit… siapa yang nungguin dia?” lanjut ibu Yoga pelan.
Bella menggigit bibirnya.
Kania ikut memegang tangan Bella. “Kak… Kak Yoga pasti nggak mau lihat Kak Bella lemah…”
Rafi membuka bungkus makanan itu.
Aromanya mulai tercium.
Namun Bella masih diam.
Tidak bergerak.
Rafi akhirnya menyuapkan satu sendok ke arah Bella.
“Sini.”
Bella mundur sedikit. “Nggak, Raf…”
Rafi mendesah. “Jangan bikin gue marah di kondisi kayak gini.”
Nada suaranya tegas.
Namun penuh peduli.
Andre ikut menyahut, “Kalau lo pingsan, kita semua tambah repot.”
Kania mengangguk cepat. “Iya, Kak… makan sedikit aja…”
Bella menatap mereka satu per satu.
Lalu kembali menatap ke arah Yoga.
Dadanya terasa berat.
Sangat berat.
Namun perlahan—
ia membuka mulutnya.
Rafi langsung menyuapinya.
Satu sendok.
Bella mengunyah pelan.
Hambar.
Tidak terasa apa-apa.
Air matanya kembali jatuh.
“Gitu…” ucap Rafi pelan.
Ia menyuapi lagi.
Bella tidak menolak lagi.
Meski setiap suapan terasa seperti dipaksakan.
Namun ia tetap makan.
Demi satu hal—
agar ia tetap kuat.
Agar bisa tetap di sini.
Menunggu.
Menemani.
Beberapa suapan kemudian, Bella menahan tangan Rafi.
“Cukup…”
Rafi menatapnya.
Bella menggeleng pelan. “Nanti lagi…”
Rafi akhirnya mengangguk.
“Yang penting lo udah makan.”
Bella menarik napas dalam.
Lalu kembali menatap ke arah ICU.
Matanya tidak lepas dari sosok di dalam sana.
Pelan ia berbisik—
“Tunggu aku ya…”
Suaranya sangat lembut.
Namun penuh harapan.
Dan di balik kaca itu—
seseorang yang ia cintai…