Cherry Anabell kerap menjadi sasaran kekerasan keluarganya. Ia dirundung, dipukul, dikurung, bahkan dipaksa menikah dengan pria yang hampir dua kali usianya demi uang.
Namun semuanya berubah ketika Cavell Rose, Capo dei Capi yang paling ditakuti di dunia mafia, datang ke rumahnya.
Tanpa penjelasan, Cavell membawanya pergi. Awalnya ia berniat menjodohkan Cherry dengan sahabatnya. Namun semakin lama Cherry berada di dekatnya, semakin sulit bagi Cavell untuk mengabaikan perasaannya.
୨ৎ MARUNDA SEASON V ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pernikahan
...୨ৎ──── C H E R R Y ────જ⁀➴...
Aku sedang sibuk merias wajah Tante Dalia untuk pernikahan saat Bibi Keii masuk ke kamar dengan terburu-buru. Dia terlihat kelelahan.
"Kamu harus istirahat," kataku sambil mengoleskan maskara ke bulu mata Tante Dalia.
"Aku akan istirahat setelah pernikahan," kata Bibi Keii sambil duduk di sisi tempat tidurku. Dia melihat sekeliling kamar. "Kamu akan tetap di sini atau pindah ke suite nya Cavell?"
Aku sudah menghabiskan setiap malam di tempat tidur Cavell dan setengah barangku sudah ada di kamar mandinya, tapi aku gak akan memberi tahu mereka itu.
"Aku akan memindahkan semuanya besok," jawabku.
"Dia sudah bilang akan membawa Kamu ke mana untuk bulan madu?" tanya Tante Dalia.
"Belum. Dia cuma bilang kita berangkat setelah Tahun Baru," jawabku sebelum duduk dan memeriksa riasannya. "Nah, selesai. Udah siap."
Dia menoleh ke arah Bibi Keii. "Gimana aku?"
"Sangat cantik dan terlihat sepuluh tahun lebih muda," kata Bibi Keii lalu menatapku tajam. "Kamu harus melakukan keajaiban yang sama di wajahku. Kerutan ini sudah mulai banyak."
Tante Dalia dan Bibi Keii bertukar tempat, dan aku mulai membersihkan wajah Bibi Keii sebelum mengoleskan pelembap.
"Kamu gugup?" tanya Bibi Keii, matanya memperhatikan wajahku.
"Aku senang," jawabku. Senyum menarik sudut bibirku. "Merupakan kehormatan besar bisa menjadi bagian dari keluarga Rose."
"Itu satu-satunya alasan?" tanya Tante Dalia.
"Gak." Pipi aku sedikit memanas sebelum aku mengakui, "Aku senang karena aku gak sabar menjalani hidup bersama Cavell."
"Kamu mencintai dia?" tanya Bibi Keii.
Aku tertawa kecil. "Cukup dengan pertanyaannya. Kamu akan tahu sendiri sebentar lagi."
Saat aku selesai merias Bibi Keii, dia melihat dirinya di cermin dan senyum bahagia muncul di wajahnya.
"Kamu benar-benar membuat keajaiban, sayang. Terima kasih."
Dengan harapan mendapatkan beberapa menit untuk diri sendiri, aku berkata, "Pergi dan bersiaplah sementara aku akan merias diri."
Aku melihat mereka keluar dari kamar sebelum menatap cincin di jariku.
Hari ini aku akan menikah dengan Cavell.
"Tuhan," suara Cavell terdengar dari pintu seolah aku baru saja memanggilnya dengan pikiranku. "aku pikir mereka gak akan pernah pergi."
"Kamu sudah lihat riasan Mama kamu?" tanyaku.
Dia mengangguk sambil menutup pintu.
"Dia terlihat cantik dan bahagia. Terima kasih sudah kasih perhatian sebesar itu untuknya."
Aku berdiri, tapi saat ekspresi serius muncul di wajahnya, aku langsung berhenti.
"Ada yang salah?" tanya aku.
Dia menggeleng. Dia mengambil tanganku lalu tiba-tiba berlutut di depanku.
Sial.
Dia menatapku.
"Aku gak kasih Kamu pilihan saat aku bawa kamu, dan aku gak menyesal."
Ibu jarinya menyentuh cincin pertunangan di jariku.
"Kamu punya kendali atas diri aku, Cherry. Kamu merayap masuk ke hatiku dan aku menjadi terobsesi denganmu."
Benjolan terbentuk di tenggorokanku dan aku sangat bersyukur aku belum memakai riasan.
"Aku mencintaimu," katanya dengan suara lebih lembut. "Aku harap suatu hari Kamu juga belajar mencintaiku."
Cavell Rose milik aku. Pria paling kuat yang aku kenal sedang berlutut di depan aku.
Mengetahui dia gak akan pernah menyakitiku dan aman bagiku untuk menjadi rapuh, aku pun berkata pelan,
"Aku juga." Matanya menjadi gelap saat menatapku. "Aku juga cinta kamu, Cavell," kataku keras-keras untuk pertama kalinya.
Dia berdiri. Tangannya memegang wajahku dan bibirnya langsung merebut bibirku dalam ciuman yang penuh gairah.
Saat tubuhnya mulai mendorongku ke arah tempat tidur, aku menaruh tangan di dadanya dan menghentikan ciuman itu.
"Gak ada seks. aku harus bersiap, dan Kamu juga," kataku tegas.
Dia mengeluarkan suara gak jelas lalu menghela napas. Tangannya mengusap sisi tubuhku naik turun saat dia berkata,
"Aku gak sabar menunggu hari ini selesai."
Aku mengangkat tangan ke dagunya dan dia mencium telapak tanganku.
"Pergi bersiap dan tunggu aku di altar."
"Jangan lama lama!" perintahnya sebelum berjalan menuju pintu.
Dia menatapku sekali lagi sebelum akhirnya keluar. Merasa seperti seorang ratu, aku menatap bayanganku di cermin.