NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Pendekar Naga

Reinkarnasi Pendekar Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:44.1k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Jian Yi dan para rekannya gugur setelah menantang kekuatan besar Kekaisaran Pusat. Pertempuran itu seharusnya menjadi akhir dari segalanya bagi mereka.

Namun saat kesadaran Jian Yi memudar, sebuah keajaiban terjadi. Berkat campur tangan Raja Naga, mereka diberi kesempatan kedua—sebuah reinkarnasi yang mengubah takdir mereka.

Terlahir kembali di dunia yang sama namun dengan kehidupan baru, Jian Yi menyimpan satu janji dalam hatinya: membalas kehancuran yang dialaminya dan melampaui semua batas kekuatan.

Kali ini, dia tidak akan jatuh lagi.
Tapi di dunia yang dipenuhi kultivator kuat, sekte kuno, dan kekaisaran yang menguasai segalanya …

Mampukah Jian Yi benar-benar bangkit, menuntut balas, dan mencapai puncak kekuatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Dua bulan berlalu begitu saja

Dua bulan telah berlalu sejak langkah pertama mereka meninggalkan gerbang kota, melintasi gunung, dan mengacak-acak sekte-sekte kecil di sepanjang jalan.

Kini, aroma hutan dan embun pagi telah berganti dengan bau dupa murahan, arak berkualitas rendah, dan parfum bunga yang menyengat.

​Paviliun Awan Merah bukanlah tempat bagi mereka yang mencari ketenangan batin.

Di lantai bawah, alunan kecapi beradu dengan tawa genit para wanita, namun di lantai atas—di balik tirai bambu yang tebal—atmosfernya jauh lebih mencekam.

Itu adalah sarang perjudian paling kotor di kota perbatasan ini.

​Lu Feng menyandarkan punggungnya ke kursi kayu jati, kaki kirinya diangkat ke atas meja sambil memutar-mutar koin emas hasil jarahan terakhir mereka.

Matanya menyapu ruangan yang penuh dengan asap rokok.

​"Tidak kusangka sudah dua bulan kita meninggalkan keluarga kita. Cepat juga ya?" gumam Lu Feng, suaranya sedikit serak karena terlalu banyak tertawa di jalanan. "Rasanya baru kemarin aku melihat ibumu menangis sesenggukan karena kau pergi."

​Jian Yi tidak menyahut. Matanya terpaku pada tumpukan kartu di depannya.

Wajahnya yang tampan tampak sangat serius, seolah-olah ia sedang berhadapan dengan musuh Ranah Grand Master, padahal lawannya hanyalah seorang bandar bermata satu dengan kumis tipis yang licin.

​"Diamlah. Aku sedang fokus," desis Jian Yi. Tangannya sedikit gemetar saat hendak menarik kartu berikutnya. Taruhannya tidak main-main—setengah dari koin emas di tas mereka ada di atas meja itu.

​Lu Feng menguap lebar. Baginya, melihat Jian Yi menghitung peluang kartu sama membosankannya dengan mendengarkan ceramah Tetua Han.

Matanya kemudian menangkap sekelompok wanita penghibur bertubuh lumayan berisi yang sedang berbisik-bisik di pojok ruangan, menatap Jian Yi dengan pandangan lapar.

​Sebuah ide nakal—dan sangat menguntungkan perutnya—muncul di kepala Lu Feng.

​Ia bangkit berdiri, lalu berjalan mendekati para wanita itu dengan senyum paling ramah yang pernah ia miliki. "Halo, Kakak-kakak cantik," bisik Lu Feng sambil menunjuk ke arah Jian Yi dengan jempolnya. "Temanku yang di sana itu ... dia adalah Tuan Muda dari keluarga kaya yang sedang kesepian. Dia punya banyak emas, tapi dia sangat pemalu. Jika kalian bisa membuatnya 'sibuk' sebentar, aku punya sesuatu untuk kalian."

​Lu Feng menyerahkan dua keping perak kepada mereka, lalu menambahkan dengan suara lirih, "Dan sebagai gantinya, bisakah kalian memesankan bebek panggang madu dan arak terbaik untukku di meja pojok sana? Pakai saja nama Tuan Muda itu."

​Para wanita itu terkikik kegirangan. Tanpa membuang waktu, lima wanita dengan pakaian sutra tipis langsung menyerbu meja judi Jian Yi.

​"Aduh, Tuan Muda ... kenapa wajahnya tegang sekali?"

​"Biarkan Kakak pijat pundaknya supaya kartunya bagus, ya?"

​Jian Yi tersentak. Tiba-tiba saja pandangannya tertutup oleh aroma bedak yang sangat tajam dan lengan-lengan halus yang bergelayut di pundaknya. "He-hei! Apa-apaan ini?! Menyingkir! Aku sedang menghitung!"

​"Tuan Muda jangan galak-galak dong ..."

​Di saat Jian Yi sibuk menepis tangan-tangan yang mencoba menggerayangi jubahnya, sang bandar bermata satu menyeringai.

Dengan gerakan tangan yang sangat halus—bahkan hampir tidak tertangkap oleh indra Jian Yi yang sedang terdistraksi—ia menukar kartu di bawah meja menggunakan mekanisme pegas kecil di lengan bajunya.

​Lu Feng? Ia sudah duduk manis di pojok ruangan yang jauh, mencabuti paha bebek panggang madu yang baru saja diantarkan, sambil menonton penderitaan sahabatnya dengan tawa tanpa suara.

​"Buka kartunya!" seru sang bandar dengan nada sombong.

​Jian Yi, yang sudah frustrasi karena dikerubungi para wanita, membanting kartunya ke meja. "Sembilan naga! Aku men—"

​"Maaf, Tuan Muda," bandar itu membalik kartunya dengan gerakan teatrikal. "Sepuluh dewa. Anda kalah total."

​Keheningan sesaat terjadi. Jian Yi menatap tumpukan emasnya yang ditarik oleh sang bandar. Ia bukan orang bodoh.

Meskipun tadi terdistraksi, sisa-sisa Qi di tubuhnya merasakan getaran aneh dari meja kayu itu saat bandar membalik kartu.

​Ia melirik ke pojok ruangan dan melihat Lu Feng sedang asyik mengunyah bebek sambil melambai-lambaikan tulang ke arahnya.

​KREKKK!

​Genggaman tangan Jian Yi pada pinggiran meja membuat kayu jati itu retak.

​"Kau ... kau mencurangiku," suara Jian Yi rendah, tapi auranya membuat para wanita di sekelilingnya mendadak merinding dan mundur teratur.

​"Jangan menuduh sembarangan, Tuan Muda. Di sini, keberuntungan adalah hukum," jawab sang bandar dengan nada meremehkan.

​Jian Yi berdiri perlahan. Ia tidak bicara lagi.

​DUARRR!

​Dengan satu tendangan maut, meja judi yang berat itu terlempar ke udara, menghantam plafon hingga hancur berkeping-keping.

Koin-koin emas berhamburan ke seluruh ruangan. Sebelum sang bandar sempat menarik belatinya, Jian Yi sudah berada di depannya.

​BUM! BUK! DRAK!

​Jian Yi menghantam wajah sang bandar hingga giginya rontok, lalu membanting kepalanya ke lantai sampai kayu parketnya jebol.

Anak buah bandar yang mencoba mendekat langsung diterjang oleh Jian Yi dengan teknik Langkah Bayangan.

​Dalam hitungan detik, ruang judi itu berubah menjadi medan perang. Jian Yi mengamuk, melampiaskan kekesalannya karena telah "dijual" oleh Lu Feng dan dicurangi oleh bandar kelas teri.

Sementara itu, Lu Feng di pojok ruangan tetap tenang, ia menelan suapan terakhir bebeknya dan bergumam pelan.

​"Wah, sepertinya aku harus segera lari sebelum dia ingat bahwa ini semua saranku."

1
Tamima II
kehidupan masa lalu nya di jadikan pelajaran👍👍👍👍👍🥰🥰🥰🥰🥰
Tamima II
ini Baruch sahabat sejati
Tamima II
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
Tamima II
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Kabul Tohari
luar biasa kak
black swan
...
Aloy Winaryo
curi
Aloy Winaryo
nasib
Aloy Winaryo
semangat
Aloy Winaryo
lahir
Paksi Winatha
q curiga jgn² gagak hitam ini si xuan long ya teman seperjuangan ny a Lang ya🤔🤔🤔🤔🤔🤔
Romeo: /Scare//Slight/
total 1 replies
Mbah Haryo
anu...Mc masuk reincarnasi baru 17th..itu anak temenya sdh 20th...?
Mbah Haryo
agak beda dsini...tp nyenengkeeh..
lanjouts..
Budi Wahyono
5 mawar meluncur
Romeo: /Applaud//Plusone//Plusone//Plusone//Plusone//Plusone/
total 1 replies
Budi Wahyono
ini tamat thor ?
Romeo: belum🙏
total 1 replies
Nanik S
Lanjut terus
Romeo: 🙏👍👍👍👍👍👍
total 2 replies
Romeo
UP nya santai dulu ya🙏
Romeo
😅
Romeo
🍗
Romeo
🔥🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!