NovelToon NovelToon
Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:793
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: KEMBALI KE RUMAH

Perjalanan pulang selalu terasa lebih cepat.

Aldric tidak tahu apakah itu karena beban yang berkurang di pundaknya, atau karena langit yang mulai cerah, atau karena Ren yang terbangun dan tersenyum padanya di pagi hari. Mungkin semua. Mungkin juga karena ia tahu ada yang menunggu di rumah.

Gurun batu yang kemarin terasa begitu berat, kini hanya seperti hamparan biasa. Bayangan-bayangan yang dulu mengintai dari balik bebatuan telah menghilang. Jiwa-jiwa yang terjebak—mungkin mereka akhirnya bebas. Atau mungkin hanya bersembunyi lebih dalam, menunggu waktu yang tepat. Tapi untuk hari ini, jalanan terasa aman.

Ren duduk di depan Aldric di atas kuda, matanya menatap pemandangan dengan ekspresi yang berbeda. Ada sesuatu yang hilang dari tatapan itu—kepolosan yang dulu begitu kentara, kini berganti dengan kedewasaan yang terlalu cepat untuk anak seusianya.

"Om," Ren tiba-tiba bicara.

"Ya, Nak?"

"Ren lupa warna baju Ibu."

Aldric terdiam. Hatinya terasa teriris.

"Tapi Ren ingat Ibu suka warna biru. Mungkin biru. Atau mungkin hijau." Ren memicingkan mata, mencoba mengingat. "Ibu juga suka masak sup. Ren ingat supnya enak. Tapi Ren lupa rasanya."

Varyn yang berjalan di samping mereka menunduk, tidak berbicara. Aldric tahu iblis itu juga merasakan kehilangan.

"Tapi Ren ingat Ibu sayang Ren," lanjut Ren, tersenyum. "Itu yang penting, kan, Om?"

Aldric mengusap rambutnya. "Ya, Nak. Itu yang paling penting."

Hari kedua perjalanan pulang, mereka mulai melihat hijau.

Rumput-rumput liar tumbuh di antara retakan batu hitam—kecil, rapuh, tapi hijau. Seperti harapan yang mulai tumbuh setelah musim dingin panjang. Aldric berhenti sejenak, membiarkan kudanya memakan rerumputan itu.

"Varyn."

"Ya?"

"Apakah ini karena jantungnya membatu?"

"Sebagian. Tapi sebagian lagi karena... dunia ini ingin hidup. Setiap kali ada celah, ia akan berusaha pulih. Seperti alam, seperti manusia." Varyn menatap langit yang mulai biru. "Kau lihat? Bahkan setelah bencana terbesar, kehidupan selalu mencari jalan."

Aldric mengangguk. Ia memandang Ren yang tertidur di pelukannya. Anak itu—anak yang telah mengorbankan kenangan tentang ibunya—adalah bukti bahwa kehidupan selalu mencari jalan. Bahwa kebaikan selalu punya harga, tapi harga itu tidak selalu sia-sia.

Hari keempat, mereka bertemu rombongan pedagang dari Nivalen.

Mereka adalah rombongan pertama yang berani melintasi jalan timur sejak berbulan-bulan. Pemimpinnya—seorang pria gemuk dengan kumis tebal—langsung berlutut begitu melihat Aldric.

"Yang Mulia! Kami tidak menyangka—"

"Bangun," potong Aldric. "Aku bukan raja di jalanan. Aku hanya orang biasa yang sedang pulang."

Pria itu bangkit, masih gemetar. "Kami dengar kabar, Yang Mulia. Bahwa Yang Mulia pergi ke timur untuk... untuk menghentikan sesuatu yang mengerikan. Apakah benar?"

Aldric mengangguk. "Sudah beres. Untuk sementara."

Mata pria itu berbinar. "Berarti jalan ke timur aman lagi?"

"Aman. Tapi hati-hati. Ada daerah yang masih... aneh. Jangan terlalu jauh ke dalam reruntuhan."

Pria itu mengangguk bersemangat. Ia memberi Aldric sekantung buah kering dan sebotol anggur sebagai tanda terima kasih—pemberian kecil, tapi penuh makna. Ren menyantap buah kering itu dengan lahap, tersenyum bahagia.

Aldric melihat senyum itu, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia merasa semuanya akan baik-baik saja.

Hari keenam, mereka melihat menara istana dari kejauhan.

Nivalen tampak berbeda dari terakhir kali ia lihat. Dulu, saat ia pergi, kota itu masih penuh dengan bekas pertempuran—dinding retak, rumah roboh, jalanan berlumpur. Kini, dari ketinggian bukit, ia melihat perbaikan di mana-mana. Dinding-dinding baru berdiri, atap-atap merah menghiasi pemukiman, dan di pelabuhan, kapal-kapal mulai berlabuh lagi.

"Om, itu istana!" teriak Ren, bersemangat.

Aldric tersenyum. "Ya, Nak. Rumah."

Varyn yang berjalan di sampingnya ikut menatap. "Kau membangun ini, Aldric. Bukan hanya dengan tanganmu, tapi dengan pilihan-pilihanmu."

"Aku hanya melakukan yang benar."

"Melakukan yang benar, di saat banyak orang memilih yang mudah. Itulah kepemimpinan sejati."

Aldric tidak menjawab. Ia memacu kudanya menuruni bukit.

Gerbang kota terbuka lebar saat mereka tiba.

Bukan karena ada yang memberi perintah—tapi karena berita kedatangan mereka telah menyebar lebih cepat dari api. Orang-orang berkerumun di pinggir jalan, melambai, berteriak, menangis bahagia. Mereka melempar bunga, mengangkat anak-anak mereka agar bisa melihat, dan berbisik-bisik dengan takjub.

"Raja Aldric kembali..."

"Dia menyelamatkan kita lagi..."

"Lihat, dia bawa anak kecil itu... konon anak itu pahlawan sebenarnya..."

Aldric tersenyum dan melambai, meskipun tidak terbiasa. Ren duduk di depannya, melambai balik dengan semangat. Varyn—dalam wujud manusianya—berjalan di samping, sesekali tersenyum canggung pada orang-orang yang menatapnya dengan campuran takut dan kagum.

Di depan istana, Elara menunggu.

Ia berdiri di tangga utama, mengenakan gaun biru muda—warna yang sama dengan gaun yang ia kenakan saat Aldric pertama kali jatuh cinta padanya. Rambut merahnya tergerai indah, mahkota kecil di kepalanya, dan di tangannya, setangkai bunga ashford—bunga kesukaannya.

Aldric turun dari kuda, membawa Ren turun, lalu berjalan mendekat.

Mereka berdua berhenti beberapa langkah, saling menatap.

"Kau kembali," kata Elara, suaranya bergetar.

"Aku janji."

Elara tidak bisa menahan diri lagi. Ia berlari, memeluk Aldric erat-erat, menangis di bahunya. Aldric membalas pelukannya, mencium puncak kepalanya yang harum.

"Aku kangen," bisiknya.

"Aku juga." Elara melepaskan pelukan, matanya basah. "Setiap malam aku tidak bisa tidur. Memikirkan kau di tempat gelap, sendirian..."

"Aku tidak sendirian. Ada Ren. Ada Varyn."

Elara menatap Ren yang berdiri di samping Aldric, tersenyum malu-malu. Ia berlutut, merangkul anak itu.

"Ren, Nak. Kau hebat. Ibu Sera pasti sangat bangga padamu."

Ren tersenyum—tapi ada kekosongan di matanya. "Ren lupa sedikit tentang Ibu, Tante. Tapi Ren ingat Ibu sayang Ren."

Elara menatap Aldric dengan pandangan bertanya. Aldric menggeleng pelan—tidak di sini, nanti.

Elara mengerti. Ia mengusap rambut Ren. "Ibu Sera sayang Ren. Dan Ren sayang Ibu. Itu tidak akan pernah berubah."

Ren mengangguk, tersenyum lagi—kali ini lebih cerah.

Di dalam istana, Sera sudah menunggu sejak pagi.

Ia berdiri di ruang tahta, gelisah, matanya tidak lepas dari pintu masuk. Mira ada di sampingnya, memegang tangannya, memberinya kekuatan.

Ketika Ren masuk—berjalan kecil dengan langkah mantap—Sera tidak bisa menahan diri. Ia berlari, meraih anak itu, memeluknya erat-erat.

"Ren! Ren, Nak! Ibu kangen! Ibu sangat kangen!"

Ren membalas pelukannya—tapi tidak sekuat dulu. Ia memeluk ibunya, tapi matanya... matanya menerawang, seolah ada sesuatu yang hilang.

"Bu," bisiknya, "Ren lupa warna baju Ibu."

Sera membeku.

"Ren ingat Ibu suka biru. Atau hijau. Ren lupa." Suara Ren pelan, polos, tanpa beban. "Tapi Ren ingat Ibu sayang Ren. Itu cukup, kan, Bu?"

Sera menangis. Ia memeluk anaknya lebih erat, menangis di pundak kecil itu.

"Iya, Nak. Itu cukup. Ibu sayang Ren. Ibu akan selalu sayang Ren."

Ren tersenyum dalam pelukan ibunya. Mungkin ia lupa warna baju Sera. Mungkin ia lupa rasa sup Sera. Tapi ia tidak lupa perasaan itu—perasaan hangat, perasaan aman, perasaan dicintai.

Dan itu cukup.

Malam itu, mereka makan bersama di ruang makan istana.

Meja kayu jati panjang yang dulu kosong, kini dipenuhi orang-orang yang saling menyayangi. Aldric di ujung meja, Elara di sampingnya. Ren di samping ibunya, Sera, yang tidak pernah berhenti mengusap rambut anaknya. Mira sibuk menyajikan makanan, tertawa kecil melihat Ren yang lahap. Varyn—dalam wujud kecilnya—duduk di kursi yang agak tinggi, menikmati sup ayam buatan Mira dengan ekspresi terkejut.

"Ini... enak," katanya takjub. "Aku tidak pernah makan yang seperti ini."

Mira tertawa. "Di dunia bawah tidak ada sup ayam?"

"Ada. Tapi rasanya... seperti batu."

Semua tertawa. Ren tertawa paling keras.

Master Elian datang terlambat, seperti biasa. Ia masuk dengan tongkatnya, jubah usangnya masih sama, dan matanya yang penuh bintang tampak lebih cerah dari biasanya.

"Maaf terlambat. Ada urusan di perpustakaan."

Aldric menunjuk kursi kosong. "Silakan, Master. Mira, tolong tambahkan satu porsi."

Mira mengangguk, berlalu ke dapur.

Elian duduk, mengamati wajah-wajah di sekeliling meja. "Kalian terlihat bahagia."

"Kita sedang merayakan kepulangan," kata Elara.

"Dan kemenangan," tambah Aldric.

Elian mengangguk. Tapi matanya beralih ke Ren. "Bagaimana kabarmu, Nak?"

Ren tersenyum. "Ren baik, Kakek. Ren lupa sedikit tentang Ibu. Tapi Ren ingat yang penting."

Elian menatapnya lama. Lalu ia mengangguk, tersenyum. "Kau anak yang hebat, Ren. Kau melakukan hal yang bahkan para pahlawan besar tidak berani lakukan."

Ren mengernyit. "Apa yang Ren lakukan?"

"Kau mengorbankan sesuatu yang paling berharga bagimu—kenangan tentang orang yang kau cintai—untuk menyelamatkan dunia. Itu pengorbanan tertinggi."

Ren terdiam sebentar. Lalu ia berkata, "Tapi Ren tidak rugi, Kakek. Ren masih punya Ibu. Ren masih bisa buat kenangan baru."

Elian terkejut. Lalu ia tertawa—tertawa panjang, lepas, penuh kekaguman.

"Anak ini! Anak ini lebih bijak dari orang-orang yang sudah hidup ribuan tahun!"

Varyn ikut tertawa. "Aku sudah bilang, dia istimewa."

Setelah makan malam, Aldric dan Elara berjalan di taman istana.

Malam itu dingin, tapi tidak terlalu dingin. Bintang-bintang bersinar terang, dan bulan purnama menyinari jalan setapak dengan cahaya perak. Bunga-bunga ashford yang ditanam Elara mulai bermekaran, menyebarkan aroma manis yang familiar.

"Kau sudah membaca suratku?" tanya Elara.

Aldric mengeluarkan selembar perkamen kecil dari sakunya—surat yang disisipkan Elara sebelum ia berangkat. "Setiap malam."

"Apa isinya?"

Aldric tersenyum. "Kau tahu isinya."

"Aku ingin mendengarmu membacanya."

Aldric membuka surat itu. Tulisannya rapi, feminin, penuh dengan coretan-coretan kecil di pinggir—tanda bahwa Elara tidak bisa duduk diam saat menulisnya.

"Aldric,

Aku tidak tahu bagaimana cara menulis surat perpisahan. Aku belum pernah melakukannya. Tapi mungkin tidak ada kata yang tepat untuk ini.

Aku hanya ingin kau tahu: aku akan menunggu. Setiap hari. Setiap malam. Di sini, di istana yang perlahan kita bangun bersama, aku akan menunggu.

Bawa pulang Ren. Bawa pulang dirimu. Jangan mati. Aku tidak bisa kehilanganmu lagi.

Aku mencintaimu. Dulu, sekarang, dan selamanya.

Elara."

Aldric membaca sampai akhir. Elara menunduk, pipinya memerah.

"Aku menulisnya terburu-buru," katanya malu-malu. "Tidak sempat diperbaiki."

"Aku suka coretan-coretan itu," kata Aldric. "Mereka membuat surat ini lebih... nyata."

Mereka berpelukan di bawah sinar bulan. Bunga ashford mekar di sekeliling mereka, menebarkan aroma manis yang mengingatkan pada awal pernikahan mereka—sebelum badai, sebelum kehilangan, sebelum semuanya hancur.

"Elara."

"Ya?"

"Maaf."

Elara mendongak. "Maaf untuk apa?"

"Untuk semua yang tidak bisa kuberikan. Untuk semua yang hilang. Untuk... dendam yang dulu lebih besar dari cintaku padamu."

Elara menggeleng. "Kau tidak perlu minta maaf. Dendam itu yang membuatmu bertahan. Tanpanya, kau akan mati di jurang."

"Mungkin. Tapi sekarang, dendam itu sudah mati. Yang tersisa hanya cinta."

Elara tersenyum—senyum yang paling tulus, paling hangat, paling lama ia rindukan.

"Maka, biarkan cinta itu hidup."

Mereka berciuman di bawah bulan purnama, di antara bunga ashford yang bermekaran, di tengah istana yang perlahan pulih.

Di kejauhan, Varyn mengintip dari balik tirai, tersenyum kecil, lalu menarik Ren yang juga mengintip.

"Ayo, Nak. Jangan ganggu orang dewasa."

Ren tertawa kecil. "Om Aldric ciuman, Ya?"

"Iya. Itu yang dilakukan orang dewasa saat mereka saling mencintai."

"Ren kalau besar mau ciuman juga?"

Varyn tertawa. "Nanti dulu, Nak. Nanti."

Pagi harinya, Master Elian mengadakan pertemuan di ruang dewan. Wajahnya serius—sesuatu yang jarang terjadi setelah perayaan semalam.

"Jantung membatu," katanya. "Tapi tidak hancur. Aku sudah meneliti lebih lanjut, dan aku menemukan sesuatu yang mengkhawatirkan."

Ia membentangkan gulungan perkamen tua di atas meja. Di atasnya, gambar silsilah kegelapan—dari Kegelapan Purba, ke Four Horsemen, lalu ke cabang-cabang yang lebih kecil.

"Four Horsemen adalah yang paling kuat. Tapi mereka bukan satu-satunya. Ada... anak-anak lain. Yang lebih kecil, lebih tersembunyi, tapi tidak kalah berbahaya."

Ia menunjuk ke beberapa titik di peta. "Di sini. Di sini. Dan di sini."

Aldric mengamati. Titik-titik itu tersebar di seluruh kerajaan—di hutan, di pegunungan, bahkan di bawah kota-kota besar.

"Mereka belum bangun. Tapi dengan jantung yang membatu, mereka mungkin... gelisah. Mencari sumber kegelapan baru."

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Aldric.

Elian menghela napas. "Kita harus mencari mereka sebelum mereka mencari kita. Ini perang baru, Aldric. Bukan perang dengan satu musuh besar, tapi perang dengan seribu musuh kecil yang bersembunyi."

Aldric menatap Elara. Elara mengangguk—ia siap.

Ren, yang ikut dalam pertemuan, tiba-tiba bicara. "Om, Varyn bilang... Ren bisa bantu. Ren bisa cari mereka."

Aldric mengerutkan dahi. "Bagaimana?"

Ren memejamkan mata. Sesaat kemudian, matanya terbuka—merah. Suara Varyn keluar dari mulutnya.

"Karena aku bisa merasakan mereka. Dan Ren bisa menjadi mataku."

Aldric terdiam.

Perang baru akan segera dimulai.

Dan kali ini, mereka tidak akan sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!