NovelToon NovelToon
Mengandung Anak Teman Sekelas

Mengandung Anak Teman Sekelas

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Hamil di luar nikah
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lisdaa Rustandy

"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#30

Di dalam kantor polisi yang dingin dan beraroma kopi pekat, suasana masih terasa tegang. Kaisar, Bisma, Aris, dan yang lainnya duduk berjejer di bangku kayu panjang dengan kondisi kacau.

Luka lebam biru keunguan dan sisa darah kering menghiasi wajah mereka di bawah sorot lampu neon yang terang benderang. Sebagian dari mereka juga meringis, merasakan nyeri di sekujur tubuh setelah perkelahian tadi.

Satu per satu dari mereka dipanggil ke meja penyidik untuk diinterogasi. Mereka memberikan jawaban yang bervariasi. Ada yang saling menuduh lawan sebagai orang yang memulai perkelahian, ada juga yang menjawab jujur karena takut.

Setelah diinterogasi, mereka mundur dan kembali ke tempat duduk masing-masing sembari berpikir keras untuk bisa secepatnya pulang dari tempat itu tanpa mendapatkan hukuman dari para polisi, terlebih dari orang tua masing-masing.

Kini giliran Kaisar dan Bisma yang duduk berhadapan dengan seorang polisi senior yang menatap mereka dengan jengah.

"Jadi, apa alasan kalian sampai bikin keributan sebesar itu? Ulah kalian ini membuat warga resah, tahu gak? Mau jadi jagoan kalian?" tanya polisi itu sambil mengetukkan pulpen ke meja.

Kaisar melirik Bisma dari sudut matanya dengan tatapan tajam, namun ia tetap bungkam. Bisma pun hanya menunduk sambil sesekali meringis menahan sakit di perutnya yang semakin terasa nyeri.

"Cuma masalah pribadi, Pak," jawab Kaisar singkat. Suaranya serak.

"Masalah pribadi apa? Rebutan pacar? Rebutan wilayah? Atau apa?" cecar polisi itu lagi.

"Bukan. Intinya urusan antar cowok aja. Masalah lama yang belum kelar," sahut Bisma pelan, ikut menutupi keterkaitan Nana dalam perkelahian mereka.

Mereka tak mau nama Nama disebut dalam masalah ini. Sejatinya karena gadis itu tak tahu apa-apa tentang semua yang terjadi.

"Dengar. Kalian itu masih anak SMA, kan?" kata polisi. "Lalu, kenapa kalian berkelakuan seperti ini? Sudah seperti preman saja. Bayangkan kalau kami tidak segera datang setelah dapat laporan dari warga, kalian pasti sudah saling menghabisi."

Kaisar dan Bisma menunduk lagi. Yang dikatakan polisi itu memang benar. Jika saja tadi tak keburu dihentikan, mungkin saat ini mereka masih berkelahi, dan bukan tak mungkin salah satu dari mereka akan mati dalam perkelahian itu.

"Maaf, Pak," ucap keduanya kompak. Memperlihatkan wajah penuh sesal, padahal dalam hati tetap memendam kebencian terhadap satu sama lain, yang mungkin bisa pecah lagi kapan saja setelah ini berlalu.

"Jadi, sebenarnya apa yang membuat kalian berkelahi tadi?" tanya polisi lagi. "Apa ada motif lain, selain hanya masalah pribadi yang sudah lama?"

Kaisar dan Bisma kompak menggeleng.

"Gak ada, Pak," jawab Kaisar. "Cuma itu."

"Iya, cuma itu, Pak," sahut Bisma. "Memang masalahnya rumit aja, makanya gak selesai-selesai."

Polisi itu menghela napas panjang, tahu bahwa kedua pemuda ini tidak akan bicara lebih banyak meski ia terus mendesak.

"Ya sudah, terserah kalian. Tapi kalian tetap bersalah karena telah melakukan perkelahian secara berkelompok, lalu kalian juga telah mengganggu ketenangan warga sekitar. Sekarang, ambil ponsel kalian. Hubungi orang tua masing-masing. Kalian baru boleh pulang kalau ada wali yang menjamin."

Jantung Kaisar serasa berhenti berdetak. Ini yang paling ia hindari. "Pak, apa nggak bisa lewat pengacara atau teman yang lebih dewasa aja? Saya tanggung jawab sendiri," tawar Kaisar mencoba bernegosiasi.

"Memangnya kenapa? Kamu takut orang tuamu marah, kan? Justru itu lebih bagus, biar kamu tidak berani melakukan hal itu lagi kedepannya," kata polisi tegas.

"Tapi Pak..."

"Nggak ada negosiasi. Kamu masih berstatus pelajar, masih tanggung jawab orang tuamu. Hubungi sekarang atau kamu menginap di sel malam ini!" gertak petugas itu.

Kaisar memejamkan mata rapat-rapat. Dengan tangan gemetar karena emosi, ia merogoh ponsel di saku celananya dan menghubungi nomor sang ibu dengan jantung berdebar tak karuan.

Ia membayangkan Bu Esta yang pasti akan marah besar saat tahu putranya kembali tertangkap karena tawuran.

Bagaimana tidak, ini bukan kali pertama Kaisar ditangkap karena perkelahian. Mungkin ini sudah ketiga kalinya selama dua tahun ini. Meski ia ditangkap di tempat yang berbeda.

Ketika panggilannya tersambung, Kaisar terlihat cemas, menggigit ujung jempolnya sendiri.

"Halo, Kai?" suara Bu Esta akhirnya terdengar di seberang telepon. "Ada apa telepon Mama malam-malam?"

Kaisar menarik napas panjang, berusaha menguatkan mentalnya. "Ma... bisa datang sekarang ke kantor polisi?"

"Kantor polisi? Memangnya ada apa?"

"Aku... aku ditangkap lagi," jawabnya ragu.

"APA?!"

Bu Esta terdengar kaget mendengar jawaban putranya. Dan Kaisar sudah bisa membayangkan saat ini ibunya pasti gemas dan ingin segera bertemu dengannya.

"Lagi-lagi kamu bikin ulah, Kai?!" bentaknya penuh emosi.

"Maaf, Ma..."

"Dasar kamu ini! Ya sudah, Mama ke sana sekarang! Diam disitu dan tunggu Mama!"

"Iya, Ma."

Kaisar mengakhiri panggilan, ia merasa lemas. Ibunya benar-benar marah, itupun masih di telepon. Tak terbayang jika sudah bertatap muka nanti, ia pasti habis diomeli oleh ibunya.

Sementara itu, Bisma juga tengah berbicara dengan orang tuanya di telepon. Ia terlihat sesekali menjauhkan ponsel dari telinganya seolah menghindari omelan. Tapi ia tak seciut Kaisar ketika orang tuanya mengomel.

Kaisar sendiri hanya menunduk. Selain karena malam ini ia terlibat perkelahian, ia juga ingat akan Raline di rumah. Gadis itu sekarang sendirian, dan kemungkinan Kaisar akan lebih lama di luar karena masalahnya belum selesai.

Ia membuka aplikasi chat, hendak mengirimkan pesan pada Raline untuk memberitahu apa yang terjadi. Tapi urung karena Kaisar berpikir sebaiknya ia tak membuat Raline cemas saat ini.

Lebih baik ia memberitahu Raline saat berhasil pulang saja.

Akhirnya, ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana. Lalu, ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya.

*****

1
Nurul Hilmi
lanjut Thor, selalu menunggu karyamu
Lisdaa Rustandy: makasih
total 1 replies
deeRa
nyess kan bang-kai🤭
Martha Dimas
double up thor, mkin seru
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
kok judulnya beda ya thor
Lisdaa Rustandy: aku ubah kak🙏
total 1 replies
deeRa
Kai, aku bingung mau mendeskripsikan kamu Seperti apa.
😌
falea sezi
lama amat cerai nah laki oon gini nunggu lo nyesel kai
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
double thor
Nurul Hilmi
ganteng amat visual kai Thor,,, 😍
Nurul Hilmi
mulai... mulai... kai... lama lama ❤😘
Nurul Hilmi
lanjut Thor.
bacanya Brebes mili
Yantie Narnoe
lanjut...👍
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
double up Thor
bagus ini cerita😍
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
lelaki juga kaisar. gentle dan bertanggung jawab
deeRa
Lepas Dari Kai, kamu & anakmu harus bahagia ya Lin... 😊
deeRa
no comment, ikut alur nya saja😊
next ya
falea sezi
cpet cerai kalo. abis lahiran. ortu. kaisar. toxic
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!