Karline sengaja bersembunyi di balik masker dan jaket gembel demi ketenangan. Namun, sebuah insiden di kolam renang membongkar segalanya. Di balik penampilan kumuhnya, ternyata ada kecantikan luar biasa yang membuat seisi sekolah lupa cara bernapas.
Dean, sang kapten voli yang populer dan arogan, tidak tinggal diam. Sejak napas buatan itu diberikan, Dean mengklaim Karline sebagai miliknya. Kini, Karline harus menghadapi dunia yang memujanya, sekaligus menghadapi obsesi posesif sang kapten yang tidak sudi berbagi tatapan Karline dengan pria mana pun.
"Lepaskan maskermu. Mulai sekarang, kamu aman di bawah kuasaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Dapur Panas dan Ujian Karakter
Suasana di dapur utama Dharmawijaya Signature terasa sepuluh kali lebih panas dari biasanya. Dan itu bukan hanya karena deru kompor gas yang menyala serentak, melainkan karena hawa dingin yang dipancarkan oleh Andhika. Sejak pukul enam pagi, Dean sudah berdiri di sana, mengenakan seragam asisten dapur yang pas-pasan, bersiap menghadapi hari ketiganya bekerja di bawah pengawasan kakak Karline.
Dean tahu Andhika itu tegas, tapi hari ini Andhika benar-benar terlihat ingin "menghancurkan" mentalnya.
"Dean! Kamu ini memotong wortel atau menebang pohon? Semuanya harus julienne, ukurannya harus presisi! Buang semua ini, mulai dari awal!" bentak Andhika sambil membanting tumpukan wortel yang baru saja selesai dipotong Dean ke tempat sampah.
Beberapa staf dapur yang lain hanya bisa menunduk, tidak berani bersuara. Mereka tahu Andhika sedang dalam mode "monster".
"Maaf, Chef. Saya ulangi," jawab Dean pendek. Ia menarik napas panjang, mencoba meredam emosinya yang mulai mendidih. Sebagai kapten voli, Dean terbiasa memerintah, bukan diperintah dengan cara sekasar ini. Tapi di sini, dia bukan siapa-siapa.
Sepanjang siang, Andhika sengaja memberikan tugas-tugas yang tidak masuk akal. Dean disuruh membersihkan gudang pendingin yang suhunya di bawah nol derajat, lalu lima menit kemudian dipanggil untuk mengurus penggorengan yang panas. Saat jam makan siang yang sibuk, Andhika bahkan dengan sengaja menjatuhkan nampan saus di dekat kaki Dean di depan staf senior lainnya.
"Lihat ini? Kalau kamu tidak bisa menjaga kebersihan area kerjamu, lebih baik kamu pulang dan main voli saja. Di sini bukan tempat untuk anak manja yang hanya bisa tebar pesona di depan adikku," ucap Andhika dengan nada meremehkan yang sangat tajam.
Dean terdiam. Wajahnya memerah bukan karena hawa dapur, tapi karena harga dirinya diinjak-injak. Ia bisa melihat beberapa pelayan berbisik-bisik di belakangnya. Rasanya ingin sekali Dean melepaskan celemeknya dan pergi dari sana. Namun, saat ia hendak membuka mulut untuk membalas, ia teringat wajah Karline yang tersenyum saat tahu Dean mau mencoba bekerja dengan kakaknya.
“Kalau kamu menyerah sekarang, Rio dan Clarissa benar. Kamu cuma pecundang yang nggak pantas buat Karline,” batin Dean menyemangati dirinya sendiri.
Sore harinya, saat restoran sedang dalam masa jeda sebelum jam makan malam, Andhika memanggil Dean ke ruangan pribadinya. Dean masuk dengan peluh yang bercucuran dan tangan yang lecet-lecet karena seharian memegang pisau dan alat pembersih.
Andhika duduk di kursi kerjanya, menatap Dean dengan tatapan datar. "Masih mau lanjut besok? Atau mau menyerah saja? Aku bisa bilang ke Karline kalau kamu tidak kuat kerja di dapur."
Dean berdiri tegak di depan meja Andhika. Ia menatap balik pria di depannya tanpa rasa takut. "Aku tahu apa yang Kakak lakukan hari ini. Kakak sengaja memperberat tugas aku, menjatuhkan aku di depan staf, bahkan membuat aku terlihat bodoh. Kakak sedang mengetes aku, kan?"
Andhika menaikkan sebelah alisnya. "Oh, jadi kamu sudah sadar?"
"Iya," jawab Dean tegas. "Ini bukan cuma soal kerja di restoran. Kakak mau lihat seberapa besar kesabaran aku, seberapa kuat mental aku kalau ditekan, dan apakah aku bakal tetap tinggal saat keadaan jadi buruk. Kakak mau tahu apa aku pantas menjaga Karline atau aku cuma cowok yang bakal lari saat ada masalah."
Ruangan itu hening sejenak. Andhika kemudian berdiri, berjalan mendekati Dean hingga jarak mereka hanya sejengkal. Ia adalah pria yang sangat protektif, dan cara ia menguji orang-orang yang mendekati adiknya memang sangat ekstrem.
"Bagus kalau kamu paham," ucap Andhika, suaranya kini lebih rendah, tidak lagi membentak. "Dunia luar itu jauh lebih kejam daripada dapur ini, Dean. Kejadian di gudang tempo hari itu baru permulaan dari kerasnya hidup. Kalau kamu cuma ditegur di depan staf saja sudah mau menyerah atau marah-marah, bagaimana mungkin aku bisa percaya kamu bisa melindungi Karline saat aku tidak ada?"
Andhika menepuk bahu Dean dengan cukup keras bukan tepukan ramah, tapi lebih seperti pengakuan. "Aku tidak butuh orang yang pintar bicara soal janji. Aku butuh orang yang punya karakter kuat. Hari ini kamu lulus, tapi besok ujiannya akan lebih berat lagi. Bersiaplah."
Dean hanya mengangguk pelan. Ia merasa sedikit lega. Meskipun Andhika terlihat dingin dan menyebalkan, Dean sadar bahwa itu adalah bentuk kasih sayang seorang kakak yang luar biasa. Andhika tidak ingin Karline jatuh ke tangan orang yang salah lagi.
Malamnya, saat Dean pulang dengan badan pegal-pegal, ia mendapati pesan singkat dari Karline di ponselnya.
“Semangat ya kerjanya! Kak Andhika bilang kamu lumayan bisa diandalkan hari ini, meskipun banyak salahnya hehe. Sampai ketemu besok!”
Dean tersenyum lebar sambil merebahkan badannya di kasur. Ternyata, di balik sikap beringasnya di dapur, Andhika tetap memberikan laporan "kecil" yang manis pada adiknya. Ujian karakter ini memang berat, tapi Dean tahu, setiap tetes keringatnya sebanding dengan kepercayaan yang mulai tumbuh dari seorang Andhika Dharmawijaya.
aku marathon tau bacanya😍