NovelToon NovelToon
My Little Wife

My Little Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Dua hari terakhir di Surabaya terasa seperti maraton tanpa henti bagi Ziva. Jika hari pertama adalah pembukaan yang alot, hari kedua dan ketiga adalah peperangan data yang sesungguhnya. Ziva praktis hidup di dalam ruang rapat hotel yang dingin, dikelilingi oleh tumpukan kertas audit, layar proyektor yang tak pernah mati, dan aroma kopi hitam yang pekat.

Sesekali, di tengah kesibukannya yang menggila, ia teringat pada "Bebe"-nya di Jakarta. Dengan sisa tenaga, Ziva akan mengambil ponsel, memotret selembar dokumen yang penuh coretan merah, atau sekadar memotret wajahnya yang tampak kuyu namun tetap cantik dengan kacamata bertengger di hidung.

Cekrek.

Ziva: (Mengirim foto meja kerja yang berantakan) "Lembur lagi, Kak. Jangan kangen ya, nanti aku kirim doa aja biar kamu nggak kesepian. Love you!"

Lalu, sedetik kemudian, Ziva akan "menghilang ditelan bumi". Pesan balasan dari Baskara yang penuh perhatian hanya akan dibalas dengan centang biru berjam-jam kemudian, atau bahkan baru dibalas keesokan paginya. Hal ini sukses membuat Baskara di Jakarta merasa seperti narapidana yang menunggu keputusan hakim; gelisah, mondar-mandir, dan terus-menerus mengecek sinyal ponselnya.

Hari ketiga, rapat penentuan selesai lebih cepat dari perkiraan. Investor pusat sangat puas dengan presentasi Ziva yang tajam dan tak terbantahkan. Tanpa membuang waktu, Ziva langsung memesan tiket pesawat tercepat menuju Jakarta. Ia ingin memberikan kejutan pada suaminya yang pasti sudah sangat merana karena "diabaikan" selama dua hari terakhir.

Begitu mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Ziva segera memesan taksi. Sambil menunggu barang bawaannya di bagasi taksi, ia segera menghubungi Nisa. Hanya Nisa yang bisa ia percayai untuk menjadi "intel" cadangannya saat ini.

"Halo, Kak Nisa?" bisik Ziva sambil melirik kanan-kiri, seolah ia sedang melakukan transaksi rahasia.

"Iya, kenapa Ziv? Tumben telepon jam segini, bukannya masih di Surabaya?" suara Nisa terdengar heran di seberang sana.

"Kak, lo lagi di kantor polisi nggak sekarang?"

"Lagi nih, baru mau nganterin makan siang buat Mas Arga. Kenapa?"

Ziva tersenyum lebar, ia masuk ke dalam taksi dan menutup pintunya rapat-rapat. "Kak Baskara ada di situ nggak? Aku udah jalan mau pulang nih, udah naik taksi dari bandara. Tapi... tolong banget, jangan ngomong sama dia dulu ya! Aku mau kasih kejutan."

Nisa tertawa kecil, ia menoleh ke arah meja Baskara yang tampak sangat suram. "Oh, si 'Bebe' kamu? Ada nih, lagi duduk depan komputer tapi matanya kosong banget, Ziv. Kasihan, auranya gelap banget kayak belum gajian setahun. Oke, oke, rahasia aman di tangan Kak Nisa!"

"Sip! Makasih ya, Kak! Aku meluncur sekarang!"

Situasi di Markas: Sang Inspektur yang "Galau"

Di sudut unit Jatanras, Baskara benar-benar sedang tidak dalam performa terbaiknya. Ia menatap layar komputernya, namun pikirannya melayang ke Surabaya. Pesan terakhirnya yang dikirim enam jam lalu bahkan belum dibaca oleh Ziva.

"Bas, lo kalau mau nangis, nangis aja. Jangan ditahan, nggak baik buat kesehatan," ledek Rio yang lewat sambil membawa setumpuk berkas.

Baskara hanya melirik Rio dengan tatapan tajam yang tak bertenaga. "Gue nggak galau, Rio. Gue cuma... mikirin strategi kasus."

"Strategi kasus apa strategi dapet kabar dari bini?" Arga ikut menimpali sambil duduk di kursi sebelahnya. "Nisa bilang tadi dia liat lo nge-refresh WhatsApp tiap lima menit sekali. Malu sama lencana, Bas!"

Baskara menghela napas panjang, ia menyandarkan punggungnya ke kursi. "Dia sibuk banget, Ga. Gue cuma takut dia lupa makan atau kecapekan. Suaranya semalam kedengeran serak pas telepon sebentar."

Nisa masuk ke ruangan dengan membawa kantong plastik berisi makanan, memberikan kode kedipan mata pada Arga yang langsung dimengerti suaminya. Nisa berjalan mendekati Baskara dengan wajah pura-pura prihatin.

"Mas Baskara, sabar ya. Ziva tadi chat aku, katanya dia sibuk banget sampai besok sore kayaknya baru bisa napas," ucap Nisa berbohong demi melancarkan rencana Ziva.

Baskara mendesah kecewa. "Sampai besok sore? Ya sudah, memang tugasnya berat."

Sekitar empat puluh menit kemudian, sebuah taksi berhenti di depan gerbang Mapolres. Ziva turun dengan kacamata hitam, menarik koper kecilnya dengan langkah percaya diri. Ia mengenakan blazer soft pink yang senada dengan warna bibirnya yang segar. Ia tidak lewat pintu depan yang biasa, melainkan lewat selasar samping agar tidak terlihat dari jendela utama.

Ziva mengintip dari balik pintu ruangan Jatanras. Ia melihat Baskara sedang menunduk, menopang dagu dengan satu tangan sambil membolak-balik kertas tanpa minat.

Ziva memberikan kode pada Nisa, Arga, dan Rio untuk diam. Ia melepas kacamata hitamnya, menarik napas dalam, lalu berjalan mengendap-endap di belakang kursi Baskara.

"Permisi, Pak Inspektur. Saya mau lapor kalau ada pencuri di sini," ucap Ziva dengan suara yang dibuat sedikit berat.

Baskara tidak menoleh, ia menjawab dengan suara malas. "Pencuri apa? Lapor ke bagian SPKT dulu di depan, Mbak."

"Pencurinya udah di depan Bapak sekarang. Dia baru aja nyuri hati polisi paling galak di Jakarta, terus dia kabur ke Surabaya tiga hari," lanjut Ziva dengan nada manjanya yang khas.

Baskara tersentak. Suara itu. Ia mengenali frekuensi itu di luar kepala. Pria itu memutar kursinya dengan sangat cepat hingga kursinya hampir terjungkal.

Matanya melebar sempurna. Di hadapannya, berdiri Zivanya Aurora dengan senyum paling manis yang pernah ia lihat. Aroma parfum lavender yang biasa Ziva pakai langsung memenuhi indra penciumannya.

"Ziva?!" seru Baskara kaget, ia langsung berdiri tegak hingga kursinya terdorong ke belakang.

"Halo, Bebe... Kangen ya?" goda Ziva sambil menaikkan alisnya.

Tanpa mempedulikan Rio, Arga, Nisa, dan seluruh anggota polisi yang ada di ruangan itu, Baskara langsung melangkah maju dan menarik Ziva ke dalam pelukannya. Ia memeluk istrinya sangat erat, seolah takut Ziva akan menghilang lagi ke luar kota.

"Kamu... katanya besok sore? Kok udah di sini?" tanya Baskara di sela-sela dekapannya, suaranya terdengar sangat lega.

"Tugas selesai lebih cepat karena aku pinter, dan karena aku kangen banget sama polisi robot aku yang satu ini," bisik Ziva sambil membalas pelukan Baskara tak kalah erat.

Rio bersiul keras, sementara Arga bertepuk tangan. "WADUH! Markas Jatanras mendadak jadi lokasi syuting drakor nih! Pak Kapolres, tolong lapor, ada oknum pamer kemesraan!"

Baskara melepaskan pelukannya sedikit, namun tetap merangkul pinggang Ziva dengan posesif. Ia menatap Rio dan Arga dengan tatapan kemenangan. "Sirik bilang bos. Udah, kalian lanjut kerja sana! Gue mau bawa 'barang bukti' gue pulang sekarang."

"Eits, baru jam dua siang, Bas! Belum jam pulang!" protes Arga.

"Gue pakai jatah cuti mendadak gue. Titip ruangan ya, Ga!" sahut Baskara tanpa menoleh lagi, ia segera menyambar tas kerja Ziva dan menarik koper kecil istrinya.

Ziva tertawa melihat tingkah Baskara yang mendadak sangat bersemangat. Ia melambaikan tangan ke arah Nisa. "Makasih ya Kak Nisa bantuannya! Nanti aku kirim lapis kukus ke rumah!"

Sambil berjalan menuju parkiran, Baskara tidak melepaskan genggaman tangannya dari Ziva sejenak pun. Di bawah sinar matahari Jakarta yang terik, hati Baskara terasa sangat sejuk. Masa LDR tiga hari itu terasa seperti tiga tahun, dan kembalinya Ziva adalah kemenangan terbesar yang ia dapatkan minggu ini.

"Habis ini kita makan dulu, atau mau langsung pulang ketemu Ayah Bunda?" tanya Baskara saat membukakan pintu mobil untuk Ziva.

"Pulang dulu yuk, kangen Ayah Bunda. Terus malamnya... kita makan berdua aja," jawab Ziva sambil mengerling nakal.

Baskara tersenyum, sebuah senyuman yang sangat lebar dan tulus. "Siap, Nyonya Inspektur. Frekuensi kita udah sama lagi sekarang."

1
Mey Latika
kok gantung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!