NovelToon NovelToon
Disayangi Anak Mantan

Disayangi Anak Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama / Duda
Popularitas:50.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?

Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah yang berdiri di kawasan pinggiran kota. Suasananya jauh dari hiruk pikuk pemukiman. Jalan di depan rumah itu tampak lengang, hanya diterangi lampu jalan yang redup dan angin malam yang berhembus pelan di antara pepohonan.

Mesin mobil dimatikan. Nathan membuka pintu lebih dulu lalu turun dari mobil. Setelah itu ia berjalan memutar dan membukakan pintu untuk Andin tanpa banyak bicara.

Andin turun perlahan. Suasana di antara mereka terasa canggung. Setelah kejadian malam ini, ada begitu banyak hal yang belum terucap. Namun keduanya sama-sama memilih diam, seolah berusaha bersikap biasa saja.

Nathan membuka gerbang rumah itu.

Mereka bertiga, Nathan, Andin, dan Mark, melangkah masuk ke halaman. Lampu teras menyala otomatis, menerangi bangunan rumah yang cukup besar namun terlihat sederhana.

Begitu matanya menangkap warna dinding rumah itu, langkah Andin sempat terhenti.

Rumah itu bernuansa biru.

Biru lembut. Warna yang dulu pernah ia katakan sebagai warna favoritnya. Dada Andin tiba-tiba terasa sedikit sesak. Pikirannya hampir saja melayang pada masa lalu, namun ia segera menepis pikiran itu.

Tidak. Ia tidak ingin menafsirkan sesuatu yang mungkin hanya kebetulan.

“Ayo masuk,” kata Nathan singkat.

Andin tersadar dari lamunannya lalu mengangguk kecil. “Iya.”

Mereka masuk ke dalam rumah. Begitu pintu terbuka, seorang pria paruh baya yang mengenakan kemeja rapi langsung menghampiri mereka. Ia tampak sedikit terkejut melihat Nathan datang malam-malam seperti ini.

“Tuan Nathan?” ucapnya.

Nathan mengangguk. “Pak Arman, kami akan tinggal di sini untuk sementara.”

Pria itu langsung mengangguk hormat. “Baik, Tuan.”

Nathan menoleh pada Mark. “Kamu bisa pulang. Terima kasih sudah membantu malam ini.”

Mark menepuk bahu Nathan pelan. “Hati-hati saja. Kalau ada apa-apa, hubungi gue.”

Nathan mengangguk singkat.

Tak lama kemudian Mark pamit dan pergi.

Rumah itu kembali terasa tenang. Pak Arman segera menyiapkan air minum di ruang tamu lalu pamit untuk kembali ke ruang belakang, meninggalkan Nathan dan Andin berdua di ruangan itu.

Andin duduk perlahan di sofa. Baru sekarang ia benar-benar menyadari betapa tegangnya tubuhnya sejak tadi. Napasnya masih sedikit berat.

Sementara Nathan berdiri tidak jauh dari sana. Ia membuka kancing jasnya lalu meletakkannya di sandaran kursi.

Saat itulah Andin melihat sesuatu. Di sudut bibir Nathan ada luka kecil yang mulai mengering. Bekas pukulan saat berkelahi tadi.

Tanpa sadar Andin berdiri.

“Nathan.”

Nathan menoleh. “Apa?”

Andin menunjuk pelan ke arah wajahnya. “Lukamu…”

Nathan mengangkat tangan dan menyentuh sudut bibirnya sebentar.

“Tidak apa-apa. Luka kecil.”

Namun Andin tidak terlihat yakin. Ia melihat ada kotak P3K di atas lemari kecil dekat ruang tamu.

Tanpa berkata apa-apa, ia mengambil kotak itu lalu kembali mendekati Nathan.

Nathan langsung mengernyit.

“Andin, tidak perlu.”

“Duduk.”

Nathan menatapnya sebentar, sedikit heran dengan nada tegas yang jarang ia dengar dari perempuan itu.

“Aku baik-baik saja.”

Andin menghela napas pelan. “Ini hanya sebentar.”

Nathan masih ingin menolak, namun Andin sudah lebih dulu membuka kotak P3K dan mengambil kapas serta antiseptik.

Akhirnya Nathan menyerah.

Ia duduk di kursi depan Andin. Suasana di antara mereka mendadak terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya.

Andin berdiri di depannya dengan kapas di tangan. Namun saat hendak membersihkan luka itu, ia tiba-tiba menjadi gugup.

Wajah Nathan begitu dekat. Andin menunduk sedikit, berusaha menyembunyikan rasa canggungnya.

“Ini mungkin akan sedikit perih,” katanya pelan.

Nathan hanya mengangguk. Perlahan Andin menyentuhkan kapas ke sudut bibir Nathan.

Nathan langsung meringis kecil. “Sakit.”

Andin refleks berhenti. “Maaf.”

Nathan menghela napas pendek. “Lanjutkan saja.”

Dengan gerakan yang lebih hati-hati, Andin membersihkan luka itu. Tangannya sangat pelan, seolah takut menyakiti Nathan lebih jauh.

Nathan memperhatikan wajah Andin dari jarak dekat.

Ekspresi perempuan itu terlihat sangat serius. Alisnya sedikit berkerut, bibirnya terkatup rapat, seolah benar-benar fokus pada luka kecil itu.

Tanpa sadar, sudut bibir Nathan sedikit terangkat.

“Andin.”

Andin menoleh sedikit. “Hm?”

Nathan menatapnya beberapa detik sebelum berkata pelan. “Kamu masih sama seperti dulu.”

Andin berhenti bergerak. “Apa maksudmu?”

Nathan tidak langsung menjawab. Ia hanya berkata pelan, hampir seperti gumaman.

“Terlalu peduli pada orang lain… bahkan ketika orang itu tidak pantas mendapatkannya." lagi kalimat itu yang keluar, seolah tidak ada kata lain, namun pada kenyataannya Andin memang seperti itu.

Andin menunduk lagi. Tangannya kembali membersihkan luka Nathan dengan hati-hati.

“Ini bukan soal pantas atau tidak,” katanya pelan.

Nathan hanya terdiam. Namun untuk pertama kalinya malam itu, suasana di antara mereka tidak lagi terasa setegang sebelumnya. Justru ada sesuatu yang perlahan mulai berubah.

Sesuatu yang dulu pernah ada di antara mereka… dan mungkin belum sepenuhnya hilang.

Di luar rumah, malam semakin larut. Akan tetapi di dalam rumah kecil bernuansa biru itu, jarak yang sempat begitu jauh di antara Nathan dan Andin perlahan mulai memendek.

☘️☘️☘️☘️☘️

Marcell berdiri di depan jendela besar dengan punggung menghadap ruangan. Tangannya bertumpu di belakang punggung, sementara tatapannya mengarah ke halaman rumah yang gelap.

Di belakangnya, tiga pria berdiri dengan wajah pucat. Tidak ada yang berani bersuara.

Beberapa detik berlalu sebelum Marcell akhirnya berbicara.

“Jadi… kalian datang hanya untuk memberitahuku kalau kalian gagal?”

Nada suaranya pelan, namun justru membuat ketiga pria itu semakin gugup.

Salah satu dari mereka menelan ludah. “Maaf, Tuan. Kami hampir berhasil—”

“Hampir?” Marcell memotong tanpa menoleh. Ia lalu berbalik perlahan. Tatapannya dingin.

“Sejak kapan aku membayar orang untuk hasil yang hampir?”

Ketiga pria itu langsung menunduk.

“Perempuan itu sendirian, Tuan,” ujar salah satu dari mereka hati-hati. “Semuanya berjalan sesuai rencana sampai tiba-tiba ada pria lain dan Tuan Nathan datang melawan kami.”

Marcell menyipitkan mata.

“Berapa orang kalian?”

“Tiga, Tuan.”

“Dan kalian kalah dari dua orang?”

Tidak ada jawaban. Marcell berjalan mendekat beberapa langkah. Tekanan di wajahnya semakin terlihat.

“Apakah aku terlihat peduli dengan alasan kalian?”

“Maaf, Tuan…”

Belum sempat kalimat itu selesai—

Brak!

Gelas kristal di atas meja disapu jatuh hingga pecah berserakan di lantai. Suara pecahannya menggema di dalam ruangan.

“Sudah kubilang,” ujar Marcell dingin, “aku tidak suka kegagalan.”

Ruangan itu kembali sunyi, Marcell masih mengamati ketiga anak buahnya dengan tatapan yang begitu dingin, hingga beberapa saat kemudian ia bertanya tanpa emosi,

“Perempuan itu masih di kontrakan?”

“Tidak, Tuan. Setelah kejadian itu… dia pergi bersama pria itu dan Tuan Nathan.”

Marcell berhenti.

“Pergi?”

“Iya, Tuan. Kami tidak tahu ke mana. Karena tadi kondisi kami benar-benar tidak memungkinkan untuk mengejar.”

Nathan. Nama itu mulai ia gaungkan dengan otot di leger yang terlihat sangat jelas. Ia berjalan menuju kursinya lalu duduk perlahan.

“Sepertinya anakku mulai terlalu ikut campur,” gumamnya.

Ketiga pria itu masih berdiri tegang. Marcell menatap mereka satu per satu.

“Dengarkan baik-baik. Perempuan itu tidak boleh muncul lagi dalam kehidupan Nathan.”

Suaranya tetap tenang. Namun justru terasa lebih mengancam.

“Kalau perlu… buat dia menghilang.”

“Baik, Tuan,” jawab mereka cepat.

“Dan kali ini,” lanjut Marcell dingin, “jangan gagal lagi.”

Ketiga pria itu segera keluar dari ruangan. Begitu pintu tertutup, Marcell duduk sendirian. Ia mengambil ponselnya dan menatap layar beberapa saat sebelum bibirnya terangkat tipis.

Senyum tanpa kehangatan. “Kalau kamu pikir kamu bisa menyembunyikannya dariku, Nathan…” gumamnya pelan.

“...kamu masih terlalu naif.”

Tatapannya kembali menajam. Seolah sesuatu yang jauh lebih berbahaya baru saja mulai ia rencanakan.

Bersambung. ....

1
Sugiharti Rusli
justru sekarang si Vivian yang merasa khawatir kalo permainan kotornya akan segera terbongkar di hadapan sang putra
Sugiharti Rusli
tapi sekarang karena kamu sudah dewasa dan kamu juga tidak merasa memiliki kesalahan, buat apa takut,,,
Sugiharti Rusli
kamu saat itu sendirian dan tidak memiliki daya apa" mengahdapi mereka, jadi wajar sih sikap kamu dulu cupu
Sugiharti Rusli
dan memang karena mereka orsng yang berkuasa dan memiliki banyak uang dan koneksi,,,
Sugiharti Rusli
dulu mungkin usia kamu masih sangat muda, jadi masih banyak ketakutan yang kamu rasakan dulu,,,
Sugiharti Rusli
suatu kebenaran kalo memang saatnya harus terungkap, pasti akan terungkap cepat atau lambat sih,,,
Sugiharti Rusli
bagus Ndin, karena dulu kamu hanya memikirkan kesehatan mental kamu di hadapan urtunya Darrel
Sugiharti Rusli
apalagi putranya Darrel sangat menyayangi Andin yang memang begitu tulus menemaninya,,,
Sugiharti Rusli
semoga temannya itu bisa membongkar masa lalu si Andin dan jebakan ortunya sendiri
Sugiharti Rusli
karena kalo saja dia tidak mengikuti emosio nalnya dulu, dia bisa memakai akal sehatnya kan dulu
Sugiharti Rusli
padahal kalo Nathan memakai akal sehatnya, dia mengenal karakter Andin dari dulu seperti apa,,,
Sugiharti Rusli
bagus deh kalo pada akhirnya Nathan mau menekan egonya dan mau mulai menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi dulu pada Andin,,,
Sugiharti Rusli
semoga si Nathan masih mau percaya ucapan Andin yah
Sugiharti Rusli
entah apa reaksi Nathan saat tahu ada andil ortu dan juga mendiang istrinya yang menyebabkan mereka terpisah
Sugiharti Rusli
dan anggap saja sakitnya Darrel sebagai jalan bagi mereka buat memperbaikinya kembali
Sugiharti Rusli
karena kalo tahu sumber masalahnya, kepercayaan Nathan terhadap Andin bisa sedikit lebih pulih
Sugiharti Rusli
sepertinya mereka memang harus meluruskan kesalahpahaman yang dulu membuat Nathan membenci Andin
Sugiharti Rusli
bahkan Darrel lebih semangat saat melihat sosok Andin tibang ayah maupun kakek-neneknya yang sehari-hari hidup bersamanya
Sugiharti Rusli
padahal kalo dipikir anak" tuh hatinya masih bersih dan polos yah, kalo Darrel ga merasa nyaman sama Andin karena ketulusannya baru mereka curiga
Sugiharti Rusli
dan mereka mengatakan kata" yang begitu tajam di hadapan cucunya sendiri yang sedang sakit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!