Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26
Ruangan masih dipenuhi bisik-bisik saat aku kembali ke sisi Adrian.
Namun suasananya sudah berubah.
Tadi… aku adalah bahan pembicaraan.
Sekarang… mereka tidak lagi yakin harus melihatku sebagai apa.
Korban?
Atau sesuatu yang lain?
—
Aku berdiri di samping Adrian, mencoba menenangkan napas.
Jantungku masih berdetak cepat, tapi perlahan mulai stabil.
“Aku terlalu berani ya barusan…” gumamku pelan.
Adrian menatap lurus ke depan.
“Tidak,” jawabnya singkat. “Kamu hanya tidak lagi diam.”
Aku terdiam.
Kalimat itu… sederhana.
Tapi terasa tepat.
—
Di sisi lain ruangan, aku bisa melihat Celine.
Ia masih berdiri di panggung.
Senyumnya kembali terpasang… tapi tidak setenang sebelumnya.
Matanya sesekali melirik ke arahku.
Tajam.
Tidak suka.
Sementara di bawah—
Vanessa berdiri dengan ekspresi yang jauh lebih sulit dibaca.
Ia tidak tersenyum lagi.
Namun matanya… justru lebih hidup.
Seolah menemukan sesuatu yang menarik.
—
“Dia tidak akan berhenti,” kata Adrian tiba-tiba.
Aku menoleh.
“Vanessa.”
Aku mengangguk pelan.
“Aku tahu.”
Dan entah kenapa… aku tidak merasa takut seperti tadi.
Lebih seperti…
siap.
—
Acara kembali berjalan.
Musik dinyalakan lagi.
Para tamu mulai kembali berbicara, meski jelas suasana belum sepenuhnya pulih.
Namun beberapa orang mulai mendekat ke arah kami.
Satu per satu.
—
“Nyonya Alina, ya?”
Seorang wanita paruh baya dengan gaun elegan tersenyum ramah.
“Saya harus bilang… itu tadi sangat berani.”
Aku sedikit kaget.
“Terima kasih…”
Ia mengangguk.
“Tidak semua orang bisa berdiri seperti itu di situasi seperti tadi.”
Aku hanya tersenyum kecil.
Tidak tahu harus menjawab apa.
—
Beberapa tamu lain juga mulai mendekat.
Ada yang sekadar menyapa.
Ada yang terlihat benar-benar tertarik.
Dan ada juga yang… jelas hanya ingin tahu.
Namun satu hal yang pasti—
Tatapan mereka sudah berbeda.
—
Dari jauh, aku melihat ibu tiriku.
Wajahnya jelas tidak senang.
Ia berbisik sesuatu pada ayah.
Ayah hanya diam.
Seperti biasa.
Namun kali ini… ia tidak menghindari tatapanku.
—
“Menarik sekali.”
Suara itu membuat suasana di sekitarku kembali berubah.
Vanessa.
Ia mendekat.
Pelan.
Tenang.
Seperti seseorang yang tidak terburu-buru.
—
Ia berhenti beberapa langkah dari kami.
Menatapku langsung.
“Kamu berhasil membalik situasi.”
Aku tidak menjawab.
Hanya menatapnya.
—
Ia tersenyum tipis.
“Tapi jangan terlalu cepat puas.”
Aku sedikit mengangkat alis.
“Memangnya aku terlihat puas?”
Senyumnya melebar sedikit.
“Tidak,” katanya. “Justru itu yang menarik.”
—
Adrian akhirnya bicara.
“Kalau kamu datang hanya untuk bermain, cari tempat lain.”
Nada suaranya dingin.
Tegas.
Namun Vanessa tidak tersinggung.
Ia justru tertawa kecil.
“Aku selalu suka cara kamu melindungi sesuatu.”
Sesaat, suasana kembali menegang.
Namun kali ini… aku tidak mengalihkan pandangan.
—
Aku melangkah setengah langkah ke depan.
Sedikit.
Cukup untuk menunjukkan aku tidak bersembunyi.
“Kalau kamu mau menjatuhkan aku,” kataku pelan, “cari cara lain.”
Vanessa menatapku.
Lama.
Lebih lama dari sebelumnya.
Lalu—
Ia tersenyum.
Bukan sinis.
Bukan meremehkan.
Tapi… puas.
“Sekarang kamu mulai menarik, Alina.”
Namaku disebut dengan jelas.
Tanpa topeng.
Tanpa pura-pura.
—
Ia mendekat sedikit.
Suaranya lebih rendah.
“Hati-hati,” bisiknya. “Permainan ini… baru mulai.”
Lalu ia mundur lagi.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Dan pergi.
—
Aku berdiri diam beberapa detik.
Meresapi kata-katanya.
Bukan ancaman kosong.
Aku tahu itu.
—
“Kamu baik-baik saja?” tanya Adrian.
Aku mengangguk.
“Iya.”
Lalu menambahkan pelan,
“Aku cuma… sadar satu hal.”
“Apa?”
Aku menatap ke arah Vanessa yang menjauh.
“Aku benar-benar masuk ke dunia yang berbeda sekarang.”
Sunyi sejenak.
Lalu Adrian berkata,
“Iya.”
—
Acara terus berjalan.
Namun bagiku—
Semua sudah berubah.
—
Beberapa saat kemudian, MC kembali memanggil perhatian.
“Sekarang, kita masuk ke sesi dansa pertama dari pengantin.”
Lampu diredupkan.
Musik romantis mulai dimainkan.
Celine dan Nathaniel bergerak ke tengah.
Semua mata kembali tertuju pada mereka.
—
Aku memperhatikan dari kejauhan.
Gerakan mereka sempurna.
Latihan.
Terencana.
Seperti semua hal dalam hidup Celine.
—
“Dansa?”
Aku menoleh cepat.
Adrian.
Ia menatapku.
Aku sedikit bingung.
“Kamu serius?”
Ia tidak tersenyum.
Tapi ada sesuatu di matanya.
“Tidak harus berdiri untuk menari.”
Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.
Aku ragu sejenak.
Lalu—
aku mengangguk.
“Iya.”
—
Ia menggerakkan kursi rodanya ke area yang sedikit lebih kosong.
Aku berdiri di depannya.
Masih sedikit canggung.
—
“Pegang sini,” katanya pelan.
Aku mengikuti.
Tanganku menyentuh tangannya.
Hangat.
—
Musik mengalun pelan.
Dan untuk pertama kalinya—
Kami bergerak bersama.
Sederhana.
Tidak sempurna.
Tapi… cukup.
—
Beberapa orang mulai memperhatikan.
Namun kali ini—
Aku tidak peduli.
—
Aku menatap Adrian.
Dan entah kenapa—
Aku merasa…
ini bukan lagi tentang bertahan.
Tapi tentang…
memulai sesuatu yang baru.
Perlahan.
Namun nyata.
—
Di sisi lain ruangan—
Vanessa melihat.
Diam.
Dengan senyum tipis yang sulit diartikan.
Dan di atas panggung—
Celine melihat juga.
Namun kali ini—
tatapannya bukan lagi penuh kemenangan.
—
Malam itu belum berakhir.
Tapi satu hal sudah jelas—
Permainan telah dimulai.
Dan kali ini—
Aku tidak akan kalah begitu saja.
Musik mulai berubah.
Dari yang awalnya hanya alunan santai… perlahan menjadi lebih dalam, lebih pelan, lebih… intim.
Lampu-lampu aula sedikit diredupkan, menyisakan cahaya hangat yang jatuh di tengah lantai dansa. Beberapa pasangan mulai bergerak, mengikuti irama.
Aku berdiri di samping Adrian, mencoba terlihat tenang meskipun jantungku kembali berdebar.
“Sepertinya… sesi dansa dimulai,” bisikku pelan.
Adrian tidak langsung menjawab. Tatapannya mengarah ke depan—ke kerumunan orang yang mulai berdansa.
Lalu—
“Nyonya Alina.”
Suara itu datang dari belakang.
Aku menoleh.
Seorang pria—tamu undangan—berdiri dengan senyum sopan, mengulurkan tangan ke arahku.
“Boleh saya mengajak Anda berdansa?”
Aku sedikit kaget. Refleks, aku langsung melirik Adrian.
Belum sempat aku menjawab—
“Dia tidak berdansa dengan orang lain.”
Suara Adrian tenang.
Tapi tegas.
Pria itu sedikit canggung. “Oh, saya hanya—”
“Istriku,” lanjut Adrian tanpa menoleh, “tidak menerima ajakan seperti itu.”
Sunyi sesaat.
Pria itu langsung menarik tangannya. “Maaf.”
Ia pergi.
Aku terdiam.
Istriku.
Kata itu… sederhana.
Tapi entah kenapa terasa berbeda saat keluar dari mulutnya.
Aku menunduk sedikit. “Terima kasih…”
Adrian tidak menjawab.
Namun suasana belum sempat benar-benar tenang—
“Wah… protektif sekali.”
Suara itu.
Aku langsung tahu.
Vanessa.
Aku menoleh.
Dia berdiri beberapa langkah dari kami, mengenakan gaun hitam elegan yang membentuk tubuhnya dengan sempurna. Senyumnya tipis, matanya penuh arti.
Di sampingnya—
Celine.
Dan Nathaniel.
Mereka mendekat.
Perlahan.
Seolah memang menunggu momen ini.
“Tidak menyangka,” lanjut Vanessa santai, “kamu masih punya sisi seperti itu, Adrian.”
Tatapan Adrian tetap datar. “Aku tidak berubah. Kamu saja yang tidak pernah benar-benar melihat.”
Senyum Vanessa sedikit memudar… tapi hanya sesaat.
Celine menyela, suaranya manis tapi menusuk.
“Alina juga hebat ya… bisa sampai di posisi ini.”
Aku menatapnya.
Tenang.
Tidak seperti dulu.
“Posisi?” tanyaku pelan.
Celine tersenyum tipis. “Istri dari Adrian Kusuma. Bukan sesuatu yang bisa didapatkan sembarang orang.”
Nathaniel tertawa kecil. “Apalagi dengan kondisi seperti itu.”
Sunyi.
Kalimat itu jelas diarahkan.
Ke Adrian.
Tanganku langsung mengepal sedikit.
Namun sebelum aku sempat berkata apa-apa—
Adrian berbicara.
“Setidaknya,” katanya tenang, “aku tidak perlu berpura-pura menjadi orang yang sempurna hanya untuk dihargai.”
Tatapan Nathaniel langsung berubah tajam.
Vanessa memperhatikan mereka… dengan senyum yang semakin tipis.
Celine melirikku lagi.
“Kamu tidak mau berdansa, Alina?” tanyanya tiba-tiba.
Nada suaranya ringan.
Tapi matanya… menantang.
Aku terdiam sejenak.
“Aku tidak bisa berdansa,” jawabku jujur.
Celine tersenyum lebih lebar. “Ah, tentu saja. Aku lupa.”
Kalimat itu seperti pisau.
Namun sebelum suasana semakin berat—
Vanessa melangkah sedikit maju.
“Kalau begitu… bagaimana kalau kamu berdansa dengan suamimu sendiri?”
Aku langsung menatapnya.
Itu bukan saran.
Itu… jebakan.
Seluruh perhatian orang-orang di sekitar mulai tertuju ke arah kami.
Bisik-bisik mulai terdengar.
“Dia lumpuh, kan…?”
“Gimana mau dansa…”
Aku bisa merasakan ketegangan di udara.
Aku menoleh ke Adrian.
Ia diam.
Tatapannya tidak menunjukkan emosi.
Tapi aku bisa merasakan sesuatu—
Tekanan.
Aku membuka mulut, ingin mengatakan tidak perlu.
Namun—
Tangan Adrian bergerak.
Ia meletakkan kedua tangannya di sandaran kursi roda.
Dan—
Ia… mencoba berdiri.
Jantungku langsung berdegup kencang.
“Adrian…” bisikku panik.
Semua orang langsung diam.
Benar-benar diam.
Ia berdiri perlahan.
Sangat pelan.
Tubuhnya sedikit gemetar.
Tapi ia… berdiri.
Mataku melebar.
Aku bahkan tidak sadar aku menahan napas.
Ia berdiri hanya beberapa detik.
Namun cukup untuk membuat seluruh ruangan terdiam.
Tatapan orang-orang berubah.
Dari meremehkan…
Menjadi terkejut.
Vanessa membeku.
Celine kehilangan senyumnya.
Nathaniel terlihat tidak percaya.
Adrian kemudian menatapku.
Tangannya sedikit terulur.
“Alina.”
Suaranya lebih rendah dari biasanya.
Aku langsung mendekat, tanpa berpikir.
Tanganku menyentuh tangannya.
Hangat.
Nyata.
Ia menarikku sedikit—
Dan dalam satu gerakan—
Aku jatuh pelan ke pangkuannya di kursi roda saat ia kembali duduk.
Aku terkejut.
Benar-benar tidak siap.
Wajahku langsung memanas.
“A-Adrian—”
“Diam.”
Bisiknya pelan di dekat telingaku.
Jantungku langsung kacau.
Tangannya melingkar ringan di pinggangku—menahanku agar tidak jatuh.
Posisi kami… terlalu dekat.
Terlalu… tidak biasa.
Musik masih mengalun.
Dan tanpa berdiri—
Ia menggerakkan kursi rodanya perlahan.
Mengikuti irama.
Aku terpaku.
Ini bukan dansa seperti orang lain.
Tapi—
Ini tetap… dansa.
Tanganku refleks memegang bahunya.
Aku bisa merasakan detak jantungku sendiri.
Cepat.
Tidak teratur.
Semua orang menatap.
Tapi untuk pertama kalinya—
Aku tidak peduli.
Adrian tidak melihat siapa pun.
Hanya… fokus ke depan.
Sesekali matanya melirikku.
“Takut?” tanyanya pelan.
Aku menggeleng cepat.
“…Tidak.”
Meskipun jantungku hampir keluar.
Ia mengangguk kecil.
Gerakannya halus.
Tenang.
Seolah kursi roda itu bukan batasan.
Tapi bagian dari dirinya.
Dan untuk pertama kalinya—
Aku melihatnya bukan sebagai pria yang “tidak sempurna”.
Tapi sebagai seseorang yang…
Kuat.
Dengan caranya sendiri.
Di sekeliling kami—
Orang-orang mulai bertepuk tangan pelan.
Bukan karena kasihan.
Tapi karena… kagum.
Vanessa terlihat menegang.
Rencananya…
Tidak berjalan seperti yang ia inginkan.
Celine menggigit bibirnya.
Nathaniel diam.
Untuk pertama kalinya—
Mereka tidak punya sesuatu untuk mengejek.
Musik perlahan berakhir.
Adrian menghentikan kursi rodanya.
Tangannya masih di pinggangku.
Aku masih di pangkuannya.
Dekat.
Terlalu dekat.
Beberapa detik kami hanya diam.
Lalu ia berkata pelan—
“Kamu tidak buruk.”
Aku berkedip.
“…Apa?”
“Menari.”
Aku hampir tertawa kecil.
“Padahal aku tidak melakukan apa-apa.”
“Justru itu.”
Aku menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya—
Ada sesuatu di matanya.
Bukan dingin.
Bukan kosong.
Tapi… lembut.
Sangat tipis.
Namun nyata.
Aku menelan ludah pelan.
“Tadi… kamu berdiri,” bisikku.
Ia diam sejenak.
Lalu berkata pelan—
“Hanya beberapa detik.”
“Tapi itu tetap…”
Aku tidak melanjutkan.
Karena aku tahu—
Itu berarti.
Sangat berarti.
Ia tidak menjawab.
Namun tangannya… tidak langsung melepas pinggangku.
Seolah… ia juga tidak ingin momen itu cepat berakhir.
Dan di tengah keramaian pesta—
Di antara tatapan orang-orang yang masih terpaku—
Untuk pertama kalinya…
Aku merasa—
Aku benar-benar berdiri di sisinya.
Bukan sebagai seseorang yang dikirim.
Bukan sebagai pengganti.
Tapi sebagai…
Istrinya.